NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Klang klang klang!

Suara kuali baja Arka menjadi musik pengiring revolusi lidah yang sedang terjadi di depan pabrik musuhnya.

Sementara itu, di dalam kantin utama pabrik Kusuma, pemandangan yang sangat memalukan sedang terjadi.

Ratusan panci besar berisi katering pabrik yang hambar dan dingin sama sekali tidak tersentuh oleh satu orang buruh pun.

Manajer pabrik yang berperut buncit dan berkumis tebal berjalan masuk ke kantin dengan wajah yang sangat merah menahan marah.

"Ke mana semua buruh sialan itu pergi? Kenapa kantin ini kosong melompong padahal ini jam istirahat?!" Manajer itu membentak para petugas katering yang ketakutan.

"A-anu Pak Manajer, semua buruh lari ke seberang jalan untuk makan di tenda putih milik seorang koki jalanan." Jawab salah satu petugas katering dengan suara bergetar.

"Apa kau bilang? Mereka berani memboikot makanan pabrik yang sudah disediakan oleh Tuan Hendra?!" Manajer itu membelalakkan matanya tidak percaya.

Katering pabrik adalah salah satu cara keluarga Kusuma untuk memonopoli uang makan siang para buruhnya sendiri.

Jika buruh tidak makan di kantin, maka uang potongan katering bulanan mereka harus dikembalikan utuh, dan itu akan merugikan keuangan pabrik secara masif.

"Panggil selusin petugas keamanan pabrik yang bawa pentungan, kita bubarkan tenda liar di seberang jalan itu sekarang juga!" Perintah manajer itu dengan suara menggelegar.

Belasan satpam pabrik bertubuh kekar segera berkumpul dan mengikuti manajer buncit itu keluar dari gerbang pabrik dengan langkah arogan.

Mereka berjalan menyeberangi jalan raya dengan gaya sok berkuasa dan langsung menerobos masuk ke dalam tenda dapur umum Arka.

"Hei kalian semua buruh pemalas, berhenti makan makanan sampah ini dan kembali ke kantin pabrik sekarang juga!" Manajer pabrik itu berteriak keras menggunakan pelantang suara portabel.

Suasana di dalam tenda seketika menjadi sunyi senyap.

Ribuan buruh menghentikan kunyahan mereka dan menatap manajer itu dengan pandangan yang bercampur antara takut dan benci.

"Dan kau koki rendahan, siapa yang memberimu izin membuka tenda kumuh di depan pabrik Tuan Hendra?!" Manajer itu menunjuk wajah Arka dengan tongkat komandonya.

Arka meletakkan sutil bajanya dengan sangat pelan lalu mengelap tangannya pada sebuah kain bersih.

Ia berjalan mendekati manajer pabrik itu dengan langkah yang sangat tenang namun memancarkan aura tekanan yang luar biasa berat.

"Tanah kosong ini adalah milik Grup Malika, dan aku memiliki izin resmi untuk membuka dapur umum ini kapan saja aku mau." Arka menjawab dengan suara dingin dan tatapan mata yang setajam silet.

Manajer pabrik itu sedikit tersentak mendengar nama Grup Malika disebut, namun ia mencoba mempertahankan arogansinya.

"Aku tidak peduli tanah siapa ini, kau telah menghasut buruhku untuk memboikot katering resmi pabrik!" Bentak manajer itu mulai kehabisan alasan logis.

"Menghasut? Aku hanya menjual makanan enak seharga lima ribu rupiah, mereka sendiri yang memilih datang kemari dengan kaki mereka." Arka tersenyum sinis dan melipat tangannya di dada.

"Kalau katering pabrik kalian memang seenak klaimnya, kenapa kalian harus memaksa mereka untuk memakannya dengan ancaman pentungan?" Sindir Arka dengan sangat telak.

Ucapan Arka itu bagaikan bensin yang disiramkan ke atas kobaran api kemarahan para buruh yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.

"Benar kata Mas Koki! Katering pabrik harganya mahal sepuluh ribu tapi rasanya seperti makanan basi!" Teriak buruh muda yang tadi pertama kali masuk ke tenda.

"Kami berhak makan di mana saja dengan uang kami sendiri, jangan paksa kami makan sampah pabrik kalian!" Sahut buruh paruh baya lainnya yang mulai berdiri dari kursinya.

