Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : BURONAN KADIPATEN
Malam turun menutup atap pendopo Kadipaten Ciaruteun. Angin dari arah gunung membawa bau tanah basah, bercampur asap obor yang menyala redup di sepanjang pagar kayu. Di dalam ruang sidang, udara terasa panas.
Adipati Rangga Sasmita duduk di kursi besar, wajahnya merah padam, jari-jemarinya mengetuk pelan lengan kursi. Suara ketukan itu terdengar seperti dentuman gendang yang menakutkan bagi siapa saja yang berdiri di hadapannya.
Tiga orang utusan berlutut di lantai. Pakaian mereka penuh debu, lutut gemetar menahan beban tubuh dan rasa takut. Ki Wira Kusuma berdiri tak jauh dari tiang tengah, tangannya mencengkeram gagang tombak, matanya menatap tajam ke arah utusan itu seolah ingin menelan mereka bulat-bulat.
“Ulangi sekali lagi,” suara Adipati Rangga Sasmita rendah namun berat, memantul di dinding kayu.
“Gudang pajak dirampok?”
Utusan paling tua menelan ludah. “Inggih, Kanjeng Adipati. Tengah malam tadi. Pintu besi jebol tanpa ada kerusakan. Peti beras, kain tenun, dan uang perak semuanya hilang.”
“Penjaga?”
“Pingsan semua, Kanjeng. Tak ada yang terluka. Tapi busur mereka patah di tengah, pedang bengkok seperti ditarik kekuatan tak kasat mata.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara angin yang mendesir lewat celah jendela. Ki Wira maju selangkah, bayangannya memanjang di lantai.
“Omong kosong,” desisnya.
“Tak mungkin ada orang melumpuhkan belasan prajurit tanpa menyentuh. Mereka pasti lengah, tidur, lalu membuat alasan agar tidak dihukum.”
“Bukan begitu, Kanjeng,” utusan itu mengangkat tangan gemetar.
“Ada ini yang tertinggal di atas peti kosong.”
Dia mengulurkan selembar kain lusuh. Adipati Rangga Sasmita merebutnya cepat. Cahaya obor menyinari tulisan arang yang terlihat jelas di tengah kain: Dari Pamanah Rasa untuk rakyat. Mengambil kembali apa yang dirampas.
Adipati meremas kain sampai kusut.
“Pamanah Rasa!” raungnya.
“Nama itu lagi! Bulan ini sudah tiga kali terdengar! Di desa Cikabuyutan, di pasar Cibeureum, sekarang di sini!”
“Rakyat mulai berani bicara soal dia,” kata Ki Wira pelan.
“Katanya dia pemuda misterius yang sering menolong warga saat upeti dinaikkan berlipat ganda. Menyelinap di kegelapan, mengambil dari yang berlebih, membagi ke yang tak punya.”
“Maka tangkap dia!” bentak Adipati Rangga Sasmita, berdiri tegak.
“Hidup atau mati, aku tak peduli! Tapi lebih baik hidup. Arak di alun-alun, biar semua orang tahu: melawan Kadipaten berarti melawan takdir mereka.”
“Siap, Kanjeng,” Ki Wira menunduk dalam.
“Berapa pasukan yang dikerahkan?”
“Lima puluh orang. Bagi lima kelompok. Sisir hutan Wana Kelor, desa-desa pinggir hutan, jalur perdagangan. Siapa saja yang melihat pemuda membawa busur, langsung tangkap. Tak perlu bertanya.”
“Dan Wira...”
“Hamba mendengarkan, Kanjeng.”
“Kau pimpin langsung. Aku mau dia di hadapanku dalam tiga hari. Jangan sampai kabur ke arah Galuh.”
“Hamba laksanakan.”
----
Tiga jam kemudian, di balik rimbunnya pohon beringin di pinggir hutan Wana Kelor, api unggun kecil menyala. Bayu duduk bersandar pada akar besar, busur Sanghyang Rasa diletakkan di sampingnya. Matanya menatap lidah api yang menjilat pelan, alisnya sedikit berkerut seolah memikirkan sesuatu.
