Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 16
Malam yang dinanti pun tiba. Aldri dan Antika bersiap-siap untuk pergi kencan pertama. Aldri yang telah siap menunggu Antika di bawah.
Edan! Kenapa aku segugup ini? Jadi begini rasanya jatuh cinta lagi. Sungguh jauh berbeda dengan yang dulu.
Suara langkah kaki membuat Aldri menoleh ke arah itu. Matanya Mamaku sosok yang kini tengah menuruni anak tangga satu persatu. Aldri bergeming, pandangannya fokus tertuju pada gadis yang hampir setiap hari mengisi mimpi-mimpinya.
Antika menggunakan make up natural. Gadis itu mengenakan dress berwarna pink lembut. Lengan dan kakinya tampak putih mulus. Rambutnya hitam tergerai. Ia hanya mengenakan jepit rambut berwarna pink yang senada dengan bajunya.
Dengan langkah anggun Antika mendekati suaminya. Antika tersenyum malu mendapatkan tatapan sang suami.
"Cantik."
"Hah?"
" Kamu sangat cantik Tika,."
Antika menunduk dan tersenyum malu mendengar pujian suaminya. Tidak sia-sia usahanya mempersiapkan diri sejak siang tadi. Sesuai harapannya, melihat suaminya yang terus menatapnya tanpa berkedip mene riakkan kepuasan dalam diri Antika.
"Aldri mengulurkan tangan menyambut sang tuan Putri untuk dibawanya kencan malam ini. Keduanya bak sepasang pangeran dan putri yang akan menghadiri pesta dansa.
Antika pun menyambut tangan sang pangeran dengan senang hati. Senyum sumringah menghiasi wajah cantiknya.
"Ibu, kami berangkat. Assalamualaikum." Aldri dan Antika bersama-sama berpamitan kepada Indira. Wanita 64 tahun itu sangat bahagia. Tampak senyuman yang memancarkan aura tersebut.
"Waalaikumsalam, Nak. Hati - hati di jalan. Semoga kalian selalu bahagia." Indira memeluk keduanya secara bersamaan.
"Kita mau ke mana?"
"Ke suatu tempat yang indah. Aku ingin menunjukkan tempat itu padamu sebelum kita pergi menonton. Atau kamu mau sebaliknya?"
Antika tertawa kecil. "Terserah Darling aja. Mau dibawa ke ujung dunia juga aku mau."
Aldri yang mendengar jawaban itu merasa gemas. Tangannya spontan mencubit hidung mancung Antika. Keduanya tertawa riang.
Antika menikmati pemandangan dari balik jendela mobil. Malam ini sangat indah. Langit dipenuhi gemerlap bintang yang menemani hadirnya sang rembulan.
"Darling belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana, Tika?"
"Gimana kita bisa nikah? Dan gimana perasaanmu yang sebenarnya padaku?"
Aldri menatap kedua mata indah istrinya. Tangannya membelai lembut pipi gadis itu. Bibirnya menyungkinkan seulas senyum. Tangannya kini beralih menggenggam jemari Antika.
"Sayang, jujur aku tidak tahu sejak kapan ada rasa lain dalam hatiku. Sejak kecil aku selalu menganggapmu sebagai putriku. Kasih sayang ku padamu tulus murni sebagai seorang ayah. Tapi sejak kamu tumbuh menjadi gadis cantik, kamu mengingatkanku pada Tiara."
"Oh! Bukan maksudku begitu. Aku...." Aldri menyadari ucapannya yang salah. Ia tidak ingin Antika merasa menjadi pengganti ibunya.
Antika menggeleng. "Aku tau. Jadi sejak itu kamu mulai suka sama aku, Darling?"
"Begitulah. Bisa dikatakan seperti itu. Sejak saat itu aku merasa ada yang berbeda dalam hatiku. Aku merasa marah ketika ada pemuda yang menggodamu. Mungkin..... itu karena aku cemburu."
Aldri sama sekali tidak berbohong dengan semuanya. Perasaan itulah yang ia rasakan hingga membuatnya kalap dan marah besar malam itu. Semua karena kebodohannya yang membuat masa depan gadis itu hancur. Yah, semua karena dia penyebabnya.
"Darling." Suara Antika membuyarkan lamunan Aldri.
"Maafkan aku."
"Kenapa minta maaf? Nggak ada yang salah kok. Buktinya aku juga merasakan hal yang sama kan?"
Aldri mengatakan semuanya dengan jujur, kecuali tentang pemuda brengsek yang tengah menghancurkan kehidupan Antika. Dia bagian masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam.
