NovelToon NovelToon
Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Barsh Dan Kalistha (Sesuatu Yang Kusebut Rumah)

Status: tamat
Genre:Pelakor / Cinta pada Pandangan Pertama / Dendam Kesumat / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Kalistha, seorang gadis malang yang dibuang oleh keluarganya. Dia terpaksa menghidupi adiknya seorang diri sambil kuliah. ketika sedang bermain piano di kampus, ia bertemu dengan seorang laki-laki.

Barsh, anak dari pengusaha kaya raya. ia merasa tertarik kepada seorang gadis yang begitu lihai ketika bermain piano.

Sejak saat itu, Barsh mulai mendekati Kalistha, dengan menjadikan gadis itu sebagai guru les privat pianonya

Namun kisah cinta mereka tidak mulus. Barsh ternyata memiliki seseorang dari masa lalunya yang kini berada di Seoul. Gadis yang begitu buta dengan cintanya terhadsl Barsh. Siapa yang berani mendekati Barsh pasti akan celaka.

Dia yang mengetahui hubungan Kalistha dan Barsh, mencoba untuk memberikan ancaman kepada Kalistha, jika dia tidak meninggalkan Barsh.

Siapa yang akan dipilih oleh Barsh? Masa depan, atau masa lalu yang masih berharap kepada dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kepunyaanku Milikku Kalisthaku

Malam itu dingin tat kala ciuman lembut itu tercipta merubah status mereka. Dengan santai mereka duduk memandang kota Tokyo dari atas gedung tinggi, dari balik kaca bening.

Ya, mereka masih ada di sana. Pemandangan indah menawan itu masih menghipnotis mereka. Ah iya, tentu saja juga status baru yang membuat keduanya berseri-seri wajahnya.

Di depan mereka ada sebuah kopi hangat yang menambah suasana malam itu semakin santai dan nyaman.

Entah sudah berapa lama waktu berjalan, namun keduanya tetap tenang memandangi Kota Tokyo yang menawan malam itu.

"Kenapa keindahan kota seakan menghipnotismu?" tanya Barsh pada Kalistha yang sejak tadi hanya diam.

Barsh cemburu rasanya melihat Kalistha begitu menikmati miniatur kota yang luas nan indah itu.

"Entahlah, kuasa Tuhan memang lebih indah!" ujar Kalistha seraya terkikik. Barsh menunjukkan wajah kesalnya ketika Kalistha menjawabnya dengan begitu polos.

Sebuah jawaban sederhana yang membuat iri dalam hatinya itu kian membuncah.

"Aku cemburu rasanya!" jawab Barsh jujur tanpa menatapnya.

Kalistha melirik kecil pemuda di sampingnya itu. Di sana dia menemukan wajah kesal Barsh. Rasanya lucu sekali sungguh. Pemuda tampan seperti Barsh ini mengapa harus cemburu pada kuasa Tuhan?

Ada apa dengan Barsh mengapa mendadak raut wajahnya berubah?. Ujar Kalistha dalam hatinya seraya memandangi wajah Barsh.

"Kau kenapa? Kenapa kau memasang wajah seperti itu? Dan cemburu untuk apa?" tanya Kalistha pada Barsh.

Kepolosan gadis itu membuat Barsh menghela nafas sejenak sebelum berucap.

"Karena malam ini rasanya kau lebih memperhatikan kota daripada aku yang ada disampingmu!" ujar Barsh jujur.

Kalistha tertawa mendengar itu. Baginya itu adalah hal sepele, mengapa Barsh yang tampan juga menawan ini harus bersikap layaknya anak kecil.

"Uhhh... Lucunya! Bagaimana bisa kau cemburu hanya pada hal yang sepele? Tidakkah kau tau hari ini kau menjadikanku milikmu, lalu mengapa kau cemburu pada hal sekecil itu?" Tanya Kalistha seraya mencubit gemas kedua pipi Barsh.

