Perpisahan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap saat bersama orang yang kita cintai adalah anugrah yang tidak boleh di sia-siakan.
Sama seperti gadis cantik yang sederhana bernama Lidya Anggraeni, gadis mandiri yang harus hidup sebatang kara setelah kepergian kedua orang tuanya. Sampai pada suatu keadaan mempertemukan dia dan seorang pengusaha muda Anggara Pradipta.
Perlahan-lahan kehidupan keduanya mulai berubah, mulai di warnai oleh cinta. Ketika masa lalu dari orang tua mereka terungkap, membuat keduanya berada dalam di lema. Ditambah dengan munculnya orang dari masa lalu Angga, kekuatan cinta mereka mulai di uji. Semuanya tahu bahwa Angga begitu mencintai orang dari masa lalu, Bahkan setelah 2 tahun perpisahan sangat sulit untuk melupakan nya.
Cinta memang memberikan kenangan indah, tapi cinta juga memberikan luka yang bisa menjadi kenangan. Di sinilah kepercayaan dan kekuatan cinta itu di uji, memilih kembali pada orang di masa lalu, ataukah memuali dengan orang baru dan mulai membuka lembaran baru pula.
Sedalam apa kekuatan cinta Lidya dan Angga? Sekuat apa mereka bisa bertahan?
Akankah Angga memilih Lidya ataukah kembali kepada dia, wanita di masa lalunya?
Penasaran kisah mereka seperti apa?
Yuk! ikuti kisah Angga dan Lidya, perjuangan Lidya untuk cintanya.
Let's go!! Mulai baca Guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna azahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Mungkin tidak sepenuhnya seorang sahabat bisa merasakan duka kita tetapi, setidak nya mereka bisa membuat duka yang kita rasa berkurang saat bersama mereka lewat candaan mereka
...~Lidya Anggraeni~...
***
Pagi yang cerah menyambut hari ini, seorang gadis cantik sedang duduk di halte bus yang tak jauh dari tempat tinggal nya, menunggu bus di halte adalah kebiasaan nya di pagi hari untuk berangkat ke kampus padahal bisa saja dia naik angkutan umum yang lain tapi, dia lebih memilih bus selain karena halte yang tak jauh dari rumah nya juga karena dia merasa lebih nyaman dan dapat menikmati perjalan nya.
Bus yang dia tunggu datang, ini adalah bagian favorit di sambut mentari pagi menikmati kota di pagi hari dengan menaiki bus, tak jarang jika pada saat pulang dia tertidur. Tidak butuh waktu lama bus yang dia tumpangi berhenti di halte dekat kampus nya.
***
Sementara di dalam kelas terlihat dua orang yang tengah berbincang, sepertinya bahan yang mereka bicarakan adalah hal serius terlihat dari cara mereka berpikir kini si gadis yang tengah memijit pelan pelipis dan si cowok yang mengetuk-ngetuk jemari nya pelan di atas meja yang ada di depan mereka.
"Sar!" panggil Rifki. Ya, kedua orang itu adalah Sarah dan Rifki sahabat Lidya tapi, entah apa yang tengah mereka bicarakan saat ini.
"Hhmm." Sarah hanya berdehem menyahuti Rifki. Dia masih asik dengan aktivitas nya memijit pelipisnya.
"Gimana udah ada ide?" Rifki bertanya dengan penuh harap. "Inget ya Lidya itu gak gampang di tipu-tipu gitu." Lanjutnya. Ya mereka kini tengah merencanakan sesuatu untuk Lidya tapi entah apa itu.
Sarah menghentikan aktivitas memijit pelipisnya dia kini beralih menatap Rifki dimana Rifki juga tengah melakukan hal yang sama, hanya saja tatapan mereka berbeda Sarah menatap Rifki dengan tatapan yang sulit Rifki artikan, sedangkan Rifki menatap Sarah dengan tatapan penuh harap begitu kira-kira Sarah mengartikan tatapan Rifki.
1detik
2detik
3detik...
Brakk....
Sarah mengebrak meja yang ada di depan mereka, Rifki yang tadi nya tengah diam menanti jawaban Sarah terlonjat kaget bukan main, bahkan kini Rifki sedang mengelus-elus dadanya karena kaget sedangkan Sarah dia kini tengah tertawa.
"Wahahaha......."Sarah tertawa terpingkal-pingkal seakan-akan ia tidak memiliki dosa apapun telah melakukan itu.
