Bagaimana rasanya jika kamu tiba-tiba terbangun dengan wajah dan tubuh yang asing, juga keadaan yang sudah sepenuhnya berubah? Eliora, seorang ketua gengster berbahaya di California, tiba-tiba terjebak di dalam tubuh seorang wanita lemah bernama Tiara yang sudah memiliki suami dan juga anak.
Dia merasa kasihan ketika mengetahui bahwa selama ini Tiara diperlakukan semena-mena oleh suami dan mertuanya, hingga membuat Elora bertekad untuk mendapatkan keadilan bagi Tiara dan anakknya.
Perjalanannya semakin berwarna saat dirinya dipertemukan kembali dengan Charly, agen rahasia yang beberapa kali menjadikannya target operasi.
Mampukah Eliora membantu Tiara dan anaknya untuk mendapatkan keadilan? Bagaimanakah dengan masa lalu yang dia tinggalkan, apakah dia masih hidup atau sudah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon warnyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 Mengalah bukan berarti kalah
"Niken sedang hamil dan membutuhkan kamar yang besar untuk persiapan setelah melahirkan nanti, jadi kamu lebih baik pindah ke kamar tamu saja," ujar Dery tanpa mau melihat mata Tiara, dia kemudian melangkah meninggalkan tepat perdebatan itu.
"Tidak bisa begitu, Mas! Sejak awal aku sudah menempati kamar utama dan sekarang kamu memberikannya begitu saja pada wanita itu, hanya karena dia sedang hamil?!" Liora kembali berjalan cepat menyusul langkah Dery untuk mengajukan protes.
Sebagai seorang perempuan yang selalu berada di posisi utama, Liora tentu tidak akan pernah mau berbagi walau itu hanya sebuah kamar.
"Mas! Kamu gak bisa lakuin ini sama aku!" Liora berdiri di depan Dery sambil merentangkan tangan, mencoba mencegah suaminya.
"Minggir!" Dery menatap tajam Tiara, dia tidak suka dengan perlawanan yang Tiara lakukan untuk keputusannya.
"Tidak, sebelum kamu mengembalikan kamarku!" Liora berkata tegas sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Minggir atau aku tidak akan segan-segan lagi padamu, Tiara! Jangan merasa karena kamu baru pulang dari rumah sakit, jadi aku tidak bisa melakukan kekerasan padamu!" geram Dery dengan urat leher yan sudah tampak menengang.
Rere yang melihat itu langsung berlari menuju pasangan suami istri yang tengah beradu pandang itu. Dia tidak mau kalau sampai Dery melakukan kekerasan lagi pada Tiara, padahal sahabatnya itu baru saja pulang dari rumah sakit.
"Sudahlah, untuk sekarang kamu mengalah saja, kondisi kamu belum siap untuk menerima kekerasan, Tiara. Ingat pada Deva," bisik Rere mencoba meredam emosi Tiara yang tampak sudah sangat meninggi. Itu terlihat dari tangannya yang mengepal erat dan wajahnya yang begitu datar.
Mendengar nama Deva disebut, perlahan Liora mulai mengendurkan kepalan tangannya sambil menghembuskan napas perlahan.
"Cih!" Liora mendengkus kesal sambil membuang muka, kemudian berjalan cepat menuju salah satu kamar tamu yang ada di lantai satu.
Liora sempat menatap tajam Niken yang tengah tersenyum penuh kemenangan padanya. Ternyata, tidak harus menunggu waktu lama untuk membenci seseorang, karena untuk Niken dia bisa langsung menjadikannya musuh hanya dengan dua kali pertemuan saja.
Mulai saat ini Liora menetapkan Niken sebagai musuhnya, dan dia akan mulai menyelidiki wanita itu juga orang yang berpihak padanya. Mereka akan dia masukan pada daftar hitam, sebagai orang-orang yang patut untuk diwaspadai.
"Kurang ajar banget tuh pelakor murahan, kamu cuma koma selama sebulan dia sudah merebut kamar utama rumah ini!" gerutu Rere yang memilih duduk di sisi ranjang kamar tamu itu.
Liora menutup pintu kemudian menghampiri Rere lalu mengambil kursi rias dan membawanya untuk duduk di depan Rere, dia menghembuskan napas pelan sebelum menanggapi ocehan sahabatnya itu.
"Bukannya tadi kamu yang menyuruhku untuk mengalah?" tanya Liora dengan nada suara yang sudah berubah tenang. Tidak ada lagi riak emosi di dalam suaranya.
Rere mengernyitkan kening, dia menatap bingung sahabatnya yang memang terasa sangat berbeda itu.
Bagaimana bisa, dia merubah emosinya secepat itu? Bahkan nada suara dan raut wajahnya kini begitu tenang, seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya, batin Rere bingung sendiri.
"Ya ... itu kan karena aku enggak mau kamu dipukul lagi sama suami brengsek-mu itu. Kalau nanti kondisi kamu memburuk lagi gimana?" Rere mengerucutkan bibirnya, merasa tidak rela jika sahabatnya menyalahkan dia atas kekalahan di dalam masalah perebutan kamar utama itu.
