Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 - Halaman Terakhir
Suara tembakan kembali memecah kesunyian.
**Dor! Dor!**
Pecahan kaca berhamburan ke lantai ruang tamu.
"Alea, tiarap!" teriak Raka.
Tanpa berpikir panjang, Alea menjatuhkan diri di balik sofa kayu tua. Debu beterbangan memenuhi ruangan.
Adrian segera membalas tembakan ke arah jendela.
"Dua orang di depan! Satu di sisi kanan!" serunya.
Salah seorang pengawal Melati ikut berlindung di balik pilar.
"Mereka lebih banyak dari yang kita duga!"
Melati memeluk erat buku harian berkulit hijau itu.
Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya tetap tegas.
"Buku ini tidak boleh jatuh ke tangan mereka."
---
Di luar vila, lima pria berpakaian hitam mulai mengepung bangunan.
Mereka bergerak rapi.
Jelas bukan kelompok kriminal biasa.
Salah satu dari mereka mengangkat alat komunikasi.
"Target sudah ditemukan."
"Ambil buku itu."
"Kalau perlu, habisi semuanya."
Perintah dari seberang terdengar dingin tanpa sedikit pun keraguan.
---
Di dalam rumah, Raka mengintip dari balik dinding.
"Ada jalan keluar lain?"
Melati mengangguk cepat.
"Di belakang perpustakaan."
"Dulu ayahmu membuat lorong darurat."
"Aku hampir lupa."
"Masih bisa dipakai?"
"Seharusnya masih."
Tanpa membuang waktu, mereka bergerak menuju perpustakaan kecil di sisi kiri vila.
Ruangan itu dipenuhi rak buku yang sudah lapuk.
Di salah satu sudut terdapat lemari kayu besar.
Melati mendorong lemari itu sekuat tenaga.
Awalnya tidak bergerak.
Raka membantu.
Perlahan...
**Grrrkkk...**
Lemari bergeser, memperlihatkan pintu besi kecil yang tersembunyi di belakangnya.
Namun tepat saat Raka hendak membuka pintu...
**Brak!**
Pintu depan vila didobrak.
"Mereka masuk!" teriak Adrian.
Suara langkah kaki bergema di seluruh rumah.
---
"Masuk dulu!" kata Raka.
Melati menggeleng.
"Tidak."
Ia menyerahkan buku harian itu kepada Alea.
"Dengarkan aku baik-baik."
"Halaman terakhir bukan hanya berisi nama."
"Di sana juga ada alasan kenapa ayahmu dijebak."
Alea menerima buku itu dengan kedua tangan.
"Tapi..."
Melati menggenggam tangan Alea.
"Mulai hari ini..."
"...aku mempercayakan semuanya kepadamu."
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Alea melihat ketulusan seorang ibu yang selama puluhan tahun hidup dalam pelarian.
---
Adrian kembali melepaskan tembakan.
**Dor!**
Salah satu penyerang mundur.
Namun dua lainnya berhasil masuk melalui jendela samping.
"Kita tidak punya banyak waktu!"
teriaknya.
Raka segera membuka pintu lorong rahasia.
Udara lembap langsung menyergap.
Tangga batu menurun ke bawah tanah.
"Kalian duluan!"
Alea menoleh.
"Kamu?"
"Aku dan Adrian menahan mereka."
"Tidak!" bantah Alea.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi."
Raka tersenyum tipis.
Senyum yang justru membuat hati Alea semakin tidak tenang.
"Kali ini percaya padaku."
---
Tiba-tiba...
Suara Melati memecah ketegangan.
"Tunggu."
Semua menoleh.
Melati membuka buku harian itu dengan cepat.
Bukan ke halaman terakhir.
Melainkan halaman pertama.
Ia merobek satu lembar kecil yang terselip di bagian sampul.
Lembar itu dilipat empat kali.
"Lindungi ini."
"Apa isinya?"
Melati menggeleng.
"Kalau mereka berhasil merebut buku harian..."
"...mereka tetap tidak akan menemukan rahasia yang sebenarnya."
Raka langsung memahami.
Halaman terakhir hanyalah pengalih perhatian.
Rahasia sesungguhnya...
Disembunyikan di tempat yang bahkan tidak akan dicurigai.
---
Belum sempat mereka masuk ke lorong bawah tanah...
Seorang pria bertopeng muncul di ambang pintu perpustakaan.
Ia mengangkat pistol yang dilengkapi peredam suara.
"Serahkan bukunya."
Tidak ada yang bergerak.
Pria itu menggeser arah pistol.
Kini moncongnya mengarah tepat ke Alea.
"Hitungan ketiga."
"Satu..."
Raka mengepalkan tangan.
"Dua..."
Adrian mulai mencari celah.
"Tiga—"
**Dor!**
Terdengar satu tembakan.
Namun bukan dari pria bertopeng.
Melainkan dari arah jendela lantai dua.
Peluru itu mengenai bahu pria bertopeng hingga senjatanya terlepas.
Semua spontan menoleh.
Di atap bangunan seberang...
Terlihat sesosok perempuan berpakaian serba hitam memegang senapan laras panjang.
Wajahnya tertutup topi dan masker.
Sebelum menghilang, ia sempat melambaikan tangan ke arah Raka.
Perempuan misterius itu...
Kembali menyelamatkan mereka.
Namun kali ini, Raka melihat sesuatu yang membuat dadanya berdebar.
Di pergelangan tangan perempuan itu...
Terlihat jelas gelang perak berbentuk **bunga melati**.
Gelang yang identik dengan kalung milik ibunya.
**Bersambung...**