Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETERBILT 389
Tujuan pertama Ranum adalah gelanggang olahraga milik Master Wu di Kilcoy, Ranum tiba di GOR itu kurang dari lima menit. Ranum langsung memasuki lobi GOR itu, didepan pintu masuk berdiri dua orang penjaga membawa AK-47, setelah melihat dua penjaga itu Ranum langsung melepaskan tembakan ke arah dua penjaga tersebut dari atas motornya, dua penjaga itu langsung tumbang terkena tembakan telak di kepala. Karena suara tembakan itu, penjaga lainnya mulai berdatangan, Ranum langsung turun dari motornya, satu penjaga datang dari sisi Timur bangunan, Ranum dengan gesit langsung melepaskan tembakan dan mengenai bagian dada penjaga tersebut. Ranum mulai jalan memasuki area GOR tersebut, dari area kolam renang keluar tiga penjaga, Ranum kembali menembakkan pistolnya, dua peluru berhasil mengenai kepala salah satu penjaga dan dada penjaga lainnya, peluru ketiga meleset hanya mengenai lengan penjaga ketiga, penjaga itu menembakkan AK-47 yang dipegangnya, karena memegang dengan satu tangan dan panik, penjaga itu menembak sembarangan, Ranum berhasil menghindari pelurunya dan bersembunyi dibalik pohon, setelah tembakan berhenti Ranum menghampiri penjaga itu, lalu Ranum menendang kepala penjaga itu hingga patah. Dari belakangnya datang lagi dua penjaga, saat melihat Ranum para penjaga itu langsung menembakkan senjatanya, Ranum berlari untuk memasuki area kolam renang, dari sisi lain kolam renang ada dua penjaga lainnya sedang berlarian ke arah Ranum, dengan sigap Ranum langsung menambakkan desert eaglenya ke arah para penjaga itu. Kedua penjaga itu langsung tumbang, telak terkena tembakan dikepala, Ranum mengintip ke arah luar, penjaga yang tadi menembakinya sedang berlari ke arahnya, dengan cepat Ranum langsung keluar dan menembakkan pistolnya, kedua penjaga itu langsung terkapar di tanah. Ranum mengganti magasin kedua pistolnya. Tidak butuh waktu lama, datang lagi tiga penjaga dari arah belakang, Ranum menembakkan tiga peluru, dua peluru berhasil menumbangkan dua penjaga, dan satu peluru lagi mengenai pinggang penjaga terakhir. Dengan cepat Ranum menembak tangan penjaga terakhir itu agar tidak dapat menggunakan senjatanya. Ranum berjalan menghampiri penjaga itu. Ranum berdiri didepannya.
“Ada berapa lagi jumlah kalian ditempat ini?” Ranum bertanya santai.
“Kami masih ada ratusan, kau tidak akan bisa mengalahkan kami!” penjaga itu berseru ke arah Ranum sambil memegang pinggangnya yang tertembak.
Ranum menembak kaki kanan penjaga itu. “Jawab saja pertanyaanku.” Ranum berbicara dengan santai.
Penjaga itu tetap bungkam. Karena penjaga itu bungkam, Ranum menembak kaki kiri penjaga itu.
“Aku yang terakhir, aku yang terakhir.” Penjaga itu menjawab sambil merintih kesakitan.
“truk peterbilt 389 berwarna biru yang membawa peti kemas bermuatan senjata, kalian sembunyikan dimana?” Ranum bertanya sambil menarik rambut penjaga itu agar bisa melihat wajahnya.
“Aku tidak tahu, kalaupun aku tahu, aku tidak akan pernah memberi tahumu.” Penjaga itu tersenyum lalu meludah ke arah Ranum.
Ranum mengambil pisau tempur di pergelangan kakinya. “mungkin pisau ini tahu letak truk peti kemas itu.” Ranum mulai mengiris telinga penjaga itu dari bagian atas secara perlahan. Penjaga itu berteriak kesakitan, Ranum tetap lanjut mengiris telinga itu secara perlahan.
“Jalan raya D’Aguilar, jalan raya D’Aguilar!” penjaga itu berteriak. Ranum berhenti mengiris telinga penjaga yang hampir putus. “Dari sini kau akan menemukan gudang peti kemas tak terpakai di sebelah kanan jalan raya D’Aguilar, kau akan menemukan truk yang kau cari disana.” Lanjut penjaga itu sambil merintih kesakitan.
