Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Diskors
Jam 03:00 sore.
Arga berdiri di depan ruang BK dengan wajah yang justru tampak senang. "Mantap juga kena diskors 5 hari. Sudah dapat duit, libur pula," gumamnya puas.
Meski harus mendengarkan omelan guru BK yang panjang lebar, ia merasa impas.
Ia melirik ke koridor yang sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa guru yang lalu lalang.
Saat hendak bergegas ke kantin untuk mengambil hasil untungnya, Arga tidak sengaja berpapasan dengan seorang siswi yang sedang membawa tumpukan buku.
Brukk!
Mereka bertabrakan. Buku-buku itu berhamburan ke lantai.
"Maaf, maaf," ucap Arga refleks sambil memunguti buku tersebut. Ia menoleh dan mendapati seorang siswi berwajah cantik dengan ekspresi jutek sedang menatapnya tajam.
"Kalau jalan pakai mata dong! Kamu dari kelas 2-B, kan? Arga, ya?"
"Kok tahu?" tanya Arga sambil menyerahkan buku-buku tadi.
"Tentu saja tahu. Aku ini pengurus OSIS. Kamu cukup terkenal karena akhir-akhir ini suka cari gara-gara. Kenapa sih harus ada murid nakal kayak kalian? Sekolah jadi tidak tentram tahu!"
Arga mengernyit. "Lah, jangan nyalahin aku. Salahin tuh Devan sama Hendra. Emangnya kamu berani negur mereka? Anggap saja aku lagi gantiin tugas OSIS, wkwk."
"Aku tidak bilang kamu tidak salah, tapi kamu sama saja kayak mereka. Nakal. Aku jarang lihat kamu di luar kelas dan cuma tahu kalau kamu itu adiknya Devan."
"Oh." Arga hendak melangkah pergi, tapi siswi itu menahan lengannya.
"Kok kamu ngeselin ya?! Apa maksudnya dengan 'oh'? Kamu meremehkanku?!"
"Maaf, aku banyak urusan. Lagian aku juga tidak tahu siapa namamu. Duluan ya."
"Hei! Masa kamu tidak tahu namaku?! Kamu ini sekolah ke mana saja?! Aku Sindi, wakil ketua OSIS!"
Arga menoleh sebentar. "Oke, Sindi. Itu keren, setidaknya kamu punya ambisi. Sampai jumpa lagi, karena aku mau libur 5 hari!"
Sindi hanya bisa berdiri mematung dengan wajah kesal. "Nyebelin banget tuh orang aneh!"
Setelah mengambil uang hasil dari pedagang kantin, Arga menatap layar sistemnya yang muncul di depan mata.
[Total pendapatan: Rp20.000.000 + Rp150.000]
[x5 dan di bulatkan: Total saldo menjadi Rp110.150.000]
Arga terkejut. "Jadi uang taruhan pun dihitung usaha? Yah, yang penting untung. Beli apa ya? Harus foya-foya nih."
Di tengah jalan, ia melihat seorang pria yang sedang mengenakan kostum badut kelinci. Arga mendekatinya. "Bang!"
"Eh, ada apa, Dek?"
"Capek gak, Bang?"
Pria itu membuka kepala kostumnya, memperlihatkan wajah pria berumur sekitar 28 tahun. "Ya capek lah, kenapa?"
Arga mengeluarkan beberapa gepok uang. "Jadi badut sepertinya menarik. Jual saja kostumnya sama saya."
Pria itu membelalak. Arga menyodorkan uang 20 juta rupiah. Padahal harga kostum seperti itu tidak mungkin semahal itu. "Eh? Bercanda kamu, Dek?"
"Mau gak?"
"Ah, ya mau lah!"
Kostum badut itu pun beralih tangan ke Arga. Ia langsung memakainya. "Gak apa-apa nih belum dicuci?"
"Santai saja, Bang."
Arga merasa senang dengan penampilannya. Ia lalu mampir ke toko mainan untuk membeli sebuah kapak plastik yang terlihat realistis. "Haha, ini pasti seru!"
Setibanya di bengkel, Bang Jaya yang sedang sibuk mengganti oli motor pelanggan berdecak kesal. "Itu anak ke mana lagi? Padahal jam segini harusnya sudah pulang."
