NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Ambang Batas Kesabaran.

***

Malam semakin larut, jam dinding di koridor lantai dua telah berdentang menunjukkan pukul sebelas malam. Sebagian besar lampu di lantai bawah sudah dipadamkan oleh para asisten rumah tangga yang telah kembali untuk beristirahat.

Hanya menyisakan lampu dinding temaram bernuansa kuning hangat yang menerangi koridor panjang di lantai dua.

Langkah kaki yang berat dan tegas terdengar menggema diatas lantai marmer. Galen baru saja menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja lantai bawah.

Pria tersebut melangkah menaiki anak tangga dengan lelah yang kentara diwajahnya. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, menampilkan siluet rahang dan lehernya yang kokoh.

Tujuan Galen hanya satu: masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuh, dan mengistirahatkan pikirannya yang tersita oleh urusan saham perusahaan sepanjang hari.

Namun, tepat saat langkah kakinya berhenti didepan pintu kamarnya sendiri, ketenangan yang ia cari seketika menguap.

Telinga Galen mendadak terasa panas. Melalui celah udara dan dinding yang saling bersebelahan, sebuah suara yang sangat ia benci masuk berhamburan kedalam indra pendengarannya.

Suara isakan tangis. Suara rengekan lirih yang terputus-putus, bising, dan seolah tidak ada habisnya.

Itu adalah suara Freya. Anak kecil yang menempati kamar tepat di sebelah kamarnya.

Rupanya, sejak makan siang tadi hingga larut malam seperti ini, air mata bocah itu belum juga mengering.

Isakan tertahannya yang dipenuhi kesedihan terdengar konstan, menyayat keheningan malam yang seharusnya sepi.

Galen mematung didepan pintu kamarnya sendiri. Setiap kali suara tangisan Freya terdengar, urat di pelipis Galen berdenyut semakin kencang.

Galen menggeram pelan. Sepasang tangannya yang berada disamping tubuh seketika mengepal kuat, menahan gejolak emosi yang sejak siang hari tadi di meja makan sudah ia bendung setengah mati.

"Sialan. Anak itu benar-benar menguji batas kesabaranku”. Umpat Galen berbisik, suaranya sarat akan kekesalan yang mendalam.

Amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun membuat Galen kehilangan akal sehatnya untuk bersikap tak acuh.

Tanpa pikir panjang lagi, ia membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar sendiri. Dengan langkahnya yang lebar dan penuh hentakan emosi, Galen melangkah mendekati pintu kamar milik Freya.

BRAK!

Galen membuka pintu kamar Freya dengan sekali hentakan kasar yang cukup keras, membuat daun pintu itu menghantam dinding dan menimbulkan suara dentuman yang mengejutkan di tengah keheningan malam.

Didalam kamar yang temaram, Freya yang sedang meringkuk di tengah ranjang king-size yang terlalu besar untuknya seketika tersentak hebat.

Tubuh mungilnya melonjak kaget. Isakan tangisnya langsung terhenti seketika karena keterkejutan yang luar biasa.

Galen melangkah masuk dengan aura dominan yang sangat mengintimidasi. Langkah kakinya mendekati sisi ranjang tempat Freya berada.

Begitu sampai di samping tempat tidur, Galen menghentikan langkahnya, berdiri tegak menjulang seperti raksasa yang siap memangsa, sembari bersedekap dada di depan bidang tubuhnya yang tegap.

Sepasang mata elangnya menatap lurus ke bawah, menembus kegelapan kamar untuk menghujam wajah polos Freya yang basah oleh air mata.

Ditatap dengan cara mengerikan seperti itu, Freya seketika membeku. Rasa takut yang amat sangat mendadak merayap di sekujur punggungnya.

Jemari mungilnya secara refleks mencengkeram boneka beruang kesayangannya dengan sangat erat, menggunakannya sebagai tameng kecil di depan dadanya.

Mulutnya terkunci rapat, tidak berani lagi mengeluarkan suara isakan sekecil apapun, meski nafasnya masih tersengal-sengal menahan sisa tangis.

Galen menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Seluruh kekesalan dan emosi yang ia tahan sejak siang tadi akhirnya tumpah malam ini di depan anak kecil tersebut.

"Kau tahu jam berapa sekarang, hah!?". Ucap Galen, suaranya terdengar sangat rendah—berat, namun penuh dengan penekanan yang menusuk dingin. "Ini sudah tengah malam, Anak Kecil. Dan suaramu yang berisik itu benar-benar mengganggu telingaku!".

Freya hanya diam, menatap pria dewasa di samping ranjangnya dengan mata bulatnya yang bengkak dan memerah.

"Aku sudah menahan diri sejak siang tadi di meja makan saat kau membuat kekacauan dengan air matamu yang tidak berguna itu!". Lanjut Galen, nada suaranya naik satu oktaf, memancarkan emosi yang meletup-letup.

