NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pohon Emas dan Terobosan Beruntun

Setelah berhasil menjauh dari istana kuno, Chen er terhenti di bawah naungan pohon rindang. Cincin ruang kelas Langit di jarinya memancarkan pendaran tipis ketika ia hendak mengeluarkan Tombak yang baru didapatkannya. Namun, gerakan mendadak dari kantong penyimpanan memicu getaran halus di pinggangnya sebelum ia sempat menyentuh senjata itu.

"Grr... guk!"

Suara parau mencuat bersamaan dengan munculnya kepala berbulu emas dari balik lipatan Kantong Semesta miliknya.

Tangan Chen er bergerak mengusap dahi emas di depannya dengan kelembutan yang tulus. "Kau langsung keluar begitu situasi mulai tenang, Lin er?"

Moncong Xiao Lin bergeser menggosok telapak tangan Chen er, lalu matanya yang bulat terarah ke depan. "Gggrrr!"

Tatapan mata Chen er mengikuti arah pandangan anak Kirin tersebut dan seketika terpaku pada pemandangan yang membentang luas di hadapan mereka. Hutan di bagian dalam dimensi kuno ini terlihat luar biasa aneh dengan puluhan struktur bangunan berbentuk pagoda dari ukuran kecil hingga menjulang setinggi sembilan lantai.

"Tempat macam apa ini? Mengapa ada begitu banyak pagoda di tengah belantara?" Dahi Chen er mengernyit saat mengamati keunikan wilayah tersebut.

"Auuu..." rintih Xiao Lin pelan, melangkah beberapa jengkal ke depan dengan kaki-kaki kokohnya yang bersiap untuk berlari.

"Jangan bertindak gegabah, Lin er." Rasa cemas membayang ketika matanya memandang menara-menara di depan. "Hutan ini dipenuhi misteri, kita tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam bangunan-bangunan itu."

"Grr..." sahut Xiao Lin, menatap tajam ke arah Chen er seolah ingin meyakinkan bahwa ia merasakan sesuatu yang penting di depan.

Chen er bersiap untuk bergerak membelah rimbunnya hutan pagoda. "Baiklah, kita menjelajahinya bersama, tetaplah di belakangku."

Di antara barisan pagoda batu tersebut. Beberapa pagoda kecil tampak kosong tanpa sisa peninggalan, sementara di pagoda sedang yang tertutup rapat terdengar desisan rendah dari binatang spiritual yang terkurung di dalam.

Tangan Chen er menarik pundak rekannya menjauh dari pagoda tiga tingkat yang bergetar halus. "Jangan mendekati bangunan dengan aura merah itu, Lin er."

"Gggrrr!" balas Xiao Lin sambil mengangguk cepat, namun hidungnya terus mengendus udara dengan gerakan tidak sabar.

Tiba-tiba anak Kirin itu lari ke arah jalur setapak bersemak liar di sebelah kiri. Ia secepat kilat emas menuju sebuah pagoda kayu tua yang berdiri tersembunyi di balik pohon raksasa.

"Lin er! Tunggu!" seru Chen er memacu langkah kakinya dengan cepat, melompati akar pohon besar untuk mengejar bayangan emas yang bergerak luar biasa cepat itu.

"Guk! Guk!" gonggong Xiao Lin dari kejauhan dengan nada gembira.

Chen er langsung mendorong pintu kayu yang setengah hancur itu, bersiap menghadapi bahaya, namun langkah kakinya terhenti seketika dengan mata terbelalak heran.

Pandangan Chen er langsung terkunci pada bagian tengah ruangan hingga kata-katanya terhenti seketika. "Lin er, apa yang kau..."

"Ggrrr!" sahut Xiao Lin sambil berdiri di samping kolam air yang melingkari objek utama di ruangan tersebut.

Ruangan di dalam pagoda itu menyimpan kolam berair jernih yang memancarkan pendaran cahaya keperakan yang lembut. Di tengah kolam tumbuh kokoh sebuah pohon emas berukuran besar dengan daun-daun emas yang meneteskan embun Qi padat yang langsung menguap menjadi kabut spiritual murni.

"Energi Qi di tempat ini... tingkat kerapatannya setidaknya sepuluh kali lipat dibanding wilayah luar!" Chen er menghela merasakan meridiannya otomatis menyerap kabut spiritual tersebut.

"Auuu..." rintih Xiao Lin sambil menjilat air kolam yang jernih dengan penuh kepuasan, lalu menatap Chen er dengan mata bulatnya yang berbinar.

"Ini adalah tempat meditasi yang sempurna." Kesunyian di dalam pagoda seolah memberikan ketenangan bagi jiwa. "Aku akan bermeditasi tepat di tengah pohon emas itu, memanfaatkan pusat aliran energinya."

"Guk!" sahut Xiao Lin sambil menepuk lantai batu menggunakan cakar depannya.

