Reynand Adam merupakan Adik kelas dari Naura Jovanka. Mereka terlibat cinta, namun Jovanka dijodohkan dengan laki-laki lain dan Rey meneruskan sekolah di sekolah penerbangan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pilot. Akankah cita-cita Rey menjadi seorang pilot terlaksana? dan bagaimana ceritanya Rey sampai menikahi seorang Janda?
Ikuti kisahnya dan jangan lupa LIKE/KOMEN/VOTE cerita Gue, ya? Itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis.
Hatur Nuhun,
Boezank Jr. (Darren_Naveen)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 ( Guru Les )
Dada Jo semakin bergetar, ketika melihat sepasang bola mata sang guru yang seperti hendak keluar. Wajah guru killer semakin memerah ketika melihat Jovanka.
“Ibu cari di toilet, ternyata Kamu di sini!” Wajah ibu guru semakin merah menyala, ketika melihat anak didiknya malah sedang asyik menonton pertandingan basket untuk memperebutkan gelar sebagai kapten basket.
Jo hanya tersenyum. Ia tidak mempunyai alasan karena sudah terlanjur ketahuan.
“Maaf, Bu.” Hanya ucapan itulah yang keluar dari bibir Jovanka.
“Ibu akan menghukum kamu! Setelah pulang sekolah, Kamu bersih-bersih di Ruang Guru!” ucap si ibu dengan wajah yang menyeramkan.
“I - iya, Bu,” ucap Jo terbata.
Ibu guru masuk dalam kelas. Begitu pun dengan Jovanka yang mengekor di belakangnya. Pelajaran pun di teruskan.
.
Dari kaca jendela kelas. Jo melihat ke lapangan, di sana terlihat Rey yang sedang kepanasan. Keringat yang mengucur dan wajah yang memerah seperti tomat.
“Lu, suka sama Rey?” tanya Salsa yang duduk sebangku dengan Jovanka.
“Entah,” ucapnya lirih.
“Gila, Lu! kalau sampai suka sama Dia.”
“Kenapa?”
“Gak romantis. Mending Tristan kemana-mana,” ucap Salsa sambil memalingkan muka.
“Lu gak tau, Tristan itu seperti apa.” Jovanka merunduk.
Netra Jo berkaca-kaca. Ia teringat kejadian di malam itu. Dalam kamar hotel, Tristan hampir saja menodainya. Air bening yang ada di sudut matanya kini jatuh juga, tak tertahan.
“Jo, Lu kenapa? Tristan emang kenapa?” tanya Salsa. Heran.
“Nanti Gue cerita. Sehabis pulang sekolah, Gue kena hukum Bu killer suruh bersih-bersih ruang guru.”
“Kok bisa? Kenapa?” Tatapan Salsa penuh tanya.
“Gara-gara tadi ketahuan berbohong, Gue bukan ke toilet, tapi lagi nonton basket si Rey.”
Salsa menahan tawa yang hampir saja pecah dalam kelas.
***
Bel sekolah berbunyi, tertanda berakhirnya aktivitas di sekolah. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar dari dalam pintu kelas.
Wajah riang yang menghiasi rona mereka setelah pelajaran sekolah berakhir. Hanya Jo yang terlihat lesu, karena ia harus membereskan ruang guru.
“Jo! balik duluan, ya?” Salsa berucap.
Jo mengangguk.
Semenjak kejadian di hotel tentang Tristan. Hubungan persahabatan mereka pecah menjadi dua. Fanya dengan Frisca dan Jo dengan Salsa.
Salsa berjalan dalam koridor sekolah menuju parkiran. Ketika ia hendak membuka handle pintu mobil, ia melihat Reynand sedang berjalan bersama Vicky.
“Rey!” Salsa melambaikan tangan dan menghampiri Rey.
“Paan?” Rey menaikkan alis.
“Kasian tuh si Jo. Dihukum gara-gara, Lu!”
“Gara-gara Gue? Emang kenapa?” tanya Rey heran.
“Jo ijin ke toilet, tapi malah melihat Lu lagi main basket ketika jam guru killer sedang berlangsung.” Ucap Salsa menjelaskan.
“Lahh ... Salah Gue dari mananya?” Mata Rey menyipit.
Di tengah perdebatan mereka, ada Vicky yang seolah menjadi obat nyamuk di antara sengitnya perdebatan Salsa dan Rey.
“Ada Gue di sini, oy!” Ucap Vicky sembari menunjukkan telunjuk ke wajahnya sendiri.
“DIAM LO!” Rey dan Salsa berucap.
“Terus, Gue harus ngapain di sini?” tanya Vicky sambil menggaruk kepala.
“PULANG, SANA LO!” ucap Rey dan Salsa dengan nada sengit dan telunjuk yang menunjuk ke pintu gerbang sekolah.
“Yodah!” Vicky berlalu pergi.
