NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sungai dekat rumah

"Assalamualaikum??", Hasan mengucap salam setengah berteriak.

Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Aku langsung menerobos masuk menuju kamar depan. Aku buka pintu kamar, Irul terlentang mata terpejam, tidur. Eh, tidur atau pura pura tidur nih.

"Woii, pura pura micek nih bocah!", hardik Hasan sambil melemparkan sarung ke wajah Irul.

Irul terhenyak kaget, mengucek mata menoleh bingung.

"Opo sih, ganggu orang tidur aja kalian", Irul menggerutu, menyingkirkan sarung kumal Hasan.

"Hilih, tidur opo, lha tadi cekikikan ketawa ketiwi, karo sopo coba?", serang Hasan.

"Telponan sama pacarmu ya?", tanyaku menyelidik.

"Haa? ketawa? telpon? kalian iku ngomong apa sih?", Irul balik bertanya dengan raut wajah yang jelas tergambar wajah bingung dan nggak ngerti.

"Wooo, lagi belajar akting po gimana ini? Pura pura tidurmu ki bener bener kelihatan natural lho nyuk, kunyuk. .", Hasan terlihat jengkel.

Aku teringat kembali dengan pertanyaan Febi tadi siang. Dan firasatku mengatakan ada yang tidak beres. Kutarik lengan Hasan.

"Coba duduk dulu San, dan Rul aku mau tanya", nada bicaraku terdengar serius, Hasan dan Irul akhirnya duduk dan menyimak.

"Kamu tadi benar benar tidur?", aku perhatikan raut wajah Irul.

Dia mengangguk pasti. Bulu kudukku mulai meremang, sesaat seperti ada yang mengawasi. Aku singkirkan perasaan aneh tersebut.

"Oke, berarti aku dan Hasan tadi salah dengar", lanjutku mencoba meyakinkan diri.

"Tapi kan", Hasan terlihat tidak terima dengan ucapanku.

"Sudah, jangan dipikirkan ", sanggahku cepat.

"Kamu tadi wes tidur, trus apa ya wes sholat?", Aku bertanya pada Irul menyelidik. Irul terlihat cengar cengir kemudian menggelengkan kepala. Dasar semprul.

Sehabis isyak Ibuk dan adik baru pulang. Sementara aku memilih untuk sholat di rumah tidak lagi ke masjid di waktu isyak. Aku dan Hasan duduk di emperan rumah sementara Irul sudah melanjutkan tidur tidak cantiknya. Sejurus kemudian Ibuk menyodorkan "gethuk" warna warni yang terlihat menggoda.

"Lho, kemana temenmu yang satu tadi?", tanya Ibuk bermaksud menanyakan Irul yang sudah ngorok di kamar.

"Ngebo buk, itu si Irul julukannya kalo di kampus si Borem Nebo terus merem", jawabku disambut tawa Hasan yang tak bersuara hanya terdengar seperti orang yang sesak nafas. Aku ikut tertawa bukan karena omonganku lucu tapi karena suara ketawa Hasan yang unik.

Tepat jam sembilan malam aku dan Hasan menuntaskan obrolan beserta gethuk dua piring, kami masuk ke dalam kamar karena hawa di luar semakin terasa dingin. Sebenarnya aku belum terlalu mengantuk, tapi tidak ada juga yang bisa aku kerjakan saat ini. Lebih baik rebahan di kamar, sambil membayangkan senyum Erni pikirku. Hasan terlihat kedinginan, dia memakai sweater dan masih menggunakan sarungnya sebagai selimut. Aku tersenyum sendiri, mungkin bagiku yang sudah terbiasa, udara di sini nyaman nyaman saja, tapi bagi yang belum pernah kesini pas malam hari pasti merasa kedinginan. Aku kembali sibuk ngelamun dan mengingat senyum Erni. Akhir-akhir ini memang, Erni sulit sekali untuk aku singkirkan dari lamunan, memikirkannya bagai candu. Tiba tiba aku teringat dengan Febi, apa yang dikatakannya siang tadi cukup mengusikku.

"Duuutttt"

Bunyi kentut yang keras membuyarkan lamunan, disusul aroma menyengat cukup membuat Hasan terduduk jengkel.

"Irul semprull", Hasan menggerutu sambil menutup hidung.

"Cah, wetengku mules, bagaimana nih?", Irul meringis panik, wajahnya terlihat merah padam, tangannya memegang perut dan pantat.

"Ya terpaksa ke sungai, yok tak antar", jawabku kasihan. Aku ambil senter bersiap untuk ke sungai. Ternyata Hasan ngikut.

"Sekalian deh aku ikut, daripada nanti malem aku yo mules, mending sekarang aja sekalian kita ngeden bareng Rul", celutuk Hasan.

Akhirnya kami bertiga berjalan ke luar rumah bergegas menuju ke sungai.

. . . .

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!