Bagaimana Alexandra Eyckerman Wiyana/Alexa tidak pusing tujuh keliling! Papanya sakit & harus menggantikan menjadi CEO WIYANA CORPORATION dan mencari 750 M dalam waktu sebulan!
Bos tertinggi ALVERO CORPORATION menawarkan investasi menggiurkan & sebagai gantinya agar perusahaannya tidak raib harus menikah & membuat putera tunggalnya, JORDAN ALVERO atau Jordy jatuh cinta padanya! Dia telah memiliki kekasih, model & artis terkenal tanah air, Elena Ariana. "Aku tidak bisa mencintaimu!" sahut Jordy. Tantangan datang dari rival-rival cintanya yang menantang duel. Dan 'cinta tak berbalas' dari seorang pria dari masa lalunya, William, datang menghampirinya!
Bisakah dia menyelesaikan duel dengan sempurna? Apakah panah cupid akan memanah mereka bedua?
Konspirasi bisnis & cinta mewarnai perjalanan kedua pewaris tunggal perusahaan raksasa tersebut. Antara tugas & cinta manakah yang mereka pilih! Ikuti kisah mereka. Jangan lupa like, komen dan Vote! Don't miss it 'coz you will gonna love them!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Kesan pertama menentukkan segalanya
Tiga puluh menit kemudian sampailah mereka di restauran yang menyajikan masakan jepang. Jordy sengaja memilih tempat lesehan karena dirasa lebih relax dan private.
Sebenarnya ini modus sih, pangeran kita nih pengen ngeliat sekali lagi mata kucingnya yang indah tapi tampak membengkak karena menangis. Dia meminta kantong es untuk mengompres. Disuruhnya gadis itu mengompres supaya segar. Tak lama, pramusaji menghantarkan satu persatu sajian yang didominasi makanan mentah.
"Eia sebelum semua disantap, kamu gak alergi kan terhadap salah satu bahan pangannya?" sambil menyumpit salah satu yang terlihat menggoda, belut panggang. "Soalnya aku gak mau membopong kamu ke rumah sakit lagi akibat kulit mu gatal-gatal hehe," selorohnya sambil terkekeh.
"Aku gak ada alergi dan doyan sea food," jawab Alexa sambil menyumpit salmon mentah.
"Oh ya by the way Lex, kamu kerja di perusahaan apa dan di posisi apa pula?" tanyanya penasaran sambil memasukkan makanan ke dalam dan mengunyah.
Sejenak terdiam untuk memilah kata, "Wiyana Corp dan menjabat sebagai kepala arsitek di divisi perencanaan & pengembangan," jawabnya kalem tanpa ada nada sombong sedikit pun.
Yah walau ada sedikit berbohong. Padahal itu jabatan dua tahun yang lalu, jabatan saat ini adalah CEO dan juga masih kepala arsitektur menggantikan ayahnya yang sedang sakit keras. Alexa tidak ingin orang mendekatinya karena dia anak siapa dan punya apa. Tapi entah mengapa, dia tidak bisa berbohong pada pria dihadapannya.
"Uhuuk ...... uhuk ..... uhukk .....," tiba-tiba kerongkongannya tersedak demi mendengar kenyataan pahit tersebut. Bagaimana tidak pahit, doi udah berperasangka buruk hehe.
"Kakak, gak apa kah," tanyanya khawatir.
"Ini minum dulu ocha hangat," sambil mengulurkan gelas.
"Wahhh, gue selama ini udah salah sangka, udah menuduhnya macem-macem serta negatif pula," rutuknya malu sambil menyeruput seteguk ocha hangat yang disodorkan.
"Gak nyangka semuda ini dah bisa memimpin perusahaan sekelas Wiyana Corp dan orang penting pula pada core bisnisnya," decaknya kagum.
"Gue aja baru menjabat enam bulan itu pun didapat dengan susah payah sebagai General Manager dan di atas gue ada kepala divisi dan direktur yang mesti gue taklukkan," sungutnya kesal.
Pucuk pimpinan adalah Head Director yaitu ayahnya sendiri yang dipilih berdasarkan hasil rapat RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).
"Apesnya, kepala divisinya sobat gue lagi!" rutuk Jordy kesal dalam hati.
"Ternyata jenius juga nih bocah!" batinnya di balik gelas teh hijau hangat yang diseruputnya.
"Oh ya, bagaimana dengan kakak sendiri, bekerja sendiri atau ....,"wiraswasta," buru-buru dipotong oleh Jordy. Sedikit berbohong tak apa toh. "Gue tengsin juga kalo dia tau jabatan gue lebih rendah dari dia," gumamnya dalam hati.