"Hahaa...Ki muka kamu...hahah." Sarah berucap seraya terus tertawa, sepertinya gadis itu belum berniat menghentikan tawanya padahal kini Rifki tengah menatap nya dengan tatapan tajam.
Sarah tertawa tanpa ada nya beban bahkan setelah apa yang dia lakukan membuat Rifki menahan kesal nya, lihat saja jika Sarah tengah tertawa sedangkan Rifki dia terlihat mengepalkan tangan nya menahan rasa kesalnya, bahkan kini wajah Rifki sudah sedikit memerah jika saja bukan sahabat nya atau pun bukan seorang perempuan mungkin Rifki sudah menghadiahi dia dengan sebuah pukulan.
"SARAH!!!" Seru Rifki nama Sarah sengaja penuh penekanan. Rifki kini menatap Sarah dengan tatapan tajam nya dan wajah sedikit memerah.
Sarah yang mendengar namanya di sebut seperti itu akhirnya menghenti kan tawanya, Sarah beralih menatap Rifki beberapa saat tatapan mereka beradu.
"Ciee....ciee..." seru Lidya membuyarkan semuanya.
Entah sedari kapan Lidya ada di sana yang jelas Lidya menyaksikan adegan tatap-tatapan itu. "Hayo kalian pada ngapain hah?" tanya Lidya menggoda Sara dan Rifki.
"La emang kita ngapain? orang tadi si Iki melototin aku ya ta pelototin balik." jawab Sarah santai seraya menduduk kan dirinya di kursi.
"Oh ya?" Lidya mengangguk kan kepalanya kecil ikut duduk di kursi dan di ikuti Rifki.
"Tapi aku gak percaya!" lanjut Lidya. Dia masih belum percaya dengan jawaban yang di berikan Sarah.
"Emang menurut kamu kita tadi ngapain?" bukan Sarah tapi Rifki yang bertanya balik.
"Ya gak tau juga sih hehee..." Lidya menjawab seraya dengan seringai an nya. Dia sendiri sebenarnya tidak terlalu serius dengan pertanyaan tadi dia hanya berniat menggoda kedua sahabatnya saja.
'Dasar Lidya bikin jantungan aja, untung dia gak tahu apa yang tadi kita omongin.'gumam Sarah dalam hati
Sementara Rifki menghembuskan nafas nya lega dan mengelus-elus dadanya 'Selamet selamet ki.'
***
Di kediaman keluaraga Pradipta, rumah besar dengan interior mewah, halaman rumah yang begitu luas, dan terdapat taman di belakang rumah plus dengan kolam renang di sana, fasilitas rumah yang modern dan tidak perlu di ragukan lagi, memperkejakan empat asisten rumah tangga, dua orang satpam dan satu orang supir yang siap mengantar sang tuan rumah. Tapi sayang, rumah yang bisa di katakan rumah impian itu, hanya di huni oleh para pekerja dan sepasang suami istri paruh baya. Huh kalo gitu kenapa gak ngajakin aku tinggal di sana sih:'gikgik😁😁
"Min...!!!" teriak seorang wanita paruh baya dengan suara cemprengnya menyeruak di taman belakang rumah. Ya, siapa lagi kalo bukan sang nyonya besar Winda Kusuma istri Hardi Pradipta sekaligus ibu seorang Anggara Pradipta.
"Iya bu,,,,ada apa?" Orang yang di panggil pun datang salah seorang ART di rumah itu yang bernama Mimin.
"Haiss...kamu min pake nanya ada apa, itu kamu gak liat tuh bunga kesayangan saya layu gitu." Ucapnya "Kamu gak nyiram bunga saya berapa abad hah?"tanya nya dengan nada sedikit meninggi.
Bukan ketakutan Mimin malah terkekeh kecil mendengar pertanyaan konyol nyonya besar nya.
'Marah sih marah Bu tapi gak jadi pikun gini juga mentang-mentang sudah tua, hhaaaa.'
"Bu, bukan nya tadi pagi ibu sendiri yang nyiram bunga nya?" Mimin mengingatkan nyonya besar nya. Entah karena faktor usia atau karena efek marah Winda sampai melupakan nya.
Winda melongo sedetik kemudian wanita paruh baya itu menepuk jidatnya, apa yang dikatakan Mimin benar tadi pagi dia sendiri lah yang menyiram bunga nya itu.
"Ohhh iya,, maaf min saya lupa maklum karena terlalu emosi liat bunga kesayangan saya layu kuyup gitu."
