Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang di nanti
Langit Tokyo masih diselimuti warna kebiruan ketika Keiko sudah bersiap meninggalkan rumah. Ia bahkan terbangun beberapa menit sebelum alarmnya berbunyi. Hampir sepanjang malam ia tidak benar-benar tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan tubuh Shiro yang terbaring lemah di pelukannya kembali muncul.
Sesampainya di klinik, pintu baru saja dibuka. Seorang perawat yang mengenalinya dari malam sebelumnya menyapanya dengan senyum kecil sebelum mempersilahkannya menunggu beberapa saat.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang perawatan "Selamat pagi keiko-san."
Keiko segera berdiri
"Pagi dokter, Bagaimana keadaan Shiro?"
"Shiro kucing yang kuat, Dia melewati malamnya dengan baik." Perlahan dokter dan keiko berjalan menuju ruang perawatan
"Lukanya masih membutuhkan waktu untuk pulih. Kondisinya juga masih lemah karena dehidrasi dan kelelahan. Tapi sejauh ini tidak ada hal yang mengkhawatirkan."
Bahu Keiko yang sejak tadi menegang akhirnya sedikit mengendur. "Syukurlah dokter, boleh aku lihat shiro..."
Dokter membuka pintu ruang rawat "Silakan. Dia masih tidur."
Keiko melangkah masuk. Ruangan itu masih sama seperti semalam. Sunyi, hanya diiringi bunyi pelan tetesan infus. Shiro masih terbaring di dalam kandang rawat. Perban membalut bahu kirinya, sementara keempat telapak kakinya dibungkus kain kasa tipis.
Keiko duduk di kursi yang berada tepat di samping kandang. Ia tersenyum kecil. "shiro..Aku sudah datang."
Tak ada jawaban.
"Aku benar-benar tidak sabar menunggu pagi. Aku ingin segera melihatmu shiro"
Tangannya perlahan menyelinap melalui sela jeruji kandang untuk mengusap lembut punggung Shiro. "Syukurlah... aku masih sempat menemukanmu."
Shiro tetap terlelap. Keiko tersenyum tipis.
"Kamu Masih ingat? Belum lama ini aku juga pernah menolongmu kan..Waktu itu kau dikejar anjing.."
Senyumnya sedikit melebar. "Habis kutolong... malah kau mencakarku."
Ia terkekeh pelan mengingat kejadian itu. "Padahal aku cuma mau membantumu."
Jemarinya kembali mengusap bulu abu-abu Shiro dengan hati-hati. "Sekarang aku menolongmu lagi. Dan lagi-lagi gara-gara anjing."
Keiko menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri. "Kau ini sebenarnya punya masalah apa sih dengan anjing?"
Ruangan kembali hening.
Keiko menyandarkan kepalanya pada sisi kandang, tangannya masih mengusap pelan punggung Shiro. Seolah ingin memastikan sentuhan nya bisa membantu shiro membaik.
Keiko terdiam seketika. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat melihat sepasang mata itu kini terbuka, membalas tatapannya.
"Shiro..." suara Keiko nyaris bergetar. Air mata yang sejak tadi berhasil ia tahan kini jatuh begitu saja. "Shiro..."
Ia segera mendekat ke sisi kandang. Senyumnya pecah di tengah isak yang tertahan. "Akhirnya kau bangun..."
Shiro tidak mengeluarkan suara, namun telinganya bergerak perlahan—sebuah respons yang sangat khas. Ia berusaha menggeser kepalanya, mencoba mendekat ke arah jemari Keiko yang ada di sela jeruji. Gerakannya lemah, patah-patah, namun penuh dengan keyakinan. "Jangan bergerak dulu shiro.. Kau harus banyak istirahat."
Keiko menyelipkan jari telunjuknya lebih dalam ke dalam kandang, menyentuh lembut kepala Shiro. Begitu kulitnya bersentuhan dengan bulu kucing itu, Shiro memejamkan mata dan menggesekkan pipinya pada jemari Keiko. Ia tidak lagi peduli pada rasa perih di bahunya atau kakinya yang masih kaku oleh perban.
"Syukurlah dewa kucing mendengar doa ku..." bisik Keiko
Shiro kembali membuka matanya. Tatapannya tertuju lurus pada Keiko, seolah sedang merekam setiap inci wajah perempuan itu agar tidak lagi tersesat dalam ingatannya. Ia tidak lagi merasa lelah. Perjalanan ribuan kilometer yang mencekam, dinginnya malam, dan rasa takut akan kegelapan, semuanya seolah sirna hanya dengan satu sentuhan ini.
Ia tidak perlu pulang ke Tsukimori. Ia tidak perlu mencari jalan kembali ke rumah kayu itu. Karena bagi Shiro, rumah bukanlah tentang di mana ia berpijak, melainkan tentang di samping siapa ia berada saat ini.
