Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 06
Ketika Bella dan Bik Kara tiba di rumah, Claudia berpura-pura semuanya baik-baik saja, namun Bella menyadari ada hal yang tidak beres, ia melihat kopernya berada di luar, dan mamanya masih mengemasi barang-barangnya.
“Kita akan mengunjungi Nenek dan Kakekmu,” ucap Claudia sembari tersenyum, tapi dari matanya terpancar kesedihan. "Mereka belum pernah melihatmu."
Claudia menghampiri Bibik dan memberitahunya bahwa ia sangat menyesal karena harus memecatnya sebab ia dan Bella akan pindah dari rumah ini dan tak bisa mengajaknya.
Bik Kara mengatakan, tidak masalah. Ia akan memutuskan akan menikah dengan Boby, si tukang kayu. "Ya, aku harap kau dengannya bahagia selalu," ucap Claudia ketika Bik Kara pergi dari kediamannya.
Pukul 01.00 dini hari Bella terbangun, ia melihat Mamanya tidak ada di tempat tidur, namun Bella mendengar suara Mamanya. Bella bangkit dari tempat tidurnya dan mengikuti suara tangis Mamanya, ia berjalan ke ke ruang tamu. Bella melihat pintu terbuka, dan ia terus berjalan ke arah pintu untuk melihat keluar.
'Apa yang Mama lakukan di luar di tengah malam?' batin Bella. Cahaya bulan mengalir di atas taman bunga dan Bella melihat Mamanya berlutut masih dengan mengenakan baju tidurnya.
Claudia mencabut bunga aster dari akarnya, segenggam demi segenggam, kemudian melemparkannya ke segala arah. Claudia menangis dan berbicara sendiri, ia mengambil pisau dan berlutut lagi di samping mawar kesayangannya. Satu demi satu, Claudia memotong akarnya. Kemudian ia membungkuk ke depan dan terisak, mengayun-ayunkan dirinya ke depan dan belakang, dengan pisau masih di tangannya.
Bella merosot ke lantai dan bersembunyi di kegelapan ruang tamu, tangannya menutupi kepalanya.
...****************...
Keesokan paginya Bella dan Claudia naik kereta, Bella tidak tahu kemana Mamanya akan membawanya, namun sepertinya perjalanan akan panjang sebab mereka bermalam di penginapan.
Sepanjang perjalanan hingga di penginapan Claudia hanya bicara seperlunya, sementara Bella mendekap bonekanya dengan erat di dadanya, ia tidur dengan nyaman di pelukan Ibundanya.
Ketika Bella bangun di pagi hari, ia melihat Mamanya sedang duduk di depan jendela dan menjalankan tasbih rosario melalui jari-jemarinya. Bella mendengarkan namun tidak mengerti, meski ibundanya mengulangi kalimat yang sama berulang kali. “Maafkan aku, Yesus. Mea culpa, mea culpa…” (Mea culpa: saya bersalah atau saya berdosa)
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta, dan tiba di sebuah kota yang Bella sendiri merasa belum pernah menginjakan kakinya di tempat itu.
Claudia terlihat tegang dan pucat, ia membuang wajahnya agar Bella tak melihat raut ketegangannya. Claudia meraih tangan Bella dengan tangan kirinya, sementara tanggan kanannya menyeret koper. Mereka berjalan sangat lama, melewati pohon-pohon yang berjejer di jalan. Hingga dua jam kemudian Claudia berhenti di sebuah rumah berpagar putih. “Tuhan, tolong, tolong, biarkan mereka memaafkan semua kesalahku, ”bisiknya. "Oh, tolong, Tuhan."
Bella menatap rumah di depannya, rumah itu nampak tidak jauh lebih besar dari kediamannya, tetapi rumah ini memiliki teras yang bagus dan dan pot-pot bunga yang berjejer rapih, ia sangat menyukainya.
Ketika mereka sampai di pintu, Claudia menarik napas dalam-dalam lalu mengetuknya. Tak lama pintu di buka oleh seorang wanita paruh baya, ia menatap Claudia lama sekali kemudian air matanya metes. "Oh," ucapnya. "Oh Claudia…"
“Aku sudah pulang, Bu,” ucap Claudia. "Izinkan aku pulang.”
"Kau tahu, ini tidak semudah itu, Claudia.”
"Aku tidak punya tempat tinggal lain untuk berteduh."
Wanita itu menatap Bella. "Aku tidak perlu bertanya apakah ini anakmu," ucapnya dengan senyum sedih. "Dia sangat cantik."
"Bella, ayo beri salam pada nenek," pinta Claudia.
Bella mencium tangan Neneknya sembari menyapanya. "Selamat siang Nenek, senang bertemu dengan Nenek."
Wanita itu tersenyum kepada Bella. "Nenek juga senang," ia beralih menatap Claudia.
“Tolong aku, bu.”
Nenek membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan mereka masuk. "Masuklah," ia mengarahkan mereka ke ruangan tamu.
"Tunggu di sini, ibu akan berbicara dengan ayahmu," ucapnya, lalu pergi.
Claudia mondar-mandir, mer*mas-r*mas tangannya. Ia berhenti sekali dan menutup matanya, bibirnya bergerak membacakan doa-doa.
Tak lama neneknya kembali dengan pipinya basah. "Tidak," ucapnya. Hanya satu kata itu saja. TIDAK.
Claudia melangkah ke pintu, dan wanita itu menghentikannya. “Kau tak perlu menemui ayahmu, dia tidak akan mengizinkamu tinggal di sini, ia hanya akan mengatakan hal-hal yang akan lebih menyakitimu.”
"Aku sudah terluka, bu.”
“Claudia, tolong, jangan…”
“Aku akan memohon pada ayah, aku akan berlutut. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa apa yang ayah katakan dulu benar. Alex akan membuangku."
“Itu tidak akan ada gunanya. Ayahmu mengatakan bahwa putrinya sudah meninggal."
"Aku belum meninggal, bu!"
Neneknya memberi isyarat agar Bella tetap tinggal di ruang tamu, Bella menurut, ia menutup pintu ketika mama dan neneknya pergi.
Bella menunggu, ia mendengar suara-suara tangisan dari jauh. Tak lama kemudian mamanya kembali dengan wajah sedihnya. "Ayo, Sayang, kita pergi," ajaknya.
"Claudia," ucap nenek. “Oh, Claudia…” nenek menekan sesuatu ke tangan mamanya. "Hanya itu yang ibu miliki."
Claudia tidak mengatakan apa-apa. Terdengar suara seorang pria datang dari ruangan lain, suara itu terdengar marah. "Ibu harus pergi," ucap nenek.
Claudia mengangguk dan ia pun kembali menggandeng Bella keluar rumah. Ketika mereka sampai di ujung jalan yang ditumbuhi pepohonan, Claudia membuka tangannya dan melihat uang yang dimasukkan ibunya ke dalamnya. Claudia tertawa getir, sesaat kemudian, dia meraih tangan Bella dan berjalan terus, sambil menangis.
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.