“Pisau ini selalu tahu cara mencari jawaban.” Ranum menatap pisaunya sambil tersenyum, dengan cepat Ranum langsung menancapkan pisau itu ke kepala penjaga tersebut.
Ranum berjalan menuju motornya, saat dia menyalakan motor, tiba – tiba terdengar sirine mobil polisi. Polisi itu turun dari mobil dan langsung mengacungkan pistol ke arah Ranum.
“Taruh tangan diatas kepala!” polisi itu berseru ke arah Ranum.
Ranum mengangkat tangannya, dua polisi itu datang menghampiri Ranum secara perlahan sambil mengacungkan pistol. Ranum tidak akan memiliki alasan karena sangat jelas terlihat banyak mayat di GOR tersebut. Setelah memastikan bahwa hanya ada dua polisi, Ranum dengan cepat meraih pistol di gun holster yang ia kenakan sambil lompat dari motornya. Ranum langsung menembakkan dua peluru ke arah polisi itu, sayangnya satu peluru Ranum berhasil dihindari, polisi itu balik menembak ke arah Ranum, peluru polisi itu telak mengenai bagian rusuk Ranum tepat dibagian bekas tembakan di bar Irlandia. Sambil menahan rasa sakit, Ranum langsung melepaskan dua peluru sekaligus, kedua peluru tersebut berhasil menembus kepala polisi itu secara berurutan. Ranum langsung terduduk ditanah, membuka kancing jas dan kemeja yang dia kenakan, lalu Ranum mengambil peluru di baju pelindungnya.
“Selalu tertembak, Kamu bodoh sekali Ranum!” Ranum berseru pada dirinya, sambil membakar rokok lalu kembali mengancingi kemeja dan jasnya yang terbuka. Ranum berdiri lalu menghampiri dua mayat polisi itu, Ranum mengambil dompet dan tanda pengenal dua polisi itu, menyimpannya lalu bergegas pergi.
Ranum memacu motornya dengan sangat cepat menuju gudang peti kemas yang disebutkan penjaga tadi, dalam 3 menit Ranum sudah menemukan gudang peti kemas itu, tapi tidak seperti informasi yang diberikan oleh penjaga itu, Ranum menyesal membunuh penjaga itu dengan cepat. Tempat ini masih aktif dan memiliki penjaga yang cukup banyak, pagar depan dijaga empat orang dipersenjatai dengan lengkap. Ranum memutar balik motornya, lalu mengambil jalan memutar, Ranum ingin melewati sisi belakang gudang peti kemas itu. Gudang peti kemas ini memiliki enam bangunan gudang dibagian depan areanya, sedangkan di bagian belakang ada lahan cukup luas dan terparkir sekitar 12 truk berat dan ratusan peti kemas di lahan tersebut.
Dibagian belakang ada pagar yang terdapat satu pos dan berisi satu sekuriti, dan sekuriti itu sedang tertidur. Ranum mengambil pisaunya, mulai berjalan pelan menuju pos penjaga tersebut, saat sampai Ranum langsung menancapkan pisaunya di kepala sekuriti itu. Ranum bergegas memasuki gudang, Ranum melewati banyak tumpukkan peti kemas dengan berhati – hati, karena banyak penjaga di area itu. Ranum melihat satu penjaga yang membelakanginya, dengan sigap Ranum langsung melemparkan pisaunya ke arah penjaga itu, sayangnya bagian tumpul pisau itu yang mengenai kepala penjaga, penjaga itu terkejut langsung berbalik badan, tanpa berlama – lama Ranum langsung mengambil pistolnya dan menembak penjaga itu, suara letusan pistol itu memecah keheningan, satu penjaga datang dari belakang Ranum, Ranum membalikkan badannya lalu melepaskan tembakan selanjutnya, dari sebelah kiri Ranum datang dua penjaga lainnya, Ranum dengan sigap menarik pelatuk pistolnya, dua penjaga itu langsung tersungkur ke tanah. Ranum mulai berjalan memasuki area parkiran truk, empat penjaga berlari ke arahnya, dengan cepat desert eagle milik Ranum memuntahkan peluru ke kepala dua penjaga, dan menembus dada dua penjaga lainnya. Dari arah kanan Ranum datang lagi dua penjaga, dengan cepat peluru milik Ranum menembus tulang kepala dua penjaga itu. Ranum bersembunyi di balik truk untuk mengganti magasinnya, yang dimana dua magasin ini adalah magasin terakhir yang dibawa Ranum.
