Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: "Dia Bakal Suka Nggak?"
"Mas Rey siapa?" tanya Arkan setelah panggilan Wulan berakhir.
Laras meletakkan sendok. "Anak almarhum Om Handoko. Dulu Om Handoko dekat dengan Mama setelah perceraian. Sebelum mereka sempat menikah, Om Handoko meninggal."
"Jadi dia hampir jadi kakakmu?"
"Secara sosial mungkin. Nggak pernah secara hukum. Aku sudah kenal Mas Rey sejak lama dan menganggapnya keluarga."
Arkan mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh, tetapi nama Reyhan tersimpan rapi di bagian kepalanya yang juga menyimpan nama Bagas.
Keesokan harinya, Arkan kembali bertugas untuk penerbangan pergi-pulang Jakarta–Denpasar. Pada sektor pulang, Dio duduk di kursi kanan sementara seorang pilot pengamat menempati jump seat.
Cuaca di sekitar Jakarta mulai berkembang menjelang sore. Radar cuaca menunjukkan beberapa sel kuat di sisi jalur kedatangan. Mereka masih jauh, sehingga keputusan deviasi akan dibuat berdasarkan pembaruan ATC dan citra radar berikutnya.
Dalam fase jelajah yang tenang, Dio memeriksa ponselnya saat diizinkan dan tersenyum melihat pesan dari tunangannya.
"Tanggal akad sudah ditentukan?" tanya Arkan.
"Bulan depan, Kapten. Kenapa? Mau kasih nasihat?"
"Nggak."
Arkan membuka sebuah gambar yang disimpan di tabletnya. Itu rancangan cincin dari desainer di Pacific Place. Cincin utama berbahan emas putih dengan satu berlian berbentuk oval yang tidak terlalu besar. Di sisi batu, dua garis tipis melengkung seperti jalur pesawat yang bertemu di satu titik. Pasangannya berupa band sederhana dengan pola garis yang sama di bagian dalam.
"Cewek bakal suka nggak?" tanyanya.
Dio menatap Arkan, lalu tablet, lalu kembali menatap Arkan. "Kapten baru saja minta pendapat saya soal cincin?"
"Jawab."
"Bagus banget." Dio memperbesar gambar. "Elegan. Nggak terlalu ramai, tapi jelas dibuat khusus. Buat Mbak Laras?"
Arkan tidak menjawab pertanyaan terakhir. "Cincin akad kami dipilih cepat. Ini buat dipakai sehari-hari kalau dia suka."
"Kalau dia nggak suka, masalahnya bukan di desain. Mungkin cara kasihnya."
"Cara kasih cincin memang ada aturannya?"
"Minimal jangan seperti menyerahkan dokumen flight plan."
Pilot pengamat di belakang menahan tawa. Arkan mematikan layar tablet.
Desainer itu membuat ukuran berdasarkan catatan cincin akad yang dibeli dari toko sama. Arkan meminta model yang cukup rendah agar tidak mudah tersangkut pada pakaian kerja Laras dan tidak terlalu mencolok saat ia berada di ruang kendali. Garis lengkung di samping batu dipilih karena mengingatkannya pada dua jalur yang akhirnya bertemu, tetapi ia tidak mengatakan makna itu kepada Dio.
"Kenapa bukan kasih cincin akad yang sekarang saja?" tanya Dio.
"Itu tetap dipakai. Yang ini bukan pengganti karena jelek. Waktu akad, semuanya dipilih dalam dua hari."
"Sekarang Kapten ingin memilih dengan benar."
Arkan menatap rancangan yang sudah gelap. "Aku ingin dia punya sesuatu yang memang dibuat untuk dia."
Dio tidak lagi menggoda. Ia hanya mengangguk, lalu berkata bahwa desain tersebut cocok untuk dipakai sehari-hari. Arkan menyimpan tablet sebelum kalimatnya sendiri terdengar terlalu pribadi di kokpit.
"Aku ambil setelah mendarat."
"Semoga sukses, Kapten."
Ketika pesawat mulai turun menuju Jakarta, percakapan pribadi berhenti. Sektor pertama memberi vector untuk menghindari area cuaca dan mengatur urutan kedatangan. Suara controller laki-laki terdengar jelas di frekuensi.
