Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Pangeran Erlan
Elisa dan Suri berbaur di antara para lady yang berkumpul di taman luas di tepi hutan. Di bawah rindangnya pepohonan, meja-meja kecil telah dipenuhi hidangan ringan dan teh hangat. Suasana begitu ramai oleh tawa dan obrolan para bangsawan wanita yang sama sekali tidak berniat meninggalkan tempat itu.
Mereka sedang menunggu para pria yang mengikuti perburuan.
Terlebih lagi, Putra Mahkota Erlan ikut serta tahun ini. Kabar itu membuat hampir semua lady memilih bertahan di taman daripada kembali ke tenda keluarga masing-masing. Siapa tahu sang pangeran pulang lebih dulu dan mereka mendapat kesempatan berbincang dengannya.
"Aku dengar Pangeran Erlan benar-benar masuk jauh ke dalam hutan."
"Kalau beliau yang menang, tentu tidak mengherankan."
"Tapi bagaimana kalau beliau terluka?"
"Mustahil. Putra Mahkota terkenal tak terkalahkan."
Percakapan demi percakapan memenuhi udara.
Sementara itu, beberapa lady diam-diam membetulkan rambut, merapikan gaun, bahkan sesekali bercermin menggunakan cermin tangan kecil. Tak ada satu pun yang ingin terlihat buruk saat sang putra mahkota kembali.
"Persaingannya benar-benar menakutkan," gumam Elisa pelan sambil memperhatikan sekeliling.
Suri tersenyum tipis."Tentu saja. Bukankah semua orang tahu tujuan utama para lady datang ke acara berburu ini?"
Elisa mengangguk pelan. Ia tahu jawabannya. Menjadi perhatian Pangeran Erlan. Namun, di antara begitu banyak wanita cantik itu, ada dua nama yang paling sering dibicarakan.
Lady Agnes.
Dan Lady Anastasia.
Keduanya bukan hanya dikenal memiliki paras yang luar biasa, tetapi juga kecerdasan dan etika yang hampir sempurna. Banyak bangsawan bahkan meyakini salah satu dari mereka akan menjadi calon Putri Mahkota.
Elisa justru sibuk mengedarkan pandangan ke segala arah."Mana Lady Agnes? Yang mana orangnya?"
Suri mengikuti arah pandangan adiknya sebelum akhirnya mengangkat dagu ke arah sekelompok bangsawan wanita."Itu yang memakai gaun merah muda."
Elisa segera menoleh.
"Itu Agnes, Kara."
Begitu melihat sosok yang dimaksud, mata Elisa langsung membulat."Ya ampun..."
Lady Agnes sedang berbincang dengan beberapa bangsawan wanita. Rambut panjang keemasannya tergerai lembut, senyumnya begitu anggun, sementara sorot matanya terlihat hangat. Wajahnya begitu sempurna hingga sulit menemukan kekurangan sekecil apa pun.
Elisa bahkan tanpa sadar menghela napas kagum."Definisi cantik yang sesungguhnya."
Suri terkekeh pelan melihat ekspresi adiknya.
Elisa terus memandangi Agnes dengan wajah berbinar."Akhirnya alur novel mulai kembali ke semestinya."
Tentu saja kalimat terakhir itu hanya terdengar di dalam kepalanya.
Setelah hari berburu ini, Lady Agnes akan semakin sering bertemu Pangeran Erlan. Awalnya sang putra mahkota akan bersikap dingin dan tak peduli, tetapi sedikit demi sedikit hatinya luluh. Pada akhirnya Erlan akan mencintai Agnes dengan begitu dalam.
Meski perjalanan cinta mereka nanti tidak mudah. Akan ada banyak rintangan. Banyak lady yang diam-diam menginginkan posisi Lady Agnes. Dan musuh terbesar Agnes adalah..
Elisa perlahan mengalihkan pandangannya ke sisi lain taman. Di sana berdiri seorang wanita dengan gaun merah anggur yang mencolok. Senyumnya anggun, tetapi tatapannya menyimpan kesombongan yang sulit disembunyikan.
Jasmine Snow.
Bibir Elisa langsung mengerucut.
'Tidak akan kubiarkan kau menyakiti Agnesku, Jasmine Snow.'
Entah kebetulan atau memang benar-benar merasakan tatapan seseorang, Jasmine tiba-tiba menoleh. Pandangan mereka bertemu. Elisa yang sejak tadi menatapnya penuh permusuhan bahkan tidak sempat mengalihkan wajah.
Jasmine mengangkat sebelah alis. Lalu, dengan langkah anggun, ia berjalan mendekati Elisa dan Suri. Beberapa lady di sekitar mereka mulai melirik, penasaran dengan apa yang akan terjadi. Jasmine berhenti tepat di hadapan Elisa. Senyumnya tipis, tetapi jelas mengandung sindiran.