"Yey si ibu, saking terlalu sayang nya ya Bu?" tanya Mimin basa-basi padahal, dia sudah tahu sendiri akan kecintaan wanita paruh baya itu terhadap tanam apa lagi bunga yang satu ini.
"Ehh pake nanya lagi kamu." jawabnya geram.
"Sudah saya mau masuk dulu, tuh bunga pokok nya harus jadi seger lagi! " titahnya dengan penuh penekanan.
"Hah? bu...gimana caranya?" Tanya Mimin melongo.
"Pokoknya saya gak mau tau, kamu cari cara ke apa ke pokoknya yang penting bunga saya bisa kayak tadi pagi lagi." lanjutnya.
"Tapi bu----"
Belum sempat Mimin melanjutkan kalimatnya sudah terlebih dahulu di potong Winda
"Stop min kamu mau ngelawan sama saya?saya ini majikan kamu loh, kamu mau saya pecat iya?" kata Winda mengancam Mimin.
Jika sudah begini Mimin bisa apa? dia hanya bisa pasrah menuruti perintah majikannya, toh mau segencar apapun Mimin membela diri kalo sudah di hadapkan dengan ancaman seperti itu semua akan sia-sia saja bukan?. Yufs nyonya besar pemegang kekuasaan di kawasannya.
"iya Bu." jawab Mimin pasrah.
"Iya apa ini? iya mau saya pecat?"
"Ehh bukan gitu, iya Mimin cari cara supaya bunga ibu seger burger lagi deh!" jawab Mimin cepat.
'Huhh rese banget dah padahal kan nyonya besar anak dan suami nya sultan kenapa gak beli bunga lagi aja. Hampir aja kehilangan pekerjaan gara-gara bunga.' Mimin bergumam dalam hati seraya mulut nya berkomat-kamit bak dukun yang sedang membaca mantra.
Winda memincingkan matanya melihat Mimin yang kini tengah berkomat-kamit, sudah bisa Winda pastikan bahwa Mimin seperti itu karena tengah mengumpat nya.
"Lagi baca mantra yang mana min? Mulutnya gak berhenti berkomat-kamit gitu." Winda bertanya seraya menatap Mimin dengan tatapan tajam nya.
"Ehh ngga Bu, Mimin gak baca mantra apa-apa cuman lagi olahraga muka supaya ngga kaku gitu heheh." kilah Mimin membela diri. Uhh bisa habis si Mimin kalo ketahuan, padahal Winda juga tau kali min meski kamu gak jujur.
"Ya sudah terserah kamu, saya mau nemui David dulu dia sudah ada kan di dalam?" tanya Winda.
"Sudah Bu, sama tuan juga." jawab Mimin cepat.
Winda segera beranjak dari sana, melangkahkan kaki nya menuju ruang tv dimana sudah ada David dan suami nya. Ya, tadi Winda meminta David untuk mampir ke rumah setelah jam kerjanya selesai.
***
Di ruang tv keluarag Pradipta David dan Hardi kini tengah menonton acara tv bersama, mereka tadi pulang dari kantor bersama menuju rumah keluarga Pradipta. Meski David adalah asisten pribadi Angga tetapi David juga adalah sahabat baik Angga baik Hardi atau Winda mereka sangat mengenal dekat David dan sudah menganggap nya seperti keluarga sendiri, jadi tak heran bila David bisa seperti sekarang di rumah keluarga Pradipta.
"Dav kamu ngajakin saya nonton beginian sinetron bocah, yang benar saja?" tanya Hardi pada David. Coba bayangkan saja acara yang mereka saksikan saat ini sinetron anak muda umuran SMP yang cerita nya cerita cinta monyet gitu, gelikan udah tua begitu nonton kisah cinta monyet nya anak SMP.
"Om apa salahnya liat sinetron bocah, lagian itung-itung nostalgia buat om." jawab David santai. Ya, David memanggil Hardi 'Om' dan Winda ' tante' bukan 'tuan' dan 'nyonya' karena Hardi dan Winda tidak mengijinkan David memanggil mereka dengan sebutan itu.
"Kamu bilang kita mau nonton acara yang bisa buat bujuk Angga, Lah kenapa ini malah nonton begini." tanya Hardi lagi.
"Om perhatikan dulu sinetron nya!" bukan memberi jawaban yang pasti David malah menikmati acaranya dengan santainya.
Hardi yang tadinya mengomel masalah sinetron yang mereka saksikan kini dia malah diam dan terlihat menikmati sinetron nya sesekali juga dia mengulum senyumnya kala melihat part romantis di sana teringat masa muda dulu. Nostalgia nih yah.
