Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah meninggalkan restoran mewah itu, pikiran Queen benar - benar tidak bisa tenang. Sepanjang perjalanan di dalam mobil Nial hingga ia sampai di depan gerbang rumahnya, otak Queen terus memutar ulang kejadian di bawah meja tadi.
Aroma parfum Nial yang maskulin, tatapan matanya yang mengintimidasi, dan tentu saja—ciuman nekat yang seharusnya hanya untuk membungkam pria itu, tapi justru berubah menjadi bumerang bagi kewarasannya.
“Dua hari. Kau harus ikut bersamaku selama dua hari.”
Kalimat Nial terus bergema di telinganya. Queen tahu, ia tidak bisa terus - menerus bermain kucing - kucingan dengan Axel.
Kakaknya itu bukan orang bodoh. Jika ia menghilang selama dua hari tanpa penjelasan, Axel akan meratakan Paris hanya untuk menemukannya.
Dengan tekad yang sudah bulat meski lututnya sedikit gemetar, Queen melangkah masuk ke dalam kediaman Arresta. Ia harus bicara. Sekarang atau tidak sama sekali.
Ruang Kerja Axel
Queen berdiri di depan pintu ruang kerja Axel yang tertutup rapat. Ia menarik napas dalam - dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mengetuk pintu itu dengan gerakan ragu.
Tok. Tok.
"Masuk," suara bariton Axel terdengar dari dalam.
Queen membuka pintu, dan mendapati kakaknya sedang duduk di balik meja mahoni besarnya. Tangannya sibuk menandai beberapa dokumen.
"Kau ... sibuk?" tanya Queen.
Axel tidak mendongak dari dokumennya. "Tergantung. Jika kau ingin minta izin untuk pergi berlibur bersama Clarisse atau Kayden, aku tidak sibuk. Tapi jika kau ingin membahas kenapa kau pulang dengan aroma kemeja pria lagi, aku sangat sibuk."
Queen menelan ludah. Ia duduk di hadapan Axel, mencoba mengatur raut wajahnya se-filosofis mungkin.
"Tidak, Axel. Aku ingin berdiskusi. Ini tentang ... ekosistem," ujar Queen asal.
Axel akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Queen datar. "Ekosistem?"
"Ya. Menurutmu, apa yang akan terjadi jika seekor kelinci ... katakanlah kelinci yang sangat cantik dan punya toko bunga ... tiba - tiba merasa bahwa berteman dengan seekor serigala adalah ide yang menarik? Serigala yang ... um, sangat dominan, suka memaksa, tapi sebenarnya punya sisi yang ... ya, kau tahu sendiri."
Axel menyipitkan mata, memberikan tekanan mental yang membuat Queen mulai berkeringat dingin. "Jika kelinci itu adalah adikku, aku akan memastikan serigala itu sudah punah sebelum mereka sempat makan siang bersama."
"Makan siang?" Queen tersentak. "Siapa yang bilang makan siang? Aku bicara tentang ekosistem hutan, Axel!"
"Queen," suara Axel meninggi, tanda kesabarannya mulai menipis. "Berhenti berbicara berputar - putar seperti gasing. Kau payah dalam memberikan perumpamaan. Langsung ke intinya."
Queen meremas ujung bajunya. "Oke. Intinya ... bagaimana jika aku bilang bahwa 'serigala' itu punya nama yang berawalan huruf 'N'?"
"Nial Percy?" sambung Axel cepat.
Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi. Queen tertawa canggung, tawa yang terdengar sangat tidak meyakinkan.
"Hahaha! Nial? Siapa bilang Nial? Aku tadi mau bilang ... Napoleon! Ya, aku sedang membaca sejarah tentang Napoleon!"
Axel berdiri dari kursinya, berkacak pinggang, dan menatap adiknya dengan tatapan yang sanggup menguliti rahasia paling dalam. "Jangan menghina kecerdasanku, Queen. Aku melihat Bugatti-nya semalam. Aku mencium wangi parfumnya di kemejamu. Dan aku menemukan ini..."
