NovelToon NovelToon
OH MY BOSS

OH MY BOSS

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:27.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ade Annisa

“I love you.”
Bagi seorang Ceo sekelas Justin Achazia Adley, pekerjaan adalah bagian dari hidupnya. Dan uang adalah segalanya.

Tapi untuk seorang karyawan biasa seperti Serena Ayu Kinanti, hidupnya adalah bagian dari pekerjaan. Dan jika bukan karena uang yang ia pinjam berjumlah banyak pada perusahaan, bekerja adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan setiap harinya.

Bagaimana jika keduanya dipertemukan? dan ternyata Justin adalah anak pemilik perusahaan di mana Serena bekerja. Akankah uang menjadi masalah bagi keduanya?

"Sabar-sabar yah ngadepin Pak Justin, dia emang gitu orangnya. Kalo dia marah kamu diem aja, tapi siapin air banyak-banyak, mulutnya pedes level mampus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENDEKATAN

William masuk tanpa permisi ke dalam ruangan Justin, pria itu terkejut mendapati Serena juga ada di sana.

"Kalian sedang apa?" tanya William, mendudukan dirinya di sebelah Nena.

"Bisa tidak, kalo masuk ketuk pintu dulu!" Sewot Justin yang hanya dibalas cengiran lebar William.

"Sedang bahas apa, Na?" William bertanya pada Nena, tahu bahwa Justin pasti enggan berbicara dengannya saat ini.

"Uang," jawab Nena polos, karena memang itu yang sedari tadi menjadi bahan obrolan mereka.

"Astaga, sedang PDKT saja kalian masih bahas uang, benar-benar otak bisnis!"

"Siapa yang PDKT?" Tanya Nena dan Justin bersamaan. Lalu keduanya saling pandang.

"Baru tahap awal saja sudah ada kemajuan yah kalian, sudah sehati, kompak sekali!" Olok William, Nena sedikit kikuk dengan pipi bersemu merah, Justin hanya diam tampak acuh.

Nena yang semakin tidak nyaman memilih pamit undur diri yang mendapatkan anggukan dari Justin dan lambayan Say goodbye dari William.

"Jadi sudah sampai mana?" tanya William, saat Nena sudah menutup pintu.

"Apanya yang sampai mana?" acuh Justin merapikan bekas makannya yang sisa sedikit.

"Aku tahu kau tidak akan mengaku jika tadi kau itu sedang pendekatan, aku bukan mau mengancam ya, jangan main-main dengan Serena," ucap William dengan nada dibuat serius.

"Kau sendiri yang menyuruhku untuk coba memberi kesempatan!" Ceplos Justin, William tersenyum penuh arti, Justin langsung merutuki mulutnya sendiri.

"Akhirnya kau akui juga kan," ledek William senyumnya semakin lebar. "I know you Jus!" lanjutnya.

Justin hanya diam, menyandarkan tubuhnya pada sofa, percuma mengelak, William memang terlalu mengenalnya.

"Aku bukannya mau ikut campur ya, aku hanya ingin tahu saja bagaimana perasaan mu, jika kau merasa tidak cocok  dengannya, lebih baik jangan terlalu memberi harapan, aku takut Serena baper dan kau malah PHP ."

"Sepertinya ada seseorang yang baper di masa lalu, terus ternyata kena php." Sindir Justin, dan demi untuk melihat raut sahabatnya yang berubah masam, lelaki itu menahan tawa.

"Kenapa kau melihatku seperti itu." William yang kesal harus merasa curiga pula.

"Serena tidak tertarik denganmu, Benarkah? Kau itu bule turunan atau rombakan? mungkin kau yang dulu kurang menarik." Justin berkata dengan pedasnya.

William naik pitam. "Sini, sini kemari kau. Biar kupukul kepalamu," omelnya.

Perdebatan mereka berakhir dengan lemparan bantal sofa dari William pada sahabatnya, begitulah kelakuan keduanya di balik tampang sangar dan dingin yang sering mereka tunjukan di luar sana.

"Mau apa?" tanya Justin saat William mengambil ponselnya di atas meja, kemudian  tampak asyik mengetikkan sesuatu.

"Aku tahu kau tidak akan pernah  menurunkan harkat martabatmu di hadapan seorang perempuan hanya untuk meminta nomor ponselnya, gengsimu terlalu besar! Jadi untuk itu, aku yang baik hati ini mau membantumu menyimpan nomor Serena, tadi sudah kuhapal jika tidak salah pasti bener."

William meletakkan kembali ponsel sahabatnya setelah berorasi begitu panjang. Justin tampak tidak peduli.

Dan sesaat setelah William berpamitan dan keluar dari ruangan Justin, pria itu tersenyum kecil, sangat kecil.

***

Serena merasa gelisah sendiri, berkali-kali mencuri pandang pada jarum jam tangannya yang seolah enggan menunggunya sebentar lagi.

