Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi berbadan CEO
Hampir empat bulan berlalu sejak Shella resmi menjabat sebagai asisten khusus Reygan Aliansyah. Empat bulan yang diwarnai dengan dinamika gila, di mana pekerjaan Shella perlahan bergeser dari sekadar mengatur jadwal rapat korporat... menjadi ibu kedua untuk seorang pria dewasa berusia tiga puluh tahun.
Pintu ruangan mendadak terdorong kencang. Reygan melangkah masuk dengan setelan olahraga yang sedikit acak-acakan dan kaos kaki sebelah kanan yang entah melayang ke mana.
"Shella! Kamu lihat kaos kaki saya yang sebelah lagi tidak? Sepatu olahraga mahal yang tadi saya pakai kok mendadak hilang ya?" tanya Reygan panik, celingukan mencari barang-barangnya.
Shella yang sedang duduk mengetik laporan di mejanya hanya memutar bola mata malas. Ia menghela napas berat, menghentikan ketikannya, lalu menatap sang bos dengan pandangan mengayomi—seperti seorang ibu yang sedang menatap anak balitanya yang kehilangan mainan.
"Pak... bisa tidak sih, untuk hal sekecil ini tidak usah berlebihan?" serunya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut."Kaos kaki? Bukannya tadi setelah acara olahraga bersama seluruh karyawan kantor selesai, Pak Reygan sendiri yang meletakkannya di sofa ruangan saya? Sepatu edisi terbatas yang tadi Bapak pamerkan ke jajaran direksi juga ada di pojokan sana! Pak Reygan ini heran ya... proyek bernilai triliunan rupiah di Singapura bisa diingat sampai ke detail desimalnya, tapi urusan kaos kaki sendiri saja sudah seperti kena amnesia!"
Bukannya tersinggung dengan omelan pedas asistennya, Reygan justru mendesah lega. Tanpa rasa malu sedikit pun, pria bertubuh tegap itu langsung mengekor di belakang Shella seperti anak bebek yang takut kehilangan induknya saat Shella berjalan menuju ruang istirahat kecil di samping.
'Aneh... Entah sejak kapan, kehadiran wanita ini mendadak bikin aku merasa terikat begini,' batin Reygan, memperhatikan punggung Shella yang sigap mengambilkan sepatu dan kaos kakinya.
Reygan sendiri tidak sadar kapan perubahan itu terjadi. Dulu ia adalah pria mandiri yang dingin dan kaku. Namun sejak Shella hadir, otaknya seolah secara otomatis mematikan fungsi navigasi barang-barang pribadinya dan menyerahkan seluruhnya pada Shella.
Sementara itu, di dalam hati Shella, tingkat kedongkolannya sudah mencapai ubun-ubun.
Bagaimana tidak? Hidupnya dalam empat bulan terakhir benar-benar terinvasi total oleh bayi berbadan CEO ini!
Bahkan di hari libur Sabtu pagi—saat Shella sudah bersiap untuk rebahan seharian memakai daster—ponselnya akan berdering nyaring pada pukul tujuh pagi tepat.
“Shella, saya bingung. Hari ini saya sarapan apa ya?” tanya suara di seberang sana dengan polosnya, seolah Shella adalah katering pribadi yang buka 24 jam.
Shella menyerahkan sepasang sepatu mahal dan kaos kaki putih itu tepat di depan dada Reygan."Ini barang-barangnya, Tuan Baginda yang Terhormat. Silakan dipakai sendiri, jangan minta saya yang memasangkannya, saya bukan dayang kerajaan," sindir Shella tajam sambil berkacak pinggang.
Reygan menerima barangnya dengan senyum simpul yang amat tipis—jenis senyuman konyol yang jarang sekali diperlihatkan di depan umum.
"Kan kamu yang paling tahu letak barang-barang saya, Shella. Kalau tidak ada kamu, ruangan ini bisa kacau," kilah Reygan santai, lalu duduk di sofa untuk memakai kaos kakinya.