"B-Bang, i-itu... ada badut kelinci!" salah satu pelanggan menepuk bahu Jaya dengan panik.
Jaya menoleh dan tersentak. "Astaga!"
Badut kelinci itu berdiri diam di depan bengkel sambil memegang kapak. Jaya dan pelanggannya gemetar.
"Bang, jangan-jangan dia psikopat. Kayak di game horor yang suka ada badut psikopat!" bisik pelanggan itu ketakutan.
Badut itu perlahan bergerak, lalu berlari ke arah Jaya. Jaya yang ketakutan langsung berbalik dan berusaha lari, tapi malah jatuh tersandung motor pelanggan. "A-ampun! Jangan bunuh saya!"
Badut itu mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Namun, bukannya menebas, sebuah suara familier keluar dari balik topeng itu.
"Hahaha! Ngapain, Bang Jay?"
"Arga?!" Ekspresi ketakutan Jaya berubah jadi kesal. "Sialan banget nih anak! Ngapain pakai kostum begituan, pea?!"
"Yah, lumayan lah buat nakutin orang," sahut Arga sambil membuka topengnya.
Jaya berdiri sambil mengelus dada. "Bikin jantungan saja! Gara-gara kamu, semua pelanggan malah kabur. Cepat beresin semua motor, aku harus urus mobil di sana."
"Oke, siap Bang Jay!" Arga segera mengerjakan tugasnya.
Beberapa jam kemudian, dari kejauhan, seorang remaja perempuan berjalan sendirian. Ia berhenti sejenak. "Eh? Bukannya itu Kak Arga?"
Itu Tiara. Sepertinya dia sedang bosan di rumah. Ia mendekat ke bengkel. "Kamu lagi ngapain di sini?!"
Arga yang sedang memeriksa mesin motor mendongak. "Tiara? Ngapain di sini? Ini lagi kerja."
"Aku kebetulan lewat. Kamu kerja mulu, gak capek?"
"Mana ada kerja yang gak capek. Cuma mau nikmati masa muda saja. Mau belajar gak?"
"Belajar apa?"
"Belajar memperbaiki mesin motor."
"Eh? Memangnya boleh? Aku gak bisa."
Arga terkekeh. "Mana ada yang langsung bisa. Dulu aku juga diajarin Bang Jaya, jadi santai saja."
Awalnya Tiara ragu, namun akhirnya ia setuju. Arga mengajarinya dengan cara yang mudah dimengerti. Tiara pun tampak antusias.
"Kamu ahli sekali, sudah lama kerja di sini?"
"Yah, lumayan lah."
"Tapi... kenapa kamu pakai kostum badut?"
"Gak ada alasan, cuma iseng saja. Penasaran rasanya jadi badut."
Sore harinya jam 5, Arga, Tiara, dan Jaya duduk beristirahat.
"Jadi, dia ini murid lesmu, Ga?" tanya Jaya.
"Yoi, Bang. Lucu kan?"
"Ya, kelihatan sih kalau anak orang kaya," sahut Jaya.
Sambil merokok, Arga bertanya, "Sekarang sudah punya anak belum, Bang? Masih belum ada kemajuan?"
"Kok kamu tahu kalau aku dan istriku belum punya anak?"
"Tahu saja. Semangat saja, nanti juga pasti ada hasilnya. Coba lakuin 'anunya' 20 kali sehari, Bang, wkwk!"
"Gila kamu, Ga?! Yang ada malah sakit pinggang, haha!"
Mereka tertawa bersama. Arga menyodorkan bungkus rokoknya. "Nih, Bang. Sebat dikit."
"Lagi banyak duit nih?"
"Biasalah."
Tak lama kemudian, Arga dan Tiara berpamitan. Sebelum pergi, Arga meletakkan uang 2 juta rupiah di meja bengkel dari untung bengkel hari ini. "Ambil, Bang. Anggap saja gaji balik."
"Wei! Duit dari mana ini?!"
Arga sudah keburu pergi bersama Tiara.
Setelah mengantar Tiara pulang, Arga mampir ke toko elektronik untuk membeli laptop seharga 42 juta rupiah, lalu ia pun pulang ke rumah.