Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAHABAT MACAM APA?
"Uncle bangunn!!!" teriak Nala yang masuk ke dalam kamar tamu dan langsung naik ke atas tempat tidur. Gadis kecil itu langsung naik ke atas tubuh One dan mengganggu pria itu.
"Ishhh ...," One mencebik kesal dan menutup wajahnya dengan bantal. Semalaman ia mencari tahu tentang Zero dan baru terlelap di jam 4 pagi. Jadi saat ini ia sedang benar benar dalam mode ngantuknya.
"Uncle, pagi ini Mommy akan pergi ke kantor lagi. Uncle temani Nala ke Mall ya nanti. Nala mau beli hadiah buat teman Nala di New York," ucap Nala tersenyum di depan wajah One.
"Iya, nanti siang Uncle temani. Sekarang keluarlah dulu, Uncle mau mandi," ucap One yang sebenarnya masih malas.
"Nala bantu mandikan Uncle ya! Mommy juga sering membantu Nala, biar cepat selesai," ujar Nala.
"Tidak perlu! Uncle akan cepat selesai tanpa bantuan siapapun," One akhirnya langsung bangkit dan masuk ke kamar mandi. Nala pun akhirnya keluar dari kamar tidur yang ditempati oleh One.
Di luar,
"Bagaimana? Uncle One mau ikut kan?" tanya Nathan.
"Tentu saja! Nala gitu loh!"
"Kita harus pergi ke arena bermain di dalam mall itu. Grandpa dan Grandma selalu saja melarang kita ke sana, sementara Dad dan Mom sibuk ke kantor menggantikan Uncle Ax."
"Baiklah, ayo kita siap siap," ajak Nala.
Kedua anak kembar berusia 7 tahun itu saling tersenyum. Nala selalu mengikuti keinginan Nathan, terutama jika saudara kembarnya itu akan pergi bermain sesuatu yang menantang.
*****
Julian mengantarkan Samantha menuju lokasi pemotretan, setelah itu ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Vianne.
"Halo."
Julian tersenyum saat mendengar suara Vianne begitu lembut di telinganya.
"Halo, Vi. Ini aku, Julian. Bisakah kita bicara berdua? Sebentar saja."
"Maaf aku sedang sibuk."
"Vi!"
Vianne memutus panggilan tersebut secara sepihak. Meskipun dulu ia pernah menyukai Julian, tapi bukan berarti ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melukai Samantha.
Julian mencoba lagi untuk menghubungi Vianne, namun selalu ditolak. Akhirnya, Julian meminta asisten pribadinya untuk mencari tahu di mana Vianne berada dari nomor ponsel yang ia gunakan.
Tak sampai 15 menit, asisten pribadi Julian sudah mendapatkan lokasi keberadaan Vianne. Julian pun bergegas ke sana, ke sebuah rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Julian langsung masuk dan bertanya pada resepsionis, ruangan Vianne.
"Ruangan Dokter Vianne ada di lantai 2, Tuan," jawab sang resepsionis.
"Terima kasih," ucap Julian. Ia langsung naik ke atas dengan menggunakan eskalator. Senyum seakan tak pernah lepas dari wajahnya ketika ia akan menemui cinta pertamanya.
Tanpa mengetuk pintu, Julian langsung masuk ke dalam ruangan Vianne. Ia sudah tak sabar untuk berbicara dan menjelaskan semuanya pada Vianne.
"Vi ..."
Vianne melihat ke arah pintu dan kaget melihat sosok Julian di sana. Namun, Vianne berusaha untuk tetap tenang.
"Silakan duduk, Tuan. Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Vianne.
"Vi, apa kamu tidak merindukanku?" tanya Julian yang langsung duduk di hadapan Vianne dan memegang kedua tangannya.
"Maaf, Tuan," Vianne langsung menarik kedua tangannya.
"Vi, kamu ke mana saja? Aku mencarimu," ucap Julian.
Mencariku? Kalau kamu benar benar mencariku, kamu pasti akan menemukanku. Aku tak pernah mengubah namaku, ataupun wajahku. - batin Vianne.
