Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 6
"Ugh... Deon, sakit!" Rain spontan mengangkat tangannya ingin menyentuh leher yang digigit Deon, tapi segera membeku ketika merasakan jilatan ringan di tempat yang baru saja Deon gigit.
"Ini geli..." Rain merasakan sensasi aneh dari tempat itu.
Ada rasa sakit namun lebih didominasi oleh perasaan geli yang tidak tertahankan. Membuat Rain secara naluriah mengangkat kepalanya, meminta Deon menyentuh lagi. Tapi ini hanya sesaat karena setelah itu ia kembali tersadar dan langsung menurunkan kepalanya tidak mengizinkan Deon mengulangi hal yang sama.
Deon tersenyum puas, ia menjilat bibirnya ketagihan ketika melihat mahakarya yang ia ciptakan di kulit leher Rain yang putih dan ramping.
Warna merah bekas gigitannya terlihat sangat mencolok di atas kulit putih Rain.
Ini adalah pemandangan yang sangat indah dan sarat akan godaan.
"Kamu sangat indah..." Bisik Deon seraya mengangkat kepalanya perlahan kembali menatap wajah merah nan basah Rain.
"Deon..." Panggil Rain takut-takut seraya menempelkan tubuhnya di sisi pintu.
Tangannya yang tersembunyi meraih gagang pintu dan menggerakkannya beberapa kali berharap pintu itu tidak terkunci lagi.
"Kamu tidak bisa melarikan diri." Bisik Deon seraya merendahkan kepalanya ke depan wajah Rain.
"Tidak bisa," Bisik Deon dengan suara seraknya.
"Kamu tidak bisa melarikan diri dariku." Katanya posesif.
Membawa Rain lebih dekat lagi dengannya seolah takut kehilangan.
Deon tertawa kecil,"Jangan terus menggoda ku, Rain."
Mendengar namanya yang disebut dan bukan nama Almira, kedua mata Rain sontak membola sangat terkejut.
"Deon, apa yang baru saja- emph!" Deon langsung melahap benda merah itu.
********** dengan candu dan haus seolah-olah bibir Rain adalah sebuah penawar untuk gejolak panas yang ia rasakan malam ini.
Lutut Rain sepenuhnya menjadi lemas. Ia tidak bisa menopang tubuhnya lagi tapi tidak terjatuh karena tangan kuat Deon telah mengambil alih pinggang Rain sepenuhnya.
Membiarkan tubuh Rain menempel sepenuhnya kepada Deon tanpa bisa melawan.
Ia benar-benar lengah, terjerat dengan semua yang Deon lakukan kepadanya tanpa bisa menolak karena jujur, Rain perlahan menikmati semua yang ia rasakan malam ini.
Tidak tahan, ia kemudian mengangkat Rain ke kasur. Membaringkannya dengan hati-hati sebelum mulai kembali melanjutkan santapannya.
Malam ini, mereka benar-benar mabuk dalam sebuah hasrat terlarang. Memadu kasih untuk berbagi kasih dengan lembut dan menggairahkan seolah ini bukanlah sebuah mimpi buruk melainkan mimpi indah yang tiada habisnya.
Benar, apakah ini benar-benar mimpi indah?
...🌼🌼🌼...
Pagi harinya mereka masih tertidur dalam pelukan hangat satu sama lain setelah menyelesaikan malam panas yang mungkin lebih tepat disebut sebagai 'kecelakaan'.
Entah berapa lama mereka melakukannya namun yang pasti mereka telah menguras banyak tenaga sehingga tidak menyadari jika sudah ada orang lain di dalam kamar ini.
Orang yang tidak ada diundang itu adalah seorang gadis cantik dengan dress selutut berwarna biru laut. Dia tampak cantik namun saat yang bersamaan tampak imut dengan pakaiannya ini.
"Arghh...Mama, Papa! Liat nih kelakuan Kak Deon!" Suara teriakan gadis itu sontak membangunkan Deon dan Rain yang masih sangat mengantuk.
"Ada apa, Nak. Pagi-pagi kok udah teriak- Ya Tuhan!" Sama seperti gadis itu, Mama sangat shock melihat Deon dan Rain sedang berpelukan di atas ranjang dengan intimnya- tidak, hal yang paling menarik adalah keberadaan pakaian Deon dan Rain yang berserakan di sana-sini seperti telah melewati malam panas yang menggairahkan.
"Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" Kepala Mama tiba-tiba pusing melihat kekacauan di kamar Deon, putranya.
"Ugh, Mama sama Sila ngapain di kamarku?" Deon adalah orang pertama yang berhasil melepaskan diri dari kantuknya.
"Apa-apaan ini, Deon! Apa yang telah kamu dan Rain lakukan tadi malam?" Teriak Mama penuh penekanan dengan rasa amarah.
"Rain? Tadi malam...tadi malam..." Kepalanya langsung berdengung ketika melihat pakaian yang ia gunakan semalam telah terlempar di sana-sini. Bahkan, tidak hanya pakaiannya saja namun juga pakaian yang bukan miliknya juga ikut tercampur.
Lalu, ingatan akan aktifitas menggairahkan semalam mulai berkelebat di dalam kepalanya. Membuat wajah Deon langsung berubah menjadi pucat pasi ketakutan.
"Rain?" Panggilnya dengan pandangan linglung ketika melihat orang yang masih berjuang dalam rasa kantuk di sampingnya adalah Rain- ini adalah Rain! Kakak dari kekasihnya sendiri.
sok polos...
masih penasaran 💪❤️