"Kenapa kau melihatku dengan tatapan penuh kebencian seperti itu, Nandikara?"
Suri tampak sedikit terkejut. Ia langsung menoleh ke arah adiknya. Nandikara sendiri tetap memasang wajah datar."Tidak."
Jasmine menyilangkan kedua tangan di depan dada."Tidak?"
"Tatapanku biasa saja."
"Biasa?" Jasmine terkekeh kecil."Jelas-jelas kau menatapku dengan sinis." Ia sengaja mendekat satu langkah lagi."Apa kau iri padaku?"
Elisa hanya mengangkat sebelah alis."Iri?"
"Pada wajahku atau mungkin pada penampilanku?"
Elisa hampir saja tertawa. Percaya diri sekali wanita ini. Mulutnya bahkan sudah terbuka, siap membalas ucapan Jasmine dengan kalimat yang lebih pedas. Namun sebelum satu kata pun keluar, Suri bergerak cepat.
Ia langsung berdiri di depan Elisa sambil tersenyum sopan."Maafkan adikku, Lady Jasmine."
Suri membungkukkan kepala sedikit sebagai bentuk penghormatan."Dia mungkin terlalu terpana melihat kecantikanmu."
Jasmine tampak cukup puas mendengar jawaban itu."Ternyata masih ada yang bisa menilai kecantikan."
Suri hanya tersenyum tipis, meski dalam hati ia menghela napas lega karena pertengkaran berhasil dihindari.
Di sisi lain, Elisa menatap kakaknya dengan wajah malas. Belum sempat ia protes, Suri sudah menggenggam pergelangan tangannya."Ayo."
"Suri.."
Suri menariknya menjauh dari Jasmine. Baru setelah mereka cukup jauh, Suri berbisik pelan tanpa menoleh."Ingat, Kara. Kita tidak boleh membuat masalah lagi."
Elisa mengembuskan napas panjang sambil memutar bola matanya."Iya, iya."
Meski bibirnya mengiyakan, matanya masih sempat melirik ke arah Jasmine Snow.
'Dengarkan baik-baik, Jasmine. Selama aku ada di sini, kau tidak akan pernah semudah itu mengganggu kisah cinta Agnes dan Erlan.'
***
Sore mulai merambat, langit yang semula cerah perlahan berubah jingga keemasan. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan di tepi hutan, menyelimuti area perkemahan kerajaan dengan warna hangat. Namun, meski hari hampir berganti malam, perkumpulan para bangsawan sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Para pelayan sibuk berlalu-lalang membawa hidangan hangat dan minuman. Tawa para bangsawan saling bersahutan, mereka menikmati makanan. Beberapa keluarga bahkan sudah kembali dengan wajah puas setelah memperoleh cukup banyak tangkapan.
Di tengah keramaian itu, Elisa duduk tenang di samping Nyonya Winter dan Suri. Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya yang menikmati pesta, gadis itu justru terus melirik ke arah jalan utama yang menghubungkan hutan dengan area perkemahan.
Entah mengapa, sejak beberapa saat lalu perasaan gelisah terus mengusik pikirannya.
"Suri," panggil Elisa lirih.
Suri menoleh."Hm?"
"Apa Ayah akan baik-baik saja?"
Pertanyaan itu membuat Suri tersenyum kecil. Ia mengusap pelan punggung tangan adiknya, berusaha menenangkan kegelisahan yang jelas terlihat di wajah Elisa.
"Ayah seorang pemburu yang cukup hebat, Kara," katanya lembut."Jangan terlalu cemas. Lagi pula, kalau beliau sudah lelah, beliau pasti akan segera kembali."
Elisa mengangguk pelan. Namun, jawaban itu tidak berhasil menghilangkan kegelisahan di hatinya.
Semakin lama waktu berlalu, semakin banyak rombongan pemburu yang kembali dari hutan. Ada yang membawa rusa, babi hutan, bahkan beruang kecil. Sorak-sorai terdengar setiap kali seseorang muncul membawa hasil buruan.
Sayangnya, di antara semua wajah yang kembali, tidak ada sosok Tuan Winter. Tanpa sadar Elisa kembali menatap jalan setapak menuju hutan. Suri pun melakukan hal yang sama. Bahkan Nyonya Winter mulai menunjukkan raut khawatir meski berusaha menyembunyikannya.
Sementara itu, Raja Simon masih duduk di singgasananya yang telah dipersiapkan di lapangan terbuka. Di sampingnya, sang ratu tersenyum anggun sambil menikmati kemeriahan acara.
Suasana tetap meriah, sampai tiba-tiba...
