Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balapan..
Salah satu wanita keluar dan melambaikan kain ke atas. Wanita seksi tersenyum dan melempar kain hingga kain terjatuh—semua melaju cepat.
Varren memberi cela kedua orang di sebelahnya dan melajukan motornya tenang. Tatapan Varren yang tadinya ramah mulai menajam. Ia mulai menaiki gigi satu per satu, merasakan getaran mesin di bawah kakinya.
Di depannya, Sylas sudah melesat jauh. Motor hitamnya meliuk-liuk di antara lampu jalan, meninggalkan jejak asap tipis.
Varren menggenggam gas lebih erat.
Kejar.
Motor Ducati-nya meraung, melesat melewati dua pembalap lain di depannya. Angin malam menyambut wajahnya di balik helm. Suasana di sekitarnya seperti kabur—hanya garis-garis cahaya lampu jalan dan gemuruh mesin yang ia dengar.
Sylas memimpin. Sangat cepat. Setiap tikungan ia lalui dengan mulus, seolah tubuhnya menyatu dengan motor.
Tapi Varren tidak menyerah.
"Masih jauh," gumamnya pelan, menurunkan posisi tubuhnya untuk mengurangi hambatan angin. Kecepatannya naik. Lima kilometer per jam. Sepuluh. Lalu lima belas.
Sampai tikungan tajam di kilometer ketujuh. Sylas mengerem. Varren melihat kelegaan di gerakan itu—Sylas tidak berani mengambil risiko terlalu besar.
Tapi Varren berbeda.
Ia menahan gas. Tidak mengurangi kecepatan sama sekali.
Kreek—
Ban motornya hampir kehilangan traksi di aspal yang sedikit licin karena embun malam. Untuk sesaat, nyawa Varren terasa melayang. Tapi tangannya yang sudah terlatih menstabilkan motor. Tubuhnya bergeser ke sisi kiri, menyeimbangkan bobot, dan motor itu kembali melaju.
Di sampingnya, Alvino yang sempat di belakang tiba-tiba melesat menyalip di sisi kanan dengan gerakan kasar, hampir menyerempet lengan Varren.
"Kurang ajar," bisik Varren.
Tapi ia tidak terpancing. Ia tetap fokus pada satu target: Sylas.
Trang—
Suara motor jatuh dari belakang. Sepertinya salah satu pembalap tergelincir di tikungan. Varren tidak menoleh, tidak peduli. Yang penting adalah garis finish yang semakin dekat.
Di garis finish, Sylas memimpin dengan jarak beberapa meter. Varren melihat peluang—sebuah celah kecil di sisi kiri, dekat dengan pembatas jalan.
Varren menarik napas.
Lalu ia menekan gas sekencang-kencangnya.
Motor Ducati-nya melesat seperti peluru. Roda depan sedikit terangkat. Sylas tersentak—ia melihat bayangan hitam di sisi kirinya, terlalu cepat untuk dihindari.
Dan Varren melintasi garis finish beberapa inci di depan Sylas.
Sorak sorai meledak dari sisi Kings of Asphalt. Varren melambat perlahan, napasnya masih berat. Di belakangnya, Sylas menghentikan motor dengan kasar, posturnya tegang sempurna.
Sylas turun dari motor, langsung menendang motor Alvino yang baru saja berhenti. Semua orang terkejut.
"Loe curang! Temen gue jatuh karena loe dorong kan?" tanya Sylas melirik Reja yang berjalan terpincang karena luka di kakinya, dituntun Tavian mendekati mereka.
Alvino mendengarnya menatap Sylas dengan senyum licik. "Kalau nggak siap kalah... jangan ikut balapan."
Sylas mengepalkan tangan. "Lo—"
"Lucu," potong Alvino dengan nada dingin. "Setiap kalah selalu ada alasan."
Reja menggeleng pelan, melirik Varren yang mendekati mereka. "Dia nggak dorong, Bos. Gue oleng pas dia nyalip gue di tikungan." ujarnya pelan.
Alvino terkekeh melihat Sylas di sana menatapnya tajam. "Gue juga kalah sama kali,santai aja ," ujar Alvino menunjuk ke arah Varren. "Jangan cari kambing hitam."
Sylas menatap Varren. Matanya menyipit, menelisik.
Mata itu...
Di mana pernah kulihat?
Sylas undur dan menjauh tanpa berkata apa-apa, meninggalkan Reja dan rombongannya.
"Sialan. Bisa-bisanya kita kalah." gumam Tavian menatap rombongannya yang ikut kecewa.
"Dia emang jago, nggak heran sih." ujar rombongan lain, Rino.
"Kenapa?" tanya Sylas, kembali mendekat.
Rino menatapnya serius. "Dia itu ketua Kings of Asphalt. Dibilang kalau dia nggak pernah kalah balapan."
Tavian menatap Rino dengan alis terangkat. "Kok loe tau?"
"Semua orang tahu, Via. Cuma nggak ada yang tahu wajahnya." Rino menggeleng. "Katanya, anggota Kings of Asphalt identitasnya harga mati. Kalaupun ada yang ketahuan... anggotanya sendiri yang akan membunuhnya."
Keheningan menyelimuti mereka.
Sylas menatap ke arah sosok yang baru saja mengalahkannya. Pria bertubuh mungil dengan mata tajam itu. Sesuatu terasa sangat familiar.
Kenapa matanya...
Kenapa mengingatkanku pada Varren?
Ia menggeleng pelan, lalu berbalik.
"Pulang," katanya datar.
Varren melepas helmnya di tempat yang sepi.
Haikal mendekatinya. "Tadi lo luar biasa."
Varren mengangguk, matanya masih menatap ke arah Sylas yang menjauh. "Dia terlalu percaya diri."
"Ketua Phoenix emang begitu." Haikal menghela napas. "Tapi lo harus hati-hati. Sekarang dia pasti penasaran sama lo."
Varren tersenyum tipis, lalu menatap langit malam.
Bagus.
Biarkan dia penasaran.
Bersambung...