Karta sibuk membagi beras ke dalam karung kecil. Tangannya bergerak cekatan, kadang menepuk-nepuk karung agar isinya rata. Di sebelahnya tergeletak gulungan kain dan bungkusan uang perak.
“Kang,” panggilnya pelan tanpa menoleh. “Ini cukup buat tiga desa. Cikaduwet, Cibeureum, sama Cijulang. Mbah Suryanata bilang di sana banyak warga yang belum makan nasi seminggu ini.”
Bayu mengangguk pelan. “Bagikan malam ini juga. Jangan tunggu pagi. Begitu fajar menyingsing, Ki Wira pasti sudah mengerahkan pasukan ke sana atas perintah Adipati Rangga Sasmita.”
“Siap.” Karta berhenti sejenak, menatap selembar kain serupa yang masih tergeletak di rumput. “Tapi Kang... tulisan nama itu. Sengaja ya ditulis jelas?”
“Iya.”
“Biasanya kau sembunyikan nama, tak mau diketahui. Kenapa sekarang ditunjukkan?”
Bayu menarik napas panjang, menatap ke arah cahaya pendopo Kadipaten yang tampak samar di kejauhan.
“Selama ini aku bergerak diam-diam,” jawabnya pelan.
“Hasilnya? Pajak makin tinggi, rakyat makin takut, mereka mengira ini cuma kebetulan atau keajaiban. Tak ada yang berani menuntut haknya sendiri.”
Dia menoleh ke Karta.
“Kalau tak ada nama, tak ada wajah. Kalau tak ada wajah, harapan hanya sebatas bisikan yang hilang ditiup angin. Sekarang mereka tahu: ada orang yang berdiri di pihak mereka. Bukan cuma mengharap bantuan tak terlihat.”
Karta manggut-manggut, lalu senyum lebar.
“Berarti sekarang kau bukan cuma orang asing lagi. Kau jadi Pamanah Rasa sungguhan.”
“Tapi bahayanya makin besar,” sahut Bayu cepat.
“Adipati Rangga Sasmita tak akan diam. Dia akan memburu mati-matian. Siapa saja yang menolongku, bisa ikut terseret.”
Karta tertawa kecil, lalu menepuk gagang pisau di pinggangnya.
“Pisau Sanghyang Waja tak akan diam. Lagipula aku tak takut. Ke mana pun kau pergi, aku ikut.”
Mbah Suryanata yang dari tadi diam di sudut bayangan akhirnya melangkah mendekat. Wajahnya tenang, matanya menatap Bayu dengan pandangan penuh pengertian.
“Keputusan tepat, Nak,” katanya lembut. “Rasa takut paling besar itu datang saat orang tak tahu siapa yang membela mereka. Sekarang nama itu sudah ada, tak bisa dihapus lagi.”
“Terus langkah selanjutnya bagaimana, Mbah?” tanya Karta.
“Pindah tempat sebelum fajar,” jawab lelaki tua itu. “Jangan di sini lagi. Ki Wira kenal setiap jalur masuk hutan atas arahan Adipati. Kita menyeberang sungai, cari gua kecil di lereng bukit. Lebih sulit dijangkau.”
Bayu berdiri, menendang tanah menutup api unggun sampai padam total. Asap tipis naik sebentar lalu hilang tertelan gelap.
“Mari,” katanya singkat. “Sebelum burung hantu berhenti bernyanyi.”
------
Pagi menyingsing, kabar menyebar lebih cepat dari embun yang menguap kena panas matahari. Di pasar Ciaruteun, orang-orang berkerumun di sudut jalan, berbisik pelan namun matanya berbinar terang.
“Dengar belum? Gudang pajak dirampok tadi malam!”
“Serius? Siapa yang berani?”
“Si Pamanah Rasa! Katanya beras sudah dibagikan ke desa-desa sebelah. Tadi pagi tetanggaku dapat satu karung penuh.”
“Alhamdulillah... anakku sudah tiga hari cuma makan singkong rebus. Adipati Rangga Sasmita memang tak pernah peduli nasib kami.”