Hening.
Tidak ada ucapan dari Rey dan Salsa. Semua diam seolah mulut mereka terkunci.
“Rey ....” ucap Salsa memecah keheningan.
Reynand menoleh setelah kejadian perdebatan tadi yang mengakhiri dengan hening dan saling memalingkan muka.
“Paan?” ucap Reynand.
“Menurut Gue, Jo itu sayang sama, Lu. Gue bisa melihat hal itu,” ucap Salsa dengan suara berat.
"Jangan sotoy, Lu!"
"Suer!" Salsa mengangkat dua jarinya.
“Lu tau dari mana?” Mata Reynand mendelik.
“Dari sorot matanya, ketika Jo diam-diam perhatiin, Lu. Makanya, jadi cowok tuh peka dong!” Timpal Salsa.
Hening.
“Ya udah, Lu samperin Dia gih! Kasihan suruh beres-beres sendirian di Ruang Guru.” Salsa berlalu pergi.
Setelah Salsa berlalu dengan mobilnya. Rey melangkahkan kaki ke ruang guru.
Rey melihat dari jarak yang cukup jauh agar Jo tidak melihatnya. Jo sedang berbenah, sampai guru-guru keluar ruangan. Jo masih belum selesai membersihkan ruangan.
Tinggallah Jo sendirian dalam ruangan. Rey mendekat dan masuk dalam ruang guru.
“Rey?” ucap Jovanka heran.
“Gue bantu, ya?”
“Gak usah, nanti ibu killer ke sini. Gue bisa tambah hukuman, Rey.” Elaknya.
“Tenang, tadi Gue liat Mereka udah pulang kok, santai.” Rey mengambil alih gagang lap pel yang ada di tangan Jo.
“Lu duduk dulu. Biar Gue yang nerusin.”
“Tapi, ini masih banyak.”
“Gak papa, Lu juga udah capek kan?” Rey menatap wajah Jo yang kelelahan.
Rey mendekat.
Jo menatap dengan penuh prasangka yang hinggap pada pikirannya. ‘Jangan-jangan, Rey mau macem-macem lagi sama Gue.’ Hatinya berucap.
Dengan debar yang semakin kencang, ketika Rey menghampiri dan mendekat. Bahkan, sangat dekat sekali. Rey mengusap kening Jo yang berkeringat dengan sweater panjangnya.
Netra Rey dan Jo berpandangan. Hati Jo seakan melayang ketika Rey berada di depannya dan mengusap keringat yang ada pada keningnya.
Rey tersenyum.
Jovanka semakin melayang ketika melihat senyuman manis pada bibir Rey di depannya.
“Udah, Gue lanjut ngepel, ya?”
Jo mengangguk.
Rey kembali mengepel lantai. Tak terlihat canggung sama sekali ketika Rey sedang mengepel lantai. Jo memperhatikan Rey, yang cekatan membersihkan lantai.
Sekitar lima belas menit berlalu. Akhirnya semua ruang guru sudah bersih dan rapi berkat Reynand.
“Makasih ya, Rey.” Giliran Jo yang mengusap keringat di kening Reynand menggunakan tisu.
Netra mereka saling bertatap di satu titik. Rey mendekatkan wajahnya pada pipi Jovanka. Jo semakin berdebar dengan keadaan itu. Netra Jo terpejam ketika lengan Rey hendak mengarahkan ke pipinya.
“Ada laba-laba,” ucap Rey sambil mengambil laba-laba kecil di pundak Jovanka.
Mata Jo terbelalak, pipinya memerah seperti tomat. Jo tersenyum.
“Ya udah. Balik yuk, Rey!” Ajak Jovanka.
***
Jo hendak mengantarkan Rey ke kost-nya dengan menggunakan mobil. Diam-diam, Jo mencuri pandang ketika Rey memainkan gawai dalam genggamannya.
Keadaan hening. Tak ada percakapan dalam mobil. Rey hanya memainkan gawai seraya bersender di kursi mobil.
“Awas, Jo! ada kucing!” Teriak Rey.
Seketika, mobil langsung di rem. Rey melihat rona wajah Jovanka yang begitu syok ketika hampir menabrak seekor kucing.
Duh ... Ceroboh banget sih Gue! Pekik dalam hati Jovanka.
“Jo,” ucap Reynand
Jo membisu.
“Jo ....”
Masih membisu.
“Jovanka! Lu gak papa, kan?”
Seketika Jovanka terperanjat mendengar suara Rey menyebut namanya dengan agak kencang.
“Enggak. Gue gak papa.” Ucapnya menepis.
“Udah. Sini, Gue yang bawa.”
“Emang Lu bisa nyetir mobil?” tanya Jo heran.
“Bisa.”
Pandangan Jo meragukan ucapan Reynand. ‘Masa sih bisa bawa mobil? Motor aja ni anak gak punya.’ Gumam dalam hatinya.