Tingkahnya yang sedikit nakal membuat Barsh tersenyum. Kalistha yang asik memainkan wajah Barsh itu dengan cepat di tarik kedua tangannya oleh Barsh.

"Hei!" pekik Kalistha ketika tubuh mungilnya jatuh dalam dekapan Barsh.

Tubuh mereka dekat sekali. Tidak ada sekat memisahkan. Dan mereka saling berhadapan saat ini.

Kesempatan yang cukup bagus rasanya bagi Barsh dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Perlahan Barsh mulai mendekat ke arahnya hampir saja satu ciuman tercipta namun Kalistha menghentikannya menempatkan jarinya ke arah bibir Barsh.

Barsh menatap kesal ke arah Kalistha. Mengapa dia menghentikannya bukankah ini normal? Lagi pula saat ini mereka adalah sepasang kekasih.

"Bisa kukatakan satu hal?" lirih Kalistha pada Barsh yang saat ini masih menatapnya.

Penolakan Kalistha membuat Barsh kesal. Dia hanya menjawab perkataan Kalistha dengan deheman kecil.

"Ini sudah malam, lebih baik kita pulang. Aku ada kelas malam sebentar lagi!" ujar Kalistha.

Barsh mendengus kesal mendengar itu ia menjauhkan tubuhnya dari Kalistha. Barsh pun memilih untuk bergegas pergi dari sana. Tujuannya adalah tempat parkir.

Entah mengapa dia masih belum terbiasa dengan penolakan. Barsh mendahului Kalistha yang saat ini berjalan mengekorinya di belakang.

Mereka berjalan menuju tempat parkir, tak ada ucapan terlontar dari keduanya. Barsh sedaritadi menekuk mukanya. Itu membuat Kalistha merasa tidak enak hati saja rasanya.

"Kau terlihat jelek dengan wajah seperti itu!" ucap Kalistha mencoba mencari topik pembicaraan. namun Barsh tetap diam.

"Kau marah padaku? Coba katakan apa salahku?" tanya Kalistha lagi padanya. Oke, sekarang Kalistha mulai terpancing emosi rasanya.

"Kau sudah mengetahuinya tapi kau malah berbalik bertanya padaku?" jawab Barsh kesal.

Sebuah jawaban yang langsung membuat Kalistha menarik sudut bibirnya. Pemudanya merajuk seperti bayi. Lucu rasanya.

Kalista berlari kecil mencoba mendahului Barsh. Ketika tubuhnya sejajar dengan Barshnya.

Cuppppp

Kalistha mencium singkat pipi kanan Barsh.

"Ayo kita pulang!" ujar Kalistha berjalan cepat menjauhi Barsh.

Malu rasanya dia melakukan itu pada Barsh. Tapi mau bagaimana lagi? Barsh hanya mampu dilulhkan dengan ciuman.

Barsh terkejut akan tindakan Kalistha itu cukup berani menurutnya. Tak lama ia pun tersenyum dan menyusul gadisnya.

"Hey aku tadi belum siap, kau tak adil apa-apaan itu?" ujar Barsh tak terima.

Sungguh kalimat-kalimat itu membuat wajah Kalistha bersemu memerah bak kepiting rebus.

Kalistha semakin mempercepat langkahnya menuju mobil Barsh. Dia mencoba tuli ketika Barsh berulang kali menggodanya.

"Hei apa kau hanya akan memberiku di pipi? Lalu bagaimana dengan yang ini?" tanya Barsh seraya menunjuk bibirnya.

"Sudahlah aku ingin pulang!" ucap Kalistha pada Barsh tanpa menoleh.

"Baiklah, kita pulang sekarang!" ucap Barsh sembari tersenyum. Kedua bola mata itu masih memperhatikan Kalistha.

Tepat ketika keduanya berada di depan mobil. Kalistha hendak saja membuka pintu mobil itu tapi Barsh menahannya dan mulai memojokkan Kalistha menguncinya hingga Kalistha tak bisa berkutik rasanya.

"Barsh!" pekik Kalistha ketika tubuhnya terpojok bersandar membelakangi mobil dengan Barsh di depannya.

"Jangan acuhkan aku lagi! Cukup dengarkan aku saja!" ujar Barsh padanya.

"Kau tau aku sangat mencintaimu? Lalu kenapa kau menghentikanku tadi?" tanya Barsh padanya.

Sial rasanya sungguh! Kenapa Kalistha harus dihadapkan dengan situasi seintim ini. Perihal pertanyaan Barsh rasanya Kalistha tak mampu menjawabnya.

"Kenapa kau masih mengungkitnya? Aku hanya..." jwab Kalistha terpotong saat mencari-cari alasan agar bisa lepas dari kukungan Barsh.

Namun Barsh adalah pemuda yang licik. Jika sudah seperti ini dia tidak mampu menahan hasratnya.

Terlambat rasanya, Barsh mulai mengambil kesempatan saat Kalistha berpikir. Bibir itu kembali mengecap manisnya bibir Kalistha. Membuat sang empunya diam dan menerima.

Kalistha mulai pasrah ia memejamkan matanya mengikuti permainan Barsh di sana. Beberapa menit kemudian Barsh menyudahinya.

Dia menyatukan keningnya dan Kalistha sambil memandang lekat-lekat gadis yang masih terkejut akan tindakannya.

"Kau jangan khawatir, itu bukan ciuman perpisahan itu adalah sebuah janji bahwa aku akan selalu bersamamu.   Kau harus tau aku tidak akan pernah menyakitimu, Kalistha!"  ujar Barsh padanya.

Kalistha menatap lekat ke arah mata Barsh. Dia senang sekali ketika menemukan fakta bahwa tidak ada kebohongan di dalam kedua mata itu.

Beberapa detik kemudian Kalistha mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mendorong kecil tubuh Barsh. Ketika tubuh mereka saling menjauh Kalistha berkata,

"Ayo kita pulang!" ajak Kalistha seraya tersenyum manis pada Barsh.

Hal itu membuat Barsh pun ikut tersenyum mereka berdua pun mulai memasuki mobil.

Barsh mulai menjalankan mobilnya menuju rumah Kalistha. Membawa gadis itu kembali pulang ke rumahnya. Perlu beberapa menit dari hotel untuk sampai ke kediaman Kalistha.

Setibanya di sana Barsh tidak menemukan siapapun. Teras rumah itu kosong namun lampunya masih menyala.

"Kita sudah sampai!" ujar Barsh menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Kalistha.

Sambil masih memandangi teras rumah Kalistha. Barsh juga menunggu jawaban dari gadis di sebelahnya itu.

Namun tak kunjung mendapat respon dari Kalistha yang menghadap ke arah jendela mobil. Ketika Barsh menoleh ke samping hatinya dibuat takut rasanya.

Kalistha tidak bicara, mungkinkah jika Kalistha marah pada Barsh?

"Apa kau marah padaku karena aku sudah melakukan hal itu?" tanya Barsh pada Kalistha.

Namun tetap saja Kalistha tetap diam. Dia tidak menjawab apapun.

"Kalistha!" lirih Barsh lagi mencoba memanggilnya.

Namun tetap saja tak ada jawaban. Barsh mulai khawatir. Dibalikannya gadis itu ke arahnya dan saat itu juga Barsh mendengus kesal tapi tak lama ia tersenyum.

Kalistha tidur rupanya.

"Kau pasti kelelahan untuk hari ini!" ujar Barsh sambil memperhatikan wajah Kalistha.

Baesh turun dari mobilnya membuka pintu mobil yang lain. Dia mulai menggendong Kalistha membawanya masuk memasuki rumah.

Tepat ketika Barsh melewati ruang tengah terlihat Arteta yang sedang asyik menikmati TV.

"Hei gadis Belanda di mana kamar Kalistha?" tanya Barsh.

Mendengar itu Arteta bangkit menghampiri Barsh. Arteta memperhatikan Kalistha yang terlelap dalam gendongan Barsh.

"Astaga, kau apakan dia?" tanya Areta pada Barsh.

"Sudah jangan banyak tanya! Kalistha lelah, sekarang dia perlu istirahat!" jawab Barsh padanya.

Arteta memicingkan kedua matanya pada Barsh. Rasanya dia ingin menggebuk Barsh saja saat ini. Dia dan Kalistha ada kelas malam hari ini. Bagaimana dengan entengnya manusia ini mengatakan itu.

"Tapi kita ada kelas malam!" ujar Arteta padanya.

"Beritahu dosen dia tidak bisa datang!" jawab Barsh singkat padat dan jelas.

"Dasar!" ujar Arteta mengumpat.

Arteta menghela nafas sejenak lalu berkata,

"Kamarnya ada di atas! Tepat sebelah kamar Angela!" jelas Arteta memberitahu.

Barsh mengangguk dengan segera Barsh membawa gadisnya itu ke atas. Barsh masuk ke dalam kamar Kalistha lalu membaringkan tubuh gadisnya

"Selamat tidur, semoga mimpimu indah!" ujar Barsh sambil mengusap puncak kepala Kalistha lalu diakhiri dengan ciuman singkat di keningnya.

Setelah itu ia pun pergi dari sana. Menuruni anak tangga dan kembali bertatap muka dengan Arteta.

"Di mana saudara Kalistha?" tanya Barsh pada Arteta yang masih asyik menikmati acara televisi.

"Dia akan segera kembali!" jawab Arteta dia pun mematikan televisinya lalu berjalan mendekati Barsh bak Dewi kematian.

"Jangan permainkan sahabatku itu! Dia sudah cukup menderita! Kumohon padamu jaga dia, beri dia kebahagiaan!" ucap Arteta sembari melipat kedua tangannya sambil menatap Barsh serius.

Barsh terkejut mendengar apa yang Arteta katakan. Dia bingung, bagaimana Arteta bisa tau perihal hubungannya yang baru saja resmi dengan Kalistha.

Raut wajah Barsh yang bingung membuat Arteta berseringai.

"Hei, jangan terkejut! Aku tau kalian berdua saling mencintai!" ujar Arteta lagi.

Di sini Barsh dibuat takjub. Arteta benar-benar menyayangi Kalisthanya layaknya saudara.

"Kau boleh membunuhku jika sampai aku menyakitinya. Percayalah padaku aku sangat mencintainya!" ucap Barsh bersungguh-sungguh.

___________

1
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha bersemangat lagi gara gara kata kata Barsh
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh menerobos kerumunan orang demi melihat lukisan
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh beruntung dapat Kalistha yang ngga marah walau kamu telat datang
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh ternyata cemburu gara gara seperti di cuekin oleh Kalistha yang sibuk memandangi kota
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh dan Kalistha menikmati salju berduaan
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha pasti bingung mau di bawa kemana oleh Barsh
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha sama Barsh tahan dengan udara dingin ternyata
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha mengajari Barsh main piano
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha kamu memang wanita yang berbakat bisa main piano
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha memang sangat hebat berbakat di bidang seni
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh lupa dengan Kalistha pasti Kalista sedih banget
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh bersahabat dekat dengan Andrew dan Michael
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalistha gara gara kamu koma membuat Arteta merasa bersalah
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh kamu bisa menahan sakit di depan Kalistha
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh dan Kalistha pasti syok mendengar Tressya juga akan membunuh Barsh
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Tressya kamu itu dendam ke Barsh gara gara cintamu di tolak
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh karena ulahnya kamu membuat Kalistha malu
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Kalishta mengajak Barsh mendekat ke arah anak kecil penjual coklat
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh pengin manja manjaan sama pacarnya yaitu Kalistha
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Barsh dan Kalistha menikmati sunset bareng pasti bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!