NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dicium

Hari masih sangat gelap, langit baru saja mulai memudar dari kegelapan pekat menjadi warna biru kelabu yang samar, ketika Bellatrix sudah terbangun dari tidurnya. Tidak ada suara teriakan pelayan, tidak ada ketukan pintu yang keras karena tubuhnya sendiri sudah terbiasa bangun pada jam-jam paling awal, lalu mengusap wajahnya sebentar, mengusir sisa kantuk yang masih menempel di kelopak matanya.

Udara di dalam kamar masih terasa dingin, khas udara pagi di kediaman istana yang dikelilingi banyak pepohonan dan aliran air. Bellatrix melangkah turun dari tempat tidur, menginjakkan kakinya di atas karpet tebal yang menutupi seluruh lantai kamar.

Ia membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin segar masuk menerpa wajahnya, membawa serta aroma tanah basah dan bunga-bunga yang baru mekar di taman. Dalam hatinya, ia mengakui bahwa meskipun hidup di istana ini terasa penuh aturan dan pengawasan, udara dan lingkungannya jauh lebih baik dibandingkan tempat tinggalnya di kediaman Volkov.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian latihan yang terbuat dari bahan ringan namun tetap hangat, berwarna biru tua yang menjadi ciri khas keluarga Volkov, Bellatrix juga mengambil sunscreen di cincin ruang milik nya dan dia pakai supaya sebentar wajahnya tidak kusam dan gosong.

Bellatrix berjalan keluar dari kamarnya. Koridor istana masih sepi, hanya diterangi oleh lentera-lentera yang tergantung di dinding, menciptakan bayangan panjang yang bergerak mengikuti langkah kakinya. Ia berjalan dengan tenang, langkahnya ringan dan pasti, sesuatu yang tidak dimiliki oleh Bellatrix yang dulu.

Sesampainya di taman pelatihan yang terletak agak terpisah dari bangunan utama istana, ia melihat bahwa Thiago sudah ada di sana lebih dulu. Pria itu berdiri di tepi sungai kecil yang mengalir jernih membelah area taman, mengenakan pakaian latihan yang serupa namun lebih sederhana, rambutnya yang hitam legam sedikit berantakan tertiup angin pagi. Mendengar langkah kaki yang mendekat, Thiago menoleh, dan seketika itu juga senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

“Tepat waktu, seperti biasa” sapa Thiago dengan suara rendah yang merdu, terdengar jelas di tengah keheningan pagi. “Aku baru saja memeriksa aliran air hari ini. Cukup tenang, sangat cocok untuk memulai latihan tahap lanjutan.”

Bellatrix hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, lalu berjalan mendekat hingga berdiri beberapa langkah di sampingnya. Ia menatap permukaan air yang tenang, yang memantulkan cahaya samar dari langit yang mulai terang perlahan. “Kita mulai saja. Tidak perlu banyak bicara.”

Thiago tertawa pelan mendengar nada bicara gadis itu yang tetap datar dan tegas. “Selalu saja tidak sabar. Baiklah, hari ini kita akan melangkah lebih jauh dari sekadar mengangkat atau membentuk air. Kita akan belajar mengendalikan volume dan tekanannya sekaligus, hingga kau bisa mengubahnya menjadi kekuatan yang mampu melindungi maupun menyerang dalam skala besar.”

Ia melangkah sedikit mendekat, berdiri tepat di sisi Bellatrix, jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja. “Ingat prinsip dasarnya. Air mengikuti energi, bukan sebaliknya. Jika energimu kacau, air pun akan berubah menjadi bencana yang tidak bisa dikendalikan. Jangan pernah memaksakan lebih dari apa yang bisa kau tahan saat ini.”

Bellatrix tidak menjawab, ia hanya memusatkan seluruh perhatiannya pada permukaan air di hadapannya. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, telapak tangan menghadap ke bawah, lalu menyalurkan energi batinnya secara perlahan namun mantap. Seperti biasa, ia merasakan hubungan alami yang langsung terjalin antara dirinya dan unsur air itu — sebuah ikatan yang diwariskan dari darah keluarga Volkov, yang membuatnya terasa lebih mudah dibandingkan mengendalikan unsur lain.

