Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Mandi Darah Pasukan Fana
Pagi hari di Desa Fajar ditandai oleh jam pasir air yang dirancang oleh Xing Yun.
Namun, selama sebulan terakhir, penduduk desa memiliki cara baru untuk mengetahui bahwa pagi telah tiba, suara daging yang menghantam batu keras, diikuti oleh erangan kesakitan yang tertahan.
Di tepi timur lembah, tepat di batas antara lumut hijau dan salju abadi Gurun Kematian, delapan ratus pemuda dan pemudi berbaris rapi.
Mereka adalah delapan ratus orang pertama dari ras manusia fana yang berhasil membuka meridian dan merasakan Qi.
Saat ini, mereka semua bertelanjang dada bagi para pria dan mengenakan jubah ringan bagi para wanita, mereka berdiri di hadapan pilar-pilar batu obsidian yang tajam.
BUK! BUK! BUK!
Suara hantaman kepalan tangan membentur batu bergema berulang kali. Wajah mereka berkerut menahan rasa sakit yang luar biasa.
Ye Cangtian berjalan mondar-mandir di belakang barisan itu.
"Lebih keras!" raung Cangtian.
Seorang pemuda kurus di barisan depan mengerang, tangannya gemetar hebat.
Tanpa peringatan, sebuah tendangan keras mendarat di punggung pemuda itu.
Brak! Pemuda itu terjatuh menghantam salju di luar batas lembah. Rasa beku langsung menggigit kulitnya yang terbuka.
"Siapa yang menyuruhmu berhenti?!" gertak Cangtian sedingin es, menatap pemuda itu dari atas. "Kau pikir saat kau bertarung melawan klan dewa nanti, mereka akan memberimu waktu untuk meniup lukamu? Bangun! Pukul batu itu sampai batu itu retak, atau tanganmu yang hancur!"
Pemuda itu menggertakkan giginya, merangkak dari salju dengan air mata bercampur keringat, lalu kembali memukuli batu obsidian tersebut.
Dari kejauhan, berdiri di atas sebuah jembatan kayu, Xing Yun memperhatikan pemandangan itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia melatih prajurit atau sedang membuat daging cincang?" gumam Xing Yun pada Paman Lu yang berdiri di sampingnya.
"Tuan Cangtian tahu apa yang dia lakukan," jawab Paman Lu pelan. Meski begitu, mata tuanya tidak bisa menyembunyikan rasa iba melihat anak-anak muda itu disiksa sedemikian rupa.
Di arena latihan, Cangtian berhenti melangkah dan berbalik menghadap pasukannya.
"Kalian merasa aku kejam?!" teriak Cangtian. Kedelapan ratus orang itu tidak berani menjawab, hanya suara hantaman tangan yang terus terdengar.
"Bagus! Karena musuh kalian sejuta kali lebih kejam dariku!" Cangtian mengangkat tangan kanannya, meninjunya ke udara kosong hingga menghasilkan letupan kecil.
"Keturunan dewa lahir dengan kulit sekeras besi dan tulang setebal baja! Sementara kita? Kita lahir dengan daging yang lunak! Percuma kalian memiliki Qi di meridian kalian jika wadahnya terbuat dari kaca!"
Cangtian menatap wajah-wajah yang dipenuhi keringat dan darah itu.
"Hanya ada satu cara agar daging lunak ini bisa menghancurkan besi. Kita harus menghancurkan daging kita sendiri secara berulang-ulang, memaksa otot dan tulang kita untuk menyambung kembali dengan lebih padat, lebih keras, dan lebih mematikan! Hukum alam tidak mengenal belas kasihan. Terus memukul sampai tulangnya memutih!"
Dua jam kemudian, latihan mengerikan itu akhirnya dihentikan.
Kedelapan ratus pemuda itu ambruk ke tanah. Tangan mereka nyaris tidak berbentuk. Beberapa dari mereka pingsan karena menahan rasa sakit.
"Bawa mereka ke Kolam Darah," perintah Cangtian datar.
Dengan sisa-sisa tenaga, mereka yang masih sadar memapah rekan-rekan mereka, berjalan tertatih-tatih mengikuti Cangtian menuju sebuah kolam alami di ujung sungai.
Kolam itu telah dipagari dengan kayu-kayu tinggi. Berbeda dengan air sungai yang jernih kebiruan, air di dalam kolam ini mendidih dan berwarna ungu pekat yang tampak beracun, memancarkan bau herbal yang sangat menyengat dan sedikit amis.
Di tepi kolam itu, Su Ling'er berdiri dengan lengan baju digulung hingga ke siku. Rambutnya diikat sembarangan. Wajah cantiknya dipenuhi noda abu dan keringat.
Di sampingnya terdapat puluhan keranjang bambu kosong dan sisa-sisa akar berduri, jamur ungu, serta bangkai lipan raksasa Gurun Kematian yang telah diekstrak racunnya.
Melihat kedatangan delapan ratus pemuda dengan tangan yang hancur lebur, wajah Ling'er langsung mengeras. Ia melempar sebuah centong kayu besar ke tanah dengan kesal.