Wah Mama Winda mana nih belum nongol juga dari taman belakang 😆
"Astaga papa...David...!!" suara cempreng Winda menggema di seluruh ruangan tersebut. Nah kan nongol juga nih mama killer hahaa.
Mau tau kondisi jantung papa Hardi dan ekspresi David? Nih ya aku kasih deskripsi nya.
David yang tadinya tengah duduk dan bersandar di sofa dengan santainya menikmati acara tersebut, terlonjat kaget sampai-sampai dia meloncat dari sofa dan langsung memasang sikap siaganya, wajah nya sudah pasti memasang muka panik nya.
Sementara jantung papa Hardi, jantung nya berdegup kencang bahkan dia kini tengah mengelus dada nya pelan dan wajah papa Hardi sudah memasang wajah panik nya bukan kepalang.
Kenapa kok mereka gitu amat sih? Iya jelas mereka bereaksi seperti itu pasalnya posisi mereka pada saat Mama Winda datang sangat lah berantakan David duduk bersandar kaki nya dinaikan keatas meja, dan papa Hardi duduk di bawah bersandar pada sofa dan dengan cemilan yang berserakan.
"Apa-apaan ini hah? kalian berdua mau ngehancurin rumah yang susah payah di bangun?" Winda berucap dengan suara cempreng setengah berteriak.
"Haiss...Dav ini lebih parah dari toa mesjid" bisik papa Hardi pada David seraya menyenggolnya. Dan sialnya Mama Winda mendengar apa yang di ucapkan Hardi.
"Apa...papa bilang apa hah...?" kini suara mama Winda sudah naik jadi 8 oktaf.
"Hah apa? papa ngga ngomong apa-apa." kilah Hardi membela diri.
'Ehh buset dah nih tua-tua suaranya, merusak gendang telinga kalo lama-lama di sini. Pergi aja deh biarin nih pawang nya yang jinakin, masalah Angga nanti saja lah yang terpenting sekarang keselamatan telinga diri sendiri dulu'.David bergumam dalam hati seraya mengangguk-angguk kepalanya.
"Kenapa kamu David cacingan? ngangguk-ngangguk kepala gitu." Winda kini beralih pada David dia tadi memperhatikan David yang mengangguk-angguk kan kepalnya.
"Ehh gak tante, David baru inget ternyata tadi Angga nyuruh David untuk balik ke kantor." Tutur David mencari alasan untuk menyelamatkan diri.
'Behh si David pinter banget nyari alesan' papa Hardi bergumam dalam hati. Dia sudah bisa menebak sekarang yang akan kena batu nya adalah dirinya sendiri karena sudah di pastikan David akan selamat sebentar lagi.
"Oh begitu,,, ya sudah pergi kamu sana ngapain masih di sini." Winda percaya? mungkin ini buktinya dia nyuruh David pergi dari sana.
'Alhamdulillah ya Allah engkau maha penolong dan maha pemurah, semoga hamba-mu ini bisa lebih ta'at lagi kepada-mu' David bergumam dalam hati mengucap beribu-ribu syukur.
"Baiklah Om, tante, David pamit ya takut Angga marah besar kan jadi berabe." David pamit seraya menyalami Winda terlebih dahulu kemudian menyalami Hardi.
"Selamat berjuang, om pasti bisa om kan pawang nya semangat!" bisik David pada Hardi pada saat menyalami Hardi, buru-buru David melepaskan tengan nya dan berlari keluar.
"David sialan!" umpat papa Hardi.
Kini papa Hardi harus bekerja keras lagi untuk menjinakkan singa betina bermulut toa mesjid itu, meski papa Hardi pawangnya tapi mama Winda tidaklah mudah untuk di jinakkan apa lagi ketika sudah marah, duhh kasian papa Hardi David juga kagak ada akhlak banget sih😆
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next
Mohon dukungan semuanya🥰
Like... coment...hadiah...vote...dan jangan lupa klik favorit nya supaya dapat notif pas up lagi nanti 🤗🤗😍😍🥰🥰 dan follow juga Ig athor untuk komunikasi langsung DM Ig:@mirnaazahra14
Terimakasih ❤️❤️
Happy reading 🤗😍❤️❤️
Jika berkenan mampir di judul
"Cinta Devan Untuk Naya" semangat aku datang bawa like, rate dan bunga
mampir juga yok ke Hati Terbelah Di Ujung Senja 😊