"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 LAPAR
Suasana kantor tampak sibuk, laki-laki itu mengecek semua laporan yang masuk, beberapa kali ia mengkerutkan dahinya, sungguh semua laporan ini terasa tidak pernah habis untuknya. Tepat jam di tanganya sudah menunjukan angka dua belas ini waktunya istirahat makan siang, ia segera merapikan mejanya dan berencana ke kantin untuk makan disana, langkahnya terhenti saat mendapat sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak kenal.
From +62819*******
Aku lapar,
bisahkan kamu datang ?
Hermawan berpikir sejenak “Siapa yang mengirim sms jahil untuknya? Orang ini sudah gila ia memerintahkanku seakan aku suaminya?“
From +62819*******
Aku lapar,
Aku tidak bisa masak sendiri.
From +62819*******
Aku akan menunggumu di rumah.
Dean.
Hermawan menarik napas dalam ia tidak mempedulikan pesan singkat yang masuk secara berturut-turut, laki-laki itu terus melangkahkan kakinya menujuh kantin dan makan bersama teman-temanya, ia beberapa kali bercanda dengan rekan satu kantornya.
“Sepertinya hari ini aku tidak bisa lembur.” ucap Beny rekan kantor Hermawan sambil menyuap makan siangnya.
“Kenapa?“ Hermawan bertanya pada sahabatnya.
“Istriku memintah pulang cepat.”
“Cie, mentang-mentang pengantin baru, kerjaanya nempel terus.” ejek Rio pada Beny, Beny baru enam bulan menikah. Hendra dan Rio tertawa di ikuti Beny yang tersenyum malu, Hermawan hanya mengangguk.
“Her, apa kamu ada masalah?” Hendra menatap bingun pada sahabatnya, ‘Heran biasanya Hermawan akan tertawa lebih kencang jika mereka mengejek Beny.’ Pikir Hendra.
“Tidak, aku tidak ada masalah sedikitpun.” Jawab Hermawan cepat, ia belum memberitahu siapapun soal pernikahannya dengan Dean.
Sudah jam sepuluh malam Hermawan berhasil menyelesaikan pekerjanya, kantorpun sudah terlihat sepih, hanya ada satpam yang sebang berpatroli memeriksa setiap ruangan di sana.
“Belum pulang pak?” sapa sang satpam.
“Ini sudah mau pulang pak, baru selesai.” Hermawan kemudian pergi meninggalkan ruangan kerjanya, sudah cukup seharian dia menyibukan diri di ruangan itu.
“Hati-hati pak Hermawan.“ satpam itu memperingatkan.
“Ya, terimakasih pak.” ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hanya perlu lima belas menit untuk mencapai apartemenya, inilah alsanya memilih apartemen sederhana itu, karena jaraknya tidak jauh dari kantor selain itu masalah keuangan juga menjadi faktor utamanya.
Hermawan melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen, tampak semua lampu sudah dimatikan, ia segera masuk kemarnya kemudian membersihkan dirinya, setelah itu ia tertidur, ia sengaja tidak makan malam di rumah karena tadi Rio membelikanya nasi goreng untuk makan malam.
****
Dean masih memegangi perutnya yang terasa perih, hari ini ia tidak makan apapun, kecuali tadi pagi ia memakan roti untuk sarapan, semua yang ada di kulkas adalah bahan mentah. Ia tidak bisa memasak. Tadi siang ia melakukan hal konyol mencobah mengigit semua sayuran mentah satu persatu seperti kambing, ia memakan sebuah timu, dan beberapa gigit wortel mentah seperti kamarin malam, tapi kemudian ia memuntahkanya, semua semakin lama semakin tidak enak untuknya.
Gadis itu segera duduk di kasurnya, ia mengambil sebuah buku kosong di ruang kerja Hermawan tadi siang, ia sudah menjelajahi semua sudut ruangan apartemen itu. Dean menulis semua kejadian yang terjadi hari ini, mulai dari perdebatan yang terjadi tadi pagi, kemudian Hermawan mengabaikan pesan singkatnya dan sekarang ia kelaparan.
‘Mengapa Dad ingin aku menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak peduli denganku?’ Gadis itu kemudian menutup buku itu dan terlelap sembaring menahan lapar perutnya yang semakin lama semakin melilit.
***
Hermawan pergi ke dapur mencari roti untuk sarapan, tapi tidak menemukanya, ia berencana untuk memasak nasi goreng, tapi tidak ada nasi di sana, akhirnya ia memutuskan memasak pai, ya hanya satu loyang pai dengan saus madu.
Laki-laki itu segera duduk dan memotong pai yang ia masak, laki-laki itu akan segera mamasukan potongan pertamanya ke dalam mulut hingga tinggal berapa inci lagi, tiba-tiba ia menghentikan gerakan garpu di tanganya ketika melihat sosok yang sangat tidak ingin ia lihat.
Dean berjalan pelan ke arah meja makan dengan lemas, mukanya terlihat pucat, ia mencobah tersenyum lembut pada laki-laki yang menatapnya sinis. Hermawan menyantap painya dengan lahap ia tidak peduli dengan gadis yang duduk di hadapanya.