"Oh gitu, wah maaf ya, waktu kakak tersita untuk membantu aku," berkata dengan perasaan bersalah.
"Lex, apaan sih ngomong gitu udah kewajiban sesama manusia untuk saling menolong," jawabnya sok bijak.
Dan akhirnya sesi tanya jawab pun selesai dan acara makan siang pun berakhir dengan pihak pria yang mentraktir.
"Oh ya, di mana alamat rumah mu biar aku antar, kamu kan baru sembuh," menawarkan dengan masih ada kekhawatiran sambil berjalan ke area parkir.
"Gak usah kak ntar ngerepotin, aku dah sehat kok. Seharian ini waktu kakak udah banyak tersita, pasti banyak kerjaan dan janji yang nungguin kakak," jawabnya dengan tolakkan halus dan nada yang sopan.
"Hmmm .... ternyata dewasa juga nih anak! Biasanya cewek-cewek bergelayut manja serta merajuk untuk diantar pulang atau berbelok dulu ke pusat perbelanjaan, sebelum ngeborong isi toko belum mau pulang**," batinnya dalam hati.
"Ya udah, aku naik taxi aja di depan, kamu langsung pulang jangan ke tempat kerja," dengan penuh perhatian seorang kakak pada adiknya.
"Baiklah!" jawabnya singkat sambil tersenyum dan mengangguk. Tak berselang lama, Alexa berlalu di hadapannya.
Jordy pun memanggil Taxi. "Alvero Corp ya pak!" memberikan alamat pada si sopir yang diikuti anggukkan dan pemasangan meter argo. "Aishhh, aku lupa minta nomor telepon gadis itu!" gumamnya sambil menepok jidat saat taxi meluncur. "Ya sudahlah gue dah tau ini tempat kerjaannya!" jawabnya menghibur diri.
Sampailah taxi di depan lobi Alvero Corp yang megah berlantai 50. Seluruh bangunan di dominasi kaca. Menempati lahan seluas 20 hektar, dilengkapi heli pad di lantai puncak, untuk perkantoran dengan banyak lantai segitu sangatlah luas apalagi terletak di Central Distrik Bisnis atau CDB. Areal perusahaan melebar ke samping. Setelah bayar, tubuhnya segera melesat ke lift eksekutif menuju lantai di mana sahabatnya berada.
"Van, gue di kantor, otw ke ruangan lo!" suara di telepon sambil memasuki lift eksekutif. Terlihat seorang operator wanita tersenyum dan mempersilahkan orang yang sudah dikenalinya sebagai atasan dan putera pemilik perusahaan untuk masuk ke lift.
Tak lama lift sampai di lantai yang dimaksud dan segera menerobos ke ruangan sobatnya yang sedari tadi sudah menunggu.
"Hei bro ....!" sambil menempelkan kepalan antara keduanya sebagai token keakraban. Tubuh Jordy dihempaskan sekenanya ke sofa kulit hitam yang ada di ruangan yang cukup luas dengan nuansa beidge dan Ivan menyandarkan tubuh jangkung nya di meja kerja. Ruangan luas nan elegan, maklum lah Ivan adalah pemimpin divisi IT bagi Alvero Corp.
Lulusan terbaik dari MIT Amerika dan ini adalah tahun ke-6 dia bergabung dengan Alvero. Sebelum ke Alvero, banyak tawaran dari Amerika dan Eropa tapi keburu direkrut oleh Edward Alvero dengan pasukan underworldnya.
Karena hutang budi telah diselamatkan dari kehancuran akibat kebodohannya di masa muda akhir nya memantapkan diri dan bersumpah untuk mengabdi di Alvero Corp dan turut andil dalam mengokohkan Alvero menjadi nomor tiga di dunia. Mampu membangun jaringan sendiri tanpa bantuan Microsoft untuk system tekhnologi super canggih yang sulit diretas oleh perusahaan pesaing baik dalam maupun luar negeri.
Semasa kuliahnya, bersama teman-teman hacker nya iseng meretas dan selangkah lagi hampir membobol server komputer Pentagon tapi aksi nya keburu terendus group underworld pimpinan big bos Edward Alvero.
Sebelum aksinya rampung teringat Enyak Babe dan sodara-sodara di tanah air jadi aksi nya diurungkan sedangkan yang lainnya tetap melaksanakan aksi dan berhasil merangsek pertahanan lawan.
Tentu saja pihak Pentagon tidak tinggal diam. Mereka telah mengendus markas hacker tersebut tapi langkah mereka keduluan Alvero underground. Hanya Ivan yang berhasil diciduk karena otaknya dan juga warga Indonesia kalo lanjut mungkin sudah berakhir di penjara dengan maksimum security he he.