Dua prajurit Kadipaten berdiri tak jauh dari kerumunan. Mereka mendengar setiap kata, wajahnya kaku, tak berani menyela. Rakyat di sekitar terlalu banyak, tatapan mereka tak lagi penuh takut seperti biasanya.
Salah satu prajurit berbisik ke temannya. “Cepat lapor Ki Wira. Kabar ini menyebar terlalu cepat, Adipati pasti marah besar.”
Di pendopo Kadipaten, Ki Wira menerima laporan itu dengan wajah dingin. Dia segera memanggil kepala desa dari wilayah selatan. Lima orang tua itu berdiri gemetar di hadapannya.
“Siapa yang menerima barang curian?” tanyanya datar.
Tak ada yang menjawab. Mereka saling pandang, menunduk.
“Jawab!” bentaknya, suara memecah keheningan.
“Atau kau mau aku serahkan langsung ke Adipati Rangga Sasmita?”
Kepala desa Cibeureum maju selangkah, tangannya bergetar menahan ketakutan.
“Hamba... hamba menerima sedikit beras, Kanjeng. Warga sudah tak punya apa-apa.”
“Kembalikan semua,” kata Ki Wira tajam.
“Sekarang juga. Kalau besok pagi belum ada di gudang, Adipati akan menaikkan pajak desa kalian dua kali lipat bulan depan.”
“Tapi Kanjeng, sebagian sudah dimakan anak-anak...”
“Diam!” Ki Wira menatap tajam. “Pilih: kembalikan, atau tanggung akibatnya atas nama Kadipaten.”
Tak ada lagi suara bantahan. Kepala desa itu menunduk dalam, berbalik perlahan dengan langkah berat. Setelah mereka pergi, Ki Wira tersenyum tipis.
“Begitulah caranya,” gumamnya sendiri.
“Buat rasa takut lebih besar daripada rasa syukur. Lama-lama rakyat sendiri yang akan mengusir dia, sebelum Adipati harus turun tangan langsung.”
-------
Malam kedua, Bayu dan Karta menyusup ke desa Cijulang. Jalanan sepi, tak ada obor menyala. Pintu rumah tertutup rapat seolah tak ada orang yang tinggal di sana.
Karta mengetuk pelan pintu balai desa. “Pak Lurah? Ini saya, Karta.”
Pintu terbuka sedikit. Wajah tua Pak Lurah muncul, matanya menyipit waspada. Begitu melihat karung di pundak Karta dan sosok Bayu di belakangnya, pintu terbuka lebar.
“Masuk, cepat,” bisiknya. “Jangan sampai ada yang melihat, utusan Adipati sering lewat.”
Di dalam sudah berkumpul tujuh orang warga. Mereka duduk melingkar di lantai tanah. Begitu karung diletakkan, beberapa tangan gemetar menyentuh kain kasar itu.
“Ini... ini dari...” Pak Lurah tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Dari Pamanah Rasa,” jawab Bayu singkat. Dia berdiri di dekat pintu, tak masuk lebih jauh. “Bagikan rata. Jangan ada yang lebih atau kurang. Adipati Rangga Sasmita mungkin sudah mengawasi desa ini.”
“Kenapa kalian tidak masuk?” tanya seorang ibu tua.
“Di luar dingin.”
“Lebih aman di sini,” jawab Bayu senyum tipis. “Kalau aku masuk, nanti rumah ini yang dicari prajurit. Biarkan aku tetap di jalan.”
Dia melirik ke arah jalan setapak. Sunyi, tapi firasatnya tak tenang.
“Kita pergi sekarang,” katanya ke Karta.
“Tunggu sebentar Kang, saya pamit dulu—”
“Tak ada waktu.”
Baru saja melangkah keluar batas desa, obor menyala dari balik pepohonan. Sepuluh pasukan berbaris di jalan. Ki Wira Kusuma berdiri di tengah, menunggang kuda hitam, tombak di tangannya mengarah lurus ke depan.
“BERHENTI!” teriaknya keras.
