NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. CEO atau Staf Biasa?

Rahardja mengangguk pelan. Ia tidak membantah. Namun pikirannya mulai menghubungkan satu demi satu potongan peristiwa yang baru saja didengarnya.

Investor yang sama. Bryan Adi Jaya. Pertemuan di kamar hotel. Kontrak investasi dengan klausul yang mencurigakan.

Dan sekarang... Nama Saras kembali muncul di tengah semua rangkaian itu.

Rahardja menoleh ke arah map investasi yang masih tergeletak di atas meja. Tatapannya berubah semakin dalam.

"Ini sudah terlalu banyak untuk disebut kebetulan."

Namun ia tetap menahan diri. Belum ada satu pun bukti yang benar-benar memastikan keterlibatan Saras.

Sebagai ayah, ia tidak boleh gegabah. Sebagai pemimpin keluarga, ia juga tidak boleh menutup mata.

Beberapa saat kemudian Rahardja akhirnya membuka suara. "Besok malam Enzo datang melamarmu."

Chantika mengangguk pelan.

Rahardja menatap putrinya dengan sorot mata yang tenang, tetapi tegas. "Papa tidak ingin membuat keributan sebelum acara itu selesai."

Ia berhenti sejenak.

"Namun setelah lamaran selesai..." Tatapannya mengeras. "...Papa akan mengumpulkan semua anggota keluarga di ruang tengah. Sudah waktunya kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."

Chantika mengangguk pelan. Ia sangat tahu, jika ayahnya sudah mengambil keputusan, maka tidak akan mudah untuk mengubahnya.

Rahardja kemudian mengembuskan napas panjang. Sorot matanya yang semula tegas kembali melembut.

"Sudah larut malam," katanya sambil menepuk pelan lengan putrinya. "Kamu pasti lelah. Istirahatlah. Besok masih ada hari yang panjang."

Chantika mengangguk kecil. "Baik, Pa."

Rahardja tersenyum tipis. "Tidurlah yang nyenyak. Untuk urusan ini, biar Papa yang memikirkannya malam ini."

Chantika membalas senyum ayahnya, lalu berdiri dari sofa. "Selamat malam, Pa."

"Selamat malam, Sayang," balas Rahardja.

Chantika berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Namun, begitu membuka pintu, ia seketika membeku.

Di tepi ranjang, Enzo sudah memakai pakaian tidur berupa kimono berwarna gelap. Pria itu duduk santai sambil memangku laptop.

Mendengar suara pintu terbuka, Enzo mengangkat wajah lalu melemparkan senyum tipis.

Chantika tersadar. Ia buru-buru menutup kembali pintu, lalu menguncinya.

"Kenapa kamu di sini?" tanyanya sambil memijat pelipis.

"Aku gak bisa tidur tanpa istriku," jawab Enzo ringan.

Chantika mengusap wajahnya frustrasi. "Enzo... kamu ini benar-benar..."

Ia bahkan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena kehilangan kata-kata.

Enzo hanya tersenyum santai. "Mandilah dulu. Setelah itu kita tidur."

Chantika mengembuskan napas panjang. Malas berdebat lebih lama, ia akhirnya mengambil pakaian tidur, lalu masuk ke kamar mandi.

"Kenapa aku bisa dapat calon suami macam dia?" batinnya.

Dan yang lebih membuatnya kesal, setiap kali melihat wajah tampan pria itu, hatinya selalu berdebar.

Tanpa sengaja, ingatannya kembali pada malam itu, ketika jemarinya sempat menyentuh dada bidang dan otot perut Enzo. Pipinya langsung menghangat.

"Astaga... apa yang kupikirkan?"

Cepat-cepat ia menyalakan shower, membiarkan guyuran air dingin mengusir wajah panasnya.

Beberapa menit kemudian, Chantika keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan piyama sederhana. Rambutnya yang masih basah tergerai hingga melewati bahu.

Enzo menutup laptopnya, lalu berdiri menghampiri.

"Sini."

Tanpa menunggu jawaban, ia menggenggam lembut tangan Chantika dan mengajaknya duduk di kursi di depan meja rias.

Enzo mengambil hair dryer, lalu menyalakannya. Dengan telaten, ia mulai mengeringkan rambut Chantika sambil sesekali menyisirnya perlahan menggunakan jemarinya.

Chantika hanya diam. Ini adalah pertama kalinya ada seorang pria mengeringkan rambutnya. Lewat pantulan cermin, diam-diam ia memerhatikan wajah Enzo.

Rahang pria itu tampak tegas. Tatapannya serius, seolah pekerjaan sederhana itu adalah sesuatu yang sangat penting.

Entah mengapa, dari sudut mana pun ia memandang, Enzo tetap terlihat begitu tampan.

Tak lama kemudian, suara hair dryer berhenti.

"Sudah selesai," ucap Enzo sambil meletakkannya kembali.

"Terima ka— Eh, Enzo!"

Belum sempat Chantika menyelesaikan ucapannya, Enzo sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan.

Chantika refleks melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu agar tidak terjatuh.

Enzo membawanya ke ranjang, lalu membaringkannya dengan hati-hati.

"Sudah malam," katanya sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh Chantika. "Ayo tidur. Besok aku harus bangun pagi. Ada rapat di kantor."

Chantika menatapnya heran. "Kalau besok sibuk, kenapa malah jadi penyusup di kamarku?"