"Yang Mulia Putra Mahkota telah kembali!"
Suara seorang penjaga menggema. Sesaat kemudian sorakan besar meledak dari seluruh penjuru.
Elisa dan Suri spontan berdiri. Mereka ikut menoleh ke arah jalan utama. Dari kejauhan tampak seekor kuda hitam berlari gagah mendekati perkemahan. Di atasnya duduk sosok yang begitu dikenali seluruh kerajaan.
Pangeran Erlan. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Tatapannya dingin. Tubuhnya tegap. Namun yang membuat seluruh orang terdiam bukanlah sosok sang pangeran, melainkan hewan yang terbaring di belakang kudanya.
Seekor rusa bertanduk emas.
Kilauan tanduknya memantulkan cahaya matahari sore, membuatnya tampak begitu megah dan langka.
Seluruh bangsawan tercengang.
"Itu..."
"Rusa Bertanduk Emas!"
"Mustahil..."
"Benarkah dia berhasil memburunya?" Bahkan para pemburu senior ikut membelalak tidak percaya.
Raja Simon hampir melompat dari kursinya. Wajahnya dipenuhi kebanggaan."Hahaha! Putraku memang luar biasa!"
Sorak-sorai kembali menggema.
Sementara itu, Erlan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bangga. Dia turun dari kudanya dengan tenang. Pandangan matanya tetap sedingin es."Apa aku telah memenangkan perlombaan ini, Yang Mulia?" tanyanya datar.
Raja Simon tertawa puas."Tentu saja!"
Beliau berdiri dari kursinya."Kaulah pemenangnya! Karena siapa pun yang berhasil memburu rusa bertanduk emas, dialah pemenang perlombaan berburu tahun ini!"
Seketika tepuk tangan memenuhi lapangan. Para bangsawan bersorak. Para kesatria ikut bersiul kagum. Para lady saling berbisik dengan mata berbinar.
"Pangeran sungguh luar biasa..."
"Aku belum pernah melihat rusa itu seumur hidupku."
"Benar-benar pantas menjadi Putra Mahkota."
Suri ikut bertepuk tangan penuh semangat."Lihat itu, Kara! Beliau benar-benar berhasil!"
Namun Elisa sama sekali tidak ikut bersorak. Tatapannya masih tertuju ke arah jalan menuju hutan. Ayahnya belum kembali. Rasa tidak enak di dalam dadanya justru semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi.
Di saat semua perhatian tertuju pada rusa bertanduk emas. Erlan tiba-tiba membungkuk. Dengan mudah ia mengangkat tubuh rusa itu ke kedua lengannya. Semua orang terdiam.
Mereka mengira sang pangeran hendak memperlihatkan hasil buruannya kepada sang raja. Namun, Erlan justru melangkah menjauh dari Raja Simon. Ia berjalan melewati kerumunan bangsawan. Langkahnya tenang dan pasti.
Para lady buru-buru menyingkir memberi jalan. Beberapa di antara mereka bahkan memerah karena mengira sang pangeran sedang menuju ke arah mereka.
"Apakah beliau..."
"Jangan-jangan..."
"Beliau mencari seseorang?"
Bisikan mulai memenuhi lapangan.
Sementara itu, di balik kerumunan para gadis bangsawan, Elisa masih berdiri mematung. Entah mengapa jantungnya mendadak berdegup sangat keras. Ia mengangkat kepalanya. Dan saat itulah, tatapan mereka bertemu.
Mata hitam Erlan langsung mengunci dirinya. Tidak bergeser sedikit pun. Tubuh Elisa menegang.
Langkah Erlan tetap berlanjut.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Elisa merasakan seluruh tubuhnya mulai gemetar. Naluri di dalam dirinya berteriak menyuruhnya lari. Namun kedua kakinya seperti dipaku di tanah. Inikah alasan mengapa sejak tadi hatinya terus gelisah? Inikah firasat buruk yang terus mengganggunya?
Kini Erlan telah berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Erlan menurunkan rusa bertanduk emas yang berada dalam pelukannya.
Lalu, dia meletakkannya tepat di kaki Elisa.
Bruk.
Suara tubuh rusa menyentuh tanah terdengar begitu jelas.
Dalam sekejap, seluruh lapangan menjadi sunyi. Sorakan berhenti. Bisikan menghilang. Semua mata membelalak.
Raja Simon bahkan berdiri dengan wajah benar-benar terkejut. Sebab semua bangsawan mengetahui satu tradisi yang tidak pernah berubah selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Seorang pria bangsawan, yang meletakkan hasil buruan terbaiknya di kaki seorang gadis bangsawan. Berarti dia sedang menyatakan pilihan hatinya.
Itu sama artinya dengan sebuah lamaran.