Seketika itu juga, ribuan buruh pabrik yang biasanya diam tertindas ikut berdiri dan meneriakkan protes mereka secara serentak.

"Tolak katering pabrik! Tolak katering pabrik!" Teriakan ribuan orang itu bergema sangat dahsyat hingga membuat tenda raksasa itu sedikit bergetar.

Melihat ribuan buruh yang bersatu dan mengamuk, wajah manajer pabrik dan belasan satpam itu seketika memucat seperti mayat.

Nyali mereka langsung menciut total, menyadari bahwa pentungan mereka tidak akan berarti apa-apa melawan jumlah buruh yang sedang marah besar itu.

"K-kalian semua akan menyesal, aku akan laporkan pemberontakan ini pada Tuan Hendra!" Manajer itu berteriak dengan suara bergetar ketakutan sambil perlahan melangkah mundur.

"Silakan laporkan pada si tua bangka itu, dan sampaikan padanya bahwa mulai besok, tidak akan ada satu pun buruh yang sudi menyentuh katering busuknya lagi." Arka memberikan pesan terakhir dengan senyum iblis yang sangat menakutkan.

Manajer dan para satpamnya akhirnya berbalik dan lari terbirit-birit kembali ke dalam gerbang pabrik bagaikan gerombolan tikus yang ketakutan.

Sorak sorai kemenangan langsung meledak dari ribuan buruh di dalam tenda Arka.

Prok prok prok!

Mereka bertepuk tangan dan mengelu-elukan nama Arka layaknya seorang pahlawan revolusi yang baru saja membebaskan mereka dari penjajahan.

"Mas Arka, kau benar-benar gila, kau baru saja membuat kerusuhan massal hanya dengan berbekal sepanci sayur lodeh." Nisa berbisik dari belakang Arka dengan wajah yang masih terkejut namun takjub.

"Ini baru langkah pertama Nisa, aku akan mengeringkan semua sumber pendapatan keluarga Kusuma satu per satu." Arka tersenyum puas menatap ke arah cerobong asap pabrik musuhnya.

Hari itu, Dapur Umum Arka berhasil menjual habis lebih dari tiga ribu porsi nasi rames hanya dalam waktu kurang dari dua jam istirahat.

[Ding!]

[Misi Terselubung Berhasil: Monopoli Perut Massa.]

[Host mendapatkan 500 Poin Kepuasan.]

Arka menutup tenda dapur umumnya dengan hati yang sangat riang gembira karena poin kepuasannya kembali melimpah ruah.

Sementara itu, di dalam ruang direktur utama Pabrik Kusuma yang berada di lantai teratas, sebuah telepon sedang berdering dengan sangat histeris.

Hendra Kusuma yang baru saja tiba di kantornya mengangkat telepon itu dengan dahi berkerut tajam.

"Halo, ada apa kau meneleponku dengan panik begitu manajer bodoh?" Suara Hendra terdengar sangat berat dan mengancam.

"B-Bos Hendra, ampun Bos, katering pabrik kita hari ini rugi total seratus persen." Suara manajer buncit itu terdengar menangis dari seberang telepon.

"Koki bernama Arka itu membuka dapur umum di seberang pabrik dan mencuri semua pelanggan buruh kita!"

Mendengar nama Arka kembali menghantui bisnisnya, urat leher Hendra Kusuma langsung menonjol keluar menahan amarah yang meledak-ledak.

Krek!

Gagang telepon di tangannya retak karena dicengkeram terlalu kuat oleh genggaman mafia kejam itu.

"Anak ingusan itu benar-benar mengibarkan bendera perang berdarah melawanku." Hendra mendesis dengan tatapan mata yang penuh kebencian murni.

Ia menyadari bahwa Arka bukanlah koki sembarangan yang bisa diancam atau disabotase dengan cara-cara biasa.

Arka adalah monster bisnis yang bisa mengubah masakan murah menjadi senjata penghancur massal yang paling mematikan.

"Siapkan mobilku, kita akan mengunjungi balaikota sekarang juga." Hendra memberikan perintah pada asisten pribadinya.

"Jika aku tidak bisa menghancurkannya di jalanan, aku akan menghancurkannya menggunakan hukum tertinggi di kota ini." Bisik Hendra dengan rencana licik yang jauh lebih gelap dari sebelumnya.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!