"Cepet banget sih udah jam 8 aja," Nena menggerutu sendiri memikirkan pasti diluar sana sudah begitu horor, biasanya dia akan pulang pukul lima sore, atau semisal lembur pun nggak sampe lewat jam tujuh, itupun masih banyak orang.

"Ini gara-gara si Ceo ganteng euh!" Nena menyambit mulutnya sendiri dengan ujung jari-jarinya, "Inget Na, lo tuh cuman keset welcome nggak pantes sama Pak Justin." Nena mengomeli diri sendiri.

Nena tergesa masuk ke dalam lift, dia buru-buru takut adiknya sudah menunggunya terlalu lama, saat dirinya sudah memencet tombol lantai dasar, gadis itu mendengar derap langkah seseorang yang sepertinya juga tergesa.

Nena membatin. "Selarut ini masih ada orang? Jangan-jangan."

Nena menutup wajahnya ketakutan saat seseorang menjulurkan tangannya sehingga lift otomatis terbuka kembali.

"Saya bukan hantu!" Ucap seseorang yang barusaja masuk, Nena menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya.

"Pak Justin? kenapa masih di sini?" pertanyaan yang tidak sempat tersaring oleh otak pintar Nena terlontar begitu saja.

"Bodoh! Ngapain gue nanya gitu? Serah dia lah mau berapa lama disini, kantor dia si." Nena mengumpati dirinya dalam hati, kemudian meminta maaf dan tersenyum tipis ke arah bosnya itu.

Justin sendiri tidak merasa terganggu dengan pertanyaan itu, juga tidak merasa perlu menjawabnya, pria itu mencoba membalas senyum Nena meski tampak kaku dan tidak ada manis-manisnya.

Diam-diam Nena melirik ke arah Justin, pria itu bersandar pada dinding lift bersebrangan dengan dirinya. Sebelah ujung kemejanya mencuat keluar, sedikit berantakan dengan dasi yang mulai mengendur di lehernya. Jasnya sendiri tersampir apik di lengan kirinya dengan telapak tangan yang dimasukan ke dalam saku celana. Tangan kanannya menggenggam sebuah kunci dan ponsel. Penampilan yang bukannya terlihat kacau malah menjadikan ketampanannya bertambah beberapa derajat.

"Astagfirulohhaladzim," Nena merutuki pandangannya yang dengan tidak sopan menelusuri penampilan ala-ala bad boy bosnya itu. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan, mungkin jika lift ini bisa lebih lebar lagi ukurannya, gadis itu pasti akan berdiri lebih menjauh dari Justin.

TEP

Tiba-tiba lift berhenti, bukan karena mereka sudah sampai tujuan, mungkin PLN sedang bertugas melaksanakan pemadaman secara berkala, biasanya hanya berselang beberapa menit, tapi tetap saja kepanikan langsung dirasakan Nena, meskipun gadis itu lebih memilih diam tanpa bertanya-tanya karena pria di hadapannya pun tampak tenang-tenang saja.

Meskipun lampu emergency di dalam lift menyala namun tetap saja Nena merasa takut, Justin menekan tombol speaker dan berkomunikasi dengan seseorang.

TEP

Kemudian lampu darurat mati, biasanya lift akan bergerak ke lantai terdekat dan setelah lampu darurat itu mati pintu lift akan langsung terbuka, tapi entah kenapa pintu lift tidak kunjung terbuka, Nena pun panik dalam kedaan gelap gulita.

Hik, hik.

Terdengar samar-samar orang menangis, Justin berpikir cepat, tidak mungkin ada hanty yang ikut terjebak di dalam lift kan? Mungkin suara tangisan itu berasal dari....

"Kamu tidak apa-apa?" Justin menyalakan ponselnya, tidak langsung mengarahkan pada gadis itu, tapi cahaya nya cukup menerangi ruangan, langkahnya perlahan menghampiri Nena, dan saat sudah dirasa dekat, pijar terang ponsel Justin menangkap wajah ketakutan Nena dengan air mengembang di kedua bolamata bulatnya.

Justin tertegun beberapa detik, pandanan keduanya saling beradu, yang satu ketakutan satunya lagi kebingungan.

"Sa, saya, saya takut gelap," kalimat itu lolos dari bibir mungil Nena yang bergetar, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Saya ada di sini!" Justin meraih tangan kanan Nena dan menggenggamnya, menyalurkan rasa aman. Tangannya begitu dingin, gadis itu benar- benar ketakutan.

Nena tidak menolak, tentu saja karena dia takut, atau malah hatinya merasa mulai senang, genggaman tangan Justin begitu hangat dan kokoh.

Untuk beberapa saat pandangan mereka beradu, Justin tersenyum kikuk, dan Nena tampak salah tingkah.