Liora mengulum senyum melihat sahabatnya yang sedang merajuk. "Iya, aku tau. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ujarnya tulus.
Rere menatap Liora kemudian mulai tersenyum sambil kembali menjadikan Liora pusat perhatiannya. "Kamu adalah sahabat aku, Tia. Dulu, kamu juga selalu ada untukku di saat aku terpuruk, dan sekarang giliran aku membalas semua kebaikan kamu padaku."
Liora tersenyum, walau dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Tiara pada Rere, tetapi itu membuatnya yakin jika Tiara memang orang yang baik, dan Rere juga perempuan yang jujur.
Liora kemudian menarik napas dalam sambil mengedarkan pandangannya pada seluruh kamar tempatnya beristirahat mulai sekarang. Tidak terlalu besar, itu bahkan hanya sepertiga dari kamarnya di saat masih menjadi ketua gengster.
Namun, sekarang dia hanya bisa menerima semua itu, walau rasanya untuk bernapas saja sudah pengap baginya yang terbiasa tinggal di tempat luas. Belum lagi funitur yang kebanyakan hanya terbuat dari kayu biasa, membuat Liora meringis membayangkan dia harus terbiasa hidup dengan semua itu.
"Kamar ini tidak terlalu buruk. Setidaknya di sini aku bisa dekat dengan Deva," ujar Liora sama sekali bertolak belakang dengan kata hatinya. Liora kemudian mengalihkan pandangannya pada jendela yang berada di salah satu sisi ruangan. Bias warna jingga terlihat jelas di sana, menandakan malam akan segera tiba.
"Sudah mau gelap, sebaiknya kamu pulang," sambung Liora lagi. Tidak bermaksud untuk mengusir, dia hanya khawatir pada sahabatnya itu.
Rere tampak ikut melihat ke jendela kemudian mengangguk samar. Dia menghembuskan napas pelan seolah enggan untuk meninggalkan liora sendiri di sini.
"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja di sini." Seolah tau isi hati Rere, Liora lebih dulu berbicara sambil kemudian berdiri yang langsung diikuti oleh Rere.
Liora pun mengantarkan Rere ke depan rumah, dia berdiri di sana sampai mobil Brio kuning itu ke luar dari gerbang tinggi pembatas rumah dan dunia di luar sana. Liora berbalik kemudian menatap rumah mewah yang sebenarnya hanya setengah dari luas masion miliknya di California.
Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar mencoba mengurangi beban yang sekarang berada di pundaknya.
"Selamat datang di arena pertempuran, Liora," gumamnya sebelum kembali melangkah masuk ke rumah.
Rasa tidak nyaman di tubuhnya, membuat Liora kembali masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Hari yang cukup melelahkan dengan semua yang terasa mengejutkan.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Liora kembali berdiri di depan cermin, menatap wajah dan tubuh milik orang lain yang kini dia tempati.
"Seberapa sulit kamu menjalani hidup selama ini Tiara? Jika memang aku yang kamu pilih untuk menggantikan kamu, tolong bantu aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam keluarga ini," ujarnya sambil menatap pantulan wajah di cermin.
Liora seolah sedang berbicara pada dirinya yang lain sekarang. Dalam hati dia berharap pantulan cermin itu bisa menjawab dirinya seperti pertama kali dia melihatnya beberapa hari lalu.
Namun, sepertinya itu hanya sebuah harapan hampa saja, karena sampai saat ini dia tidak pernah mendapati pantulan dirinya di cermin itu berbicara padanya lagi.
Liora memutuskan untuk ke luar dari kamar mandi dengan hanya jubah mandi yang membalut tubuhnya. Namun, langkahnya kembali terhenti dengan tubuh mematung, ketika dia melihat seseorang yang sedang duduk di sisi tempat tidur.
Untuk beberapa saat mata keduanya sempat bertaut dalam, walau dengan cepat Liora langsung memalingkan muka, memutuskan tautan mata keduanya.
"Ada apa kamu di sini, Mas?" tanya Liora sambil mengeratkan tali jubah mandinya.
Untuk apa dia datang ke kamarku? Liora membatin.
Liora sadar jika sekarang dirinya berada di dalam tubuh wanita dengan status seorang istri. Tentu saja dia khawatir kalau Dery datang ke kamarnya untuk meminta sesuatu yang tidak mungkin dia berikan sekarang.
Sungguh, dia tidak mau melakukan itu dengan orang yang tidak dia cintai. Walau dia adalah pemimpin dari kelompok gengster, tapi dia juga tipe pemilih untuk melakukan hal itu. Bahkan jika boleh jujur, sampai saat ini dirinya belum pernah menyerahkan sesuatu yang berharga bagi semua wanita.
Ilustrasi kamar Liora sebagai ketua gengster.
dan setelah itu menghancurkan Roxy dan antek-anteknya..