“Atas nama Adipati Rangga Sasmita dan Kadipaten Ciaruteun, kalian ditangkap!”
Bayu tak lari. Dia maju selangkah, menempatkan diri di depan Karta.
“Serahkan barang itu,” kata Ki Wira dingin.
“Ikut aku dengan tenang, mungkin Adipati akan meringankan hukumanmu.”
“Barang ini milik rakyat,” jawab Bayu tenang.
“Bukan milik Kadipaten, bukan milik Adipati.”
Ki Wira tertawa pendek.
“Rakyat adalah milik Kadipaten. Dan kau hanyalah pencuri yang berlagak pahlawan.”
Dia memberi isyarat. Empat prajurit maju cepat. Bayu mengangkat busur dengan tenang. Tali ditarik, tiga panah melesat bersamaan. Terdengar bunyi pelan saat panah menancap di paha dan lutut mereka. Prajurit itu jatuh mengerang dan tak bisa bergerak.
Yang lain tertegun ragu.
“Maju!” bentak Ki Wira.
“Dia cuma satu orang! Adipati menjanjikan hadiah besar bagi yang bisa menangkapnya!”
Tapi tiba-tiba dari arah belakang desa terdengar suara kentongan dipukul beruntun. Bunyinya keras, memecah malam.
“PRAJURIT DATANG LAGI! DARI ARAH SUNGAI!” teriak suara dari kejauhan.
Ki Wira menoleh cepat, wajahnya bingung. Dia tak memerintahkan pasukan lain.
“Ini kesempatan,” bisik Karta.
“Lari!” seru Bayu.
Mereka berdua menyelinap ke semak-semak. Panah dari prajurit mengejar, tapi meleset jauh. Gelap dan rimbunnya Wana Kelor melindungi mereka seperti ribuan tembok tak terlihat.
“KEJAR!” teriak Ki Wira marah sampai suaranya parau.
“JANGAN SAMPAI LEPAS! ADIPATI RANGGA SASMITA TIDAK AKAN MEMAAFKAN KITA!”
Tapi jejak di tanah sudah terhapus langkah kaki yang berlari. Hutan terlalu luas, dan Bayu hafal setiap jalan tersembunyi di dalamnya.
Dua jam kemudian, mereka berhenti di tepi sungai yang mengalir deras. Karta duduk terkulai, napasnya tersengal-sengal. Bayu duduk di sebelahnya, membasuh wajah dengan air dingin.
“Kita... berhasil?” tanya Karta pelan.
“Belum,” jawab Bayu tenang.
“Ini baru permulaan. Besok pengumuman buronan atas perintah Adipati Rangga Sasmita pasti sudah tertempel di setiap pohon beringin.”
Dia menatap ke arah cahaya pendopo Kadipaten yang masih menyala di kejauhan.
“Ki Wira tak akan berhenti. Dia akan gunakan segala cara demi memuaskan Adipati.”
“Terus kita gimana?”
Bayu tersenyum tipis. “Kita lanjut. Kalau mereka main kotor, kita tetap jalan lurus. Ambil kembali hak rakyat, bagi rata, sampai mereka sadar ketidakadilan tak bisa dipertahankan selamanya, sekalipun oleh Adipati.”
“Jadi kita benar-benar jadi perampok sekarang?” tanya Karta setengah bercanda.
“Perampok yang mengembalikan apa yang mereka rampas” jawab Bayu.
Karta tertawa kecil. “Keren. Nanti aku cari nama yang lebih bagus.”
Senyum itu perlahan hilang dari wajah Bayu. Dia teringat tatapan tajam Ki Wira, ancaman Adipati Rangga Sasmita, dan beban nama yang kini melekat di pundaknya. Tak ada jalan kembali. Dia sudah memilih jalan ini, dan harus melangkah sampai ujung.
Angin malam membawa suara bisikan dari desa. Nama Pamanah Rasa kini bukan lagi rahasia. Ia harapan bagi orang kecil, ancaman bagi sebagian penguasa. Bayu harus berdiri teguh menghadapi kemarahan penguasa Kadipaten.