Berada dalam lingkungan sekolah terfavorit dan populer tak membuat Ve berkecil hati. Meski bully-an masih terus terjadi tetapi Ve punya sejuta cara untuk menghadapinya. Belum lagi Salsa yang tak pernah berhenti menganggunya.
Sayangnya ia juga harus dipusingkan dengan cinta dua lelaki tampan dan kaya raya tetapi berbeda karakter. Al sikapnya dingin, sedang Dion sangat humble. Parahnya lagi mereka mencintainya, meski tau Ve gadis miskin.
Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka di masa putih abu-abu itu, dan siapakah yang ahirnya memenangkan hati Ve? Apakah cinta bisa menembus batas perbedaan antara si kaya dan si miskin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. INILAH AKU
Happy reading all😘
Salsa terus berlari keluar meninggalkan kelasnya, menuju tempat parkir untuk mengambil mobil. Sementara itu teman satu geng-nya sudah membawakan tas milik Salsa sembari mengejar dirinya.
"Sa, Salsa ..."
Salsa menoleh.
"Kita ikut!"
Salsa mengangguk.
Tak lama kemudian Salsa dan teman satu geng-nya segera cabut dari sekolah dan mereka membolos.
Pak Prapto hanya geleng-geleng karena tingkah mereka yang ajaib. Terlebih Salsa putri salah satu anggota dewan sekolah. Ia tidak bisa bertindak banyak karena itu.
Tapi Al berbeda, meski ia anak salah satu donatur dan dewan sekolah, tetapi ia lebih berprestasi dan patut dibanggakan. Al tipikal orang yang disiplin, ketimbang Salsa yang suka berbuat seenaknya. Sudah pasti Al akan menghukum Salsa esok hari untuk tingkahnya hari ini.
"Biar saya yang memberinya pelajaran untuknya besok pagi, Pak!"
"Terima kasih Al."
"Sama-sama."
Setelah itu, pelajaran segera dilanjutkan kembali. Sebelum pulang, Pak Prapto meminta Al dan Ve untuk menemuinya besok pagi ke ruang guru.
"Al, Ve, kemari!"
Kebetulan mereka siswa-siswi terahir yang belum pulang.
"Iya, Pak," jawab mereka kompak.
Lalu keduanya beranjak dari kursinya menuju tempat duduk Pak Prapto.
"Besok pagi, kalian berdua datang ke ruangan saya untuk membicarakan tentang rencana satu semester ke depan untuk kelas kita."
"Baik, Pak."
Tanpa bertanya lebih banyak, mereka segera meninggalkan area sekolah. Ve menuju gerbang utama, sedangkan Al menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
"Hai cantik..." seru Kenzo didepan gerbang sekolahnya.
Ve mengerutkan alisnya melihat Kenzo dengan gagahnya berdiri di samping motor sport miliknya. Bahkan ia sedang menenteng satu helm yang siap diberikan padanya.
"Kak Ken?" tanya Ve tak percaya.
"Ini, Kakak?"
Saking tak percaya, ia bahkan mengelilingi Kenzo untuk beberapa kali.
"Kamu lupa sama aku?"
"Em, enggak juga sih, tapi lain sama penampilan tempo hari ... hehehe ...."
"Kenzo mengerutkan alisnya melihat rok pendek milik Ve yang lama masih dia pakai."
Candy yang menyadari tatapan mata Kenzo segera menutupi lututnya yang masih mengintip.
"Jadi bareng pulang, nggak?"
"Kakak serius ngajak aku pulang bareng?"
"Ya serius lah, kalau enggak buat apa saya bawa motor!"
"Hehehe ... kirain," ucapnya sambil meringis.
"Tapi kamu bisa naik 'kan, apalagi pake rok sependek itu?"
"Bisa kok, nih aku pake daleman," ucap Ve sambil mengangkat roknya untuk memperlihatkan celana hot pants miliknya.
Sontak saja tangan Kenzo segera menutup kembali rok milik Ve. Kebetulan pula mobil Al baru saja melintasi mereka. Tentu saja Al sempat melihat hal tersebut.
Tak mau jadi santapan buaya, Ken segera bangkit dari jok motornya lalu membantu Ve memasang helm untuknya. Ia juga membantu Ve untuk naik ke atas motor.
Beberapa waktu kemudian, motor yang mereka kendarai sudah melaju di jalanan. Tanpa mereka sadari, di belakang mereka ada mobil Al yang mengikuti mereka dari kejauhan.
"Gimana, seru 'kan naik motor?" tanya Kenzo di sela-sela mengemudikan motornya.
"Seru sih kak, tapi takut," cicit Ve.
Maklum saja Ve belum pernah diajak naik motor. Alhasil tanpa ia sadari tangannya berpegang erat pada tubuh Kenzo. Hal itu tentu saja membuat Kenzo tersenyum, sepertinya rencananya berhasil.
"Aduh, Kak Ken kenapa naik motornya cepet banget sih, aku 'kan jadi ketakutan," cicit Ve.
"Nah, ini gang dimana kita ketemu dulu, trus aku belok kemana?" tanya Ken sambil menoleh.
Sayang, Ve masih merem dan berpegangan erat pada tubuh Kenzo, rasanya tubuhnya masih kebas karena habis diajak kebut-kebutan. Sampai panggilan dari Kenzo pun tak ia hiraukan.