"Ya kamu benar, Tika. Tapi, saat itu aku pun belum tahu tentang perasaanmu padaku. Aku 33 mengatakan hal konyol ingin menikahimu tepat setelah pengumuman kelulusanmu. Saat itu aku hanya bermaksud bercanda. Tapi kamu menjawabnya dengan serius."
Sisa cerita selanjutnya memang hanya kebohongan. Akan tetapi seandainya waktu bisa diputar kembali hal itulah yang ingin Aldri lakukan.
"Kamu mengatakan sejak dulu ingin menikah denganku. Lalu mengajakku mewujudkannya. Waktu itu..... usai akad nikah terjadilah kecelakaan itu. Maafkan aku yang tidak becus menjagamu, Tika."
Raut kesedihan menyelimuti perasaan Aldri. Sejak petaka malam itu terjadi, Aldri selalu menyalahkan dirinya. Bahkan tidak akan cukup baginya untuk menebus kesalahannya itu hanya dengan menikahi Antika.
"Nggak, Darling. Jangan terus nyalahin diri sendiri. Aku nggak apa-apa kan? Nggak ada manusia yang bisa melawan takdir Tuhan. Jadi berhenti meminta maaf terus." Antika meyakinkan suaminya dengan menggenggam erat kedua tangan pria itu.
"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah memaafkanku."
Antika segera memeluk suaminya. Gadis itu ingin menyampaikan bahwa dirinya yang justru berterima kasih karena sudah bersedia menyambut rasa dalam hatinya.
"Aku yang harus berterima kasih." Antika memperdalam pelukannya. Aldri menyambutnya dengan kelegaan yang nyata.
" Mari kita mulai semua dari awal. Kita coba dari menjadi sepasang kekasih. Kamu mau kan?" Antika mengangguk dengan mantap.
Gadis itu tersenyum mengingat semua itu. Itulah alasan mengapa mereka berkencan hari ini. Mereka akan memulai dari awal sebagai pasangan kekasih.
"Tika. Tika."
"Hah. Apa?"
"Kamu melamunkan apa? Sampai tidak dengar panggilanku."
"Oh, itu. Nggak. Nggak melamun akan apa-apa kok, Darling. Aku hanya terpesona dengan pemandangan malam di kota."
"Kamu menikmati malam ini?"
"Iya." Antika tersenyum.
"Kalau begitu, aku akan mengajakmu keluar setiap akhir pekan."
"Sungguh?"
"Sungguh."
"Janji beneran ya, Darling?"
"Iya."
"Yey. Aku seneng banget. Makasih Darling." Antika mencium pipi suaminya. Keduanya terkejut dan mendadak salah tingkah.
"Ehem. Ki - kita sudah sampai. Ayo turun."
"Oh, i - iya."
Sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan. Sesekali keduanya saling lirik dan tersenyum.
"Waahhh.... indah sekali."
Antika mengagumi pemandangan di depan nya. Rasa takjub membuatnya tak mampu berkata-kata. Kedua makanya mama Tri kenangan malam ini dalam memori di sudut hatinya.
" Kamu suka?"
" Banget."
Mereka menikmati pemandangan kota Jakarta di malam hari. Sembari menikmati makan malam di restoran bintang 5 tepat di lantai atas gedung. Aldri sengaja memesan tempat tersebut tadi pagi.
"Bagaimana makanannya kamu suka?"
"Ehem enak banget. Apalagi ditemani kekasih." goda Antika.
Aldri tersedak sampai terbatuk. "Tika, kamu ini." Antika malah tertawa.
Aldri perlahan-lahan merasakan kehadiran Antika yang dulu. Gadis itu suka sekali menggodanya baik dengan ejekan maupun pujian. Setidaknya perasaan Aldri lebih tenang.
"Darling, kamu ini seperti anak kecil saja. Coba sini aku bersihkan. Ada sesuatu di pipimu."
"Salah siapa juga aku begini?" Aldri memajukan tubuhnya.
Antika terkekeh m "Maaf!"
Tangan Atika membersihkan sesuatu yang menempel di pipi Aldri karena tersedak.
Pandangan keduanya bertemu. Mereka saling tatap tanpa berkedip. Aldri mengambil tangan Antika yang berada di pipinya. Ia mengarahkan tangan itu ke mulutnya lalu mencium lembut punggung tangan Antika.
Jantung duo bucin itu saat ini sedang menabuh gong cinta dengan keras. Dentuman nya melebihi batas normal. Cinta memang membuat manusia lupa akan segalanya.
Keduanya tersadar ketika dering telepon berbunyi. Antika spontan menarik tangannya karena malu. Aldri mengumpat dalam hati kepada si pengganggu momen indahnya.