Dhini Apriani seorang gadis cantik yang merasa dirinya titisan dewi kuan'in, bertemu dengan seorang pangeran tampan yang kadar ketampanannya diatas rata-rata lelaki pada umumnya.
Pertemuan mereka yang terjadi karena sebuah kesalahan kecil, membuat keduanya semakin hari semakin dekat.
Davin Aditya Pratama, putra seorang pengusaha sukses yang menjalin kasih dengannya. Namun sayangnya, orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan anak dari temannya.
Lantas bagaimana kisah cinta antara dua makhluk kasat mata itu ?
cekidot....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade The_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakso Kasmaran
Seminggu setelah kejadian itu, dhini selalu pulang tepat waktu ke rumah nya. Tante ratih benar-benar tidak tahu kejadian yang sebenarnya bahwa dhini bukanlah pergi mengerjakan tugas kelompok melainkan nonton bioskop dan bermain-main di mall dengan teman temannya.
Hari ini salwa ijin tidak masuk sekolah karena sedang demam, Dhini yang baru saja keluar gerbang sekolah berjalan ke arah toko roti yang tak jauh dari sekolahnya. Dari kejauhan dia melihat seseorang yang sepertinya dia kenali. Diapun bergegas menghampiri nya "eh si abang, ngapain disini ? " tanya dhini.
"Eh kamu bocah yang waktu itu kan ?" jawab davin.
"Stop deh nyebut aku bocah, aku tuh udah gede bang, noh bentar lagi udah mau tamat sekolah kata mama udah bisa nikah kalau ada yang lamar" ucapnya asal.
"Ampun deh liat anak zaman sekarang, isi otak nya udah mau nikah aja, baru juga mau tamat belum tentu lulus. Kayaknya kamu mesti di ruqyah ini biar fikiran kamu bersih". jawab davin sambil memegang kepala dhini seperti seorang dukun yang sedang mengobati pasiennya.
"BTW nih ya bang ngapai abang disini sendirian, abang penunggu pohon ini ?" tanya dhini sambil tertawa menujuk pohon rindang yang saat ini tempat mereka mengobrol.
"Siwalan nih bocah, enak aja kalo ngomong. Aku tadi lagi nungguin temen, ini sepeda motor aku mogok tapi orangnya ntah kemana nih udah setengah jam aku disni , mana batre aku lowbat lagi". jelas davin, namun tiba-tiba dia menatap dhini dengan tatap yang tajam setajam silet , dia teringat akan kejadian malam itu.
"Eh bocah, kamu ini benar-benar ga tau terimakasih ya, waktu itu--" belum sempat dia melanjutkan ucapannya dhini langsung menjejeli mulutnya dengan lolipop yang dipegangnya sedari tadi.
"Udah-udah , gak usah dibahas lagi. Abang tuh kalo niat nolongin orang tuh harus iklhas, seperti kata pepatah mengatakan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah" jelas dhini yang seolah berubah menjadi guru.
"Hmmm ya ya ya". jawab davin menganggukkan kepalanya malas.
"Daripada abang nungguin temen abang yang gak jelas keberadaannya, mendingan tuh sepeda motor dibawa ke bengkel temen papa aku aja, tempatnya gak jauh dari sini kok biar aku temenin, mau ? tawar dhini yang langsung di iyakan davin.
Mereka berdua pun langsung menuju ke bengkel tersebut, davin yang mendorong sepeda motornya merasa kelelahan, hingga ketika tiba di tempat dia langsung memarkirkan sepeda motornya itu dan langsung duduk di bangku panjang menghela nafasnya dengan kasar.
Dhini yang merasa kasihan melihat keringat yang bercucuran membasahi wajah tampannya davin segera mengambil sapu tangan dari dalam tasnya, dan dengan lemah lembut di usapnya wajah yang penuh dengan peluh itu.
"Kasian amat si abang dorong motor ampe berpeluh-peluh begini, nih bang minum dulu" dhini lalu memberikan botol air mineral dan sebungkus roti isi coklat yang dibelinya sebelum mereka pergi ke bengkel tadi.
Sambil menunggu motor yang sedang diperbaiki mekanik itu mereka berbincang, sesekali terdengar suara tawa dari kedua makhluk kasat mata itu. Saling berbagi cerita, hingga akhirnya mereka saling bertukar nomor handphone.
Satu jam berlalu , sepeda motor pun siap untuk digunakan kembali. "Dhin , yuk abang anterin pulang" tawar davin mengajak dhini, setelah dia tau namanya gadis cantik itu dia tak lagi memanggilnya dengan sebutan bocah.
"Boleh, ehh tapi bang dhini mau makan bakso dulu ada di deket rumah dhini warung bakso yang enak banget " jawab dhini penuh semangat.
"Ya udah deh kita makan bakso sama-sama" mereka pun pergi meninggalkan bengkel menuju warung bakso langganan dhini. Bakso Kasmaran begitu tulisannya terpampang besar di depan pintu masuk.
Dhini yang sangat menikmati bakso pesanannya pun segera melahapnya penuh semangat, Davin yang melihat wajah dhini yang sedikit belepotan langsung mengambil tisyu dan mengelep sudut bibir gadis itu dengan lembut.
"Kamu makannya pelan-pelan, ini belepotan kemana-mana tau" ucap davin setelah itu dia melanjutkan kembali makannya. "kalau di perhatiin lama-lama bocah ini ternyata cantik juga" batinnya.
bersambung..
terimakasih atas kunjungannya, telah membaca 😄🙏 , mohon dukungannya
ceritanya beneran mirip sama dunia real😂
jadi g mungkin belajar
malah nonton🤦🏻♀️
tapi yang penting jangan ke hal yg negatif 👍
penulisannya rapi tanpa ada typo
karakter cwo yang tampannya diatas rata-rata