Bukannya bersiaga, Xiao Lin justru duduk tegak di tepi kolam sambil memiringkan kepalanya, sambil melirik cincin ruang di jari Chen er.

"Ggrrr... auuu..." rengek Xiao Lin sambil menepuk-nepuk tepi kolam menggunakan moncongnya yang berbulu lembut.

Senyuman tipis langsung mengembang di wajah Chen er melihat tingkah laku rekannya itu.

"Kau ini benar-benar tidak mau bekerja tanpa upah, ya?" Chen er tertawa kecil sambil membelai tanduk emas di dahi rekannya dari kejauhan.

"Guk! Gggrrr!" balas Xiao Lin sambil mengibaskan ekornya cepat dengan ekspresi memelas yang menggemaskan.

Tiga butir pil hijau zamrud berpola awan emas dikeluarkan dari cincin ruangnya, lalu dilemparkan dengan tepat ke arah Xiao Lin. "Baiklah, ini beberapa butir Pil Pengondensasi Roh untukmu. Tapi ingat, setelah memakan ini, kau harus menjaga pintu masuk dengan tingkat kewaspadaan tinggi."

"Ggrrr... nyam!" sahut Xiao Lin dengan gembira, langsung melahap ketiga pil itu puas merasakan kehangatan energi obat.

"Sekarang giliranku untuk fokus pada kultivasiku sendiri." Chen er memejamkan mata, membiarkan tubuhnya menyatu dengan batang pohon emas yang di bawahnya.

Posisinya yang kini telah bersila dengan sempurna tepat di tengah pohon emas langsung memicu qi bergerak aktif.

Aliran energi spiritual yang padat langsung mengalir deras menuju jalur-jalur meridian fisiknya, Memasuki hari kedua, Ia berhasil menerobos ke "Ranah Pemurnian Tubuh tahap 8". Kekuatan fisiknya meningkat semakin padatnya struktur tulang dan serat ototnya.

"Proses ini belum selesai, energi pohon emas ini masih mengalir tanpa henti," pikirnya terus menyedot sari energi pohon dengan ritme yang semakin cepat dan agresif.

Hari berikutnya langsung membawa terobosan baru energi dari dalam serat-serat pohon emas semakin membesar memicu terobosan ke "Ranah Pemurnian Tubuh tahap 9".

Tarikan energi spiritual dari pohon emas di dalam pagoda tua itu semakin menggila saat meditasi memasuki hari ketujuh, memicu terobosan ke "Ranah Pemurnian Tubuh tahap 10". Tingkat kesempurnaan fisik yang dicapainya berada di puncak tertinggi ranah pemurnian fisik.

"Sekarang adalah saat yang paling menentukan," batin Chen er memusatkan konsentrasinya agar spiritual padat di dalam jalur meridiannya menjadi tetesan energi cair.

Tekanan energi yang luar biasa mulai terbentuk di dalam meridian tubuhnya ketika ia mencoba memaksa energi spiritual yang diserapnya untuk mengembun.

"Kondensasikan energi ini, bentuk fondasi Qi pertama di dalam jalur nadiku!" batin Chen er menggertakkan giginya rapat-rapat menahan rasa sakit yang mendera.

Pengumpulan energi spiritual cair akhirnya berhasil diselesaikan ketika seluruh energi Qi di dalam serat-serat pohon emas tersebut habis terserap. "Ranah Kondensasi Qi tahap 1". Energi Qi sejati kini mengalir lancar di dalam meridian dan dantian miliknya.

Lautan kesadaran di dalam kepalanya mendadak bergejolak tenang sesaat setelah ia berhasil menerobos di ranah Kondensasi Qi tahap 1. Chen er langsung mengalihkan fokus batinnya untuk masuk ke dalam dimensi spiritualnya.

"Ada yang berbeda dengan aura kitab ini," gumam ia dalam batinnya saat menatap lembaran emas raksasa yang melayang anggun di dalam ruang lautan kesadarannya.

Lembaran emas Kitab Maha Tahu yang biasanya hanya memproyeksikan barisan aksara kuno emas kini tampak dikelilingi oleh pusaran cahaya biru gelap. Pola-pola segel kuno di permukaan lembarannya tampaknya sedang mengalami proses evolusi spiritual yang luar biasa akibat terobosannya ke ranah Kondensasi Qi.

"Entah apa yang terjadi dengan kitab ini?" gumam Chen er penuh keheranan ketika mengamati perubahan aksara kuno yang kini terlihat lebih padat dan tajam,

Kesadaran batinnya perlahan ditarik keluar dari lautan pikiran seiring dengan stabilnya aliran Qi keemasan di seluruh tubuh fisiknya. Chen er perlahan membuka kedua kelopak matanya.

"Lin er, aku telah menyelesaikan meditasiku." Chen er menghela napas panjang, mengeluarkan udara hangat dengan penuh kepuasan.

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!