Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Malam ini adalah malam puncak, dimana malam ini adalah malam peresmian Pusat perbelanjaan baru yang akan segera beroperasi di kota itu.
Dimana, Alice di haruskan bersiap-siap karena malam ini Rendra akan mengajaknya. Bukan hanya mengajak Alice saja, tapi juga mengajak Neil untuk di perkenalkan sebagai pewaris sah dari Devano Garendra.
"Kenapa para wanita membutuhkan banyak waktu untuk bersiap?" gumam Rendra mulai kesal.
"Kenapa, papi?" tanya Neil yang samar-samar mendengar gumam papinya.
"Tidak apa-apa, ayo sini." panggil Rendra, yang mana membuat Neil mendekat ke arahnya.
"Neil, dengarkan papi. Apapun yang terjadi nanti jangan dengarkan orang-orang. Kamu adalah anak papi dan mami. Jika ada yang bicara jahat sama kamu, katakan pada papi atau Om Moreno." Neil mengangguk mengerti dengan apa yang papinya katakan.
Dia mengikuti instruksi dari papinya, hingga tak lama wanita yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
"Hah, aku jadi menyesal memilih gaun itu untukmu!" ucap Rendra membuat Alice langsung cemberut di buatnya.
Apa maksud laki-laki itu? Dia sudah menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan itu bersama mereka yang membantu yang bersiap.
Tapi lihatlah, ketika melihatnya Rendra malah mengatakan hal seperti itu. Bukannya memuji, dia malah mengatakan sesuatu yang membuat moodnya langsung terjun bebas.
"Sudah, jangan cemberut lagi. Kita hampir terlambat!" ucap Rendra padanya.
Rendra menggandeng tangan Neil, dan begitu juga dengan Alice. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang harmonis.
Hingga tiba di tempat acara, dengan gagahnya Rendra menjelaskan dan mengenalkan pada orang-orang di sana jika Alice adalah istrinya dan juga Neil adalah putranya.
"Ini adalah istriku, dan ini adalah putraku. Jadi dengan tegas aku mengatakan jika siapapun yang berani mengatakan hal-hal tidak pending di luar sana, dengan senang hati aku menerima kalian di kantorku!" ucap Rendra pada awak media.
"Lalu, bagaimana dengan nyonya Alana? Sejak kapan kalian menikah dan memiliki anak?" tanya salah satu reporter di sana, membuat Alice langsung meremas tangan Rendra merasa gugup, bahkan takut sekaligus.
"Kami sudah bercerai sejak beberapa bulan yang lalu, dan pernikahan kamu tidak berjalan dengan baik. Karena pada dasarnya pernikahan itu hanya pernikahan sepihak. Aku mencintai istriku, Alice."
Deg!
Pengakuan ini benar-benar menghantam Alice. Dia tidak percaya jika Rendra bisa mengatakan hal seperti ini di depan orang-orang.
Apakah memang benar jika laki-laki ini mencintainya? ada rasa haru yang menyelimuti dirinya, tapi ada rasa takut pula. Karena Alice takut jika dia tidak bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya.
"Saya rasa cukup sampai disini dan permisi. Silahkan nikmati jamuannya dan jangan ganggu keluarga saya lagi!" ucap Rendra menegaskan pada para reporter yang datang hari ini.
Dari kejauhan, Alana yang melihat itu merasa miris. Dulu, dia tidak pernah diperlakukan istimewa seperti ini oleh Rendra. Tapi lihat wanita itu, dia mendapatkan segalanya.
Semua barang yang dikenakan Tidak ada barang murah, bukan hanya karena masalah itu. Tapi karena dia benar-benar mendapatkan segala yang Rendra miliki. Harta, cinta, dan segalanya.
"Nyonya, apa kita harus turun?" tanya sopirnya pada Alana yang masih berada di dalam mobil.
"Tidak! segera bersiap karena besok kita akan kembali." titah Alana.
Dia tidak ingin melihat hal ini lagi, karena baginya terlalu menyesakkan. Dia benar-benar sudah kalah, dan tidak ada lagi yang tersisa. Semuanya benar-benar sudah selesai.
"Ada apa?" tanya Rendra ketika merasa ada yang aneh dengan Alice saat ini.
"Aku ke toilet sebentar." katanya pada Rendra.
Dia memberi kode pada anak buahnya untuk mengikuti Alice dari jauh saja. Menjaga wanitanya.
"Pergilah, dan segera kembali. Neil membutuhkanmu!" ucapnya pada Alice disana.
Dia bergegas pergi ke toilet. Namun, ketika dia baru saja keluar ada seseorang yang menghalanginya.
"Pak Andika?" gumam Alice melihat laki-laki itu berdiri di sana.
Andika tersenyum, dia benar-benar tidak menyangka jika wanita yang diselamatkannya adalah istri dari pengusaha besar.
"Apa kabar Elisa? Ah, maaf. Apa kabar nyonya Garendra?" tanya Andika membuat Alice merasa bersalah disini.
Dia lupa, jika dia bahkan belum mengurus surat pengunduran dirinya.
"Maaf, Pak. Saya-"
"Tidak perlu sungkan nyonya Garendra. Selamat atas pernikahannya dan semoga hidup bahagia." ucap Andika yang terlihat kecewa pada wanita itu.
Entah mengapa, dia selalu kalah bahkan sebelum memulai.
"Pak-?"
"Permisi." pamitnya begitu saja meninggalkan Alice yang masih mematung di tempatnya.
Kenapa dia merasa bersalah? Apalagi melihat tatapan laki-laki yang sudah banyak membantunya.
"Silahkan, nyonya?" ucap anak buah Rendra yang mana membuat Alice langsung ikut bersamanya.
***