Setelah keadaan mulai mereda, Ranum mulai memasuki area gudang, gudang pertama di masuki Ranum, gudang itu kosong tidak ada isinya, hanya beberapa tumpukkan kayu dan forklift, Ranum menyusuri gudang itu dengan seksama, Ranum memakai kacamatanya lalu mengaktifkan infra merah dikacamata tersebut. Dari kacamata itu tidak terlihat aktivitas apapun di gudang tersebut, Ranum mematikan kembali infra merah di kaca matanya, Ranum keluar dari gudang pertama lalu menyelinap masuk ke gudang kedua. Gudang kedua dipenuhi kardus – kardus kecil, Ranum merobek kardus itu menggunakan pisaunya, kardus – kardus itu hanya berisikan ganja kering. Ranum menyusuri gudang itu dengan hati – hati, dia mendengar ada suara dari ruangan dilantai dua gudang tersebut, Ranum perlahan – lahan mendekati ruangan tersebut lalu mendobrak pintu ruangan itu sambil mengacungkan pistol. Ranum mendapati dua sejoli sedang bercinta dengan posisi ***** ***** di kursi ruangan tersebut, dua sejoli itu terkejut akan kedatangan Ranum, si pria mengangkat tangannya dan si wanita tetap menungging tapi menaruh tangannya dibalik kepala dengan keadaan kelamin mereka masih terhubung.
“Apa kalian serius?” Ranum berseru ke pasangan tersebut. “Diluar aku dan kawan – kawan kalian sedang adu tembak, sedangkan kalian melakukan ini?” Lanjut Ranum.
Pasangan itu tetap diam membisu.
“Nona, ambil pakaianmu dan cepat keluar dari sini.” Ranum berbicara ke wanita tersebut. “Aku merasa tidak dihargai dalam pertempuran ini, aku rasa ini akan menjadi **** terakhirmu.” Lanjut Ranum berkata pada pria tersebut sambil memasang wajah sedih.
“Cepat kenakan pakaianmu.” Ranum menyuruh laki-laki itu sambil mengacungkan pistolnya. Wanita itu berlari keluar ruangan tersebut sambil membawa pakaiannya.
“Peterbilt 389 biru, kalian sembunyikan dimana?” Ranum bertanya ke pria tersebut.
“Aku tidak tahu tuan.” Pria itu menjawab dengan wajah ketakutan.
“Sekali lagi kamu pura – pura bodoh, peluru akan bersarang dikepalamu.” Ranum sambil tersenyum.
“Aku-“ Pria itu belum sempat berbicara, pintu gudang di dobrak oleh para penjaga.
“Sial, selalu pada waktu yang tepat.” Ranum menggerutu, lalu Ranum menembak lutut pria itu. “Jangan kemana – mana.” Ranum tersenyum pada pria tersebut, pria itu tersungkur sambil menahan rasa sakit.
Ranum keluar dari ruangan, salah satu penjaga tepat dibawahnya dan jelas terlihat disela - sela lantai besi gudang itu, dengan sigap Ranum menembak penjaga itu tepat di ubun – ubunnya. Penjaga lain berlarian, dua orang penjaga menaiki tangga, dengan sigap Ranum menembak mereka tanpa ragu, dua lagi tumbang.
“Kapan habisnya manusia – manusia ini.” Ranum menggerutu.
Dari balik tumpukkan kardus dilantai bawah muncul beberapa penjaga yang langsung menyerbu Ranum dengan peluru AK-47, dengan refleksnya Ranum berhasil menghindar, tapi satu peluru berhasil mengenai lengan kirinya.
“Lagi Ranum? lagi?” Ranum menggerutu karena tertembak, tidak lama Ranum langsung muncul kembali dan menembakkan peluru dan berhasil menumbangkan satu penjaga dibalik salah satu kardus. Ranum mengambil korek di sakunya, lalu melemparkan korek tersebut ke tumpukkan kardus, api merambat dengan cepat, para penjaga yang bersembunyi di balik kardus keluar dari persembunyiannya. Dengan cepat Ranum menembak mereka semua tepat dikepala. Empat penjaga lainnya berhasil di tumbangkan dengan mudah.
“Sial, ganja!” Ranum kembali menggerutu sambil menutup hidung dan mulutnya, Ranum berlari kembali ke ruangan tadi. Pria itu masih tersungkur memegangi lututnya, Ranum langsung menyeret pria itu.
“Tutup hidung dan mulutmu bodoh!” Ranum berseru ke pria tersebut.