Perlahan tapi pasti, air di permukaan sungai mulai bergerak. Timbul riak-riak kecil yang kemudian menyatu, naik ke atas membentuk tiang air setinggi dua meter yang berputar lambat. Bellatrix merasakan aliran itu, mencoba mengatur detak energi yang ia salurkan agar tetap stabil. Namun karena keinginannya untuk segera menguasai kemampuan ini sepenuhnya, ia tanpa sadar mulai mendorong lebih banyak tenaga keluar dari dalam dirinya, melebihi batas yang seharusnya ia keluarkan pada tahap ini.

“Tambah sedikit lagi… bisa lebih kuat lagi,” gumamnya dalam hati, matanya terpejam setengah karena konsentrasi.

Thiago yang mengamati dari samping awalnya mengangguk puas, namun ketika ia melihat kecepatan putaran air itu meningkat secara tiba-tiba dan ukurannya mulai membesar, matanya langsung melebar. “Bellatrix, hentikan! Kurangi tenagamu sekarang juga!”

Namun peringatan itu datang terlambat. Aliran energi yang sudah keluar tidak bisa ditarik kembali dengan mudah. Semakin ia berusaha menghentikannya, semakin terasa seolah tenaganya justru tersedot masuk ke dalam pusaran yang mulai terbentuk. Tiang air itu meledak menjadi pusaran raksasa, berputar dengan kecepatan yang mengerikan, menarik air dari bagian sungai yang lebih luas hingga membentuk lingkaran air setinggi lebih dari sepuluh meter, dengan suara gemuruh yang menggelegar hingga terdengar sampai ke ujung taman. Tanah di sekitarnya terasa bergetar, dan tarikan angin yang ditimbulkannya mulai menarik tubuh Bellatrix perlahan mendekati pusat pusaran yang berbahaya itu.

“Aku… aku tidak bisa mengendalikannya!” seru Bellatrix, suaranya tergesa dan sedikit terkejut. Kepalanya terasa berdenyut hebat, pandangannya sedikit kabur, dan ia merasakan seolah-olah seluruh tenaga di tubuhnya sedang disedot habis oleh kekuatan liar itu.

Dalam sekejap mata, Thiago sudah bergerak. Ia melompat maju dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan biasa, menerobos hujan percikan air yang melayang ke mana-mana. Begitu mendekat, ia segera melingkarkan kedua lengannya erat di pinggang Bellatrix, menarik tubuh gadis itu menempel kuat ke dadanya sendiri, melindunginya sepenuhnya dari terjangan arus air yang kencang. Satu tangannya tetap memeluk erat, sementara tangan lainnya terangkat, memancarkan cahaya keemasan yang lembut namun sangat kuat.

“Tutup matamu dan ikuti aliranku! Jangan melawan, hanya serahkan saja!” teriak Thiago di tengah suara gemuruh air, suaranya tetap tegas dan menenangkan.

Energi miliknya menyatu dengan aliran air yang kacau itu, perlahan namun pasti menekan kekuatan liar itu hingga putarannya melambat. Ia membimbing energi Bellatrix agar menyatu dengan miliknya, bukan bertabrakan. Detik demi detik, pusaran raksasa itu perlahan mengecil, ketinggiannya berkurang, dan akhirnya seluruh air itu jatuh kembali ke permukaan sungai dengan suara gemericik yang panjang, meninggalkan riak-riak besar yang perlahan-lahan menghilang kembali.

Suasana kembali hening, hanya tersisa suara napas keduanya yang terengah-engah dan tetesan air yang jatuh dari rambut, wajah, serta pakaian mereka yang kini basah kuyup. Thiago masih memeluk Bellatrix dengan erat, tubuhnya menjadi perisai yang melindungi gadis itu dari segala bahaya tadi. Baru setelah ia yakin semuanya benar-benar aman, ia perlahan mengendurkan pelukannya, namun tangannya tetap bertahan di pinggang dan bahu Bellatrix agar ia tidak terhuyung karena sisa tenaga yang hilang.

Thiago menatap wajah Bellatrix, matanya penuh kekhawatiran yang nyata, lalu segera mulai mengomel dengan nada yang terdengar keras namun tidak ada kemarahan yang sebenarnya, hanya rasa khawatir yang meluap.

“Sudah kubilang berkali-kali, jangan memaksakan tenaga melebihi batas kemampuanmu saat ini! Apa kau tidak mengerti arti perlahan dan bertahap? Jika aku terlambat sedikit saja, kau bisa terhisap masuk ke dalam pusaran itu dan terbawa arus ke bagian sungai yang dalam! Apa kau ingin membuat dirimu sendiri terluka? Atau kau pikir kekuatan ini bisa dikuasai hanya dalam hitungan hari tanpa kesabaran?”