Beberapa kali Dean menelan ludah melihat suaminya mengunya makanan yang terlihat sangat lezat. Hermawan menghabiskan painya dengan cepat, kemudian pergi meninggalkan Dean, ia kembali ke kamar untuk mengambil tas kerjanya. Dean segera berdiri mencari sesuatu siapa tahu Wawan menyisakan pai untuknya, tapi nihil semuanya kosong.
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Hermawan sambil menatap Dean dengan tatapan aneh, ia seperti pencuri mengeledah semua lemari di dapur.
“Tidak ada.” jawab Dean lemas, kemudian pergi melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya, bagaimana mungkin laki-laki itu tidak peka dengan kondisi Dean?
“Dasar aneh.” gumam laki-laki itu lalu pergi meninggalkan apartemen itu.
***
Dean menatap layar ponselnya, mengetik kemudian menghapusnya hampir satu jam ia melakukan kegiatan itu, ada perasaan ragu di sana.
“Apa ia akan mengabaikan sms ku lagi?” gumam gadis itu, “Tapikan aku istrinya, apa istri? bangun Dean, jangan bermimpi Wawan terpaksa menikahimu karena kamu menjebaknya, ia tidak akan pernah peduli padamu.” Dean meyakinkan dirinya, Dean berusaha memberi tahu Paman dan bibi, tapi ini terlalu dini, ini bahkan baru hari ketiga pernikahanya, ia segera mengurungkan niatnya.
***
Hermawan berjalan dengan santai menemui teman-temanya di kantin, ia mengangkat ponselnya yang bergetar “Sms lagi.” gumam Hermawan.
“Siapa?” tanya Beny yang datang tiba-tiba sambil merangkul bahu sahabatnya.
“Bukan siapa-siapa.” Hermawan tersenyum.
“Her, aku benar-benar pusing tadi malam istriku ngambek, ia tidak mau makan karena aku pulang telat.” gumam Beny bercerita.
“Terus apa yang kamu lakukan?” tanya Hermawan tampak tertarik dengan percakapan itu.
“Aku memasak untuknya karena ia tidak mau makan di luar, walau masakanku tidak seenak masakan kamu.” Beny tersenyum.
Hermawan ingat ia pernah masak untuk teman-temanya, saat mereka merayakan penghargaan yang Hermawan dapat, karena terpilih sebagai pegawai terbaik di kantornya tiga tahun silam.
Kali ini ponselnya Hermawan bergetar lebih lama, sebuah panggilan masuk dengan nomer tidak ia kenal.
“Kenapa tidak diangkat?” Rio menyenggol bahu Hermawan yang tampak binggung, nomer ini berbeda dari nomer yang kemari masuk di handphonya.
“Tidak penting.” jawab laki-laki itu enteng.
Ponsel itu tidak berhenti bergetar hingga membuaya kesal “Hallo!” teriak Hermawan dengan nada marah.
“Berengsek kau, apa yang kamu lakukan pada Dean?!” teriak suara laki-laki yang terdengar serak di seberang sana.
“Saya tidak melakukan apa-apa.” Hermawan terdengar enteng.
“Ya, kamu benar, kamu tidak melakukan apa-apa saat ia kesakitan menahan lapar, aku bahkan menyesal menikahkan kamu dengan Dean.” Suara di seberang sana terdengar kesal dan marah.
“Apa yang terja-.” panggilan di matikan.
Hermawan mengusap mukanya dengan kesal, ‘Apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita sialan itu? tapi untuk apa aku peduli, aku bahkan berharap wanita itu tidak pernah muncul dalam hidupku.’
***
“Bibi, aku tidak apa-apa.” bisik Dean dengan lemas, Anisa yang mengelus kepala Dean dengan sayang, “Bibi dan Paman keterlaluan, aku hanya lapar, tidak perlu membawaku ke rumah sakit seperti ini.” Dean terlihat kesal, ia benci suasana rumah sakit.
“Dean dengarkan Paman, apa kamu lupa dokter mengatakan Maag yang kamu derita sudah kronis, kamu tidak boleh telat makan.” Zulfar menjelaskan.
“Tadi dokter menjelaskan kemungkinan besar dari kemarin kamu tidak makan.” Anisa memandang gadis itu dengan tapan sayang. “Bibi akan memasakan makanan untukmu setiap hari, bibi tidak ingin kamu sakit lagi.” tambah Anisa.
Baru tiga hari menikah anak kesayanganya sudah sakit separa ini, Anisa berjanji tidak akan pernah mengabaikan Dean, sudah cukup dia akan menyiapkan makanan setiap hari untuk anak kesayanganya ini.
“Bibi, aku tidak apa-apa, aku hanya malas makan dari kemarin.” jawab Dean cepat, dirinya benci di perlakukan seperti anak kecil, keluarganya selalu berlebihan saat dirinya sakit.
“Malas makan atau berengsek itu tidak memberimu makan?” Zulfar mulai kesal, ia merasakan ada yang tidak beres dengan Dean, Zulfar sangat tahu anak sekaligus keponakanya ini memiliki nafsu makan yang cukup besar, Dean juga bukan tipe pemilih makanan.
