NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 : Memiliki saudara

Adrian tidak segera menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada Aurora yang masih tertidur pulas. Wajah gadis itu terlihat damai, sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa semakin banyak rahasia tentang masa lalunya yang mulai terungkap.

Ia kemudian mengangkat pandangannya kepada Leonardo. "Seberapa banyak yang Ayah ketahui tentang keluarga Bellini?"

Leonardo mengembuskan napas panjang. "Tidak banyak. Keluarga Bellini adalah salah satu keluarga terpandang di wilayah utara Swiss. Mereka bukan mafia, bukan pula keluarga politik. Mereka dikenal karena memiliki perusahaan farmasi, perkebunan anggur, dan beberapa properti."

"Lalu kenapa semuanya menghilang?" tanya Johan.

Leonardo memejamkan mata sejenak. "Dalam satu malam... keluarga itu lenyap."

"Lenyap?" ulang Adrian.

"Bukan bangkrut seperti yang diberitakan media." Leonardo menatap lurus ke depan. "Mereka dibantai."

Suasana di dalam mobil langsung berubah sunyi.

"Bertahun-tahun lalu, berita resmi mengatakan terjadi kebakaran hebat di kediaman keluarga Bellini. Seluruh anggota keluarga dinyatakan meninggal."

"Tapi itu bohong?" tanya Johan.

Leonardo mengangguk pelan. "Aku datang ke lokasi dua hari setelah kejadian. Rumah itu memang terbakar, tetapi..." rahangnya mengeras, "bekas tembakan jauh lebih banyak daripada bekas kebakaran."

Adrian mulai menyusun setiap informasi di dalam pikirannya. "Api hanya digunakan untuk menghilangkan bukti."

"Tepat."

Johan menatap layar tablet. "Kalau begitu... Nona Aurora kemungkinan adalah satu-satunya penyintas keluarga Bellini."

Leonardo menggeleng perlahan. "Belum tentu."

Semua menoleh kepadanya.

"Kalau benar wanita bermantel krem itu masih hidup..." Ucapan itu terhenti.

Adrian menyambung pelan. "Berarti masih ada penyintas lain."

Di dalam tidurnya, Aurora kembali bermimpi. Namun kali ini semuanya terlihat lebih jelas. Seorang anak perempuan kecil berlari di lorong rumah besar yang dipenuhi lukisan-lukisan tua.

Di belakangnya terdengar suara orang-orang berteriak. "Temukan anak itu!"

"Jangan biarkan dia hidup!"

Tangis bayi menggema. Lalu... seorang wanita muda berlutut di hadapan dua anak perempuan yang wajahnya sangat mirip. Ia memakaikan sebuah liontin bunga lily pada masing-masing anak.

"Dengarkan Ibu..." Air mata wanita itu terus mengalir. "Kalian harus tetap hidup."

"Ibu ikut..."

Salah satu anak kecil menggenggam gaun wanita itu. Wanita tersebut menggeleng sambil tersenyum dalam tangis.

"Ibu akan menyusul."

Tiba-tiba...

Suara ledakan memenuhi rumah. Pintu besar terbuka dengan kasar. Pria-pria bertopeng hitam menyerbu masuk.

"Lady Bellini!"

Wanita itu mendorong kedua anak ke arah dua orang berbeda.

"Bawa mereka!"

"Tidak!"

"Ibu!"

Tangisan dua anak perempuan itu bercampur menjadi satu. Lalu... seseorang menarik salah satu anak menjauh. Bayangan itu perlahan memudar.

"Aurora..."

Aurora mengerutkan kening. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya.

"Ibu..."

Adrian yang masih menggenggam tangannya langsung menyadarinya. "Kau bermimpi lagi."

Leonardo ikut memandang. "Kali ini lebih berat."

Perlahan kelopak mata Aurora bergerak.

Beberapa detik kemudian, matanya terbuka. Ia terlihat kebingungan.

"Di mana ini..."

Adrian menjawab pelan. "Di mobil."

Aurora berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar bahwa kepalanya masih bersandar di bahu Adrian. Wajahnya langsung memerah.

"Ma-maaf!"

