Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 Hujan Tidak Pernah Memilih Siapa yang Basah
Hujan turun saat tidak ada seorang pun yang memintanya.
Rintik pertama jatuh di jendela toko buku tua itu.
Lalu yang kedua.
Yang ketiga.
Dalam hitungan detik, suara hujan memenuhi seluruh ruangan.
Tap...
Tap...
Tap...
Aku berdiri mematung di depan foto keluarga itu.
Pria di samping ibuku...
Bukan ayahku.
Kalimat Étienne masih menggema di kepalaku.
Aku menatap foto itu sekali lagi.
Perempuan yang tersenyum hangat.
Bayi yang sedang digendong.
Dan pria yang wajahnya tampak begitu bahagia.
Kalau dia bukan ayahku...
Lalu siapa?
"Kenapa..."
Suaraku terdengar pelan.
"...kenapa kalian selalu memberi satu jawaban..."
"...lalu menambah sepuluh pertanyaan baru?"
Étienne tersenyum tipis.
"Bukannya kami ingin membuatmu bingung."
"Lalu?"
"Kebenarannya..."
"...terlalu besar untuk dijelaskan dalam satu malam."
Aku menghela napas.
"Orang tua."
"Hm?"
"Kalian memang suka berbicara seperti penyair."
Léo yang sejak tadi duduk di pojok ruangan mengangkat tangan.
"Aku setuju."
"Kalau aku jadi dia..."
"...aku sudah frustrasi."
"Aku memang frustrasi."
jawabku datar.
── Maël kepada kalian ──
Aku punya impian sederhana.
Bangun pagi.
Menjual koran.
Makan croissant murah.
Tidur.
Bangun lagi.
Sekarang?
Aku bahkan tidak yakin nama keluargaku sendiri.
Kalau hidup ini buku...
Penulisnya pasti sedang bercanda.
── Kembali ke cerita ──
Étienne mengambil secangkir kopi yang sudah mulai dingin.
Tangannya tidak gemetar sedikit pun.
Padahal Henri sejak tadi masih mengawasinya dengan tatapan penuh curiga.
"Henri."
kata Étienne pelan.
"Aku tidak datang sebagai musuh."
Henri mendengus.
"Semua musuh selalu berkata begitu."
Étienne tertawa kecil.
"Dan kau masih tidak pandai mempercayai orang."
"Karena aku pernah mempercayaimu."
Ruangan kembali sunyi.
Aku memperhatikan keduanya.
Mereka berbicara seperti dua sahabat lama yang dipisahkan oleh sesuatu yang sangat buruk.
Bukan kebencian.
Melainkan penyesalan.
"Baik."
kataku sambil menarik sebuah kursi.
"Kalian duduk."
"Kita ngobrol."
Henri mengernyit.
"Kau mau apa?"
"Aku capek berdiri."
Léo langsung ikut menarik kursi.
"Aku juga."
Camille menggeleng sambil tersenyum.
"Kalian benar-benar anak jalanan."
Aku menunjuknya.
"Salah."
"Apa?"
"Kami profesional."
Léo mengangguk mantap.
"Betul."
"Kami miskin dengan pengalaman."
Bahkan Madame Odette sampai tertawa.
Suasana yang tadi begitu tegang perlahan mencair.
Namun hanya sebentar.
Étienne mengeluarkan sebuah amplop tua dari dalam jasnya.
Warnanya mulai menguning.
Di bagian depan hanya tertulis satu nama.
Maël.
Aku menelan ludah.
"Itu..."
Étienne mengangguk.
"Surat untukmu."
"Dari siapa?"
"Ibumu."
Tanganku refleks ingin mengambilnya.
Namun Henri lebih cepat.
"Jangan."
katanya tegas.
Aku menoleh.
"Kenapa lagi?"
"Belum saatnya."
Aku memejamkan mata.
Menghitung sampai lima.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Lalu aku membuka mata dan tersenyum.