Dean akan memakan apapun yang di masak Anisa tanpa protes sedikitpun, itu yang membuat Anisa bersedia repot-repot memasak langsung untuk Dean, karena saat melihat cara makan Dean yang sangat bersemangat membuat lelah yang Anisa rasakan waktu memasak sepadan.
“Paman,” rengek Dean, Zulfar segera merubah raut wajah kesalnya, ia tidak akan tahan jika melihat Dean merengek seperti anak kecil, itu akan membuat hatinya luluh, sudah lama Dean tidak melakukan hal itu sejak Edmom meninggal, biasanya Dean akan merengek seperti itu jika ia meminta sesuatu.
***
Hermawan kembali ke apartemenya, ia segera masuk kedalam semua tampak kosong, beberapa kali ia berteriak memanggil Dean tapi tidak ada jawaban. Untuk apa ia memanggil Dean bukankah seharusnya ia senang karena gadis itu pergi meninggalkan apartemenya. Tapi mengapa hatinya terasa resah?
Beberapa kali ia berjalan menuju kamar Dean, tapi niatnya ia urungkan karena Dean mengatakan ia tidak boleh memasuki kamarnya.
Sebuah pesan singkat masuk di ponsel miliknya dengan cepat ia membukanya.
From +62819*******
Maafkan aku, aku tidak bisa pulang malam ini,
Bibi memintaku menginap di rumahnya.
Dean.
Hermawan mengangguk jadi itu mengapa Dean tidak ada di sini. “Dasar tidak sopan pergi tampa pamit, apa ia tidak menganggap ku sebagai suaminya?” Hermawan bergumam, lalu kemudian membuka satu pesan yang tadi siang belum ia buka dari tadi pagi karena terlalu sibuk bekerja.
From +62819*******
Wawan,
Aku lapar bisahkah kamu datang.
Aku belum memakan apapun dari kemarin.
Dean.
“Apa ini lelucon? apa dia sebodoh itu tidak makan apapun dari kemarin?” Tiba-tiba Hermawan tersadar “Semua yang ada di kulkas adalah bahan mentah dan kemarian Dean bilang ia tidak bisa masak dan tadi pagi ia terlihat pucat.” dengan cepat ia memencet tombol call.
“Hallo.” jawab suara wanita di seberang sana.
“Kamu dimana sekarang?” Hermawan bertanya langsung pada intinya.
“Nona Dean jangan lupa jaga pola makanya ya.” suara laki-laki terdengar “Terimakasih dokter” terdengar suara wanita paru baya di sana.
“Aku di rumah bi- “
“Dean di rumah sakit,” Zulfar menarik ponsel Dean tanpa sempat ia menyelesaikan ucapanya.
“Paman kembalikan!“ Dean protes.
“Apa kamu puas membuat istrimu sakit, apa kamu berencana membunuhnya ha?!” Zulfar berteriak kesal.
“Paman hentikan, itu tidak sopan aku sendang berbicara dengan suamiku!” Zulfar dengan kesal mematikan ponsel Dean.
Hermawan terteguh mendengar percakapan di dari balik ponselnya.
“Apa Dean sedang sakit? Ya dia sakit karena aku tidak memberinya makan, dasar bodoh.” Hermawan tertawa garing, ia tidak menyangka wanita itu sangat bodoh, mengapa ia tidak memesan makanan di luar, apa ia tidak punya uang sedikitpun?
***
Hermawan malajukan mobilnya, entah dorongan apa yang membuatnya menujuh rumah sakit, sudah tiga rumah sakit terdekat ia datangi tapi tidak ada pasien yang bernama Dean D, ini adalah rumah sakit keempat tapi ini adalah rumah sakit terkemuka dan biasanya banyak kalangan orang kaya yang masuk ke kesini.
“Maaf suster apa ada pasien atas mana Dean D, berumur sembilan belas tahun.” Hermawan bertanya pada salah seorang resepsionis yang berdiri dengan senyum ramah.
“Sebentar pak saya cek dulu.” resepsionis itu mengetik sesuatu, lalu membaca tulisan pada layar komputer yang tersedia di meja itu.
”Maaf bapak siapanya nona Dean?” tanya sang resepsionis.
“Saya, saya suaminya.” resepsiosis itu menautkan alisnya bingung, tapi sesaat kemudian ia tersenyum.
“Oh maafkan saya, saya tidak tahu kalau nyonya Dean sudah menikah, beliau di ruang VVIV kamar nomer 901 di lantai sembilan, mari saya antar.”
Hermawan mengikuti langakah laki-laki yang berjalan sekitar dua langkah di depanya, ia masih binggung bagaimana bisa Dean masuk ke rumah sakit ini dan sepertinya resepsionis ini mengenal istrinya.
“Silakan pak.” resepsiaonis menunjukan sebuah pintu di sana, dengan ragu Hermawan membuka pintu itu, ia melihat dua orang paru baya sedang berbicara dengan Dean.
***