Axel melempar jepit rambut perak milik Queen ke atas meja. "Di meja restoran tempatku makan siang tadi. Meja yang kursinya kosong, tapi makanannya masih hangat."
Queen membeku. Skakmat. "Kau ... kau mengambilnya?"
"Aku mengambilnya karena aku tahu kau akan datang padaku dengan cerita konyol tentang kelinci dan serigala," ucap Axel dingin. "Jadi, kau akan jujur padaku bahwa kau kembali padanya? atau kau ingin aku mengirim pasukan ke rumah pria itu sekarang juga?"
"Axel! Dia tidak seburuk itu!" seru Queen spontan, membela Nial sebelum ia sempat mengerem mulutnya sendiri.
Axel mengangkat alisnya. "Oh, jadi kau akhirnya mengakui kalau 'serigala' itu adalah dia?"
Queen segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil mengerang frustrasi. "Kau curang! Kau selalu punya cara untuk menjebakku!"
"Aku tidak menjebakmu, Queen. Kau saja yang sangat buruk dalam berbohong," Axel menghela napas panjang, lalu kembali duduk dengan gestur yang lebih tenang namun tetap intimidatif.
"Sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu berpikir bahwa masuk kembali ke dalam kehidupan Nial Percy adalah ide yang bagus? Kau tahu persis seperti apa pria itu."
Queen menurunkan tangannya, menatap kakaknya dengan serius meski sisa - sisa ketegangan masih menggelayuti bahunya. "Dia memang menyebalkan, Axel. Dia pemaksa, arogan, dan kadang sangat tidak masuk akal. Tapi..."
"Tapi?"
"Tapi dia mencariku selama setahun ini. Dia juga sudah meminta maaf atas sikapnya padaku waktu itu,"
Axel berdeham, mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Ia tahu persis betapa kerasnya Nial mencari Queen, karena dialah orang di balik layar yang memastikan setiap jejak adiknya terhapus hingga Nial selalu berakhir di jalan buntu.
"Jadi, apa yang pria itu inginkan darimu?" tanya Axel telak.
Queen menahan diri sekuat tenaga agar tidak tersenyum. Belum saatnya menunjukkan kemenangan. "Dua hari. Dia memintaku ikut dengannya selama dua hari sebagai 'kompensasi' karena aku sudah membuatnya harus bersembunyi di bawah meja restoran tadi siang."
Axel terdiam cukup lama, suasana ruang kerja itu mendadak menjadi sangat berat. "Dua hari? Jika dalam dua hari kau pulang dengan mata sembab, pastikan Nial Percy sudah memesan tempat di pemakaman paling mahal di Paris. Kau mengerti?"
Queen tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar. Ia tidak menyangka Axel akan memberinya celah.
"Terima kasih, Axel!"
Melihat ekspresi kakaknya yang seperti terpaksa memberikan izin, Queen tertawa. Ia bangkit dari kursi dan berlari memutari meja untuk memeluk Axel dengan erat.
"Aku bilang terima kasih." Ulang Queen. "Kau memang kakak terbaik di dunia!"
"Lepaskan," gumam Axel ketus, meski ia sama sekali tidak mendorong adiknya. "Pergi sekarang sebelum aku berubah pikiran."
"Siap, Bos! Aku akan keluar sekarang."
Queen sudah memegang gagang pintu, siap untuk melesat pergi, saat suara dingin Axel kembali membelah keheningan ruangan.
"Queen."
Langkah Queen terhenti. Ia menoleh perlahan, mendapati kakaknya masih menatap layar monitor dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Ya?"
"Jangan lakukan hal - hal aneh diluar sana," ucap Axel singkat.
Queen mengerjap - ngerjapkan matanya, mencoba mencerna maksud kakaknya. Detik berikutnya, tawa canggung keluar dari bibirnya. "Tentu saja! Tidak akan, Axel. Aku hanya pergi untuk dua hari, bukan untuk ... kau tahu, melakukan sesuatu yang gila."
Meski ia mengatakannya dengan mantap, di dalam hati Queen sama sekali tidak yakin bisa berkompromi dengan pria sekelas Nial Percy yang hobi melanggar aturan.
Axel mengangguk tipis, akhirnya melepaskan pandangannya dari dokumen dan menatap Queen lurus - lurus. "Bagus. Karena kau tahu persis, aku akan tahu jika kau berbohong."
"Ya ... ya baiklah. Aku pergi dulu!" Queen hendak memutar gagang pintu lagi, namun Axel kembali bersuara.
"Dan satu lagi. Jangan lepaskan kalungmu."
Gerakan Queen membeku. Ia secara refleks meraba liontin perak di lehernya—kalung pemberian Axel setahun lalu yang tak pernah ia lepas. "M—memangnya kenapa? Kau mendadak jadi sentimental begini?"
"Ada GPS dan kamera mikro di dalam liontin itu," jawab Axel santai, seolah ia baru saja membicarakan ramalan cuaca. "Aku bisa memantau koordinatmu dan melihat apa saja yang dilakukan si brengsek itu padamu."
"A—apa?"
Axel sengaja mengalihkan pandangannya kembali ke dokumen di meja. Ia tahu, jika ia menatap wajah adiknya saat ini, pertahanan wajah datarnya akan runtuh karena ingin tertawa melihat ekspresi syok Queen.
"Axel!" Queen berbalik, melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan wajah tidak terima. "Kau tidak bisa melakukan ini! Ini gila! Kau melanggar privasiku secara terang - terangan!"
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai kakak yang waspada," sahut Axel tanpa dosa.
"Tapi ini keterlaluan! Kau mau menontonku selama dua hari penuh?! Tidak, maksudku selama setahun ini?"
"Oh, tenang saja, Adikku. Aku masih punya etika," Axel memajukan tubuhnya, menatap Queen dengan binar jenius yang menyebalkan. "Sistemnya sudah kurancang secara otomatis. Kamera itu akan masuk ke mode standby saat kau melakukan aktivitas pribadi—seperti mandi atau berganti pakaian. Sensornya mengenali suhu ruang dan detak jantungmu."
Axel menjeda kalimatnya, lalu menyeringai tipis—sebuah seringai yang sangat mirip dengan milik Nial. "Tapi sensor itu tidak akan mati saat kau melakukan aktivitas ... 'lain' dengan seseorang. Jadi, katakan pada Nial untuk menjaga tangannya jika dia tidak ingin melihat anak buahku mendobrak pintunya dalam hitungan detik."
Wajah Queen memerah sempurna, antara malu dan murka. "Kau benar - benar menyebalkan, Axel Arresta! Aku membencimu."
"Aku juga menyayangimu, Queen. Sekarang pergi, sebelum aku menambahkan fitur mikrofon agar aku bisa mendengar setiap bualannya," usir Axel santai.
Queen menggerutu keras, menghentakkan kakinya saat keluar dari ruangan dan membanting pintu dengan cukup kencang.
Di dalam ruang kerja, Axel akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi dan terkekeh rendah. Tentu saja ia tidak akan benar - benar menonton adiknya. Ia hanya membual. Tapi membuat Nial Percy merasa diawasi oleh "Tuhan" selama dua hari adalah hiburan tersendiri baginya.
•••
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Queen melangkah keluar dari kediaman Arresta dengan koper kecil di tangannya.
Di depan, mobil Mercedes-Maybach Exelero milik Nial sudah terparkir manis, membelah kegelapan malam dengan lampunya yang tajam.
Nial bersandar di pintu mobil, melirik jam tangannya. "Empat menit lima puluh sembilan detik. Kau hampir saja membuatku mendobrak pintu rumah kakakmu, Queen."
Queen tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya, membuat Nial menaikkan sebelah alisnya heran. Begitu Nial masuk ke kursi pengemudi, Queen langsung menoleh dengan wajah serius.
"Nial, aku punya peringatan penting," ujar Queen sambil memegang liontin kalungnya.
"Peringatan apa? Axel mengancam akan memotong lidahku jika aku menciummu lagi?" goda Nial santai sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Lebih buruk. Dia bilang ada kamera dan GPS di kalung ini. Dia mengancam akan mengirim bawahannya jika kau ... um, menyentuhku lebih dari batas wajar."
Mobil itu tiba - tiba mengerem mendadak, membuat tubuh Queen terjerembap ke depan. Nial menoleh, menatap kalung di leher Queen, lalu tertawa terbahak - bahak. Suara tawanya yang berat mengisi kabin mobil.
"Kau percaya itu?" Nial menggelengkan kepala. "Axel Arresta memang jenius dalam urusan intimidasi. Dia hanya ingin membuatku merasa diawasi selama dua hari ini, Queen. Itu bualan klasik seorang kakak yang posesif."
"Tapi bagaimana kalau itu benar?" desis Queen cemas.
Nial menyeringai, ia mendekatkan wajahnya ke arah Queen, membuat wanita itu refleks mundur hingga menempel di pintu mobil. "Jika itu benar, maka biarkan dia menonton. Biarkan dia melihat bagaimana caraku membuatmu tidak bisa berkutik."
"Nial! Jangan mulai!"
Kediaman Nial Percy – 23.45
Mobil berhenti di depan sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke Menara Eiffel. Tempat ini jauh lebih sunyi dan privat daripada rumah Axel.
"Masuklah. Kamarmu ada di lantai atas, tepat di sebelah kamarku," ujar Nial sambil meletakkan koper Queen.
Queen mengangguk tipis, ia berjalan berkeliling, mencoba mengalihkan rasa canggungnya. Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju tangga, tangan Nial menarik pinggangnya dari belakang, mengunci tubuh mungil Queen di antara tubuh kekar Nial dan dinding marmer yang dingin.
"Dua hari dimulai dari sekarang, Queen," bisik Nial di telinga Queen.
"Nial, ingat kalungnya..." Queen mencoba mengingatkan dengan suara yang sedikit bergetar.
Nial terkekeh, tangannya merayap naik, jemarinya dengan lembut memutar liontin perak di leher Queen. Matanya menatap tepat ke arah kamera khayalan yang dikatakan Axel.
"Halo, Axel. Kuharap resolusi kameramu cukup bagus untuk melihat ini,"
"A—apa?"
Cup.
Tanpa peringatan, Nial memutar tubuh Queen dan langsung menyambar bibir wanita itu. Ciuman kali ini tidak terburu - buru seperti di bawah meja. Ini lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan rasa rindu yang tertahan selama setahun.
Queen sempat mencoba memprotes, namun kekuasaan Nial selalu berhasil melumpuhkan logikanya. Tangannya yang semula ingin mendorong, perlahan justru meremas kerah kemeja Nial, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.
Nial melepaskan ciumannya sedikit, menatap mata Queen yang sayu dengan seringai pemenang.
"Besok pagi, aku ingin sarapan di tempat tidur. Dan kau harus menemaniku."
"Aku bukan pelayanmu, Nial!" balas Queen dengan napas tersengal.
"Kau bukan pelayan, kau adalah 'kompensasi'ku," Nial mengecup kening Queen sekilas lalu melepaskan kurungannya. "Sekarang tidurlah. Simpan tenagamu, karena besok aku tidak akan membiarkanmu melihat pintu keluar rumah ini sedetik pun."
Queen mematung. Ia menatap punggung Nial yang berjalan menjauh menuju kamarnya. Ia meraba bibirnya yang terasa panas, lalu melirik kalungnya lagi.
"Sialan! Axel. Gara-gara bualanmu, dia justru semakin tertantang!" gumam Queen kesal, namun ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan saat ia melangkah menuju kamarnya.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