Ia terus berbicara, tangannya bahkan menyeka air yang menetes di wajah dan leher Bellatrix sambil tetap mengeluarkan kata-kata peringatan dan kekesalannya yang sebenarnya lahir dari rasa takut.

Bellatrix hanya diam mendengar omelan itu, wajahnya langsung berubah menjadi cemberut, bibirnya mengerucut ke depan, dan matanya melotot kecil menatap Thiago dengan ekspresi yang sangat jelas terlihat kesal dan jutek. Begitu Thiago berhenti sejenak untuk menarik napas, ia segera menjawab dengan nada ketus dan datar, persis seperti yang ia rasakan.

“Ngomel mulu. Ah, ga suka gue!”

Ucapan itu keluar begitu saja, tanpa memikirkan nada atau kesopanan yang seharusnya digunakan kepada seorang Putra Mahkota. Namun bagi Thiago, mendengar kata-kata itu melihat ekspresi wajah gadisnya yang berusaha terlihat galak tapi justru terlihat lucu, membuatnya lupa sama sekali dengan kekhawatiran dan omelannya tadi. Ia mengerti sepenuhnya bahwa ini adalah cara Bellatrix menunjukkan kekesalannya.

Dan sialnya, dalam pandangan Thiago, ekspresi jutek dan ucapan ketus itu justru terlihat sangat menggemaskan, jauh lebih menarik dibandingkan sikap sopan dan patuh yang dipaksakan.

Jantung Thiago berdegup lebih kencang, rasa ingin melindungi dan rasa sayang yang perlahan tumbuh di hatinya meluap keluar tanpa bisa ditahan lagi. Ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Tanpa memberi kesempatan bagi Bellatrix untuk mengeluh atau menjauh, Thiago menundukkan kepalanya perlahan, lalu menempelkan bibirnya dengan lembut namun pasti ke bibir Bellatrix.

Ciuman itu singkat, hangat, dan penuh rasa yang terpendam. Bellatrix terkejut setengah mati. Matanya membulat sebesar biji kelapa, dan sesaat setelah ia sadar apa yang terjadi, reaksi pertamanya adalah melentingkan kepalanya ke depan, membenturkan dahinya dengan keras ke dahi Thiago.

TAK

Suara benturan itu terdengar cukup keras. Thiago meringis sedikit, mundur setengah langkah sambil memegang dahinya yang terasa perih, sementara Bellatrix segera mengangkat tangannya seolah ingin memukul lengan atau dada Thiago dengan keras. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh kulit pria itu, Thiago sudah bertindak lebih cepat. Dengan satu gerakan halus menggunakan sihirnya, ia mengirimkan energi ringan yang hanya mengenai sistem saraf di tubuh Bellatrix, membuat seluruh otot dan persendian gadis itu menjadi kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali, meskipun ia masih sadar penuh dan bisa berbicara.

Bellatrix terhenti di tempat, tangannya terangkat di udara, wajahnya masih memerah karena marah dan terkejut, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan sedikit pun. Ia masih terjebak dalam posisi dekat dengan Thiago, bahkan tubuhnya sedikit bersandar karena kaku itu, sehingga ia tetap berada dalam lingkaran lengan sang Putra Mahkota yang masih terbuka.

“Thiago! Lepaskan aku sekarang juga! Apa-apaan ini? Berani-beraninya kau bertindak sembarangan!” teriak Bellatrix dengan nada tinggi, suaranya terdengar marah dan terganggu, namun tidak bisa bergerak sedikit pun untuk melarikan diri atau membalas.

Thiago hanya tersenyum lebar, masih mengusap dahinya yang terasa sakit sedikit, tapi matanya bersinar penuh kemenangan dan kegembiraan. Ia tahu efek ini hanya bertahan beberapa menit saja, cukup untuk menenangkan suasana dan mencegah Bellatrix melakukan hal-hal yang akan ia sesali nanti.

“Tenang saja, ini hanya sementara. Jika aku tidak melakukan ini, kau mungkin akan memukulku sampai babak belur atau melarikan diri sambil marah-marah,” jawab Thiago santai, suaranya terdengar sangat puas. “Ingat, ini hanya dua hari lagi sebelum hari pengenalan calon permaisuri di hadapan seluruh bangsawan dan pejabat kekaisaran. Pada hari itu, status kita akan dipublikasikan secara resmi, dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita sesuka hati. Aku juga tidak mau wajahku penuh luka karena pukulanmu”

Bellatrix menggeram pelan di dalam hatinya, matanya melotot tajam menatap Thiago, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain meluapkan kekesalannya lewat kata-kata. “Dasar pengganggu! Kurang ajar! Kau pikir dengan cara ini aku akan berubah pikiran? Mimpi saja kau!”