"Dengar ya, rumah ini bukan tempat penampungan air mata. Jika kau pikir dengan menangis sepanjang malam seperti orang bodoh bisa membuat orang tuamu bangkit dari kubur, maka kau salah besar! Kau hanya membuat dirimu terlihat menyedihkan dan menyusahkan semua orang di rumah ini!".

Kata-kata kejam dan tajam yang meluncur bebas dari mulut Galen malam itu terasa seperti belati yang menyayat hati Freya yang sudah hancur.

Diperlakukan secara kasar di tengah kedukaan yang mendalam membuat rasa sedih di dalam diri Freya mendadak bercampur aduk dengan rasa lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada orang dewasa.

Rasa kesal. Rasa marah yang bergejolak di balik rasa takutnya terhadap laki-laki di hadapannya yang berhati batu ini.

Freya memeluk boneka beruangnya semakin erat, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam jiwa kecilnya.

Air mata baru kembali mengalir di pipinya, namun kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan karena rasa marah yang membakar di dalam dadanya.

Gadis kecil itu tidak terima mendiang orang tuanya disebut-sebut dengan cara sekejam itu.

Dengan tubuh yang masih gemetar hebat karena kombinasi rasa takut dan marah, Freya memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Galen yang menyeramkan.

"Jahat! Kakak jahat!". Balas Freya dengan suara yang serak dan bergetar, namun ada nada perlawanan yang jelas di dalamnya. "Kenapa kakak selalu memarahiku?! Aku menangis karena aku kangen Papa dan Mama! Aku tidak minta tinggal di rumah yang menyeramkan ini! Aku tidak minta menyusahkan, kakak!".

Galen sedikit terkejut mendengar balasan berani dari anak kecil di depannya. Alisnya menukik tajam, tidak menyangka bocah berumur sebelas tahun ini memiliki keberanian untuk menjawab bentakannya.

"Kalau begitu, pergi saja dari sini jika kau merasa rumah ini menyeramkan!". Gertak Galen dingin, memajukan sedikit tubuhnya untuk semakin mengintimidasi Freya. "Dan Kau pikir aku suka melihatmu ada di sini?! Tidak. Kehadiranmu di rumah ini hanya menjadi beban baru bagiku!".

"Aku juga tidak suka melihat muka kakak yang selalu merengut seperti monster!”. Teriak Freya, air matanya menetes semakin deras saat ia meluapkan emosinya yang meledak.

Rasa takutnya seolah terkikis oleh rasa benci yang teramat sangat pada sikap tidak berperasaan Galen.

“Kakak memang tampan tapi tidak punya hati! Papa bilang orang yang tidak punya hati itu jahat! Aku benci kakak! Keluar dari kamarku! Keluar!".

Freya mengangkat boneka beruangnya, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah dada bidang Galen sebagai bentuk protes dan pertahanannya yang terakhir.

Puk.

Boneka kain itu menghantam dada Galen sebelum akhirnya terjatuh tak berdaya di atas lantai marmer.

Galen terpaku di tempatnya berdiri. Suasana di dalam kamar berubah menjadi teramat mencekam setelah boneka beruang itu membentur dada bidangnya.

Keheningan yang tercipta terasa begitu pekat hingga suara helaan napas gusar dari pria dewasa itu terdengar seperti detak bom waktu yang siap meledak.

Galen menurunkan pandangannya lambat-lambat. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah boneka yang kini tergeletak tak berdaya di atas lantai dingin, tepat di dekat ujung kakinya.

Rahang tegas sang CEO muda mengeras sempurna. Urat-urat di sekitar pelipis dan lehernya menegang, menjadi sinyal nyata bahwa emosinya telah tersulut hingga ke titik tertinggi.

Dengan gerakan yang sangat pelan namun sarat akan intimidasi, Galen membungkuk. Jemari kokohnya mencengkeram telinga boneka tersebut, mengangkatnya dari lantai.

Setelah itu, ia kembali menegakkan tubuhnya, melayangkan tatapan yang teramat tajam dan menusuk lurus ke arah Freya.

Langkah kaki Galen kembali bergerak, maju satu tapak besar mendekati sisi ranjang tempat tidur. Aura dominannya yang pekat seolah mempersempit pasokan oksigen di dalam ruangan temaram itu.

Melihat pria menyeramkan itu melangkah maju dengan kilat amarah di matanya, insting pertahanan diri Freya bergejolak hebat.

Didorong oleh rasa kesal yang sudah membakar dadanya sejak siang hari, gadis kecil berusia sebelas tahun itu melakukan tindakan yang tak terduga.

Bukannya meringkuk mundur mencari perlindungan, Freya justru langsung berdiri tegak di atas kasur yang empuk.

Tindakan itu membuat posisinya kini berdiri lebih tinggi, sejajar untuk menatap langsung wajah tampan Galen yang sedingin es batu.

Dari atas ranjang, Freya membalas tatapan membunuh itu dengan sepasang mata bulatnya yang memancarkan kilat amarah yang berani.

