NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31

​Anindiya baru sadar dirinya sudah sampai di rumah waktu kunci mobil hampir terlepas dari tangannya yang gemetaran.

​Ia cuma bisa duduk diam di balik setir selama beberapa menit, menatap kosong ke arah rumahnya. Rumah yang biasanya terasa hangat itu malam ini mendadak kelihatan beda banget. Lampu teras masih menyala terang, padahal ia yakin sudah mematikannya tadi pagi sebelum pergi ke rumah Rina. Atau mungkin ia yang salah ingat? Kepalanya sudah terlalu penuh sampai hal-hal kecil seperti itu tak sanggup ia pikirkan lagi.

​Dengan langkah kaki yang terasa berat, Anindiya turun dari mobil. Pintu depan baru bisa terbuka setelah beberapa kali dicoba karena jarinya terlalu kaku.

​Di dalam, rumah benar-benar sepi. Nggak ada suara televisi yang biasanya dibiarkan menyala, nggak ada juga aroma kopi yang biasanya tercium dari dapur. Cuma ada sepi yang bikin dada terasa sesak.

​Anindiya melempar tasnya ke sofa lalu ambruk di atas lantai. Punggungnya menyandar ke kaki meja. Ia menarik kedua lututnya ke dada dan memeluknya erat-erat.

​Baru sekarang, setelah sendirian di rumah, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.

​"Rina..." suaranya terdengar serak. "Maaf... maafin Mbak ya, Rin..."

​Kalimat itu terus ia ulang-ulang, seolah kalau terus minta maaf, Rina bisa hidup lagi. Tapi yang terbayang di kepalanya cuma wajah Rina yang kaku dengan gaun putih itu. Gaun yang seharusnya nggak pernah ada di sanggar. Gaun yang seharusnya nggak pernah ia beli dari butik tua itu.

​Anindiya menutup muka dengan kedua tangannya. Rasa bersalah benar-benar menyiksa batinnya. Kenapa semalam ia bisa tidur senyenyak itu? Kenapa ia nggak dengar suara apa-apa? Padahal jarak mereka dekat banget. Kalau saja ia lebih kuat menahan kantuk, kalau saja ia nggak ketiduran... mungkin Rina masih ada di sini sekarang.

​"Aku yang salah..." gumamnya pelan. "Semua ini gara-gara aku."

​Waktu berlalu tanpa ia sadari. Begitu ia coba berdiri, kedua kakinya sudah kesemutan parah. Ia berjalan ke dapur cuma buat minum air, tapi gelas yang dipegangnya gemetaran hebat sampai airnya tumpah ke meja. Ia biarkan saja, tak ada tenaga lagi buat membersihkannya.

​Makin malam, rumah terasa makin dingin. Anindiya cuma duduk di sofa ruang tengah dengan satu lampu kecil yang menyala redup. Ponselnya berkali-kali bergetar—ada pesan dari teman, tetangga, sampai polisi yang minta ia datang besok buat kasih keterangan. Tak ada satu pun yang ia buka. Semuanya terasa jauh banget.

​Tiba-tiba, bau bunga melati muncul.

​Awalnya cuma samar, seperti ada orang lewat di luar bawa bunga. Tapi makin lama baunya makin menyengat sampai memenuhi seluruh ruang tengah.

​Anindiya mengangkat kepalanya. Di rumah ini tak ada tanaman melati. Nggak pernah ada.

​"Ada orang?" tanyanya pelan ke arah kegelapan.

​Nggak ada jawaban.

​Tapi bau melati itu makin kuat di dekat cermin besar yang menempel di dinding. Anindiya berdiri pelan-pelan. Tiap langkah kakinya terasa berat banget.

​Waktu berdiri di depan cermin, bayangannya sendiri menatap balik dengan mata merah dan muka pucat. Tapi ada yang aneh.

​Gerakan bayangan itu... agak lambat.

​Anindiya mengangkat tangan kanannya. Bayangan di dalam cermin baru menirukan gerakannya beberapa detik kemudian!

​Badannya langsung merinding dingin. Ia mengusap matanya kasar, mencoba meyakinkan diri kalau ini cuma karena ia terlalu capek dan sedih. Tapi waktu melirik ke samping cermin, dari sudut matanya kelihatan ada sosok lain berdiri tepat di belakang bayangannya. Rambutnya panjang, memakai gaun putih, tapi mukanya nggak kelihatan jelas.

​Anindiya cepat-cepat memalingkan muka. Napasnya jadi memburu.

​"Cuma bayangan..." katanya ke diri sendiri dengan suara gemetar. "Rina sudah nggak ada. Ini cuma karena aku terlalu capek."

​Ia mematikan lampu ruang tengah lalu buru-buru naik ke kamar di lantai dua. Tapi bau melati itu ikut naik, seperti menempel di badannya.

​Di dalam kamar, ia langsung rebahan di kasur tanpa sempat ganti baju. HP-nya ditaruh di meja. Layarnya sempat menyala sebentar menampilkan pesan baru, lalu mati lagi.