Namun Thiago hanya tertawa mendengar protes itu, tangannya malah mengusap lembut puncak kepala Bellatrix seolah sedang menenangkan anak kecil yang sedang merajuk. “Kita lihat saja nanti. Waktu akan membuktikan segalanya.”

Di tempat lain, tidak jauh dari area taman yang tertutup pepohonan rindang, di balik tirai daun dan semak-semak yang lebat, ada tiga orang yang telah menyaksikan seluruh kejadian itu sejak awal hingga akhir. Mereka adalah Kaisar, Permaisuri, serta Duke dan Duchess dari keluarga Volkov orang tua Bellatrix.

Mereka berdiri diam, menyembunyikan keberadaan mereka dengan sihir penyamaran yang kuat, sehingga tidak ada seorang pun di taman yang menyadari kehadiran mereka.

Permaisuri tersenyum lembut, matanya bersinar penuh kelegaan dan kebahagiaan saat melihat interaksi antara kedua anak muda itu. “Lihatlah, suamiku. Sikap mereka jauh lebih alami dan tulus dibandingkan apa yang kami bayangkan sebelumnya. Thiago memang sudah mulai menaruh hati yang tulus, dan meskipun Bellatrix terlihat menolak dan marah, ia tidak benar-benar membencinya. Lihat saja caranya menatapnya, ada rasa percaya yang perlahan tumbuh.”

Kaisar mengangguk setuju, wajahnya terlihat tenang dan puas. “Benar sekali. Aku sempat khawatir perjodohan ini hanya akan menjadi beban bagi keduanya, tapi melihat perkembangan mereka hari demi hari, aku mulai yakin bahwa ikatan ini akan membawa kebaikan bagi kekaisaran dan juga bagi diri mereka sendiri. Dua hari lagi, saat pengenalan resmi berlangsung, tidak akan ada lagi keraguan dari pihak luar.”

Duke Volkov menatap putrinya dengan tatapan yang penuh rasa heran sekaligus bangga. “Putriku memang berubah total, menjadi lebih kuat, lebih tegas, dan memiliki keberanian yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Thiago pun menyadari perubahan itu dan justru semakin tertarik padanya. Ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua.”

Duchess menghela napas panjang sambil tersenyum. “Semoga saja segala hal berjalan lancar. Setelah hari pengenalan itu, mereka akan memiliki posisi yang kuat dan tidak mudah diganggu oleh pihak-pihak yang iri dan ingin merusak ikatan ini. Semoga cinta dan pengertian perlahan tumbuh di antara mereka, seiring berjalannya waktu.”

Mereka terus mengamati sebentar lagi, melihat bagaimana Thiago akhirnya melepaskan efek sihirnya setelah beberapa menit, dan bagaimana Bellatrix langsung melompat mundur menjauh sambil terus mengomel dan melotot, namun tidak lagi berusaha menyerang atau pergi meninggalkan tempat itu. Ia hanya berdiri di tempat yang agak jauh, wajahnya memerah padam, tapi tetap menunggu untuk melanjutkan latihan, seolah-olah tidak ada yang terjadi selain sebuah insiden yang memalukan.

Kaisar dan rombongannya pun perlahan mundur, meninggalkan taman itu tanpa diketahui siapa pun, membawa rasa lega dan harapan bahwa masa depan pasangan tunangan itu akan berjalan lebih baik dari yang mereka duga. Hari-hari yang tersisa sebelum pengenalan resmi akan menjadi masa yang penting bagi keduanya, untuk semakin memahami satu sama lain, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan baru yang akan datang.

Sementara itu, di taman pelatihan, Bellatrix masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang, wajahnya masih terasa panas, dan dalam hatinya ia mengakui satu hal yang tidak ingin ia ucapkan meskipun ia kesal dan marah, sentuhan dan ciuman tadi ternyata tidak terasa menjijikkan atau menyakitkan seperti yang ia bayangkan. Dan hal itu justru membuatnya semakin bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Thiago hanya berdiri di sana dengan senyum penuh kemenangan, yakin bahwa hari demi hari, ia akan bisa meruntuhkan tembok pertahanan yang dibangun oleh gadis yang sudah menjadi tunangannya itu.

 

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!