Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Pagar kayu itu terbuka lebar, seolah memang sudah menunggu kedatangan kami sejak tadi. Begitu melangkah masuk ke halaman, aroma khas langsung menyapa hidungku. Campuran wangi bunga melati yang tumbuh rimbun di sudut, wangi rempah yang samar, dan wangi dupa yang lembut, persis kayak apa yang sering Arjun ceritain.
Rumah ini nggak besar, bangunannya kuno tapi terawat banget, cat temboknya berwarna krem pudar yang bikin suasana terasa tenang dan damai.
Di teras depan yang lantainya dari kayu, ada seorang lelaki tua duduk bersandar di kursi goyang. Pakaiannya sederhana, kemeja putih lengan panjang yang sudah agak kusam, rambut dan jenggotnya putih bersih seputih kapas. Matanya agak menyipit karena usia, tapi tatapannya tajam, hangat, dan penuh kebijaksanaan.
Begitu melihat kami datang, dia langsung tersenyum lebar, kerutan di wajahnya makin terlihat tapi bikin beliau kelihatan ramah banget.
Arjun mempercepat langkahnya, lalu menundukkan badan sedikit pas sampai di depan lelaki tua itu. Dia memegang kedua tangan keriput kakeknya dengan penuh perhatian dan hormat.
"Kakek... ini dia Aira, teman yang sering aku ceritain itu," kata Arjun lembut, suaranya berubah jadi lebih pelan dan sopan banget.
Kakek itu mengangguk pelan, lalu menatapku dari ujung kaki sampai ke wajah, tatapannya bukan menilai, tapi tatapan yang tulus dan penuh rasa ingin kenal. Aku jadi malu sendiri, buru-buru aku maju selangkah, menundukkan badan sedikit sama kayak Arjun, meniru cara dia menghormati orang tua.
"Selamat malam, Kakek. Maaf ya kalau datang tiba-tiba, ganggu istirahat Kakek," ujarku sopan dan hati-hati, suaraku pelan karena sedikit gugup.
Kakek itu malah tertawa renyah, suaranya serak tapi hangat banget. Beliau mengulurkan tangan kanannya yang gemetar pelan, menyuruhku mendekat.
"Nak Aira... duduklah di sini, di sebelah Kakek. Nggak ganggu kok, Kakek malah udah nunggu-nunggu kedatanganmu sejak Arjun pulang tadi siang," katanya pelan tapi jelas banget kedengarannya.
Aku duduk di kursi kayu di sebelah kanan beliau, sedangkan Arjun duduk di lantai bersila di dekat kaki kakeknya, persis kayak anak kecil yang manut sama orang tuanya. Pemandangan itu bikin hatiku terasa hangat banget. Pantas aja Arjun sopan dan hormat banget, dari kecil dia memang dibiasakan bersikap begitu sama sosok ini.
"Arjun udah cerita banyak banget soal kamu lho, Nak," buka Kakek lagi, tangannya yang keriput itu memegang sebilah kipas dari anyaman bambu, mengibaskannya pelan ke arah kami.
"Katanya kamu anak yang baik, sopan, dan paling uniknya... kamu mau dengerin cerita-cerita kuno kami. Padahal banyak anak muda zaman sekarang yang udah nggak peduli lagi sama hal-hal begini."
Aku tersenyum malu, menunduk sebentar.
"Kakek bisa aja. Aku cuma penasaran aja sebenernya. Arjun selalu cerita hal-hal indah dan bijak, jadi aku pengen tau lebih banyak lagi. Lagian... semua yang diajarin Kakek emang bagus dan bener banget sih menurut aku."
Kakek tertawa lagi, kali ini lebih panjang. Beliau menoleh ke arah Arjun yang cuma senyum-senyum aja di bawah sana.
"Denger itu Jun? Dia yang bilang ajaran Kakek bagus, bukan kamu yang maksa dia buat percaya. Hahaha," canda Kakek, bikin Arjun cuma garuk kepala sambil ketawa kecil.
Lalu Kakek menatapku lagi, tatapannya jadi lebih serius tapi tetap lembut. Beliau menunjuk ke arah halaman rumah yang penuh tanaman bunga dan pohon-pohon kecil.
"Nak Aira... Kakek tau kamu mungkin bingung, atau heran kenapa kami orang India ini terlalu banyak arti buat segala hal. Warna aja ada artinya, bunga aja ada maknanya, makanan aja ada filosofinya. Kamu pernah mikir nggak kenapa gitu?"
Aku menggeleng jujur.
"Belum sih, Kakek. Aku cuma mikirnya... keren banget ya, segala hal jadi terasa berharga banget kalau dilihat dari sisi itu."
Kakek mengangguk puas.
"Alasannya sederhana aja kok. Kami diajarin buat nggak pernah nganggep remeh apa pun yang ada di dunia ini. Kami percaya, Tuhan nyiptain segala sesuatu nggak ada yang sia-sia. Semuanya ada gunanya, semuanya ada pesannya. Kalau kita bisa lihat maknanya, hidup kita bakal jadi lebih kaya, lebih indah, dan lebih bersyukur."
Beliau menunjuk ke arah sebatang pohon melati besar yang ada di dekat pagar, sama kayak yang pernah Arjun kasih ke aku dulu.