​Anindiya tiduran sambil menatap langit-langit. Tiap kali mencoba memejamkan mata, wajah Rina langsung muncul. Bukan wajah Rina yang lagi tertawa waktu mereka makan siang bareng, tapi wajah pucat dengan mata kosong yang menakutkan.

​"Aku nggak bisa nolak..."

​Suara bisikan itu terdengar pelan banget, seperti berasal dari dalam bantalnya!

​Anindiya langsung duduk tegak. Jantungnya berdebar kencang banget.

​"Siapa di situ?!"

​Sepi. Tapi bau melati sekarang sudah kuat banget sampai tenggorokannya gatal.

​Ia melompat berdiri dan menyalakan lampu kamar. Cahaya kuning langsung memenuhi ruangan. Nggak ada siapa-siapa. Pintu kamar masih tertutup rapat, jendela juga terkunci. Ia bahkan sempat memeriksa kolong kasur dan dalam lemari, merasa bodoh sekaligus takut setengah mati.

​"Aku gila..." bisiknya pelan. "Aku pasti sudah gila."

​Anindiya kembali duduk di kasur, cermin rias di pojok kamar menunjukkan sesuatu. Bayangannya sendiri berdiri di situ, tapi di belakangnya ada sosok lain yang kelihatannya makin jelas. Sosok itu mengangkat tangannya pelan, seperti mau menyentuh bahu Anindiya dari dalam cermin.

​Anindiya langsung membuang muka dan menarik napas dalam-dalam. Ia memutuskan nggak mau melihat cermin itu lagi malam ini. Ia tidur memunggungi cermin dan memeluk bantal seerat mungkin.

​Dalam mimpinya, ia berada di dalam sanggar. Lampu-lampu mati, cuma ada cahaya bulan yang masuk dari jendela. Di tengah ruangan, Rina berdiri memakai gaun pengantin putih. Wajahnya kelihatan sedih banget.

​"Mbak..." suara Rina dalam mimpi terdengar parau. "Aku nggak bisa menolak. Dia bilang kalau aku pakai gaun ini, semuanya bakalan selesai. Tapi dia bohong, Mbak. Semuanya belum selesai."

​Anindiya mau lari mendekati Rina, tapi kakinya seperti menempel di lantai.

​"Rina! Maafin Mbak! Ini semua salah Mbak, harusnya Mbak—"

​Rina menggeleng pelan. "Bukan salah Mbak Anin. Tapi dia sudah memilih. Dia selalu pilih orang yang paling dekat sama Mbak."

​"Siapa dia, Rin?!"

​Rina membuka mulutnya, tapi yang keluar bukan suara. Yang keluar justru bau melati yang kuat banget sampai Anindiya tersedak dalam mimpinya. Terus Rina mulai berjalan mendekat. Makin dekat, wajahnya makin berubah. Matanya yang tadinya sedih berubah jadi hitam semua. Senyum yang muncul di bibirnya juga bukan senyum Rina lagi.

​"...sekarang... giliran Mbak..." bisik suara dingin yang bukan milik Rina.

​Anindiya terbangun dengan napas terengah-engah!

​Badannya basah kuyup oleh keringat dingin. Jam di meja menunjukkan jam tiga pagi. Bau melati masih terasa di dalam kamar, walaupun sudah sedikit berkurang.

​Ia duduk di pinggir kasur sambil memegang kepalanya. Mimpi itu terasa nyata banget. Suara terakhir itu masih terngiang-ngiang di telinganya.

​Giliran Mbak...

​Anindiya melihat ke arah jendela yang masih gelap. Di luar, suasana kelihatan tenang-tenang saja. Tapi di dalam dirinya, semuanya sudah berubah. Ia nggak bisa lagi pura-pura kalau semua kematian ini cuma kebetulan. Nggak bisa lagi menganggap peringatan Rina dulu cuma omong kosong.

​Gaun itu memang lagi memilih korbannya. Dan sekarang, setelah Rina pergi, nggak ada lagi orang yang lebih dekat sama gaun itu selain dirinya sendiri.

​Anindiya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi di sudut kamar, cermin rias yang sejak tadi ia hindari tiba-tiba mengembun sendiri—seperti ada bekas napas seseorang yang menempel di kaca dari dalam.

​Dan di tengah embun itu, perlahan-lahan muncul tulisan yang digoreskan pakai jari:

​Aku tunggu.

​Anindiya mendadak kaku.

​Tulisan itu berada di sana selama beberapa detik. Cukup lama buat bikin Anindiya yakin kalau ia nggak lagi berhalusinasi. Terus embunnya menguap pelan-pelan, membawa tulisan itu menghilang dan menyisakan cermin yang kembali bersih—seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.

​Anindiya cuma bisa duduk diam di pinggir kasur sampai matahari mulai terbit di balik gorden. Ia nggak berani tidur lagi. Matanya cuma menatap lurus ke arah cermin, sambil memikirkan satu hal yang terus berputar di kepalanya:

​Kalau gaun itu memang lagi menunggu... berapa lama lagi waktu yang tersisa sampai gilirannya tiba?

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!