NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Pagi hari di kawasan SCBD ibu kota. Gedung pencakar langit yang menjadi markas regional Titanium Group tampak sibuk seperti biasa.

​Victor Vance, pria paruh baya dengan rambut beruban yang disisir rapi ke belakang, sedang duduk di ruang kerja mewahnya di lantai lima puluh. Ia menyesap cerutu Kuba sambil menatap jam tangan Rolex nya dengan kening berkerut.

​"Sudah jam delapan pagi. Kenapa Kapten Shadow Hound belum memberikan laporan?" gumam Victor dengan nada tidak sabar.

​Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka paksa. Asisten pribadinya berlari masuk dengan wajah sepucat kertas dan nafas tersengal-sengal.

​"T-Tuan Victor! Anda harus melihat ke bawah sekarang juga! Di lobi utama!" teriak asisten itu panik.

​Victor menggeram marah, namun ia tetap bangkit dan berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pelataran lobi gedung.

​Matanya terbelalak lebar. Cerutu di tangannya nyaris terjatuh.

​Di pelataran gedung yang biasanya hanya dilewati mobil-mobil mewah petinggi perusahaan, kini terparkir sebuah truk bak terbuka yang kotor. Truk itu tidak memiliki sopir; sistem kemudinya telah diretas dan dikendalikan otomatis.

​Di atas bak truk tersebut, dua belas anggota elit Shadow Hound tergeletak tak berdaya, terikat menjadi satu seperti tumpukan karung beras. Pakaian tempur mereka hangus di beberapa bagian.

​Di sisi badan truk, terbentang sebuah spanduk digital menyala bertuliskan:

"SAMPAH ANDA TERTINGGAL DI HALAMAN SAYA. LAIN KALI, SAYA AKAN MENGIRIMKAN TAGIHAN BIAYA KEBERSIHAN. - ANTON."

​Wartawan yang kebetulan berada di sekitar kawasan SCBD mulai mengerumuni truk itu, memotret kejadian memalukan tersebut dari berbagai sudut.

​"Bajingan tengik!" raung Victor meninju meja kerjanya hingga retak. Wajahnya merah padam menahan amarah dan penghinaan yang luar biasa.

Pasukan bayaran terbaik yang ia sewa dengan harga puluhan miliar dihancurkan tanpa sisa dan dikirim kembali sebagai lelucon di depan publik!

​"Hubungi Menteri Perdagangan dan Kepala BKPM sekarang juga!" perintah Victor dengan suara bergetar karena murka. "Jika kekerasan tidak mempan, aku akan menggunakan kekuatan politik untuk mencekik perusahaannya sampai mati!"

​Siang harinya, di sebuah restoran VVIP bergaya klasik Eropa yang disewa secara tertutup.

​Anton duduk santai di salah satu sofa kulit merah, mengaduk pelan secangkir teh earl grey.

Tidak ada pengawal di sekelilingnya, hanya aura ketenangan absolut yang memancar dari postur tubuhnya.

​Pintu ganda ruangan itu terbuka. Victor Vance melangkah masuk dengan wajah dingin dan angkuh, diikuti oleh Clara di belakangnya.

​Clara menundukkan pandangannya saat melihat Anton. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu persis monster seperti apa yang sedang dihadapi pamannya ini, namun ia tidak berani memperingatkan Victor lebih jauh.

​Victor duduk di seberang Anton, menatap pemuda itu dengan sorot mata membunuh.

​"Kau punya nyali juga datang sendirian, Nak," desis Victor membuka percakapan. "Tapi nyali saja tidak cukup untuk melawan Titanium Group."

​Anton menyesap tehnya dengan anggun. "Nyali? Saya pikir ini hanya undangan makan siang biasa setelah Anda mengirimkan badut-badut bersenjata ke halaman saya semalam."

​Urat di dahi Victor menonjol. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Dengarkan aku baik-baik. Pagi ini, Kementerian telah menangguhkan izin impor komponen pabrikmu atas permintaanku. Proyek Baterai Quantum mu itu akan mangkrak dan membusuk menjadi besi tua."

​Victor melemparkan sebuah dokumen tebal ke atas meja.

"Serahkan 80% hak paten Baterai Quantum itu kepada Titanium Group. Sebagai gantinya, aku akan membiarkanmu tetap hidup dan menikmati sisa 20% keuntungan. Jika kau menolak, besok pagi seluruh asetmu akan disita negara atas tuduhan monopoli ilegal yang sudah aku siapkan."

​Anton tidak melirik dokumen itu sama sekali. Ia justru tertawa kecil. Tawa yang sangat meremehkan.