Mereka merubah posisi duduk. Kendali mengemudi sekarang berada pada Reynand.
Jo tidak menyangka, ternyata Reynand bisa mengemudikan mobilnya dengan mahir.
“Loh, ini kan arah rumah Gue.” Jovanka berucap.
“Iya, Gue takut Lu kurang konsen. Jadi, Gue aja yang anterin Lu balik.” Pungkas Rey.
“Lah ... terus, Lu pulangnya gimana?”
“Masih banyak angkot. Kan masih siang, santai.” Rey memarkirkan mobil Jo di samping pintu gerbang.
Rey turun dari mobil.
“Gue balik, ya?” ucap Rey kepada Jovanka.
Jo tersenyum.
Rey melangkahkan kaki dari rumah Jovanka.
“Rey! Tunggu!” Jo berlari menghampiri Rey yang telah jauh dari pandangannya.
Rey menoleh dan membalikkan tubuhnya. Melihat Jo yang sedikit berlari.
“Makasih, ya?” ucap Jo dengan napas terengah-engah.
“Oke! Yaudah. Pulang gih, Gue juga mau balik. Awas, jangan sampai kena marah lagi sama Ibu guru killer, ya?” Rey tersenyum.
***
Rey kembali berjalan menyusuri kompleks perumahan menuju jalan besar, biasanya angkot mengetem di sana. Ia merogoh saku celana seragam sekolahnya.
“Yahh ... Tinggal dua ratus ribu. Makin menipis aja keuangan Gue!” ucapnya pelan.
Rey melihat ada tante Emi dan anaknya, Nourma. Di ujung jalan sana terlihat ada keributan kecil antara ibu dan putri kecilnya yang akan beranjak ABG.
Rey mendekat.
“Pokoknya, Aku gak mau les di sini, Ma!”
“Terus mau les di mana lagi, Nourma? Mama udah bingung. On line juga Kamu gak mau.”
Perdebatan antara ibu dan anak, membuat Rey bertanya.
“Tante Emi,” sapa Reynand.
“Rey? Ngapain di sini?” Tanya Tante Emi.
“Tadi ada perlu sama Jo.” Rey beralasan.
“Maaf, Kalian kenapa? Kok terdengar seperti ada keributan?” sambungnya.
“Tuh! Mama mau masukan Aku les di situ,” ucap Nourma mengadu sambil menunjuk tempat les.
“Lohh ... kenapa Nourma gak mau?” tanya Rey lembut menghadapi gadis kecil yang akan beranjak ABG ini.
“Males, Om! Aku gak suka terlalu banyak orang! Aku lebih suka belajar di rumah!” pekik Nourma.
Postur badan Rey yang jangkung membuat Nourma menyebutnya dengan panggilan om.
Omegot! Gue dipanggil Om? Pekik dalam hati Rey.
Hening.
“Ya udah, Om aja yang ajarin les Nourma, ya? Mau kan Om?” Nourma memegang lengan Rey dan menggoyangkannya seperti anak kecil yang sedang minta permen.
“Tapi ....” kalimatnya terputus.
“Ma, Aku mau Om ini yang kasih les Aku.” Rengek Nourma kepada mamanya.
Akhirnya tante Emi menarik lengan Reynand menjauh dari putrinya. Ia meminta agar Rey mau membimbing dan memberikan les kepada putrinya itu.
Awalnya Rey ragu untuk menerimanya. Ia ragu apakah bisa memberikan les? Sementara Rey belum pernah sama sekali memberi bimbingan belajar terhadap orang lain.
Hening.
Rey juga berpikir dengan keuangannya sekarang ini yang terus menurun untuk biaya hidup dan sekolahnya. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Rey memutuskan untuk meng-IYA’kan. Rey menerima pekerjaan menjadi guru les untuk putri tante Emi.
“Tapi, Rey bisa kasih les sepulang sekolah atau sorean, Tan,” Rey berucap.
“Iya, gak papa. Sebisanya Kamu aja, Rey. Tante udah bingung, tadi sempat nyari tempat les, tapi Nourma tetep aja gak mau.”
Rey tersenyum.
“Oh iya. Pelajaran yang mau Rey bantu yang mana, Tan? Biar Rey bisa menyiapkan materinya.”
“Matematika. Nourma lemah dalam pelajaran matematika.” Pungkas tante Emi.
“Oke! Nanti Rey siapkan dan pelajari kembali. Rey mulai kapan kasih lesnya, Tan?”
“Mulai Senin aja, Rey. Kalau bisa, Kamu datangnya sorean aja, biar bisa istirahat dulu sepulang sekolah.”
“Ya udah. Iya, Tan. Paling jam empatan sehabis shalat asar, ya?”
“Oke!”
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
mending pacaran sm yg dewasa bg Rey 🤭🤭