"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG : JERITAN DI KEGELAPAN
Jeritan wanita itu teredam seketika saat sebuah telapak tangan besar membekap mulutnya dengan kasar.
Ia diseret paksa ke dalam kegelapan lorong sempit yang buntu, melintasi bayang-bayang malam yang dingin dan sunyi. Tubuhnya gemetar hebat, berusaha sia-sia melepaskan diri dari cengkeraman sesosok pria bertubuh tinggi besar yang berdiri mengintimidasinya bagaikan malaikat pencabut nyawa.
Tak ada wajah yang bisa dikenali. Pria itu mengenakan topeng hitam polos tanpa lekuk—sebuah topeng licin yang sama sekali tak memancarkan ekspresi manusia. Hanya sepasang mata di balik lubang topeng yang memancarkan aura kegelapan mutlak.
"M-mohon... lepaskan aku... tolong jangan sakiti aku..." bisik wanita itu berselimut tangis pilu dan napas berburu. Suaranya gemetar parah, bergetar di bawah bekapan telapak tangan yang begitu tebal.
Air matanya meleleh basah membasahi sarung tangan kulit pria itu. Namun bukannya melunak, pria bertopeng itu justru perlahan melepaskan bekapannya, lalu menempelkan satu jari telunjuknya yang terbungkus kulit hitam tepat di depan bibirnya sendiri.
"Shhh..." desis pria itu rendah, sebuah gestur perlahan yang mengisyaratkan ketenangan mengerikan—memerintahkan sang wanita untuk bungkam dan tak lagi membuat suara.
Tubuh wanita itu makin membeku. Rasa takut melumpuhkan napasnya saat menyadari tidak ada sedikit pun rasa kemanusiaan di balik topeng tersebut.
Pria bertopeng itu tak lagi mengucap sepatah kata pun. Suara napasnya tenang, datar dan penuh perhitungan dingin. Tanpa keraguan sedikit pun, jemari besarnya mencengkeram rahang wanita itu dengan kekuatan monster.
KRAK!
Bunyi leher yang patah bergema mengerikan di sunyinya malam, disusul keheningan yang menyayat.
Tubuh wanita itu terkulai tak bernyawa di atas tanah basah, matanya mendelik kosong menatap langit malam. Pria itu menyapu sedikit noda darah dari sarung tangannya dengan pelan, menatap tubuh korbannya sejenak tanpa emosi, lalu berbalik dan menyatu kembali bersama kegelapan malam tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..