Dia sendiri tercatat sebagai salah satu hacker jenius dan terkadang masih mengadakan pertemuan dengan teman-teman hackernya di lyar negeru dan saat ini merupakan salah satu aset terpenting perusahaan makanya menguasai satu lantai yang dilengkapi perangkat canggih komputer yang bikin gondok putera mahkota.
"Gimana dah beres, lo anter pulang dia kan!" tanya Ivan penasaran.
"No, dia nolak gue anter, gue ke sini juga naik taxi," sahut Jordy sambil menopangkan kepala nya ke sandaran dan kakinya ke meja.
"WHHHHAAATTTT!!! .... gak salah denger tuh ada cewek yang nolak pesona lo!?" sambil membelalakkan mata takjub mendengar penuturan sobat masa kecilnya.
"Gileee tuh cewek, canggih juga yahhh ha ha ha ....," sambil tertawa lepas.
"Yap, begitulah," jawab Jordy sambil menggidikkan bahu.
"Tuh cewek dewasa banget padahal umurnya belum genap 19 tahun," puji Jordy dengan tulus.
"Wuidihhh ....... dah detail banget informasi nya padahal baru ketemu!?" tanya Ivan kagum.
"Gak segitunya, gue liat di ktpnya pas mau register pasien baru," jawabnya santai.
"Hmmm ada kemajuan juga ni bocah ngomongin cewek lain selain tentang Elena. Baguslah wawasan tentang ceweknya berkembang," gumam Ivan dengan tersenyum simpul sambil mendengarkan sobatnya tentang kekagumannya pada gadis muda tersebut betapa di usia dini sudah memegang jabatan krusial di perusahaan.
"Ohhh jadi lo salah sangka tentang tuh cewek disangka dia anak manja atau pelakor. Hebat juga yah di usia itu udah jadi otaknya perusahaan! Coba lo kenalin ke gue, gue penasaran and sedikit tertarik setelah denger cerita lo! Ada nomer hp yang bisa dihubungi gak!" pintanya dengan mimik penasaran.
"Nah itu dia bro, gue lupa minta nomer hapenya tapi gue tau perusahaan tempat kerjanya, dia bilang sendiri," jawab Jordy penuh sesal.
"Ahhh dari mana lo yakin, kali dia mau nipu!?" tanya Ivan sambil menguji keabsahan informasi.
Sepengetahuannya, charming sobatnya terunggul di antara mereka berlima dan itu sudah kentara sejak masih pake seragam merah putih. Tidak ada satu wanita pun yang lolos dari jerat pesonanya padahal mode TP alias Tebar Pesona dalam keadaan Off.
"Gue yakin dia jujur ngasih tau namanya soalnya nama perusahaan dan nama belakangnya sama. Dia kerja di Wiyana Corp dan nama belakangnya Wiyana juga. Kaya nya dia salah seorang keturunan Wiyana Group macam gue lah," jawab Jordy meyakinkan sobatnya.
"Ahhh lo kampret, pake gak minta nomer telepon, nih denger kalo kenalan sama cewek potensial tuh sebelum ngegombal nomor satu pinta dulu nomer hape yang bisa dihubungi. Lo mah kagak inget temen, lo kan tau banyak temen yang jomblo," gerutu Ivan nenyalahkan sobatnya.
"Sorry my man, ya udah kalo lo tertarik gimana kalo kita kunjungi tempat kerjanya!?" jawab Jordy dengan nada sumringah.
"Hahhh ngapain? Ahhh bro, lo aja kali yang tertarik and cari cara pengen ketemu tapi lo nya gengsi makanya ngajak gue jadi tameng!?" goda Ivan tak percaya.
"Gak lah gue kan punya Elena lagi pula gue simpatik karena salut aja ama dia semuda itu mikul tanggung jawab yang gak ringan dan gue ngerasa ke adik, no more no less," jawab Jordy mantap.
"Yah minta nomor hapenya lah or kartu namanya, bilang aja penjajagan bisnis hehe," usul Jordy cengengesan.
"Dasar bangke, bisa aja lo modusnya!" rutuk Ivan.
"Doi sampai pingsan gitu pasti sayang banget ortunya dan pekerja keras sampe kepikiran gitu sama dia," tanggapnya Ivan penuh simpati sambil melipat tangannya.
"Bener bro, untung gue yang nemuin coba kalo sopir angkot atau pengusaha club malem macam si Farrel, abis tuh cewek he he he," keduanya terkekeh mengingat sepak terjang sobat satunya yang merupakan pengusaha cafe dan club malam mewah.
kenapa Lama Lo