Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Tak Diundang
Genggaman tangan Kian dan Maya yang hangat mendadak terasa dingin ketika suara denting langkah sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer restoran. Suara itu tajam, memutus keheningan emosional yang baru saja tercipta di antara mereka.
"Kian? Oh my God, benar kamu!"
Seorang wanita tampil dengan gaun malam berpotongan elegan berwarna merah menyala. Riasan wajahnya sempurna, dengan tas desainer mahal yang tergantung manja di lengannya. Ia adalah Hani. Tanpa memedulikan Maya yang duduk di seberang Kian, Hani langsung menghampiri Kian dan setengah memeluk bahunya dari belakang, menghembuskan aroma parfum mahal yang merebak kuat.
"Aku cari-cari kamu dari tadi, tahu! Tante Rosa—ibu kamu—yang bilang kalau kamu lagi makan malam di daerah sini," ujar Hani dengan nada manja yang dibuat-buat, kedua matanya berbinar sengaja mencari perhatian penuh dari Kian.
Kian menarik badannya perlahan, melepas genggaman tangannya dari Maya dengan kaku. Ekpresinya yang tadi hangat dan penuh ketulusan mendadak kembali membeku. "Hani? Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Hani terkekeh kencang, lalu mengibaskan rambutnya. Ia melirik Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan, seolah Maya hanyalah benda mati yang salah tempat di restoran mewah itu.
"Ya ampun, Kian... kamu lupa? Perusahaan ayahku, Pratama Group, kan baru saja merampungkan pendanaan besar untuk startup kamu minggu lalu. Ayah dan Tante Rosa bahkan sudah merencanakan makan malam keluarga besar minggu depan!" Hani menyenggol lengan Kian dengan akrab. "Tante Rosa bilang, kamu akhir-akhir ini sibuk banget. Jadi aku yang disuruh samperin kamu. Katanya, aku harus jaga calon pimpinan Pratama Group ini baik-baik."
Maya menahan napasnya. Nama Pratama Group bukan nama asing. Hani adalah putri tunggal dari konglomerat paling berpengaruh di industri teknologi dan media. Keluarga Hani bukan hanya sekadar kaya raya, tetapi juga pemilik saham mayoritas yang memegang kendali atas kelangsungan hidup perusahaan Kian. Lebih dari itu, Hani adalah wanita pilihan ibu Kian—sosok ideal dengan status sosial tinggi yang selalu dibanggakan di setiap acara kelas atas.
Maya merasakan dadanya berdenyut nyeri. Senyum manis yang tadi terukir di bibirnya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa canggung yang menusuk tajam.
"Hani, stop. Aku sedang ada urusan penting," potong Kian dingin, mencoba menjaga jarak.
"Urusan penting?" Hani menaikkan satu alisnya, lalu kembali memandang Maya dengan senyum tipis yang merendahkan. "Sama... siapa ini? Baby-sitter kamu? Atau konsultan komunikasi murah yang sering Tante Rosa ceritakan itu?"
"Hani!" suara Kian meninggi, tegas dan penuh peringatan.
Namun, kalimat itu sudah telanjur terucap dan berhasil menembus jantung Maya. Maya bisa merasakan matanya memanas, namun ia berusaha setengah mati untuk menahan air mata yang mendesak keluar. Ia sadar betul posisi dan latar belakangnya. Ia hanyalah seorang guru Bahasa dan Sastra SMA biasa, tanpa relasi bisnis mahal, tanpa gaun desainer, dan tanpa restu dari seorang ibu yang memimpikan menantu berdarah konglomerat.
"Maaf, Kian... sepertinya kelas dan sesi diskusi kita untuk malam ini memang sudah selesai," bisik Maya pelan. Suaranya bergetar, namun ia berusaha tetap mempertahankan martabatnya.
Maya berdiri, merapikan tas kain sederhananya, lalu mengangguk sopan ke arah Hani dan Kian.
"Maya, tunggu! Jangan pergi, ini tidak seperti yang kamu bayangkan," Kian ikut berdiri, hendak meraih tangan Maya kembali, mengabaikan Hani yang menatapnya kaget.
Tetapi Maya melangkah mundur, menolak sentuhan itu. Matanya berbinar basah saat menatap Kian untuk terakhir kalinya malam itu.
"Satu poin sempurna tadi... adalah untuk kemajuan interaksimu, Kian," ucap Maya dengan senyum getir yang sangat emosional. "Tapi malam ini, latar belakang kita mengingatkan saya... bahwa di luar ruang kelas kecil kita, dunia nyatamu jauh berbeda."
"Maya!" Kian mencoba mengejar, namun Hani dengan cepat sengaja menahan lengan Kian erat-erat sambil berpura-pura mengaduh.
"Kian! Kaki aku terkilir, aduh! Lagipula kenapa sih kamu harus ngejar guru itu? Tante Rosa bisa marah besar kalau tahu kamu memperlakukan aku begini demi wanita yang nggak selevel sama kita!"
Langkah Kian terhenti. Ia menyaksikan punggung Maya yang perlahan menghilang di balik pintu kaca restoran, menembus derasnya hujan yang mulai turun di luar. Di satu sisi ada beban perusahaan, tekanan dari ibunya, dan pengaruh raksasa keluarga Hani; di sisi lain, ada hati jujur seorang wanita sederhana yang baru saja berhasil membuka pintu matanya. Malam yang tadinya penuh kehangatan, kini menyisakan kehampaan mendalam dan luka yang menganga.