Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Dimulai
"Kamu boleh mengambil peran-peran kecil atau pendukung di bawah agensi bayangan milik Alexander Media. Wajahmu tidak boleh muncul di proyek utama yang melibatkan diriku, dan kamu harus menggunakan apa pun yang tidak berhubungan dengan identitas Alexander. Jika ada satu saja wartawan yang mencium keberadaanmu, aku sendiri yang akan membatalkan izin ini." seru Leon.
Mendengar jawaban itu, mata Alina seketika berbinar cerah. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya, mengalahkan rasa takutnya berada di satu ranjang dengan pria itu.
"Terima kasih, Leon. Terima kasih banyak." ucap Alina dengan ketulusan yang murni dari lubuk hatinya.
"Tidurlah. Besok kita harus menghadapi singa tua di bawah sebelum jam tujuh pagi," pungkas Leon pendek.
Dia membalikkan tubuhnya memunggungi Alina, menutup matanya untuk menyudahi percakapan malam itu.
Alina tersenyum tipis, ikut membalikkan tubuhnya memunggungi Leon. Di atas ranjang mewah yang asing ini, di antara dua kutub dunia yang berbeda, sekat tak kasat mata di antara mereka perlahan-lahan mulai sedikit terkikis oleh sebuah pengertian kecil yang lahir di tengah malam yang sunyi.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden beludru tebal di kamar lama Leon, memantulkan berkas cahaya keemasan di atas lantai marmer yang berkilau.
Alina terbangun lebih awal. Dia menatap langit-langit kamar yang asing selama beberapa detik sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya. Dia menoleh ke samping kanan. Sisi kasur tempat Leon berbaring semalam sudah kosong, hanya menyisakan kerutan samar pada sprei abu-abu tersebut.
Alina mendudukkan dirinya, mengembuskan napas panjang sembari memijat pelipisnya. Ucapan Leon semalam tentang izin bekerja di dunia seni peran kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Leon menyarankannya menggunakan nama panggung atau nama samaran di bawah agensi bayangan, namun setelah merenungkannya sepanjang sisa malam, Alina memantapkan hatinya.
Dia akan tetap menggunakan nama aslinya, Alina Savina. Seperti sebelum-sebelumnya.
Alina sadar diri. Pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis berdurasi satu tahun yang dibatasi oleh dinding-dinding kerahasiaan yang tebal.
Di luar rumah ini, dia bukanlah Nyonya Alexander. Dia tetaplah Alina Savina, seorang gadis sebatang kara yang sedang merangkak dari bawah demi sebuah impian.
Jika dia menggunakan nama samaran atau fasilitas agensi rahasia milik Leon, itu hanya akan membuatnya makin bergantung pada pria itu. Dia tidak ingin kehilangan jati dirinya saat kontrak dua belas bulan ini berakhir.
Dia harus memastikan bahwa ketika dia melangkah keluar dari lingkaran kehidupan Leon kelak, nama Alina Savina tetap tegak berdiri sebagai seorang aktris yang berjuang dengan peluhnya sendiri.
Klek.
Pintu kamar mandi terbuka. Leon keluar dengan pakaian yang sudah rapi yaitu kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku dan celana kain hitam formal. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang.
"Kamu sudah bangun? Segera bersiap. Sepuluh menit lagi kita harus turun ke meja sarapan," kata Leon tanpa menoleh, sembari mengancingkan jam tangan Rolex-nya.
"Baik, Leon. Saya akan bersiap sekarang," jawab Alina cekatan.
Tepat pukul tujuh pagi, Leon dan Alina keluar dari kamar sayap timur. Begitu melangkah melewati ambang pintu dan menapakkan kaki di koridor lantai dua yang bisa terlihat langsung dari lobi bawah, Leon mendadak memperlambat langkahnya. Dia menoleh ke arah Alina, matanya memberi isyarat tajam.
"Sandiwara dimulai." bisik Leon sangat rendah.
