NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Jagawana Biadab

Wanita itu tidak berlari ke arah keselamatan.

Ia berlari ke arah pagar listrik.

Hendra melihatnya dari ruang kontrol. Di layar belakang, tubuh wanita itu muncul sebagai titik panas kecil yang terhuyung di antara pohon beku. Pria yang mengejarnya berada tiga puluh meter di belakang, napas berat, tongkat besi di tangan, langkah makin panik.

Di atas, helikopter merah sudah menghilang ke balik bukit.

Tetapi suara rotornya masih tersisa di pendengaran Hendra, jauh, tipis, menuju utara.

Ia menyimpan arah itu.

Sekarang urusan pagar lebih dulu.

Wanita itu melihat lampu kecil di tiang perimeter dan mengira itu pertanda tempat hidup. Ia menabrak salju, bangkit, lalu merangkak mendekati pagar luar.

Hendra menyalakan speaker.

"Berhenti. Pagar itu dialiri listrik."

Wanita itu membeku.

Pria di belakangnya tidak.

"Jangan dengar!" pria itu berteriak. "Masuk! Buka pintunya!"

Ia menyusul, menangkap bahu wanita itu, dan mencoba mendorongnya ke pagar. Hendra melihat gerakannya jelas: bukan menyelamatkan, bukan menahan. Ia menjadikan tubuh wanita itu alat untuk mengetes bahaya.

Hendra menekan rahang.

Wanita itu meronta. Kakinya menendang salju. Pria itu kehilangan keseimbangan, tangannya menyambar kawat atas.

Cahaya putih melompat.

Tubuh pria itu mengejang keras, lalu jatuh ke sisi luar pagar. Tongkat besinya terpental dan menancap setengah di es.

Wanita itu merangkak mundur sambil menutup mulut, terlalu takut untuk berteriak.

Panel perimeter berkedip merah, lalu kembali hijau.

Pagar listrik perimeter: aktif.

Ancaman fisik: satu netral.

Hendra tidak langsung keluar.

Ia memeriksa hutan.

Pendengaran super menangkap sesuatu di belakang pohon-pohon. Bukan langkah panik. Langkah yang sabar. Beratnya rata, napasnya terkendali, dan di bawah bau salju ada bau minyak tanah, asap rokok lama, dan pakaian basah yang lama tidak dicuci.

Ada orang ketiga.

Orang yang tidak berlari karena ia merasa hutan itu miliknya.

Hendra membuka kamera termal lebih jauh. Di balik batang hitam, satu sosok muncul. Mantel hijau tebal. Topi bulu usang. Senapan rakitan di bahu.

Si Mantel Hijau.

Catatan lama di name-map Hendra langsung menemukan tempatnya.

Sarno.

Jagawana palsu yang hidup dari pos tua dekat hutan utara, memakai pengetahuan jalur dan cuaca untuk memangsa orang tersesat. Di kehidupan lalu, nama itu muncul sebagai kabar buruk di antara penyintas: jika seorang wanita hilang di pinggir hutan, jangan cari ke posnya.

Hendra dulu hanya mendengar.

Hari ini ia melihat.

Sarno berdiri cukup jauh dari pagar, menatap pria yang tersengat, lalu menatap wanita yang gemetar. Ia tidak tampak terkejut. Hanya terganggu, seperti seseorang kehilangan barang.

Hendra mematikan speaker.

Ia memakai perlengkapan luar dalam tiga menit. Blacky menunggu di pintu ruang kontrol, geram rendah.

"Kau ikut dekat. Tidak mengejar."

Blacky masuk ke rompi termal dan pelindung kaki tanpa protes banyak. Hendra membawanya keluar lewat pintu servis belakang, bukan gerbang utama. Wanita di luar pagar tidak melihat pintu itu; pandangannya terkunci pada mayat pria yang masih berasap tipis di salju.

Hendra bergerak memutar.

Dengan pendengaran, ia tahu Sarno belum pergi. Dengan penciuman, ia mengikuti jejak minyak tanah dan rokok. Dengan penglihatan, ia melihat bekas sepatu yang sengaja diinjak di atas lapisan es keras agar sulit dibaca orang biasa.

Orang biasa.

Bukan Hendra.

Sarno mundur ke arah pos tua di balik lereng, pelan, percaya diri. Ia mungkin mengira pagar listrik sudah melakukan sebagian pekerjaannya. Ia hanya perlu menunggu wanita itu membeku, lalu mengambil apa yang masih bisa dipakai.

Hendra tidak menunggu.

Ia muncul dari sisi kiri, melewati dua batang beku, dan berdiri di depan Sarno.

Sarno mengangkat senapan rakitan.

Terlambat.

Jari Hendra menjepit laras. Unsur Logam bergerak. Besi senapan melengkung seperti batang tipis yang dipaksa tunduk.

Mata Sarno membesar.

"Siapa kau?"

"Pemilik wilayah yang kau injak."

Sarno melepas senapan rusak dan menarik parang pendek dari balik mantel. Hendra membiarkannya maju satu langkah.

Satu saja.

Lalu pergelangan Sarno patah.

Parang jatuh.

Sarno baru membuka mulut ketika lutut kanannya dihancurkan tendangan Hendra. Tubuhnya jatuh ke salju, tetapi Hendra menangkap kerah mantelnya sebelum ia berguling.