"Henri."
"Hm?"
"Aku sayang sama Bapak."
Henri terlihat bingung.
"Tapi..."
"...kalau Bapak bilang 'belum saatnya' sekali lagi..."
"...aku sumpah bakal lempar Bapak ke Sungai Seine."
Léo langsung menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa.
Camille memalingkan wajah.
Bahu Marcel naik turun menahan tawa.
Henri hanya mengusap wajahnya.
"Baik."
gumamnya.
"Itu ancaman yang cukup jelas."
Di luar...
Hujan semakin deras.
Jalan berbatu di Rue des Martyrs mulai dipenuhi payung warna-warni.
Suara kendaraan terdengar samar.
Paris tetap berjalan seperti biasa.
Tak seorang pun tahu bahwa di balik toko buku kecil itu...
Ada seorang anak jalanan yang sedang mencari identitasnya.
Dan beberapa orang tua yang sedang mencoba melindungi rahasia terbesar dalam hidupnya.
Aku berjalan mendekati jendela.
Melihat pantulan wajahku sendiri.
Mata abu-abu.
Rambut hitam.
Selama ini aku tidak pernah bertanya wajahku mirip siapa.
Sekarang...
Aku tahu jawabannya.
"Ibu..."
gumamku pelan.
Étienne berdiri di sampingku.
"Dia sangat menyayangimu."
Aku tidak menoleh.
"Kalau begitu..."
"...kenapa dia meninggalkanku?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Bahkan hujan di luar terasa lebih keras.
Étienne akhirnya berkata pelan.
"Karena..."
"...itu satu-satunya cara agar kau tetap hidup."
Aku tertawa kecil.
Tawa yang hambar.
"Aneh ya."
"Apa?"
"Semua orang yang katanya menyayangiku..."
"...selalu pergi."
Étienne tidak menjawab.
Henri memejamkan mata.
Marcel menundukkan kepala.
Dan untuk pertama kalinya...
Léo tidak melontarkan satu pun lelucon.
Ia hanya berdiri.
Lalu memegang bahuku.
Pelan.
Tidak mengatakan apa-apa.
Tetapi itu sudah cukup.
Aku tersenyum tipis kepadanya.
"Merci."
Léo mengangkat bahu.
"Jangan salah paham."
"Hah?"
"Aku cuma tidak mau kau menangis."
"Kenapa?"
"Kalau kau nangis..."
"...siapa yang bakal bikin aku ketawa?"
Aku terkekeh.
"Nah."
"Itu baru Léo."
Tiba-tiba...
Duk!
Seseorang menjatuhkan sesuatu ke depan pintu toko.
Semua orang langsung menoleh.
Camille mengintip dari balik tirai.
"Tidak ada siapa-siapa."
Ia membuka pintu perlahan.
Di depan pintu hanya ada sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat.
Tanpa nama.
Tanpa alamat.
Henri langsung berdiri.
"Jangan disentuh!"
Terlambat.
Camille sudah mengangkat kotak itu.
"Ini ringan..."
gumamnya.
Perlahan ia membuka tutupnya.
Isi kotak itu hanya satu.
Seekor burung layang-layang kecil.
Terbuat dari kertas lipat.
Di bawahnya terselip secarik kartu.
Aku mengambil kartu itu.
Di atasnya tertulis dengan tinta hitam:
"Burung yang pulang... tidak selalu menemukan sarangnya."
Tidak ada tanda tangan.
Namun di pojok kanan bawah...
Ada gambar rubah hitam yang sama seperti kartu remi semalam.
Aku menggenggam kartu itu erat.
Lalu menatap Henri.
"Kurasa..."
"...perburuan benar-benar sudah dimulai."
Di luar, hujan masih turun.
Dan untuk pertama kalinya...
Aku merasa Paris tidak sedang menangis.
Paris sedang memperingatkanku.