"Ruangan ini tidak kacau, Pak. Otak Bapak yang membiasakan diri untuk manja," balas Shella tanpa ampun, kembali berjalan menuju meja kerjanya.
**
"Ini Pak, laporan analisis pasar yang Bapak minta tadi malam sudah selesai. Berkasnya sudah saya rapikan sesuai spesifikasi," ujar Shella. "Sesuai janji Bapak semalam, saya izin pulang lebih awal hari ini ya?"
Reygan yang sedang sibuk menandatangani dokumen mendongak, alisnya bertaut. "Pulang awal? Kenapa? Ada urusan mendesak?"
Shella menatap bosnya dengan pandangan tidak percaya. "Aduh, Pak Reygan... Bapak lupa? Hari ini kan jadwal sidang perceraian terakhir saya di Pengadilan Agama. Hari di mana palu hakim akhirnya resmi mengetuk dan saya sah bertukar status jadi jandanya Bramantyo seutuhnya."
Gerakan pena di tangan Reygan terhenti seketika. Pria itu menatap wajah Shella yang tampak tenang—mungkin terlalu tenang untuk seseorang yang akan meresmikan kehancuran rumah tangganya.
"Kamu... tidak sedih?"
"Sedih? Ya pastilah, Pak. Saya sudah meratapi dan menangisi air mata sampai kering setiap malam di kontrakan. Menangis sendirian tanpa tahu harus cerita ke siapa," aku Shella jujur.
"Tapi ya... kehidupan kan harus tetap berjalan. Setelah ketuk palu nanti, saya cuma berharap suatu hari nanti bisa dapat pasangan baru yang beneran pintar menghibur dan mengerti saya."
Reygan menatap Shella beberapa saat. Melihat raut kelelahan batin di mata asistennya itu, sebersit dorongan impulsif mendadak muncul di kepala sang CEO. "Ya sudah... kalau memang belum ada," ujar Reygan santai, memajukan tubuhnya ke atas meja."Kan ada saya."
Shella mendengus kencang, langsung tertawa sengit."Ck! Pria seperti Bapak?" Ejek Shella. "Bapak yang kaos kaki sebelah saja masih saya yang carikan ? Yang meletakkan sepatu mahal saja lupa tempatnya di mana? Gimana caranya pria sibuk dan manja seperti Pak Reygan mau menghibur wanita coba?!"
"Loh, jangan salah!"tangkis Reygan tidak mau kalah, bibirnya mengukir senyum tipis."Bukannya selama beberapa bulan ini kamu sendiri yang selalu memberikan kode-kode halus ingin jadi pasangan saya?"
Shella memutar bola matanya malas, berpura-pura mengusap lengannya seolah merinding. "Aduh, maaf ya Tuan Besar... Saya sudah tidak minat lagi tuh!"
"Ayolah..." goda Reygan bercanda.
"Ayo apa, Pak Reygan? Mau saya beri tahu Mbak Gladis sekarang juga? Bahwa calon tunangannya yang minggu depan mau mengadakan acara lamaran resmi, malah sibuk menggoda adik kandungnya sendiri di dalam ruang kerja?" ancam Shella dengan senyum kemenangan.
Tawa renyah dan lepas seketika menyembur dari bibir Reygan. Pria kaku yang dulu jarang sekali tersenyum itu kini tertawa puas melihat reaksi panik dan sewot asistennya.
"Sudah, sana pergi," ujar Reygan akhirnya sambil mengibaskan tangannya, menyembunyikan sisa tawa di balik dehamannya. "Selesaikan urusan sidangmu dengan cepat. Kalau terjadi sesuatu di pengadilan... atau kalau mantan suamimu yang tidak berguna itu macam-macam lagi, langsung hubungi saya. Paham?"
Shella memutar tubuhnya menuju pintu keluar, lalu menoleh sekilas dengan senyum jahil terbaiknya.
"Nggak bakal...!" seru Shella sewot, lalu melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat.