Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sinar matahari pagi menyilaukan mata saat Chen Mo melangkah masuk ke dalam Arena Pertarungan Akademi.
Bangunan berbentuk colosseum raksasa itu telah dipenuhi oleh lautan murid dari berbagai angkatan.
Suara sorak-sorai dan diskusi panas menggema di seluruh penjuru tribun penonton.
Hari ini adalah tahap kedua dari latihan praktik resmi, yaitu pertarungan satu lawan satu antar murid.
Ting!
Suara mekanis yang sangat jernih berbunyi di dalam kepala Chen Mo tepat saat dia melewati gerbang masuk arena.
[Anda telah memasuki Arena Pertarungan Akademi.]
[Mendeteksi lokasi check-in khusus tingkat pertempuran yang menyimpan memori gladiator kuno.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]
Chen Mo terus berjalan dengan santai membelah kerumunan murid yang otomatis menyingkir melihatnya.
'Ya. Lakukan check-in sekarang,' batin Chen Mo tenang.
Ding!
[Check-in Khusus Lokasi Arena Pertarungan berhasil.]
[Mendapatkan: Memori Tempur Gladiator Kuno (Skill Pasif).]
[Mendapatkan: Poin Kelincahan x30.]
Seketika, ribuan teknik pertarungan jarak dekat dari zaman purba mengalir masuk ke dalam ingatan Chen Mo.
Dia kini memahami setiap kelemahan fatal dari anatomi tubuh manusia dan monster hanya dengan sekali lihat.
Gerakan refleksnya juga meningkat drastis seiring dengan kelincahannya yang kini mencapai angka 99.
"Semuanya harap tenang dan berkumpul di tengah arena sesuai dengan nomor undian kalian!"
Suara instruktur kepala menggema melalui pengeras suara magis, memecah kebisingan tribun.
Chen Mo mengambil nomor undian dari kotak panitia dan melihat angka tujuh tertera di sana.
Baru saja dia membalikkan badan, sekelompok murid elit sengaja menghalangi jalannya.
Pemimpin kelompok itu adalah Lin Feng, yang kini duduk di kursi roda otomatis dengan wajah penuh dendam.
Di sebelah Lin Feng, berdiri seorang pemuda berbadan besar dengan luka codet di wajahnya.
Pemuda itu mengenakan lencana emas tahun kedua, menandakan dia adalah seorang senior tingkat atas.
"Lihat siapa yang kita temui di sini, si pahlawan kesiangan dari asrama barat."
Lin Feng menyapa dengan nada mengejek yang sangat kentara.
"Kudengar kau membuat sedikit kekacauan di fasilitas gravitasi kemarin, Chen Mo."
Chen Mo menatap Lin Feng dengan pandangan malas yang sama seperti menatap seekor nyamuk.
"Kau masih hidup rupanya. Kupikir kau sudah mati mengompol di hutan waktu itu," jawab Chen Mo datar.
Wajah Lin Feng langsung memerah padam menahan amarah dan rasa malu yang meledak di dadanya.
"Jaga mulut kotormu itu, dasar sampah Rank F!" bentak pemuda bercodet di sebelah Lin Feng.
"Aku adalah Gao Shun, peringkat kesepuluh dari angkatan tahun kedua."
Gao Shun membusungkan dadanya, mencoba mengintimidasi Chen Mo dengan postur tubuhnya yang raksasa.
"Tuan Muda Lin sudah membayarku dengan harga yang sangat mahal untuk mengurusmu hari ini."
"Jika kau berani naik ke atas ring melawanku, aku jamin kau akan keluar dari sana tanpa lengan dan kaki."
Gao Shun tertawa keras, diikuti oleh tawa meremehkan dari antek-antek Lin Feng lainnya.
Chen Mo hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatap senior besar itu dengan tatapan bosan.
"Berapa banyak dia membayarmu, Senior Gao?" tanya Chen Mo pelan.
Gao Shun mendengus sombong dan menyilangkan tangannya di dada.
"Satu juta koin bintang. Harga yang sangat fantastis hanya untuk meremukkan tulang seekor cacing sepertimu."
"Satu juta koin bintang? Nyawamu ternyata sangat murah, Senior," balas Chen Mo tanpa ekspresi.
Gao Shun mengerutkan keningnya, tidak memahami maksud dari kalimat merendahkan tersebut.
"Apa maksudmu, Bocah?! Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan tipuanmu itu?!"
"Kita lihat saja nanti di atas ring, apakah mulutmu masih bisa berbicara saat gigimu sudah rontok semua."
Gao Shun menunjuk wajah Chen Mo dengan jari telunjuknya yang kasar.
Chen Mo sama sekali tidak terpancing emosinya, dia hanya menguap pelan menutupi mulutnya.
"Terserah kau saja. Jangan lupa siapkan uang untuk biaya rumah sakitmu sendiri," ucap Chen Mo santai.
Dia berjalan melewati kelompok itu begitu saja, menabrak bahu Gao Shun hingga senior raksasa itu sedikit terhuyung.
"Sialan! Aku benar-benar akan membunuhnya hari ini!" umpat Gao Shun dengan marah.
Lin Feng tersenyum licik, menatap punggung Chen Mo dengan penuh kebencian.
"Hancurkan dia, Senior Gao. Jangan beri dia kesempatan untuk menyerah," bisik Lin Feng kejam.
Satu jam kemudian, babak penyisihan telah selesai dan kini tibalah saatnya untuk pertandingan utama.
"Pertandingan ketujuh! Chen Mo dari tahun pertama melawan Gao Shun dari tahun kedua!"
Suara instruktur menggema, membuat seluruh penonton di arena langsung bersorak riuh.
Pertandingan lintas angkatan selalu menjadi tontonan yang paling dinantikan karena tingkat kebrutalannya.
Di tribun VIP, Ye Qingxue mencondongkan tubuhnya ke depan, mata birunya menatap tajam ke arah ring.
Di sudut lain tribun, Su Mengqi duduk meremas ujung seragamnya dengan tangan gemetar.
Gadis itu tidak tahu harus mendukung siapa, hatinya dipenuhi oleh konflik dan penyesalan yang menyiksa.
Gao Shun melompat ke atas ring batu raksasa itu dengan gaya yang sangat arogan.
Brak!
Dia menancapkan sebuah pedang besar berukuran hampir sebesar pintu ke lantai ring.
"Naiklah, sampah! Waktu hidupmu sudah habis!" teriak Gao Shun memprovokasi.
Chen Mo berjalan menaiki tangga ring dengan sangat pelan dan santai.
Dia bahkan tidak melepaskan kedua tangannya dari dalam saku celana seragamnya.
"Apakah kau tidak membawa senjata, Bocah? Atau kau sudah pasrah untuk mati?" ejek Gao Shun tertawa keras.
"Untuk melawanmu aku bahkan tidak butuh senjata, cukup dengan tatapan mata saja sudah berlebihan," jawab Chen Mo datar.
Sorakan penonton langsung berubah menjadi cemoohan mendengar kesombongan murid Rank F tersebut.
Mereka mengira Chen Mo sudah kehilangan akal sehatnya karena ketakutan.
"Mulai pertandingannya!" teriak instruktur kepala sambil mengayunkan bendera merah.
Wuuush!
Gao Shun langsung melesat maju dengan kecepatan penuh, pedang raksasanya diayunkan mendatar ke arah leher Chen Mo.
Energi elemen tanah meledak dari pedang itu, membuat udara di sekitarnya menjadi sangat berat.
"Mati kau!" raung Gao Shun dengan mata memerah.