Arkan dan Dio memperbarui perhitungan bahan bakar. Mereka masih memiliki cadangan yang memadai untuk deviasi, kemungkinan holding singkat, serta menuju bandara alternatif bila cuaca menutup jalur kedatangan. Tanda sabuk pengaman dinyalakan lebih awal. Awak kabin diberi tahu bahwa jalur turun mungkin berubah dan mereka harus menyelesaikan pengamanan kabin tanpa menunggu panggilan terakhir.
Pada radar, sel utama tidak menutup seluruh arrival. Ada ruang di sisi kanan, tetapi Arkan tidak akan mengambilnya tanpa koordinasi karena traffic lain juga sedang mencari jalur yang sama. Ia menandai heading yang mungkin diperlukan dan menunggu sampai pesawat masuk sektor yang memegang ruang tersebut.
"Dulu orang bilang Kapten paling pintar cari celah di cuaca," ujar pilot pengamat.
"Kita nggak mencari celah di sel kuat," jawab Arkan. "Kita menjaga jarak dan pilihan keluar. Kalau marginnya nggak cukup, kita deviate lebih jauh atau divert."
Pilot pengamat mengangguk. Dio melanjutkan monitoring radar tanpa komentar. Bagi Arkan, mendarat beberapa menit lebih cepat tidak pernah sebanding dengan memasuki area yang tidak memberi ruang untuk berubah pikiran.
Dio melirik Arkan. "Bukan controller yang kemarin."
"Memangnya kenapa?"
"Nggak ada."
Beberapa bulan lalu, Dio pernah menyebut seorang controller Jakarta Approach dengan suara yang sangat enak didengar. Saat itu Arkan hanya menganggapnya obrolan biasa. Sekarang Dio sudah tahu kaptennya selalu sedikit lebih ringan ketika jadwal Laras berada di sektor kedatangan.
Pesawat dipindahkan ke frekuensi berikutnya.
"Jakarta Approach, Nusantara 9135, sedang turun melewati FL150."
Suara Laras menjawab.
"Nusantara 9135, Jakarta Approach, kontak radar. Turun ke 11.000 kaki, kurangi kecepatan menjadi 250 knot."
Sudut bibir Arkan terangkat tanpa ia sadari.
"Turun ke 11.000 kaki, kecepatan 250 knot, Nusantara 9135."
Dio pura-pura sibuk memeriksa instrumen.
Sel cuaca kuat berada di sisi kiri jalur mereka. Arkan melihat batas aman pada radar dan meminta deviasi ke kanan sebelum jarak mengecil.
"Jakarta Approach, Nusantara 9135 meminta deviasi ke kanan hingga dua puluh derajat karena cuaca."
Permintaan itu diajukan lebih awal, sebelum margin aman terhadap sel cuaca menyempit.
Laras memeriksa traffic di sisi kanan. Ruang tersedia, tetapi ia harus menahan satu pesawat lain tetap pada heading sebelumnya.
"Nusantara 9135, deviasi ke kanan hingga dua puluh derajat disetujui. Jika sudah memungkinkan, lanjutkan langsung ke DKI."
"Deviasi ke kanan hingga dua puluh derajat, jika memungkinkan langsung ke DKI, Nusantara 9135."
Arkan menjaga pesawat tetap jauh dari echo merah. Setelah melewati sisi sel dengan margin aman, ia melapor siap kembali ke rute. Laras memberi direct ke titik, menurunkan mereka bertahap, lalu mengarahkan ke sisi kanan untuk intercept localizer.
"Nusantara 9135, belok kanan heading 220, turun ke 4.000 kaki, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L."
"Belok kanan heading 220, turun ke 4.000 kaki, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25L, Nusantara 9135."
Urutannya lancar. Tidak ada waktu yang dibuang untuk vector tambahan, tetapi tidak ada pula jarak aman yang dikurangi. Laras menyerahkan mereka ke Tower setelah established.
"Nusantara 9135, hubungi Tower di 118.75."
"Tower 118.75. Terima kasih, Approach. Nusantara 9135."
Pesawat mendarat dengan aman. Setelah keluar runway, parkir, dan menyelesaikan semua prosedur pascapenerbangan, Arkan mengambil ponsel.
Ada pesan suara dari Laras yang dikirim sebelum perempuan itu masuk posisi.
Ia lupa masih terhubung ke audio kokpit untuk pemeriksaan sebelumnya. Dio dan pilot pengamat sedang merapikan dokumen ketika ibu jari Arkan menekan tombol putar.