Keiko menarik napas panjang, mencoba menata kembali perasaannya yang bergejolak. Ia tidak ingin membebani Shiro dengan tangisannya lagi.
"Jangan pergi lagi, ya?" pintanya lirih, hampir seperti sebuah permohonan. "Tolong... jangan pernah pergi sejauh itu lagi."
Shiro terdiam. Ia memberikan satu jawaban paling jujur yang ia punya. Kucing lemah itu mendengkur pelan—suara getaran halus yang muncul dari dadanya sebelum akhirnya sebuah suara kecil memecah kesunyian.
"Meeiw..."
Keiko terdiam. Matanya membulat, menatap Shiro dengan tak percaya. Setelah sekian lama mengenal Shiro sebagai kucing yang selalu diam dan penuh misteri—Namun, ketika mendengar suara itu membuatnya tercenung.
Lalu, sebuah tawa kecil pecah di sela isak tangisnya.
"Shiro .. itulah suara mu...??" bisik Keiko, air mata bahagianya kini mengalir lebih deras ia bahkan terkekeh hingga dadanya sedikit berguncang "Kupikir kau tidak bisa bicara, shiro!!"
Shiro berkedip pelan, menatap Keiko dengan tenang. "...Meiww"
Keiko kembali tertawa, kali ini lebih lepas dan tulus. Ia menyandarkan dahinya di jeruji kandang, membiarkan rasa sesak di dadanya menguap. "Nanti, kalau sudah sehat, akan kuberitahu Kyo kalau gosip tentang kamu itu hoax...ternyata suaramu imut banget shiro.. Dia pasti akan sangat terkejut."
Shiro hanya memandangnya dengan tatapan damai, membiarkan tangan Keiko terus mengusap kepalanya.
Suara tawa Keiko yang pelan terdengar hingga ke luar ruangan. Tak lama kemudian, pintu terbuka perlahan. Dokter masuk bersama seorang perawat.
"Sepertinya pasien kecil kita sudah bangun," ujar dokter itu dengan nada ramah.
Keiko buru-buru menyeka sudut matanya, lalu mengangguk sambil tersenyum. "Dia baru saja membuka mata."
Dokter mendekat ke kandang, lalu memeriksa Shiro dengan gerakan yang sangat hati-hati. Lampu senter kecil diarahkan ke kedua matanya untuk memeriksa respons pupil. Setelah itu, ia memeriksa infus, perban di bahunya, serta denyut nadinya. Shiro tetap diam, meski sesekali ia menoleh ke arah Keiko, seolah memastikan perempuan itu masih berada di sana.
Dokter memperhatikan hal itu , raut wajahnya tampak lebih tenang "Ini pertanda yang sangat baik."
Keiko mengembuskan napas lega. "Apakah dia sudah tidak apa-apa, Dok?"
"Belum sepenuhnya," dokter menggeleng pelan. "Tenaganya masih sangat sedikit. Luka di bahunya juga masih membutuhkan waktu untuk pulih." Beliau menatap Keiko sejenak. "Kalau dia mencoba bergerak, tolong dicegah dulu. Biarkan dia banyak beristirahat."
"Saya mengerti," jawab Keiko patuh.
Dokter kembali menatap Shiro dengan tatapan kagum. "Kucing ini keras kepala. Biasanya pasien dengan kondisi seperti ini masih akan terus tidur. Dia mungkin memaksakan diri bangun karena tahu ada seseorang yang menunggunya."
Keiko spontan menoleh ke arah Shiro. Kucing itu hanya berkedip pelan, seolah tidak membantah ucapan dokter. Dokter pun tersenyum kecil. "Kalau begitu, saya tinggal dulu. Kalau ada apa-apa, tekan bel di samping pintu."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Dokter dan perawat pun keluar meninggalkan ruangan. Suasana kembali hening. Keiko menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke kandang, menatap Shiro dengan tatapan penuh syukur.
"Tuh,,Katanya kau keras kepala," bisik Keiko lembut. "Kurasa beliau benar.. kau harus istirahat shiro agar kau cepat sembuh...lalu kita bisa pulang ke rumah secepatnya"
Shiro memejamkan mata sebentar. "...Meong."
Keiko kembali terkekeh. "Iya, iya. Aku tidak akan menggodamu lagi." Ia mengusap pelan belakang telinga Shiro. "Tidur lagi,, ya. Aku akan tetap di sini..."
Seolah mengerti, Shiro berhenti berusaha mengangkat tubuhnya. Matanya perlahan terpejam kembali, namun kali ini napasnya terdengar jauh lebih tenang. Keiko tetap duduk di sampingnya, tak lagi dihantui rasa takut kehilangan. Kini, yang ia lakukan hanyalah menunggu hari ketika mereka benar-benar bisa pulang bersama.