Ia buru-buru ingin menjauh, namun Adrian menahannya dengan lembut. "Pelan-pelan."

Aurora berhenti.

"Kau baru bangun."

Aurora menatap tangan mereka, baru saat itu ia sadar jemarinya masih menggenggam tangan Adrian.

Dengan wajah semakin merah, ia segera melepaskannya. "Maaf... aku tidak sengaja."

"Tidak apa-apa."

Aurora menundukkan kepala. "Aku merepotkanmu lagi."

Adrian menggeleng. "Tidak."

Aurora menghela napas. "Aku bermimpi."

Leonardo langsung bertanya lembut. "Apa yang kau lihat?"

Aurora menutup mata, berusaha mengingat. "Aku melihat..." Napasnya mulai memburu. "Sebuah rumah besar. Seorang wanita. Dan..." Ia memegang kepalanya. "Dua anak perempuan."

Jantung Adrian berdegup lebih cepat. "Dua?"

Aurora mengangguk perlahan. "Mereka memakai liontin yang sama."

Ruangan mobil kembali sunyi.

Leonardo dan Adrian saling berpandangan. Tanpa mereka sadari, mimpi Aurora baru saja membenarkan dugaan terbesar mereka.

Liontin bunga lily memang bukan dibuat hanya satu. Dan kemungkinan besar, Aurora tidak pernah sendirian sejak hari ia dilahirkan.

Di suatu tempat, masih ada seorang gadis lain yang membawa separuh rahasia keluarga Bellini.

Sementara itu, jauh di pegunungan utara...

Dua SUV hitam akhirnya memasuki halaman pabrik kayu tua yang telah lama terbengkalai. Dari balik jendela kendaraan Jordi, kamera beresolusi tinggi terus merekam setiap sudut bangunan itu.

Gerbang besi perlahan terbuka, dan kini sebuah lambang elang hitam berukuran besar terlihat terpahat di dinding bagian dalam pabrik.

Jordi menatap layar dengan sorot mata tajam. "Akhirnya..." gumamnya pelan. "Kami menemukan sarang pertama Black Eagle."

Jordi tidak mengalihkan pandangannya dari layar. Lensa kamera beresolusi tinggi terus memperbesar gambar dari pabrik kayu tua itu. Cat dinding yang mengelupas dan jendela-jendela pecah membuat bangunan tersebut tampak seperti sudah lama ditinggalkan. Namun kenyataannya berbeda.

Satu per satu pria bersenjata keluar dari kedua SUV hitam.

"Menghitung jumlah personel," gumam anggota elite di samping Jordi.

"Sembilan..."

"Sebelas..."

"Lima belas."

Jordi menggeleng pelan. "Itu hanya yang sengaja mereka perlihatkan." Ia memperbesar gambar ke arah atap bangunan. "Seperti dugaanku."

"Apa itu, Tuan?"

"Dua penembak jitu."

Operator segera menandai posisi mereka di peta digital. "Kalau begitu tempat ini memang markas pertahanan."

"Bukan." Jordi kembali memperbesar sisi belakang pabrik. "Sebuah markas tidak hanya memiliki satu jalur keluar."

Drone kecil miliknya bergerak memutari bangunan dengan sangat tinggi agar tidak terdeteksi.

Beberapa detik kemudian...

"Kontak baru."

Sebuah terowongan kendaraan terlihat di balik gudang penyimpanan kayu yang runtuh.

Jordi menyipitkan mata. "Mereka memiliki jalur pelarian." Ia segera menghubungi Adrian. "Don."

"Aku mendengarkan."

"Pabrik memiliki sedikitnya empat pintu masuk, dua menara pengawas, dan satu terowongan bawah tanah."

"Jangan menyerang lebih dulu?"

"Tidak, Don."

"Bagus."

"Pasang alat pelacak."

"Dimengerti."

Sementara itu...

SUV keluarga Moretti kembali melaju meninggalkan jalan pegunungan.

Aurora masih memikirkan mimpinya. Ia menggenggam liontin bunga lily lebih erat. "Tuan Leonardo..."

Pria tua itu menoleh. "Iya?"

"Apa mungkin... mimpi itu benar?"

