Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb18
Ryn baru selesai mengganti seragam di loker mendapat pesan dari Sian bahwa dia tidak bisa pulang bersama. Sian harus menghadiri pertemuan pribadi dengan beberapa kolega penting. Tanpa sadar Ryn berdecak kesal mengetahuinya.
"Ryn ayo ikut, kami mau mencoba tempat makan di seberang jalan." Ajak Bass, Bandi diikuti pak Lim dan Glenn bertemu Ryn di pintu keluar khusus staf. Ryn memang menjadi satu-satunya staf wanita di bagian restoran.
"Ikut saja Ryn, dari pada kau langsung pulang dan sendirian." Pak Lim buka suara membujuk Ryn agar menerima ajakan mereka.
"Baiklah, aku ikut." Bibir Ryn tersenyum hangat, mereka terkesima melihat itu untuk pertama kalinya. Biasanya Ryn bersikap tegas dan dingin. Jarang bergurau di saat jam kerja masih berlangsung.
"Pantas saja tuan muda tergila-gila..." Gumam Bandi masih bisa di dengar semua orang. Ryn hanya mengedikkan bahunya enggan menanggapi.
Mereka berlima akhirnya menyebrangi jalan raya dan masuk ke kedai yang baru saja buka akhir pekan lalu. Ternyata menu khas mereka berasal dari negeri ginseng, menyediakan berbagai jajanan menggugah selera seperti Ttopoki, ramen, kimbab sampai roti berbentuk ikan juga ada. Tak lupa soju dan varian kopi sebagai menu minuman favorit.
"Pesanlah Ryn, kami akan mentraktirmu." Ucap pak Lim memerintah Ryn memilih apa yang dia ingin makan dan minum.
"Betul Ryn, kau harus banyak makan. Tubuhmu kurus selepas sakit kemarin." Bandi menimpali diikuti anggukan yang lain.
"Ok, kalau begitu aku tidak akan sungkan." Ryn mulai memindai deretan gambar menu, apapun pergerakan Ryn selalu menyedot perhatian Glenn dan Bass. Bass diam-diam menyukai Ryn, berbeda dengan Glenn yang terang-terangan mengakuinya bahkan menyatakan langsung.
Usai memesan mereka duduk berhadapan menunggu makanan dibuat. Pak Lim tampak mengobrol santai soal memancing. Sementara Ryn lebih nyaman memandang ke arah jalanan yang ramai, menikmati angin sore menenangkan.
Glenn yang baru keluar dari toilet tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis muda nan cantik mengundang perhatian orang-orang. Ryn melirik mengenali gadis itu.
"Hei nona jalan pakai mata." Protes Glenn sedikit membentak.
"Yang benar itu jalan pakai kaki, begitu saja kau tidak tahu cih..." Mendengar balasan sang gadis sontak teman-teman Glenn menahan tawa.
"Dasar gadis aneh." Gumam Glenn sambil berlalu begitu saja karena malas memperpanjang masalah.
"Hei bukankan kau ini staf restoran Le star?" Ternyata gadis yang bertabrakan dengan Glenn mengenali Ryn, menghampiri meja mereka.
"Iya nona, maafkan teman kami dia tidak sengaja." Ryn berdiri sedikit menunduk pada Meimei.
"Ryn untuk apa kau meminta maaf? Dia yang salah." Glenn tidak enak Ryn mewakili dirinya.
"Glenn, nona ini tamu tuan Sian." Panggilan berbeda dari Ryn cukup mengesankan bagi Meimei. Ia tahu selama ini belum pernah ada yang memanggil nama Sian secara langsung.
Para staf memang tidak mengenali bahkan belum pernah bertemu adik Sian secara langsung, kecuali para jajaran atas. Mereka hanya tahu nama tidak dengan rupa.
"Boleh aku bergabung?" Meimei menyadari mereka tidak mengenali dirinya sebagai adik Sian tiba-tiba ingin dekat dengan staf kakaknya.
"Silahkan nona. Bass pindah ke sebelahku biarkan dia duduk di dekat Ryn." Perintah Pak Lim mengatur tempat agar senyaman mungkin.
"Terima kasih." Ucap Meimei setelah Bass beranjak.
Meski kehadiran Meimei bukan termasuk rencana, mereka terlihat tetap menikmati suasana apalagi makanan mulai berdatangan.
Ryn kembali menjadi pendiam. Dia masih kesal mengingat Sian dekat sekali dengan Meimei tanpa berniat menjelaskan hubungan keduanya.
Ryn terlihat sedikit mabuk akibat terlalu banyak meminum soju. Hampir habis dua botol sendirian. Sedangkan Meimei asik mengobrol bersama pak Lim dan Bandi.
"Kau mabuk?" Tanya Bass khawatir. Sedangkan Glenn mengalihkan pandangan, dia kapok dihajar oleh Sian jadi tak ingin mencari masalah dan memilih untuk mengabaikan Ryn. Meskipun dalam hati Glenn masih menyukainya.
"Tidak." Ryn menggeleng membantah namun mata sayu dan merahnya menjadi bukti.
"Bass sebaiknya kau antar Ryn pulang." Usul pak Lim mulai khawatir melihat Ryn.
"Tidak perlu!" Suara seseorang yang baru muncul mengalihkan perhatian semua orang termasuk Ryn.
Ryn mendengus mengetahui siapa yang datang. Ia yakin Sian pasti menjemput Meimei. Lagi pula mana mungkin Sian berani mencarinya di hadapan banyak orang. Namun Ryn sedikit lupa kalau Sian tak pernah sekalipun menutupi hubungan mereka pada siapapun.
