NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sinar mentari pagi terasa jauh lebih hangat dari biasanya di kediaman keluarga Herman. Di ruang makan mewah yang berlantaikan marmer, suasana sarapan pagi ini diwarnai oleh gelak tawa dan senyuman yang tak pernah pudar dari wajah Clara.

​Gadis itu duduk tepat di sebelah Bima, bukan lagi di seberang meja seperti hari-hari sebelumnya. Clara mengenakan blazer elegan berwarna peach muda yang dipadukan dengan kemeja putih sutra, menandakan bahwa ia siap untuk kembali ke rutinitas lamanya sebelum jatuh sakit: kuliah di tahun terakhirnya di Universitas Nusantara Emas, kampus paling prestisius di ibukota.

​"Buka mulutmu, Bima. Aaa..."

​Clara menyodorkan sepotong sosis panggang yang sudah ia potong rapi menggunakan garpunya ke depan mulut Bima. Gadis itu menopang dagu dengan tangan kirinya, menatap tunangannya dengan mata berbinar-binar.

​Bima yang mengenakan kemeja kasual berwarna biru tua tampak sedikit canggung. Ia melirik ke arah ujung meja, di mana Pak Herman sedang membaca koran bisnis pagi namun sesekali mencuri pandang ke arah mereka sambil tersenyum geli.

​"Clara, saya punya tangan sendiri, dan sumpit ini bekerja dengan sangat baik," tolak Bima halus, telinganya sedikit memerah.

​"Tidak mau! Kamu berjanji semalam untuk tidak menolak permintaanku lagi," rajuk Clara sambil memajukan bibirnya. "Ayo cepat, nanti tanganku pegal."

​Menghela nafas pasrah, Bima akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Clara. Sorak kemenangan kecil langsung terdengar dari bibir gadis itu. Pak Herman yang melihat interaksi itu akhirnya tertawa lepas, menurunkan korannya.

​"Sudahlah, Nak Bima. Biasakan saja dirimu. Clara memang sangat keras kepala kalau sudah menginginkan sesuatu," goda Pak Herman. Sang miliarder lalu berdiri dan merapikan jasnya. "Aku harus ke kantor untuk mengurus pengalihan aset Tuan Surya yang perusahaannya sedang hancur lebur hari ini. Bima, tolong jaga putriku di kampus. Berita perjodohan kalian di pesta semalam belum sepenuhnya tersebar ke kalangan mahasiswa awam, mungkin akan ada sedikit... 'gangguan'."

​"Anda tidak perlu khawatir, Pak Herman. Clara ada di bawah perlindungan mutlak saya," jawab Bima dengan nada yang kembali tenang dan penuh wibawa.

​Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sedan Maybach hitam mengkilap memasuki gerbang Universitas Nusantara Emas. Kampus ini adalah tempat berkumpulnya para pewaris konglomerat, anak pejabat, dan para jenius dari seluruh negeri.

​Saat mobil mewah itu berhenti di depan lobi fakultas bisnis, puluhan pasang mata mahasiswa langsung tertuju ke sana.

​Pintu pengemudi terbuka lebih dulu, dan seorang pengawal keluarga Herman bergegas membukakan pintu belakang. Bima melangkah keluar terlebih dahulu. Posturnya yang tegap, bahunya yang bidang, dan ketampanan alaminya yang memancarkan aura maskulin nan dingin seketika membuat para mahasiswi di sekitar lobi menahan napas.

​"Wah, siapa pria itu? Apa dia mahasiswa transfer baru?"

​"Tampan sekali! Auranya seperti seorang tuan muda dari keluarga bangsawan!"

​Bisik-bisik kekaguman itu mendadak henti ketika Bima mengulurkan tangannya ke dalam mobil. Sesosok gadis cantik bak bidadari menyambut uluran tangan itu dan melangkah keluar.

​Itu Clara Herman. Si Bunga Es kampus yang telah mengambil cuti panjang karena penyakit misterius, kini kembali dengan kecantikan yang jauh lebih memukau. Yang membuat seluruh kampus gempar adalah, Clara langsung melingkarkan lengannya dengan sangat mesra ke lengan pria tampan tersebut.

​"Kita ke kelasku sekarang, Bima," ucap Clara dengan senyum manis yang mengabaikan tatapan semua orang.

​Baru saja mereka melangkah beberapa meter menuju lorong utama, sebuah suara angkuh memecah kerumunan.

​"Clara! Sayangku! Kau akhirnya kembali!"

​Seorang pemuda berpakaian mencolok dengan setelan jas bermerek dari ujung kepala hingga ujung kaki berjalan menghampiri mereka. Ia membawa sebuket besar mawar merah murni. Pemuda itu adalah Kevin Wijaya, putra tunggal dari taipan real estat terbesar kedua di ibukota. Kevin sudah mengejar-ngejar Clara sejak semester pertama dan selalu menganggap dirinya sebagai satu-satunya pria yang pantas bersanding dengan pewaris keluarga Herman.

​"Minggir, Kevin. Kau menghalangi jalanku," desis Clara, nada suaranya berubah seketika menjadi dingin dan bermusuhan, sangat bertolak belakang saat ia berbicara dengan Bima.