Tidak lama lampu menyala, tombol pada lift pun sama, Justin segera memencet tombol lantai dasar. Genggaman tangan mereka sudah terlepas bersamaan dengan lampu yang tiba-tiba menyala tanpa dipinta, kalo bisa menawar lebih lama mungkin mereka akan memilih hal demikian.

"Terimakasih, Pak!" ucap Nena, kemudian pamit undur diri setelah mendapatkan anggukan dari bosnya. Mata Justin terus mengikuti gadis yang setengah berlari menjauh, menghampiri seseorang yang duduk di atas motor.

***

Justin merebahkan tubuhnya di atas kasur, setelah membersihkan dirinya dengan air hangat. Matanya terpejam, namun pikirannya menerawang entah kemana.

"Kenapa aku terus memikirkan gadis itu?" Justin bertanya sendiri, kelopak matanya kembali terbuka, sudut bibirnya terangkat lebar. Senyum manis yang jarang sekali dia perlihatkan di luaran sana.

"Ternyata untuk operasi ayahnya, memang ayahnya sakit apa sampai harus dioperasi? Kupikir dia berhutang sebanyak itu pada perusahaan untuk operasi plastik. Ternyata bukan, tapi Kenapa dia bisa secantik itu." Senyum di bibir Justin  kembali mengembang, sepersekian detik kemudian pemuda itu menjambak rambutnya sendiri.

"Kau ini kenap Just, seperti bukan dirimu saja." Justin merasa dirinya sudah benar-benar gila, kemudian menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

Selimut kembali terbuka, Justin ingat William sudah menyimpan nomor gadis itu di kontaknya. Pemuda itu langsung meraih ponselnya di atas nakas.

Justin mulai mengetikkan nama Serena pada kolom pencarian nama kontak, tapi tidak ada, sekali lagi jemarinya mengetikkan nama panggilan gadis itu, Nena. Juga tidak ada.

"Itu kambing bule kasih nama apa si? Menyusahkan sekali." Justin tidak mungkin menanyakan langsung pada William, pria itu lebih memilih mencari sebuah nama yang tidak mungkin berada dalam deretan nomor kontaknya. Satu hal sia-sia yang sejak dulu Justin hindari adalah melakukan hal-hal yang tidak penting, dan sekarang ini, pria itu tengah melakukan hal tersebut. Miris.

Justin terpaku pada sebuah nama asing yang berada di deretan nomor kontaknya. Pria itu yakin pasti ini nomor yang William simpan.

Bagai mana keadaan mu? Justin kembali menghapus kalimat itu.

Hai saya Justin.  Kok mirip sales obat ya? Hapus lagi.

Apa kamu baik-baik saja? Justin kembali akan menghapus, namun karena gerakannya terlalu cepat pria itu malah menekan send.

"Astaga!!" umpatnya, melemparkan benda berbody tipis itu ke dalam laci, dan kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Malam itu dia merasa sudah terlalu gila. Dan ia yakin itu bukanlah dirinya.

1
Senjaku senjamu jadi satu 🍃
ko lily lebih cantik dari nena thorrr
Azka M90
🤣🤣🤣🤣🤣
Yeni Wijayanti
🤣🤣🤣🤣
🌺awan's wife🌺
yg anaknya dijaga bodyguard yg balas dendam itu apa anaknya Justin ini ya,,,tak cari2 critanya koq gak Nemu thor
🌺awan's wife🌺
aq ngulang baca lagi thor,,kangen
Yo Zhibin❤️💞
belum selesai tu makan..main potong aja ini author aaah..sebel..😩😩😩
Yo Zhibin❤️💞
emang bang bule g nikah sama Lily tapi entah yg mana...cz kisahnya belum Q baca..🤔🤔🤭🤭
Yo Zhibin❤️💞
Akhirnya si kembar trouble maker lahir..tapi ganteng 😁😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
eeeeh..kok belum lahiran udah tamat aja ..,😁😁
Yo Zhibin❤️💞
iya juga ya.. William Lily ini ga ada bab sendi kayaknya cz Q sudah baca Ardi Karin, Jino Nino bahkan Kairan anaknya Ardi udah...dimana Thor..nulis ga ??????
Yo Zhibin❤️💞
Justin jadi ikutan somplaaaak..🥰😂😂💞😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yo Zhibin❤️💞
Astaghfirullah..kariiiin..nih bocah gesrek bin Cegil 😂😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
Sabaaaar..kenapa ga jadi sendok semen aja sih Thor..😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
aaah..bang bule udah laku guys..😂😂
Yo Zhibin❤️💞
kenapa jadi saling serang ya..ga Nena..ga author..😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
Ahay.. akhirnya penantian Siska ga sia2..😂😂😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
emang pacaran semenyenangkan tu ya... coba ah..😂😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
Widiiiiiiih..bang Entin kalo bucin bisa kayak gitu ya..😂😂😂
Yo Zhibin❤️💞
lhaaa..kan..pada seru kalo ada Ardi Karin 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!