Leonardo tidak langsung menjawab. "Bisa jadi."

Aurora menelan ludah. "Kalau memang benar..." suaranya mulai bergetar, "berarti aku benar-benar memiliki keluarga."

"Ya."

"Dan..." Ia menatap liontin itu. "Aku mungkin punya saudara."

Suasana kembali hening.

Adrian memandang Aurora beberapa detik sebelum berkata pelan. "Jangan berharap terlalu tinggi."

Aurora menoleh.

"Bukan karena aku ingin mengecewakanmu. Karena orang yang kita cari mungkin juga sedang diburu."

Aurora perlahan menundukkan kepala. "Aku mengerti."

Adrian melanjutkan. "Kalau dia masih hidup... berarti selama lebih dari dua puluh tahun dia hidup dalam pelarian."

Ucapan itu membuat dada Aurora kembali terasa sesak. Entah berada di mana gadis lain itu sekarang. Apakah ia hidup dengan bahagia, atau justru mengalami penderitaan yang sama.

Tanpa sadar Aurora berbisik. "Aku harap... kau baik-baik saja."

Di rumah tua di tengah hutan pinus. Wanita bermantel krem duduk sendirian di depan perapian. Di tangannya terdapat sebuah foto lama yang mulai memudar.

Foto itu memperlihatkan sepasang bayi perempuan yang sedang tertidur berdampingan. Masing-masing mengenakan liontin bunga lily.

Air mata kembali jatuh. "Aurora..." Jemarinya lalu bergeser menyentuh bayi yang satunya lagi. "Aurelia."

Suara pintu terbuka.

Pria tua yang sejak tadi menemaninya masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat.

"Nyonya."

Wanita itu segera mengusap air matanya. "Ada apa?"

"Kabar dari orang kita."

Wanita itu menerima amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa foto hasil pengintaian. Foto Adrian, Leonardo, dan... foto Aurora yang sedang berdiri di depan makam kosong.

Tatapannya berhenti pada satu foto lain. Foto Jordi yang diam-diam mengikuti kendaraan Black Eagle. Sorot mata wanita itu langsung berubah.

"Mereka menemukan pabrik itu..."

Pria tua mengangguk. "Lebih cepat dari perkiraan kita."

Wanita itu perlahan berdiri. "Kalau begitu..." Ia memandang ke arah jendela. "Waktunya hampir tiba."

"Apa yang akan Nyonya lakukan?"

Wanita itu menggenggam liontin bunga lily di lehernya. "Aku tidak bisa terus bersembunyi."

"Tapi itu berbahaya."

"Aku tahu."

"Tuan muda Moretti memang kuat. Namun Black Eagle bukan musuh biasa."

Wanita itu tersenyum tipis. "Itulah sebabnya..."

Ia menatap foto Adrian yang sedang berdiri di samping Aurora. "Aku harus memastikan pria itu benar-benar mampu melindungi putriku."

Pria tua itu tampak terkejut. "Nyonya ingin menguji Don Adrian Moretti?"

Wanita itu mengangguk perlahan. "Kalau suatu hari aku benar-benar tidak bisa kembali... setidaknya aku ingin yakin Aurora berada di tangan seseorang yang tidak akan pernah meninggalkannya."

Di saat yang sama, tanpa seorang pun menyadarinya, di ruang bawah tanah pabrik kayu tua. Seorang pria bertopeng elang hitam berdiri menghadap layar monitor raksasa.

Di salah satu layar, terlihat jelas rekaman Aurora yang berlutut di depan makam kosong beberapa jam sebelumnya.

Pria itu tersenyum tipis. "Akhirnya..." Ia menyentuh layar yang menampilkan wajah Aurora. "Pewaris terakhir keluarga Bellini sudah mulai mengingat masa lalunya."

Dari balik bayangan, seorang bawahan berlutut. "Tuan, apakah operasi tahap berikutnya dimulai?"

Pria bertopeng itu mengangguk pelan. "Kirim pesan."

"Kepada siapa?"

"Kepada seluruh anggota Black Eagle." Suara pria itu terdengar dingin memenuhi ruangan. "Perburuan terhadap Putri Bellini... resmi dimulai."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!