Enzo ikut berbaring di sampingnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Karena..." Ia menoleh menatap Chantika. "...aku cuma bisa tidur nyenyak kalau tidur di samping kamu."

Mendengar jawaban itu, Chantika hanya bisa menggeleng pelan.

"Dasar..." gumamnya, meski tanpa sadar senyum tipis ikut terukir di sudut bibirnya.

Tanpa aba-aba, Enzo merengkuh Chantika ke dalam pelukannya.

Kali ini, Chantika tidak menolak. Ia hanya mengembuskan napas pelan. "Percuma juga berdebat sama dia," batinnya. "Ujung-ujungnya tetap kalah dan berakhir dalam pelukannya."

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Daripada terus berdebat... lebih baik kunikmati saja."

Perlahan, ia menggeser tubuhnya, mencari posisi yang paling nyaman dalam dekapan pria itu.

Melihat itu, senyum Enzo semakin mengembang. Ada rasa hangat dan puas yang sulit ia sembunyikan. Bukan karena berhasil "menang" berdebat, melainkan karena untuk pertama kalinya Chantika memilih tinggal dalam pelukannya tanpa dipaksa.

Dengan lembut, Enzo mengecup puncak kepala wanita itu. "Selamat tidur, istriku," bisiknya pelan.

 

Keesokan paginya...

Saat membuka mata, Enzo disambut pancaran cahaya keemasan sang fajar yang menyusup dari balik tirai jendela.

Meski matahari telah terbit, udara pagi masih terasa sejuk. Angin musim kemarau yang bertiup sejak dini hari membuat suhu terasa lebih dingin dari biasanya, bahkan di dalam kamar yang menggunakan pendingin udara.

Chantika masih terlelap.

Tanpa sadar, lengannya melingkari pinggang Enzo, sementara wajahnya tenggelam di dada bidang pria itu.

Enzo tersenyum kecil melihat wanita di pelukannya masih tertidur begitu lelap. Pelan-pelan ia mencoba melepaskan pelukan Chantika agar bisa bangun.

Namun...

"Hmm..."

Chantika bergumam lirih tanpa membuka mata. Bukannya melepaskan, ia justru semakin mengeratkan pelukannya.

Enzo terkekeh pelan. "Istriku..." gumamnya.

Ibu jarinya mengusap lembut pipi Chantika, lalu menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah wanita itu.

"Kalau kamu terus meluk aku kayak gini dan gak mau lepasin..." katanya pelan sambil tersenyum jail, "...aku benar-benar bakal ikut sarapan bareng keluargamu."

Jemarinya kemudian menyentuh ujung hidung Chantika dengan usil.

Chantika yang masih setengah sadar mengernyit pelan. "Hm... lima menit lagi..." gumamnya lirih, mengira yang berbicara adalah bagian dari mimpinya.

Enzo menahan tawa.

"Lima menit?" ulangnya pelan.

"Iya..." sahut Chantika dengan mata masih terpejam. "Jangan ganggu..."

Ia bahkan kembali menyandarkan wajahnya ke dada Enzo, mencari kehangatan.

Melihat tingkah calon istrinya yang masih mengantuk, senyum Enzo semakin lebar.

"Baiklah," katanya lirih. "Aku kasih lima menit."

Namun setelah jeda sejenak, ia kembali berbisik di dekat telinga Chantika.

"Tapi kalau lima menit lagi kamu masih belum bangun... jangan salahkan aku kalau nanti Papamu lihat kita kayak gini."

Kalimat itu langsung membuat kelopak mata Chantika terbuka lebar. "Hah?"

Ia berkedip beberapa kali, lalu menyadari posisinya yang masih memeluk Enzo erat. Wajahnya seketika memerah.

Dengan gerakan cepat, ia langsung melepaskan pelukannya dan menjauh beberapa senti.

"Kamu sengaja!" protesnya sambil menatap Enzo.

Enzo hanya tertawa pelan. "Siapa yang tadi gak mau lepasin aku?" tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.

Chantika spontan mengambil bantal di sampingnya lalu memukulkannya pelan ke lengan Enzo.

"Dasar nyebelin!"

Enzo hanya tertawa kecil. Namun, beberapa detik kemudian senyumnya memudar. Tatapannya berubah serius.

"Chantika."

"Hm?"

"Nanti malam, saat aku datang melamarmu..." Enzo menatapnya lekat-lekat. "Menurutmu, aku sebaiknya datang sebagai staf biasa..."

Ia berhenti sejenak. "...atau sebagai CEO Arkana Global Logistics?"

Chantika seketika terdiam.

 

...🔸🔸🔸...

..."Pelukan yang paling menenangkan bukanlah yang mengekang, melainkan yang selalu siap menjadi tempat pulang."...

..."Rahasia bisa disimpan untuk sementara, tetapi kepercayaan hanya bisa dibangun dengan kejujuran."...

..."Kejujuran melahirkan kepercayaan, sementara cinta sejati lahir dari rasa saling menghormati, bukan saling menguasai."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Fadillah Ahmad
Wadaw. Banyak amat Enzo... 😂😂😂 30% saham, Vila, dan hotel? Waaah, kamu memang sudah tergila-gila sama Chantika rupanya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ini bisa menjadi bom waktu nih nanti... 😁😁😁 Karena Enzo membohongi Mertuanya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Saking Nyaman-nya di Kelonin Enzo, membuat Chantika ke siangan lagi... 😁😁😁
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!