"Meimei pergi ke mobil!" Perintah Sian, dia langsung menarik tangan Ryn membantunya berdiri.
"Sian aku tidak mabuk." Ryn menyangkal tetapi tubuhnya terhuyung ke arah dada Sian.
"Diam, menurut saja." Ketegasan Sian disaksikan langsung oleh stafnya, mereka merinding. Pada Ryn yang merupakan kekasihnya saja Sian bersikap tegas apalagi terhadap mereka, hanya para pekerjanya.
"Untuk pembayaran tuan muda sudah melakukannya." Ucap Jun memberitahu kemudian menuntun Meimei keluar.
"Sial, aku sudah mengusik adik tuan muda Lee." Gumam Glenn menyadari kesalahannya bisa berakibat fatal. Apakah Meimei akan mengadu pada Sian?
"Berdo'a saja semoga nona muda melupakan kejadian tadi." Bandi menepuk punggung Glenn menyemangati.
Ryn menyenderkan kepalanya ke sisi kiri mobil, memejamkan mata mencoba mengurangi rasa pusing. Sedangkan di kursi depan sebelah kemudi Meimei curi curi pandang ke belakang penasaran tentang hubungan keduanya.
"Jun keke, apa staf wanita itu benar kekasih Sian?" Meimei setengah berbisik bertanya pada Jun, sayangnya Sian masih bisa mendengarnya.
"Jun antar dia ke apartemen..."
"Aku tidak mau, aku akan ikut keke kemanapun." Langsung saja Meimei menolak perintah Sian. Sang kakak hanya bisa menghela nafas pasrah dan mengalah. Dia mengerti Meimei pasti merasa kesepian jika sendiri.
"Sian kau brengsek!" Umpatan Ryn untuk Sian tentu mencengangkan semua yang berada di dalam mobil. Meimei takut-takut melirik ke arah belakang, mungkinkah Sian akan mengamuk mendapat kata kasar dari Ryn?
"Aku akan menghukummu Zhao Ryn." Ancam Sian tegas, dia marah karena Ryn beraninya mabuk bersama banyak pria. Meskipun Meimei sang adik ikut menemani Sian enggan mengampuni.
Setibanya mobil di kediaman Sian ke-empatnya turun bersama. Ryn berjalan sempoyongan tak ingin dituntun oleh Sian.
"Siapkan sup pereda pengar." Perintah Sian pada paman Sam selaku juru masak utama. Dia berlari menyusul Ryn yang hampir terpeleset di tangga.
"Ckck, Sian tiba-tiba menjadi budak cinta." Di bawah Meimei meledek kakak kandungnya sedangkan Jun malah merasa lucu menyaksikan tingkah mereka.
"Selamat beristirahat nona." Ucap Jun sebelum pamit undur diri, ia tidak perlu mengantar Meimei sampai kamar karena bukan ranahnya. Lagipula Meimei sudah tahu dimana letak kamar miliknya setiap berkunjung.
Meimei menghela nafas, Sian keke-nya pasti sedang bermesraan dengan sang pujaan hati. Lantas iapun terpaksa memilih kamar tamu di lantai satu. Gila saja Meimei jika harus mendengar suara-suara laknat keduanya saat olahraga malam.
Sian membuktikan ucapan bahwa dirinya akan memberi Ryn hukuman. Tak perduli wanita yang kini mengerang dibawahnya masih sedikit terpengaruh alkohol. Bagi Sian pelepasan satu kali tidak akan pernah cukup. Namun ia tetap memberi Ryn jeda beristirahat. Tak lupa Sian juga memesan makan malam mereka untuk diantar ke kamar.
"Ryn, makan dulu." Sian mengusap pipi kemerahan Ryn, dia begitu nyenyak tertidur dalam balutan selimut.
"Em,,," Ryn menggelengkan kepala menolak ajakan Sian.
Sian kembali dibuat kesal. Ryn pasti sangat kelelahan hingga enggan beranjak. Sian merasa bersalah malah membuat Ryn tertidur tanpa makan malam lebih dulu.
Matahari mulai menampakkan dirinya di penghujung pekan. Suara burung menjadi alarm yang membangunkan Ryn. Sian seperti biasa berolahraga pagi setelah semalaman energinya terkuras habis. Dia harus tetap bugar demi kesehatan juga rencana mewujudkan keinginannya yaitu memiliki anak dari Ryn.
Ryn terbangun dengan keadaan tanpa busana, badannya terasa remuk juga perih di area intinya. Duduk bersandar sejenak mengingat hal apa yang telah ia lewati semalam. Sian tanpa menghargai perasaannya malah tetap menyetubuhi Ryn meski dia tengah mabuk.
"Sudah bangun?" Saking emosi memikirkan hal itu Ryn sampai tidak sadar Sian sudah berdiri di tengah pintu kamar.
"Sian kau pria tidak bermoral." Satu bantal
Ryn lempar sekuat tenaga berharap tepat sasaran. Sayangnya Sian berhasil menahan serangan Ryn.
"Itu hukuman karena kau mabuk bersama pria lain, lebih dari satu orang bahkan." Sian berjalan mendekat, menaruh kembali bantal di tangannya.
"Haruskah kau melakukannya saat aku mabuk? Kau memperkosaku Lee Sian!" Teriak Ryn memukul-mukul lengan hingga paha Sian.
"Aku bisa melakukannya kapanpun Zhao Ryn. Kau hanya milikku, tidak boleh ada selain aku!" Tegas Sian memperingati Ryn. Wanita muda itu mendengus sebagai tanggapan.
"Minum sup nya sebelum mandi. Aku menunggu di meja makan." Perintah Sian lalu mengecup kening Ryn sebelum keluar kamar.