"Ve, hallo, ada orang?" tanya Kenzo mentoel helm yang dikenakan Ve.
Aslinya ia terkekeh geli melihat tangan Ve yang masih betah melingkar di perutnya. Belum lagi ekspresi lucu dari wajah gadis yang ia bonceng tersebut.
"Segitu nyaman, yah, memeluk saya!"
"Eh, maaf kak." Sontak tangan Ve terlepas dari tubuh Kenzo.
"Maaf, Kakak tadi tanya apa?"
"Ini, aku cuma tanya, rumah kamu belok kemana nih?"
"Eh udah sampai ya? Em, itu ... anu ...."
"Kenapa aku jadi lola, ya?" batin Ve.
Setelah kesadarannya kembali, Ve mulai menjelaskan arah menuju rumahnya.
"Nah, itu belokan depan ke kanan, nanti ikutin jalannya udah, mentok di ujung gang, itu rumah nenek saya."
"Oke."
Setelah mendapat petunjuk, Kenzo segera melajukan motornya ke rumah Ve. Saat ini ia tak lagi mengunakan kecepatan seperti tadi. Kini motornya melaju dengan kecepatan sedang.
Beberapa saat kemudian tampak sebuah rumah minimalis dengan bagian terasnya digunakan untuk berjualan.
Setelah sampai, Ve segera turun dari motor. Melihat Ve kesulitan untuk turun, ia pun membantu, tak lupa ia juga membantu untuk melepas helm yang dipakai Ve.
"Makasih, Kak."
Kebetulan neneknya baru keluar rumah.
"Sudah pulang, sayang?"
"Assalamu'alaikum, alhamdulillah sudah, Nek," ucap Ve sambil mengecup punggung tangan neneknya.
Nenek mengucap salam, "Wa'alaikumsalam."
Sementara itu di belakang Ve berdiri seorang pemuda tampan, dengan tinggi seratus tujuh puluh berkulit putih bersih dan berwajah blasteran, juga sedang tersenyum padanya.
"Ini teman kamu?" tanya Nenek Safa.
Ve mengangguk. Lalu Kenzo juga meraih tangan nenek dan memberi salam kepadanya.
"Assalamu'alaikum, Nek, nama saya Kenzo teman Ve tapi berbeda kelas.
"Owh, kalau begitu silahkan duduk dulu, biar nanti Ve yang mengambilkan minuman."
"Tidak usah repot-repot, Nek, cuma mampir aja kok!"
"Gak baik nolak rezeki, oh, ya, Nenek tinggal ke depan dulu ya, ada pembeli."
"Iya, Nek, nggak apa-apa."
Setelah berbasa-basi, nenek segera menuju teras untuk meracik rujak. Nenek Safa memang mempunyai sebuah kedai warung rujak di rumah. Hampir setiap hari, kedai neneknya selalu ramai.
Sepulang sekolah Ve selalu membantu beliau jualan. Kebetulan siang ini juga sedang banyak pelanggan, oleh karenanya ia pun tak menjamu tamunya tersebut.
"Kak, aku ganti baju dulu ya, Kakak mau minta minum apa, biar sekalian aku siapin."
"Em, apa ya? air putih yang ada manis-manisnya kayak kamu ada nggak?"
"Wkwkwk, nggak ada kak, disini adanya air putih, air sumur sama air got, mau yang mana?"
"Astaga nih cewek, beda banget, wkwkwk," batin Kenzo.
"Aku air putih aja."
"Oke, oh ya, mau makan rujak nggak? kalau iya biar nanti Ve siapin."
Kenzo tampak berpikir, lalu ia pun mengangguk.
"Oke, yang pedas aja, ya," pintanya.
"Eh, oke."
Setelah menyiapkan air putih dan memberikan pada Kenzo. Dengan memakai kaos oblong dan celana tiga perempat, Ve membantu neneknya meracik rujak terlebih dahulu.
Meskipun Ve sedikit tomboy, tetapi dia cekatan ketika membantu nenek melayani tamu-tamu yang datang. Ia sangat cepat dalam meracik ataupun membuat makanan pendamping untuk rujak neneknya.
"Nek aku bawa ini ke dalam dulu ya."
"Iya, ati-ati bawanya, jangan sampe kepleset."
"Oke."
Entah karena limbung atau karena lantainya baru saja di pel nenek, akibatnya Ve hampir terpeleset dan jatuh ke hadapan Kenzo.
Beruntung dengan sigap ia menangkap tubuh Ve.
"Hemm, harum banget ...." batin Kenzo yang sudah berhasil menangkap tubuh Ve.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" batin Ve yang tak enak hati karena hampir saja menumpahkan rujak tadi ke tubuh Kenzo.
.
.
...🌹Bersambung 🌹 ...
...Semoga suka, jangan lupa tekan ❤ agar saat update kamu gak ketinggalan, terimakasih....
Akhirnya es baloknya Al yg mementing kan belajar dari berpacaran akhirnya runtuh dengan kehadiran nya Veeya..
terimakasih Outhor semoga sukses selalu..🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Sabrina itu lebih gila dari anaknya Salsa...
sepertinya Lisa tau apa yg terjadi saat ini...