"Kau benar-benar tidak punya otak, Ye Cangtian!" omel Ling'er, sambil berjalan menghampiri Cangtian dengan mata melotot.
"Aku menyuruhmu melatih fisik mereka, bukan menyuruhmu mematahkan tangan mereka semua! Jika ada satu saja infeksi tulang yang gagal kutangani, pemuda itu tidak akan bisa memegang pedang seumur hidupnya!"
Cangtian tidak mundur, ia hanya menyeringai kecil. "Mereka tidak akan infeksi jika tabibnya adalah kau. Bukankah ramuan ajaibmu itu bisa menyembuhkan segalanya?"
"Itu bukan ramuan ajaib, itu racun yang dinetralkan!" dengus Ling'er jengkel. Ia menoleh ke arah delapan ratus prajurit yang sedang menatap kolam ungu itu dengan ngeri.
"Tunggu apa lagi? Lepas kemben dan celana kalian, masuk ke dalam kolam! Pria di sebelah kiri, wanita di sebelah kanan! Celupkan tubuh kalian sampai sebatas leher!" perintah Ling'er dengan nada mutlak yang anehnya membuat mereka lebih patuh daripada saat diteriaki Cangtian.
Satu per satu, para prajurit muda itu menceburkan diri ke dalam kolam.
Detik ketika air ungu itu menyentuh luka terbuka di tangan dan tubuh mereka, jeritan yang jauh lebih keras terdengar.
"Aaarrrggghhh!!!"
"P-panas!! Kulitku Terbakar!!"
Air ungu itu mendidih di sekitar luka-luka mereka. Beberapa orang berusaha meronta untuk keluar dari kolam, namun Cangtian berdiri di tepi kolam, untuk memaksa mereka tetap berada di dalam air.
"Jangan menahan napasmu!" teriak Ling'er di tengah kekacauan itu. "Tarik napas! Buka meridian kalian lebar-lebar! Biarkan sari pati tanaman purba ini masuk ke dalam otot kalian!"
Dipaksa oleh keadaan hidup atau mati, para prajurit itu mulai bermeditasi di dalam air yang mendidih.
Sebuah keajaiban mengerikan pun terjadi.
Saat mereka menyerap air ungu itu, rasa terbakar yang menyiksa perlahan memudar, digantikan oleh sensasi gatal yang luar biasa dari dalam tulang mereka.
Sel-sel otot mereka yang robek menyambung kembali dengan kecepatan yang kasatmata. Serat-serat daging mereka menebal. Tulang tangan mereka yang retak dilapisi oleh endapan mineral ungu dari air kolam, membuatnya dua kali lipat lebih padat dari sebelumnya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, warna ungu pekat di kolam itu memudar menjadi air bening biasa. Seluruh khasiat obatnya telah diserap habis oleh delapan ratus tubuh fana tersebut.
Ketika mereka melangkah keluar dari kolam, perubahan itu terlihat nyata.
Kulit mereka kini memancarkan kilau tipis di bawah cahaya. Mereka mengepalkan tangan, merasakan tenaga ledakan yang belum pernah mereka miliki sebelumnya.
Ini bukan sekadar penyembuhan. Ini adalah evolusi secara paksa.
Cangtian menatap hasil itu dengan mata berbinar puas. Ia menoleh ke arah Su Ling'er yang sedang duduk di atas batu, kelelahan setelah mengendalikan keseimbangan suhu kolam selama satu jam.
"Kau jenius," ucap Cangtian pelan.
Ling'er mendengus, membuang muka, meski telinganya sedikit memerah. "Jika takaranku salah sedikit saja, atau suhu kolamnya terlalu panas, kau baru saja merebus delapan ratus orang hidup-hidup menjadi sup manusia, dasar orang gila."
"Tapi takaranmu tidak pernah salah, kan?" balas Cangtian sambil tersenyum tipis.
Ling'er merogoh keranjang bambunya, mengeluarkan sebuah botol giok kecil berukuran ibu jari, dan melemparkannya ke dada Cangtian. Cangtian menangkapnya dengan sigap.
"Apa ini?" tanya Cangtian.
"Ekstrak murni dari Jamur Kematian Inti Bumi. Aku mempertaruhkan nyawaku memetiknya di dekat kawah lava semalam," gerutu Ling'er sambil berdiri dan menepuk debu dari gaunnya.
"Kekuatan Tingkat 3 milikmu sudah terlalu besar untuk sekadar direndam. Oleskan ekstrak itu di titik nadimu saat kau berlatih nanti malam. Itu akan membantu memperkuat pembuluh darahmu agar tidak pecah saat kau menggunakan teknik pedangmu yang ceroboh itu."
Cangtian menggenggam botol giok itu dengan erat. Kehangatan yang tak biasa menjalar di dadanya.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Ling'er tidak menoleh kembali, hanya melambaikan tangannya dan berjalan menjauh menuju gubuknya. "Berhenti berterima kasih dan pastikan saja kau tidak mati."
Cangtian menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik kabut tebal. Kemudian, ia berbalik menghadap delapan ratus prajurit yang kini berdiri dengan postur tegap dan sorot mata setajam elang.
"Pakai baju kalian," perintah Cangtian. "Besok, kita akan mulai belajar membunuh."