"Contohnya aja bunga melati itu. Kecil, putih, sederhana. Nggak mewah kayak bunga lain. Tapi kami angkat dia jadi simbol kebaikan. Kenapa? Karena kami pengen ingetin diri sendiri kalau mau jadi orang berharga, nggak harus besar, nggak harus kaya, nggak harus terkenal. Cukup sederhana, tulus, dan bawa manfaat sama kayak wangi melati itu. Dikit-dikit, tapi nyebar ke mana-mana dan bikin orang senang."
Aku diam mendengarkan, hati-hati menyimpan setiap kata yang keluar dari mulut tua itu. Rasanya tenang banget denger beliau ngomong, persis kayak rasanya ngobrol sama Arjun, tapi rasanya lebih dalem lagi, lebih meneduhkan hati.
"Arjun itu anak baik ya, Kakek," kataku tiba-tiba, terlanjur keluar dari hati.
"Sopan, jujur, sabar banget, dan pinter banget nyiptain hal biasa jadi hal yang indah. Aku sering banget kagum sama dia."
Kakek tersenyum bangga banget, matanya berbinar lihat cucunya yang masih duduk di lantai.
"Dia emang anak yang penurut, Nak. Semua yang Kakek ajarin dia simpan baik-baik di hati. Kakek selalu bilang sama dia,'Jun, budaya ini, ajaran ini, kebiasaan ini... itu semua warisan. Warisan itu nggak cuma buat disimpen, tapi harus dibagi. Kalau disimpen doang, lama-lama mati. Kalau dibagi, bakal tumbuh dan hidup terus'."
Beliau menatapku lekat-lekat lagi.
"Dan Kakek seneng banget tau dia nemu teman kayak kamu. Orang yang mau nerima cara pandang kami, orang yang mau ngerti asal-usul dia. Itu berarti banget buat kami, Nak. Di mata kami, orang yang menghargai budaya dan keluarga orang lain, berarti dia orang yang hatinya mulia juga."
Arjun dari tadi cuma diam mendengarkan, senyumnya nggak pernah hilang. Dia lalu berdiri pelan, mendekat ke kami berdua.
"Udah dulu ya ngomong seriusnya. Kakek pasti udah capek kan ngomong terus? Nanti Kakek sakit tenggorokannya," kata Arjun lembut, lalu menatapku.
"Aira, mau lihat-lihat isi rumah nggak? Di dalam ada banyak barang lama, ada lukisan, ada alat-alat ibadah, nanti Kakek ceritain lagi kalau kamu mau. Ini rumahnya penuh cerita lho, sama kayak Kakeknya."
Aku mengangguk antusias, lalu pamit sebentar sama Kakek buat jalan-jalan sebentar di dalam rumah itu. Pas aku berdiri, Kakek sempat memegang pergelangan tanganku pelan, tangannya yang keriput itu hangat banget.
"Nak Aira... terima kasih ya sudah mau datang, sudah mau dengerin Kakek. Kapan-kapan datang lagi ya, pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu," bisik beliau pelan.
Hati rasanya meleleh banget dapet sambutan sehangat itu. Aku mengangguk mantap.
"Siap, Kakek. Pasti aku datang lagi. Terima kasih banyak ya sudah diterima di sini."
Berjalan masuk ke dalam rumah berbarengan sama Arjun, mataku sibuk ngeliatin sekeliling. Dinding-dindingnya penuh lukisan indah bergambar dewa-dewi, pemandangan, dan tulisan-tulisan aksara India yang indah.
Di sudut ruangan ada lemari kayu tua berisi barang-barang perunggu, kain tenun, dan benda-benda peninggalan yang disimpan rapi.
"Gimana? Kakek aku kayak apa? Bener kan apa yang aku ceritain? Beliau emang orang paling hebat di dunia menurut aku," tanya Arjun antusias, matanya bersinar banget bangga.
"Keren banget, Jun. Bijak banget, ramah, dan ngomongnya bikin hati tenang. Pantas aja kamu jadi sebaik dan seindah pemikiranmu. Ternyata memang diajarin langsung sama guru terbaik ya," jawabku tulus banget.
Arjun tertawa senang. "Kan udah aku bilang. Dan tau nggak? Kakek aku jarang banget puji orang lain yang baru dia kenal. Tapi pas kamu pamit tadi, dia bisik ke aku: 'Jun, temanmu ini hatinya bersih banget. Jaga pertemanan kalian baik-baik ya'."
Wajahku rasanya agak panas denger itu, tapi rasanya senang banget. Senang karena diterima, senang karena dihargai, dan senang karena makin tau sisi lain dari Arjun dan keluarganya yang ternyata penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.
Malam itu aku pulang dengan hati yang penuh banget. Rumah tua itu bukan cuma bangunan kayu dan bata biasa, tapi tempat di mana nilai-nilai indah dijaga, diceritakan, dan diturunkan ke generasi berikutnya.
Dan lagi-lagi rasanya masih sama: nyaman, kagum, dan bersyukur. Nggak ada rasa lain, nggak ada rasa yang bikin bingung. Cuma rasa senang karena bisa jadi bagian kecil dari cerita panjang keluarga Arjun yang indah ini.