Sebelum Alina sempat merespons, Leon sudah meraih tangan kanan Alina. Jemari pria itu yang panjang dan kokoh menyelinap di antara jemari Alina, mengunci genggaman mereka dengan sangat erat.
Bukan sekadar bergandengan tangan formal, melainkan sebuah genggaman posesif yang penuh kehangatan tiruan. Leon menarik tubuh Alina sedikit mendekat hingga bahu mereka bersentuhan.
Alina sempat tersentak, jantungnya berdesir hebat menghadapi kedekatan yang mendadak ini. Namun, sebagai seorang figuran yang terbiasa merespons aba-aba sutradara, dia langsung menyesuaikan ekspresi wajahnya.
Dia mendongak, menatap Leon dengan seulas senyum manis nan lembut, sementara Leon membalas tatapan itu dengan binar mata yang seolah memancarkan rasa cinta dan kasih sayang yang teramat dalam.
Mereka turun meniti tangga marmer bersama-sama, melangkah serasi layaknya sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.
Di ujung meja makan ruang sarapan, Kakek Bramantyo dan Nenek Kartika sudah duduk menunggu.
Kakek Bramantyo yang sedang membaca tablet bisnisnya sempat mendongak, matanya menelisik tajam ke arah tangan mereka yang saling bertautan erat. Sementara itu, wajah Nenek Kartika langsung berbinar cerah demi melihat kemesraan sang cucu tunggal.
"Selamat pagi, Kakek, Nenek." sapa Leon dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, menggeser kursi untuk Alina dengan sangat jantan sebelum dia sendiri duduk di sampingnya.
Tangan kirinya tidak langsung lepas, melainkan tetap mengusap punggung tangan Alina di atas meja selama beberapa saat sebelum pelayan menyajikan teh hangat.
"Selamat pagi, Leon, Alina. Tidur kalian nyenyak, kan?" tanya Nenek Kartika penuh arti, senyumnya menggoda dan penuh rasa penasaran di dalam nya.
"Sangat nyenyak, Nek. Rumah Utama selalu menenangkan," jawab Leon berbohong tanpa kedipan mata, dia harus menenangkan sang nenek.
Alina hanya tersenyum simpul, mengangguk sopan demi mendukung ucapan suaminya.
Suasana sarapan pagi itu berlangsung sedikit lebih santai dibandingkan makan malam berdarah kemarin, hingga akhirnya Nenek Kartika meletakkan cangkir tehnya dan menatap mereka berdua dengan raut wajah yang mendadak serius namun antusias.
"Leon, Alina... sekarang setelah kalian resmi terdaftar di Catatan Sipil, Nenek mau tanya soal pesta pernikahan kalian. Keluarga Alexander tidak bisa diam-diam saja seperti ini. Kita harus mengadakan resepsi yang megah di hotel bintang lima. Nenek mau mengundang seluruh kolega, keluarga besar, dan mengenalkan Alina secara resmi sebagai Nyonya Besar Alexander yang baru," ujar Nenek Kartika dengan mata berbinar-binar.
Mendengar kata pesta dan resepsi megah, jantung Alina serasa berhenti berdetak. Dia melirik Leon dengan cemas. Jika pesta itu benar-benar terjadi, rahasia kontrak mereka terancam runtuh, dan media akan langsung menguliti seluruh latar belakang kehidupannya.
Leon tetap tenang. Dia meletakkan pisau rotinya perlahan, lalu menatap sang nenek dengan pandangan yang penuh pengertian namun tegas.
"Nek, maaf... tapi untuk saat ini, aku dan Alina sudah sepakat untuk tidak mengadakan pesta pernikahan atau resepsi apa pun." jawab Leon dengan nada suara yang mantap.
Wajah Nenek Kartika seketika berubah kecewa, gurat kesedihan tampak di matanya.
"Kenapa, Leon? Pernikahan itu sekali seumur hidup. Apa kamu malu karena latar belakang Alina? Atau karena kamu takut mengganggu karier aktormu di industri hiburan?" tanya Nenek Kartika sedikit tidak suka dengan penolakan sang cucu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