​Kevin menghentikan langkahnya tepat di depan mereka. Matanya menatap sinis ke arah lengan Clara yang bertaut erat pada Bima. Urat kekesalan muncul di dahinya. Ia telah mendengar rumor samar dari ayahnya tentang pesta semalam, namun egonya menolak percaya bahwa Clara dijodohkan dengan pemuda antah berantah.

​"Clara, jangan bercanda. Kudengar dari ayahku kalau Paman Herman menjodohkanmu dengan... tabib kampungan ini?" Kevin tertawa meremehkan, menatap Bima dari atas ke bawah. "Pasti ini hanya trik Paman Herman untuk melindungimu dari Tuan Surya semalam, kan? Dengar, putuskan saja pertunangan palsu ini. Keluargaku jauh lebih berkuasa sekarang!"

​Kevin membuang buket mawarnya ke tanah dan tiba-tiba mengulurkan tangannya, berniat menarik lengan Clara secara paksa. "Ayo ikut denganku, kita bicarakan ini berdua..."

​Grep.

​Bahkan sebelum jari Kevin berhasil menyentuh kain blazer Clara, sebuah tangan kokoh telah mencengkeram pergelangan tangannya. Kecepatannya begitu tidak wajar hingga tidak ada satu pun orang di lobi itu yang melihat Bima bergerak.

​"Jika kau tuli, aku akan mengulanginya perlahan," suara Bima terdengar sangat datar, namun udara di sekitarnya mendadak turun beberapa derajat. "Tunanganku menyuruhmu untuk minggir."

​Kevin meringis kesakitan. Cengkeraman Bima terasa seperti jepitan hidrolik yang perlahan meremukkan tulangnya.

​"B-bajingan! Lepaskan tanganku! Pengawal! Hajar dia!" teriak Kevin panik.

​Empat orang bodyguard bertubuh kekar berjas hitam yang berdiri di belakang Kevin langsung merangsek maju untuk menyerang Bima.

​Bima hanya mendengus dingin. Ia tidak melepaskan genggamannya pada lengan Clara. Sebaliknya, Bima hanya menghentakkan ujung sepatu kanannya ke lantai marmer dengan sangat pelan.

​Tap.

​Sebuah gelombang Tenaga Dalam yang tak kasat mata menyapu udara. Gelombang itu sangat terkendali, hanya menargetkan titik saraf motorik di kaki keempat pengawal tersebut.

​Bruk! Bruk! Bruk! Bruk!

​Tanpa ada sentuhan fisik sama sekali, keempat pengawal berbadan besar itu mendadak jatuh berlutut secara serentak di depan Bima. Kaki mereka gemetar hebat, seolah ditimpa beban seberat puluhan ton yang tidak terlihat. Keringat dingin mengucur deras dari dahi mereka yang menunduk ketakutan.

​Seluruh lobi kampus seketika hening. Mulut para mahasiswa menganga lebar tak percaya. Apa yang baru saja terjadi?! Pria itu bahkan tidak mengangkat tangannya, namun empat pengawal elit langsung berlutut tak berdaya!

​Bima menatap Kevin yang kini pucat pasi bagaikan mayat hidup. Bima menghempaskan pergelangan tangan Kevin dengan kasar hingga pemuda sombong itu terhuyung mundur dan jatuh terduduk di sebelah buket bunganya yang hancur.

​"Jangan pernah berani menyebut namanya dengan mulut kotor itu lagi," ancam Bima dengan kilatan mata setajam silet.

​Bima menoleh ke arah Clara, dan seketika pandangannya melembut. "Mari kita lanjutkan, Clara."

​Clara mengangguk dengan wajah merona merah. Hatinya berbunga-bunga melihat sang tunangan membelanya dengan cara yang begitu memukau dan dominan. Keduanya melangkah melewati tubuh Kevin yang bergetar ketakutan, meninggalkan kerumunan mahasiswa yang perlahan meledak dalam bisik-bisik histeris.

​Tanpa disadari oleh Bima maupun Clara, di lantai dua gedung lobi tersebut, sepasang mata menatap lurus ke arah Bima dari balik bayangan pilar.

​Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja dosen memegang sebuah kacamata di tangannya. Di bagian belakang leher pria itu, tersembunyi di balik kerahnya, terdapat tato kecil berbentuk ular hitam yang melingkari sebuah jarum.

​"Luar biasa..." gumam pria itu dengan suara serak. Matanya memancarkan keserakahan yang buas. "Pengendalian Ki yang disalurkan melalui pijakan kaki. Akurasinya menekan titik meridian dari jarak jauh tanpa menyentuh fisik... Ini bukan ilmu bela diri biasa. Ini pasti teknik rahasia dari sisa-sisa sekte kuno."

​Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan dengan cepat.

​[Target telah dikonfirmasi. Pemuda bernama Bima ini adalah orang yang menggunakan jarum perak dan menetralkan racun Bunga Kematian Ungu di pesta semalam. Kekuatan Tenaga Dalamnya sangat murni. Asosiasi Medis Gelap harus segera mengambil tindakan sebelum dia menjadi ancaman bagi rencana bisnis farmasi bawah tanah kita.]

​Pria itu menyeringai, menatap punggung Bima yang perlahan menjauh menghilang di belokan lorong. "Nikmatilah masa mudamu selagi bisa, Tuan Bima."

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!