"Berapa banyak orang di posmu?"

Sarno meludah. "Kau pikir aku takut mati?"

Hendra menatapnya.

"Tidak. Aku pikir kau terlalu biasa untuk mati cepat."

Ia menyeret Sarno menuju pos tua.

Pos itu berdiri di bawah lereng batu, sebagian tertutup salju. Di luar ada papan kayu bertuliskan peringatan kawasan hutan, sudah retak. Di dalam, Hendra menemukan tungku minyak, kasur kotor, tali, beberapa pakaian perempuan, botol obat penenang, radio genggam, peta kasar, dan tiga tanda merah yang mengarah ke utara.

Tidak perlu adegan panjang untuk memahami tempat itu.

Blacky menggeram begitu masuk.

Hendra menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi dengan suhu hati yang lebih rendah daripada udara luar.

Sarno tertawa sambil menahan sakit.

"Dunia sudah mati. Siapa yang mau mengadili aku?"

Hendra mengambil peta kasar dari meja. Ada tanda lingkaran di area Taman Hutan Utara. Ada gambar kecil helikopter merah. Ada tulisan pendek:

Kirim yang muda.

Ambil obat dan solar.

Herman bayar tabung.

Jadi Sarno bukan hanya predator liar.

Ia juga pemasok pinggiran.

Hendra melipat peta dan memasukkannya ke saku dalam. Radio genggam, amunisi kecil, parang, dan catatan pos masuk ke tas luar. Semua benda mati nanti bisa masuk Ruang Penyimpanan setelah ia kembali tanpa saksi.

Sarno melihat gerakannya dan wajahnya berubah.

"Kau cari Herman? Kau mati. Dia punya orang. Dia punya heli."

"Aku tahu."

"Kalau begitu lepaskan aku. Aku bisa bawa kau ke sana."

Hendra berjalan mendekat.

"Kau sudah cukup berguna."

Ia tidak membunuh Sarno di dalam pos.

Ia menyeretnya keluar, ke tiang besi tua yang dulu mungkin dipakai untuk memasang papan wilayah. Kedua tangan Sarno diikat dengan kawat baja. Kakinya yang rusak dibiarkan menyentuh salju.

Sarno mulai mengumpat.

Hendra berdiri di depannya.

"Orang yang kau kejar tadi masih hidup."

Sarno berhenti.

"Dia akan melihat posmu kosong. Dia akan tahu kau tidak lagi bisa mengejar siapa pun."

"Bajingan!"

Hendra mengambil parang Sarno, mematahkannya jadi dua, lalu menancapkan potongan tumpul di salju.

"Dingin akan lama. Nikmati waktu."

Ia tidak menunggu sampai akhir.

Beberapa hukuman lebih pantas diserahkan pada dunia yang baru.

Ketika Hendra kembali ke perimeter, wanita itu masih berada di luar pagar, meringkuk di balik batang tumbang. Ia belum kabur karena tidak punya tempat. Ia belum mendekat karena masih ingat peringatan.

Bagus.

Orang yang bisa mendengar peringatan masih punya peluang hidup.

Hendra keluar dari sisi hutan, wajah tertutup pelindung. Ia tidak memperlihatkan pintu servis. Blacky berada di sisinya, tenang tetapi siaga.

Wanita itu mundur ketakutan.

"Dia?" suaranya pecah. "Pria mantel hijau itu..."

"Tidak akan mengejarmu lagi."

Wanita itu menangis tanpa suara.

Hendra menunjuk ke arah pos tua.

"Di sana ada tungku, sedikit minyak, dan dinding. Kau bisa bertahan sampai angin turun. Jangan mendekati pagar. Jangan mencari pintuku. Jangan menyebut tempat ini kepada siapa pun."

"Aku tidak tahu pintumu."

"Bagus. Pertahankan begitu."

Ia melempar satu paket darurat ke salju: makanan padat, botol air termal, korek, obat luka, sarung tangan cadangan. Cukup untuk membeli diam. Tidak cukup untuk mengundang rombongan.

Wanita itu memeluk paket itu seperti benda suci.

Saat Hendra mengangkat tubuh pria yang tersengat untuk dikubur di cekungan es dekat garis luar, wanita itu melihat dari jauh. Ia melihat sekop. Ia melihat Hendra menutup mayat. Ia melihat Blacky berdiri di samping.

Ia tidak melihat cincin.

Ia tidak melihat Ruang.

Ia tidak melihat pintu bunker.

Setelah selesai, Hendra menatapnya sekali lagi.

"Jika orang berheli datang bertanya, kau tersesat, Sarno mati di hutan, dan pagar itu membunuh siapa pun yang memanjat."

Wanita itu mengangguk cepat.

"Kalau kau bohong?"

Ia menatap pagar yang masih menyala hijau.

Jawabannya sudah cukup.

Hendra kembali melalui jalur memutar. Begitu pintu servis menutup, ia membersihkan perlengkapan, menghangatkan Blacky, lalu membuka peta dari pos Sarno di meja kontrol.

Taman Hutan Utara.

Helikopter merah.

Nama Herman.

Hendra menekan peta itu dengan satu jari.

Sarno hanyalah penjaga pintu kotor.

Di balik pintu itu, ada sarang yang sudah berani mengintai wilayahnya.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!