Mereka berhasil keluar dari gudang, tapi sialnya di luar gudang sudah ada delapan penjaga yang sedang membidik ke arah pintu gudang menunggu Ranum keluar.
“Maaf tuan – tuan, aku hanya mencari trukku yang hilang, apa kalian melihatnya?” Ranum bertanya ke para penjaga dengan santai sambil mengangkat tangan kirinya dan tersenyum. “Peterbilt 389 berwarna biru.” Lanjut Ranum masih tersenyum dan tangan kanannya tetap menyeret pria tadi.
Salah satu penjaga itu tertawa. “ternyata kau dari keluarga bajingan Loshad anak kecil?”
Penjaga lainnya ikut tertawa.
“Ya aku dari keluarga Loshad, tuan yang terhormat.” Ranum tersenyum, dengan cepat Ranum mengangkat tubuh pria di tangan kanannya untuk dijadikan tameng, lalu kaki kirinya dengan cepat menendang pintu gudang dibelakangnya, dan tangan kirinya meraih pistol di gun holsternya. Ranum menembakkan pistolnya sembari mundur masuk kembali kedalam gudang, dua penjaga berhasil ditaklukkan, enam penjaga lainnya tetap menyerbu Ranum menggunakan peluru berdiameter 7.62mm, Ranum berhasil masuk kembali ke gudang tersebut, tapi Ranum kembali tertembak di bagian kaki kirinya dan pundak kanannya, serta bersarang puluhan peluru ditubuh pria yang diseret Ranum tadi.
“Sial, aku rasa kamu benar – benar membenciku Tuhan.” Ranum menggerutu, sedangkan api di gudang itu semakin membesar.
Tidak berpikir panjang Ranum langsung membuka pintu gudang itu, dengan cepat Ranum menembakkan peluru ke dua orang penjaga yang ada didepannya, dua penjaga itu langsung tergeletak di tanah, Ranum dengan cepat kembali membentangkan tangannya, menghabisi penjaga yang ada di kanan dan kirinya. Empat penjaga sudah tumbang, tersisa dua penjaga yang dengan cepat langsung menembakkan peluru ke arah Ranum. Ranum dengan cepat masuk kembali ke gudang, kali ini tangan kanannya terkena tembakan.
“Apa kau serius Tuhan!” Ranum kembali menggerutu, dengan cepat dia melompat dari sisi kiri pintu ke sisi kanan pintu sambil menembakkan pistolnya ke arah penjaga di luar, peluru itu mengenai pipi kiri salah satu penjaga. Ranum sedikit mengintip untuk melihat posisi musuhnya, setelah dia yakin akan posisi musuhnya, Ranum langsung menembak pinggang kiri penjaga itu.
“Siapa di antara kalian yang menembakku sialan!” Ranum bertanya dengan nada tinggi.
“Persetan denganmu!” Salah satu penjaga berteriak.
Tersisa dua penjaga, satu terkena tembakan di pipi tapi masih hidup sambil memegangi wajahnya, dan yang lainnya tersungkur memegangi pinggangnya yang tertembak. Ranum membalikkan penjaga yang tertembak di pipi dengan kakinya.
“Aku tidak membutuhkanmu.” Ranum berkata ke penjaga yang tertembak di pipi kemudian menembak kepalanya.
“Aku rasa aku membutuhkanmu.” Ranum menyeret penjaga terakhir lalu menaruhnya di tembok gudang dengan posisi duduk.
“Cepat bunuh aku bajingan!” Penjaga itu berteriak ke arah Ranum.
“Aku butuh informasi soal trukku tuan terhormat.” Ranum tersenyum.
Penjaga itu meludah ke arah Ranum.
“Aku rasa semua anak buah Master Wu suka meludah.” Ranum tersenyum lalu menembak tempurung kaki kanan penjaga itu. “Sopan santun penting tuan yang sangat terhormat.” Ranum tetap tersenyum lalu lanjut menembak tempurung kaki kiri penjaga itu.
Penjaga itu menjerit – jerit kesakitan.
“Apa kamu mau berbicara sekarang tuan?” Ranum kembali bertanya.
“Persetan denganmu dan keluargamu!” Penjaga itu berteriak sembari menahan rasa sakit.
“Aku selalu menyukai pria sepertimu.” Ranum tersenyum sambil menembak telapak tangan kanan penjaga itu. “Aku rasa aku bisa menjadi penggemar beratmu.” Ranum masih tersenyum lalu menembak telapak tangan kiri penjaga itu.