​"Tuan Victor," ucap Anton meletakkan cangkir tehnya. "Anda berasumsi bahwa saya membutuhkan izin dari politisi korup untuk menguasai dunia."

​Anton melirik jam tangannya, lalu tersenyum miring.

"Waktunya pas. Coba Anda nyalakan televisi di belakang Anda."

​Victor mengerutkan kening, memberi isyarat pada Clara untuk menyalakan televisi layar datar di ruangan itu.

​Layar menyala, menampilkan siaran langsung berita ekonomi global dari jaringan Bloomberg dan CNBC.

​"Breaking News: Pasar saham global hari ini terguncang hebat. Sebuah perusahaan teknologi asal Asia, Star Technology, baru saja melakukan konferensi pers global secara virtual."

​Layar beralih menampilkan wajah Siska yang berdiri dengan penuh percaya diri di depan sebuah reaktor transparan yang memancarkan cahaya biru terang.

​"Kami telah berhasil memproduksi purwarupa Baterai Quantum Generasi 1 secara penuh," suara Siska terdengar lantang dan jelas di televisi. "Baterai ini mampu memberi daya pada sebuah kota kecil hanya dengan satu unit berukuran lemari, tanpa emisi, dan tanpa menggunakan setetes pun bahan bakar fosil."

​Wajah Victor mulai memucat. "A-apa? Bagaimana mungkin mereka sudah memproduksi purwarupanya?! Pabriknya saja belum selesai dibangun!"

​Anton tersenyum dingin. "Pabrik lima puluh hektar itu untuk produksi massal global. Untuk purwarupa? Kapasitas pabrik Star Core 1 milik saya sudah lebih dari cukup untuk merakitnya dalam semalam."

​Namun, kejutan Anton belum selesai.

Pembawa acara berita di televisi kembali berbicara dengan nada panik.

​"Dampak dari pengumuman ini memicu aksi jual masif di sektor energi! Harga minyak mentah dunia anjlok 15% dalam satu jam terakhir! Dan yang terburuk, data internal dari raksasa energi Titanium Group baru saja dibocorkan oleh peretas anonim!"

​Mata Victor kini terbelalak hingga nyaris keluar dari kelopaknya. "Data... data apa?!"

​"Dokumen tersebut mengungkap bahwa Titanium Group memalsukan laporan cadangan tambang mereka selama sepuluh tahun terakhir dan memiliki hutang tersembunyi senilai ratusan triliun rupiah. Saham Titanium Group saat ini free fall terjun bebas hingga 60% dan bursa efek terpaksa menghentikan perdagangan saham mereka!"

​Anton menatap Victor dengan mata yang seolah menyala karena sistem Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 2 yang ia gunakan untuk meretas server utama Titanium Group semalam.

​"Anda ingin menggunakan politik untuk mencekik saya, Tuan Victor?" bisik Anton dengan nada mematikan. "Sementara Anda sibuk menyogok menteri lokal, saya menghancurkan nilai perusahaan Anda di tingkat global. Anda baru saja kehilangan ratusan triliun hanya dalam waktu lima menit."

​Victor Vance memegangi dadanya. Nafasnya tersengal. Wajah arogannya kini berubah menjadi topeng keputusasaan dan rasa sakit yang luar biasa.

"Kau... kau iblis..." rintih Victor sebelum akhirnya ambruk dari kursinya, terkena serangan jantung mendadak akibat syok finansial yang maha dahsyat.

​Clara, yang berdiri di belakang, tidak bergegas menolong pamannya. Ia hanya menatap tubuh Victor yang kejang-kejang di lantai, lalu perlahan memindahkan pandangannya ke arah Anton.

​Mata Clara bergetar, memancarkan campuran antara kengerian yang absolut dan pemujaan yang mendalam.

​Pemuda di depannya ini tidak hanya mengalahkan Titanium Group; ia menghapusnya dari peta kekuatan ekonomi dunia semudah menjentikkan jari.

​Anton berdiri, merapikan jasnya, lalu berjalan mendekati Clara.

Ia berhenti sejenak, menyentuh pelan bahu wanita itu.

​"Siapkan dokumen akuisisi. Begitu pamanmu siuman di rumah sakit, paksa dia menandatangani penyerahan seluruh aset Titanium Group di negara ini kepadaku," perintah Anton dengan nada lembut namun tak terbantahkan.

​Clara menunduk, wajahnya merona merah. "B-baik, Anton... akan kulaksanakan sesuai keinginanmu."

​Anton berjalan keluar dari ruang VVIP tersebut, meninggalkan runtuhnya era bahan bakar fosil di belakangnya, dan menyambut fajar era Quantum yang akan ia kuasai sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!