Menorehkan tinta di atas kanvas, tak selalu hitam juga putih, akan ada banyak warna yang menghiasi.
Namun, fatal bila salah menorehkan warna, karena akan menjadi noda yang akan merusak nilai estetik lukisan itu sendiri. Berani melukis cinta, juga harus berani menerima risikonya.
Alvin Daran, Pria berparas tampan yang telah menorehkan noda dan merusak sketsa lukisan yang telah susah payah Miya Patrisia rangkai. Akankah Alvin mampu mengubah Noda menjadi indah?, hingga pantas disebut sebagai lukisan, yang akan membuat senyum Miya kembali merekah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Miya Hamil
***
Hari-hari berikutnya Miya jalani seperti biasa. Trauma akan tragedi di gudang atap, membuat Miya tak pernah ke sana lagi.
Sekarang dia lebih memilih berdiam diri di kelas. Walaupun terkadang ia sering menjadi bahan amukan siswa lain saat mereka kehilangan barang-barang berharga mereka.Ingin sekali Miya bersembunyi di perpustakaan. Tapi apalah daya, perpustakaan di sekolahnya menerapkan sistem berbayar lantaran fasilitasnya yang canggih.
Walaupun siswa lain tidak menyukainnya. Tapi, mereka enggan mengganggu Miya. Karena dulu mereka pernah membuli Miya, namun berakhir mereka sendiri yang babak belur. Ya, aslinya Miya memang bisa sedikit beladiri, itu terjadi tanpa ia sadari. Karena itulah Anan menggunakan cara licik untuk menjebak Miya, karena ia tau kelebihan Miya.
Tidak terasa begitu cepat waktu berlalu. Sudah satu bulan sejak insiden itu. Kini, Miya sudah merasa lebih baik, hatinya sudah kembali tenang.
Setelah menyelesaikan tugas matematikanya, Miya pun langsung ke depan untuk mengumpulkan jawabannya. Namun, langkahnya terhenti ketika kepalanya terasa begitu berat, pusing teramat sangat terasa dibagian keningnya. Miya memegangi keningnya yang terasa berputar-putar, pandangnya semakin buram, semua yang ia lihat seperti terpecah menjadi beberapa bagian. Miya mengerjakan matanya untuk memulihkan penglihatannya. Namun, pendangannya semakin lama semakin gelap, hingga akhirnya Miya pun pingsan.
***
Ketika terbangun Miya sudah berada di ruang UKS. Seorang dokter yang bertugas tengah memeriksanya detail. Miya ingin bangkit, namun dicegah oleh sang dokter.
"Berbaringlah dulu, sebentar lagi selesai." Titah dokter cantik itu.
"Dokter, saya tidak apa-apa. Saya baik-baik saja. Mungkin saya pingsan karena belum sarapan." Ucap Miya jujur.
"Ini, coba kau gunakan ini dulu. Setelah itu kau baru boleh pergi." Ujar dokter cantik itu sambil mengulurkan sebuah alat panjang berbentuk pipih.
Miya tidak bodoh, dia tau alat apa itu, dan dia juga tau persis untuk apa alat itu digunakan. Miya menerima benda pipih itu dengan bergetar.
"Do-dokter, a-apa a-aku ha-hamil?" Tanya Miya terbata, seraya meneteskan buliran bening dari kedua sudut matanya.
"Itu hanya perkiraan saja. Untuk lebih pastinya, gunakan alat ini lebih dulu. Apa kau tau cara menggunakannya?" Tanya dokter itu terlihat iba kepada Miya.
"Sa-saya ta-tau, dok. Ta-tapi ....
"Cobalah dulu, kita akan tau setelah melihat hasilnya. Kau tenang saja, aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun." Bujuk sang dokter.
"Baik, dokter." Jawab Miya lalu menuju toilet dengan langkah gontai.
Sampai didalam toilet, miya langsung menggunakan alat itu. Miya menutup alat itu karena tak sangup untuk melihatnya. Air matanya terus mengalir tak dapat dia tahan.
Dia tidak pernah mengira bahwa hal seperti ini akan terjadi. Ini diluar dugaannya, dia ingat bahwa dia telah mengonsumsi pil KB selepas kejadian itu. Tapi, Miya sepertinya tidak tau bila pil KB diminum sebelum melakukan bukan setelah melakukan. Dan yang terjadi saat ini adalah hal wajar, karena saat insiden itu terjadi, dia ada pada fase subur yang menyebabkan dia benar-benar Hamil sekarang.
Miya terduduk dilantai toilet dengan tangisan yang semakin menjadi. Dia benar-benar tak percaya akan kenyataan ini, Miya langsung membuang alat itu setelah puas melihatnya.
Tok, tok, tok ....
"Miya, kau baik-baik saja bukan. Bukalah pintunya," dengan segala kekuatan hatinya, Miya kembali bangkit dan segera mengambil benda pipih itu, lalu segera membuka pintu toilet.
"Bagaimana, apa hasilnya?" Tanya dokter itu. Tanpa Miya menjawab, sang dokter sudah dapat menarik kesimpulan bahwa hasilnya sudah pasti positif. "Kemarilah, duduklah dulu." Sambung sang dokter membawa Miya kembali duduk diatas ranjang. "Apa kau benar-benar tidak ingat seperti apa wajah lelaki itu. Tolong jangan lagi berbohong Miya. Kau tau tidak ada satupun bukti yang mengarah pada Anan. Dan lagi pula dia telah pindah ke negara asalnya Italia. Kau tidak akan pernah lagi bertemu dengannya, dan kau tidak akan bisa meminta pertanggungjawaban kepadanya karena bukti menunjukkan bahwa dia tidak bersalah. Coba kau ingat-ingat lagi, kau diberikan obat GBH dan kau hanya akan mengalami amnesia sementara. Asal kau mau melatih untuk mengingatnya, aku yakin kau akan segera mengingat keseluruhan kajadian itu." Jelas sang dokter panjang lebar.
"Saya bisa apa, dok? Hanya dia yang ada dihadapan saya sebelum dan sesudah kejadian. Apa yang bisa saya lakukan, hiks, hiks ...." Jawab Miya putus asa.
"Baiklah kalau begitu kau istirahatlah disini dulu. Aku akan menjelaskan masalah ini kepada kepala sekolah, agar ia bisa mencarikan solusi untukmu." Ujar dokter itu lalu pergi meninggalkan Miya seorang diri.
ceritamu kali ini agak beda, namun malah semakin luar biasa..
keren dah pokoknya.. 🥰🥰🥰
yg ini g ada sekuelnya ya???
oke deh lanjut cerita berikutnya..
sehat2 terus kakak..
tetap semangat untuk berkarya.. 😘🥰🤩😍
ga tll panjang to bener2 berkesan 🥰