“Aku rasa itu peluru terakhirku.” Ranum berbicara dengan nada sedih, Ranum langsung mengambil pisau tempur di pergelangan kakinya.
“Sekarang kita coba, apa pisau ini bisa memberikan jawaban.” Ranum berkata sambil membuka sepatu kiri penjaga tersebut. “Kelingking.” Lanjut Ranum sambil memotong kelingking kaki kiri penjaga tersebut.
Penjaga itu menjerit – jerit kesakitan, tapi tetap tidak mau berbicara.
“Jari manis.” Ranum kembali berbicara lalu memotong jari manis kaki kiri penjaga tersebut. “Pisau ini tetap belum memberikan jawaban, jari tengah.” Ranum lanjut memotong jari tengah kaki kiri penjaga tersebut.
“Aku tidak akan memberikan informasi apapun bodoh!” Penjaga itu kembali berteriak ke arah Ranum.
“Telunjuk.” Ranum kembali memotong jari kaki kiri penjaga tersebut. “Ibu Jari.” Ranum kembali memotong jari terakhir kaki kiri penjaga itu.
“Oke, jari kaki lainnya.” Ranum tersenyum sambil membuka sepatu kanan penjaga itu.
“Mari kita mulai, keling-“ Belum selesai Ranum berbicara penjaga itu berteriak.
“Baiklah bajingan, baiklah, aku akan memberitahumu!” Penjaga itu berteriak. “Trukmu ada disini, kau bisa mengambilnya, truk itu berada di gudang nomor 2, setengah peti kemas milik kalian ada di gudang utama!” lanjut penjaga itu.
“Tunggu disini, aku akan memeriksanya.” Ranum langsung bergegas ke gudang sesuai informasi dari penjaga tersebut.
Kurang dari lima menit, setelah sudah memastikan truk dan peti kemas milik keluarga Loshad ada, Ranum kembali menemui penjaga tersebut.
“Jujur aku kecewa karena kamu buka mulut, aku pikir, aku bisa lebih bersenang – senang.” Ranum memasang wajah sedih.
“Mati saja kau bodoh!” Penjaga itu berteriak lagi ke arah Ranum.
“Kalimat penutup yang cerdas.” Ranum tersenyum lalu menyeret penjaga itu, penjaga itu berteriak – teriak mengutuk Ranum, Ranum mengabaikannya, karena bagi Ranum penjaga itu hanya mayat hidup, Ranum langsung melempar penjaga itu ke dalam gudang yang mulai terbakar habis, lalu menutup pintu gudang itu, dan menembak gagang pintu gudang tersebut menggunakan AK-47 milik para penjaga hingga hancur.
“Muhammad, aku akan mengirimkan titik koordinatku, jemput aku.” Ranum menghubungi Muhammad lewat saluran khusus keluarga Loshad.
“Aye Aye Ranum.” Suara Muhammad terdengar dari earpods Ranum.
Ranum berjalan tertatih menuju belakang area gudang tersebut untuk mengambil motornya, setelah sampai di motornya, Ranum berbaring disebelah motor itu, di langit terlihat pesawat jet pilatus PC-24 sedang mendarat. Ranum melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 01.13 waktu setempat.
“Ranum, apa yang terjadi padamu?” Muhammad dari kejauhan berteriak, dia berlari bersama beberapa awak pesawat.
“Didalam gudang itu ada truk milik kita, suruh anak buahmu ambil truk itu dan ambil peti kemasnya, semuanya ada di gudang utama dan gudang nomor 2.” Ranum berbicara ke Muhammad dengan lemas.
“Sudah hampir mati pun masih memperdulikan hal lain.” Muhammad berkata dengan nada kesal. “Kenapa kamu tidak menghubungiku sejak awal?” Muhammad lanjut bertanya sambil membantu Ranum berdiri dan menopang tubuh Ranum.
Ranum tertawa kecil. “Kamu pikir aku akan meminta bantuan orang yang akan datang menggunakan pesawat?”
“Sudah jangan banyak bicara, kita harus mengobati semua lukamu.” Jawab Muhammad ketus.
Sampai didalam pesawat Ranum langsung dirawat oleh awak pesawat, salah seorang awak pesawat ditugaskan untuk membawa truk dan peti kemas keluarga Loshad ke Melbourne, awak pesawat lainnya sedang memasukkan ducati panigale milik Ranum ke dalam bagasi. Setelah semuanya siap, Muhammad langsung lepas landas dan terbang menuju titik akhir, yaitu Melbourne.