"Maaf, Tuan. Pekerjaan saya sedang banyak. Jika anda memerlukan bantuan, anda bisa mencari dokter yang cocok dengan anda," Vianne tak ingin Julian salah paham jika ia menyambut baik sapaan pria ini. Sebenarnya Vianne tak merasa dendam, ia hanya tak ingin mencari masalah, terutama dengan sahabatnya, Samantha.
"Aku hanya ingin bicara, Vi."
Vianne akhirnya diam kemudian menatap Julian dengan kedua tangan ia letakkan di atas meja, "Katakanlah. Apa yang ingin kamu bicarakan."
"Kembalilah padaku, Vi. Aku akan memutuskan hubunganku dengan Samantha," ucap Julian.
Vianne menatap Julian sekali lagi, "Apa kamu sudah berpikir baik baik sebelum mengatakannya?"
"Aku serius, Vi."
"Aku sudah bertunangan," kata Vianne sambil menunjukkan cincin di jari manisnya. Ia memang sengaja memasang sebuah cincin dengan mata berlian. Meskipun kecil, tapi cincin itu sudah sering membantunya untuk menghindar dari banyak pria.
"Kamu baru bertunangan, belum menikah. Jadi aku masih punya kesempatan," ucap Julian.
"Pergilah. Aku tak ingin melanjutkan pembicaraan dengan
"Aku tak akan pergi dari sini sebelum kamu menerimaku kembali," ucap Julian.
Vianne menatap Julian dengan tatapan tidak percaya. Pria di hadapannya ini begitu gigih menginginkan sesuatu yang seharusnya tak boleh ia lakukan.
"Keluarlah sekarang atau aku akan menghubungi tunanganku," ancam Vianne.
"Hubungi saja, aku tidak takut. Aku bahkan bisa membuat kalian benar benar berpisah."
"Kamu gila, Tuan Julian!"
"Ya, aku memang gila. Aku gila karenamu. Aku gila karena mencintaimu."
"Kamu tidak mencintaiku! Ingatlah, kamu memiliki Samantha. Jangan menyakitinya, ia adalah sahabatku," Vianne berusaha mengingatkan Julian.
Julian berdecih, "Aku mendekatinya untuk mencari tahu tentang dirimu. Dan apa kamu tahu kalau ia bukanlah sahabat yang baik untukmu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku akan memberitahukan sesuatu yang penting padamu, tapi kamu harus bersamaku," ucap Julian.
"Aku tidak mau!" Vianne berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang dicengkeram erat oleh Julian.
Vianne memgambil ponselnya dengan sebelah tangannya. Ia harus menghubungi Zero. Ya, mau tidak mau ia harus meminta bantuan pria itu untuk berpura pura menjadi tunangannya.
Ia menekan layar ponselnya dan melihat nama Zero. Panggilan berbunyi beberapa kali, tapi Zero belum mengangkatnya. Namun akhirnya, Zero pun mengangkatnya.
"Halo."
"Ze," Julian menekan tombol loudspeaker yang ada di layar ponsel Vianne. Padahal sebenarnya Vianne ingin berbicara dulu dengan Zero.
"Apa kamu ingin meminta penjelasanku lagi, Anne?"
"Aku ..."
"Ingat, kita sudah putus. Aku tak bisa mencintaimu. Jangan memaksaku."
Dan Zero seenaknya saja mematikan panggilan itu, padahal Vianne belum mengatakan apapun. Hal itu tentu saja membuat Julian tersenyum lebar.
"Ternyata kamu sudah putus? Kamu hanya ingin menghindariku, hah?! Aku tak akan membiarkanmu pergi. Aku akan membuatmu menjadi milikku, Vi."
"Kamu punya Samantha, Ju. Kamu adalah milik sahabatku."
"Sahabat macam apa yang menjerumuskan sahabatnya sendiri? Apa kamu tidak ingin tahu apa yang telah ia lalukan padamu?!" teriak Julian yang membuat Vianne terdiam.
🧡 🧡 🧡