"Harusnya kakak yang keluar dari kamar ini!". Teriak Freya dengan suara serak yang melengking tinggi, menunjuk wajah Galen dengan telunjuk mungilnya yang gemetar. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun akibat emosi yang meledak-ledak.

"Bukan cuma dari kamar ini, tapi harusnya kakak juga yang keluar dari rumah ini! Aku tidak pernah meminta berada di sini! Kakak yang selalu datang memarahiku, kakak yang menggangguku! Kakak jahat yang tidak punya hati!".

Mendengar rentetan kalimat berani yang keluar dari mulut seorang anak ingusan, langkah Galen terhenti. Alisnya menukik tajam, sangat tidak percaya bahwa ada seorang bocah yang berani mengusirnya di dalam rumah keluarganya sendiri.

"Kau mengusirku di rumahku sendiri, hah?". Ucap Galen, suaranya merendah, berubah menjadi bisikan bariton yang sangat berbahaya dan sarat akan ancaman mutlak.

“Kau lupa siapa yang menampung mu malam ini, Anak Kecil? Tanpa belas kasihan dari keluargaku, kau tidak lebih dari anak yatim piatu terlantar yang tidak punya tempat tinggal!".

Kata-kata kejam yang menghantam telinganya itu seketika memicu gelombang emosi baru dalam diri Freya.

Rasa marah, sedih atas kepergian orang tuanya, serta rasa terhina berbaur menjadi satu keos di dalam benak kecilnya.

Namun, tepat setelah kata-kata kejam itu selesai diucapkan Galen, kesadaran tentang seberapa berkuasa dan menakutkannya pria di depannya ini tiba-tiba kembali menyergap pikiran Freya.

Kilat amarah di matanya mendadak padam, digantikan oleh kepanikan dan rasa takut yang teramat sangat yang kembali datang menyerang hatinya.

Freya tersadar betapa kecil dan rapuhnya dirinya di hadapan raksasa berdarah dingin ini.

Ketakutan yang membuncah membuat Freya bertindak nekat dalam keputusasaannya.

Dengan gerakan kilat, ia merangsek maju di atas kasur, mengulurkan kedua tangannya dan langsung merebut paksa boneka beruang kesayangannya dari cengkeraman tangan Galen.

Setelah boneka itu kembali ke dalam dekapannya, detik berikutnya Freya langsung mengayunkan boneka tersebut dengan brutal, memukulkannya ke arah lengan, dada, dan bahu Galen berkali-kali tanpa ampun.

"Kakak jahat! jahat!! Freya benci kakak jahat!". Raung Freya sejadi-jadinya.

Tangisnya kembali pecah dengan histeris, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang memerah.

Ia memukul Galen dengan seluruh sisa tenaga kecil yang ia miliki, meluapkan seluruh rasa frustasi, ketidaksukaan, dan kebencian yang mendalam pada sikap tidak berperasaan sang pria dewasa.

"Kenapa kakak jahat pada Freya?! Freya cuma kangen Papa... Freya cuma kangen Mama... Kenapa kakak harus memarahi Freya?! Pergi! Pergi dari sini!".

Pukulan-pukulan menggunakan boneka kain yang empuk itu tentu sama sekali tidak memberikan rasa sakit fisik pada tubuh kekar Galen.

Namun, rontaan brutal, tangisan histeris, dan teriakan penuh kebencian dari anak kecil berbaju hitam itu entah mengapa memberikan efek yang aneh pada dadanya.

Ada rasa tidak nyaman yang mendadak merayap di sela-sela rasa jengkelnya.

Galen berdiri bergeming, membiarkan Freya melayangkan beberapa pukulan lagi dengan bonekanya hingga akhirnya gerakan anak perempuan itu mulai melambat dengan sendirinya.

Freya kelelahan. Tenaganya habis terkuras setelah seharian menghadapi tragedi terbesar dalam hidupnya.

Tubuh mungil Freya akhirnya merosot turun, jatuh terduduk di atas kasur dengan kedua lutut ditekuk memeluk dada.

Ia menyembunyikan wajahnya di balik boneka beruang yang sudah basah oleh air mata, menangis sesenggukan dengan bahu yang naik turun terguncang hebat.

Suara raungannya kini berubah menjadi rintihan pilu yang teramat sepi dan menyedihkan di tengah kegelapan malam.

Galen menatap lurus ke arah puncak kepala Freya yang menunduk. Amarah yang tadinya meluap-luap di dalam dadanya perlahan-lahan mulai mendingin, menyisakan ruang hampa yang kaku.

Pria tersebut membenarkan posisi kemejanya yang sedikit berantakan akibat amukan Freya tadi, lalu menghembuskan napas panjang dari hidungnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tanpa memberikan balasan kejam lainnya, Galen membalikkan tubuhnya dengan kaku.

Dengan langkah kaki yang kini lebih tenang namun tetap terasa berat, Galen melangkah pergi meninggalkan kamar Freya, lalu menutup pintu itu dengan rapat dan pelan, mengunci kembali keheningan di koridor lantai dua.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!