"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 | TEROR DI UJUNG FAJAR
Di sudut lain kota Madrid, raungan baling-baling helikopter komersial bernilai puluhan juta Euro membelah kegelapan malam. Helikopter pribadi berlogo megah keluarga Vanderbilt itu mendarat mulus di atas helipad puncak pencakar langit Vanderbilt Tower.
Dari dalam kokpit, Austin Vanderbilt melangkah keluar dengan gerakan anggun dan percaya diri. Pria Spanyol bermata biru jernih itu menerjang angin malam yang berembus kencang, melepas kacamata hitamnya seraya menyerahkan mantel bulunya pada pria berbadan tegap yang sudah menunggunya tepat di depan pintu lift khusus.
Austin memandu helikopternya sendiri malam ini. Setelah mengantarkan Aleeza kembali dari pesta, Austin harus melesat cepat mengurus rapat darurat jajaran direksi yang tak bisa ditunda. Kekuasaan dan takdir bisnis memaksa Austin untuk selalu menjadi penguasa yang dominan.
"Semua jajaran direksi sudah berkumpul, Tuan Vanderbilt?" tanya Austin dingin pada Norman, pria paruh baya yang telah menjadi pengawal pribadinya sejak lama.
"Mereka sudah menunggu di boardroom utama, Tuan," jawab Norman singkat dan patuh.
"Apakah Sebastien hadir dalam rapat ini?" selidik Austin lagi seraya melangkah masuk ke dalam lift berdinding kaca transparan.
" Tuan Sebastien berhalangan. Nona Christine yang menggantikannya," sahut Norman dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Austin menyunggingkan senyuman tipis yang dingin. Sebuah rencana licik baru saja melintas di kepalanya.
Sebelum pintu lift menutup, Austin merogoh ponsel mahal dari saku celana jasnya, lalu langsung mengacak sebuah nomor pribadi. Ponsel di seberang sana tersambung hanya dalam dua kali nada dering.
"Aleeza Wira, calon Nyonya Vanderbilt..." sapa Austin mengalun lancar dengan nada suara yang sengaja dibuat bernuansa godaan sekaligus ancaman yang pekat.
Di seberang sana, terdengar desahan napas kasar dan berat dari Aleeza yang baru saja kembali dari vila tempat Julian dirawat.
"Orangku akan menjemputmu sepuluh menit lagi," ujar Austin tanpa memberikan ruang untuk dibantah. "Kau harus bersiap sekarang. Karena jika kau menolak aku akan memastikan Julian menerima hadiah kecil dari orang-orangku pagi ini."
Keheningan tajam mencengkeram sambungan telepon. Aleeza menahan napas di seberang sana, amarahnya meledak namun ia tertahan oleh rasa takut atas keselamatan Julian.
"Bagaimana bisa kau menyuruhku datang di jam tiga pagi, Austin?!" bentak Aleeza dengan suara berbisik tertahan. "Kau sudah gila?!"
Austin terkekeh pelan—sebuah tawa rendah beraroma dominasi yang mengintimidasi seraya melirik arloji emas bertatahkan berlian di pergelangan tangannya. Arloji itu memang menunjukkan tepat pukul 03.00 pagi.
"Aku harus memamerkan wujud tunanganku pada seluruh jajaran direksi Vanderbilt Industry, Mi Amor. Dan mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi," bisik Austin lembut namun tajam bagaikan sembilu.
"Aku tidak sedang bermain-main denganmu, Austin! Aku lelah!" seru Aleeza sengit.
"Aku tidak sedang menggodamu, Aleeza," potong Austin dingin saat lift bergerak perlahan turun menuju lantai rapat direksi.
"Aku adalah bos di sini. Jadi, terserah padaku mau mengadakan rapat di malam hari, pagi hari, atau fajar sekalipun. Tidak ada yang bisa menolak kemauanku termasuk kau."
Austin mendekatkan mik ponselnya ke bibirnya, berbisik dengan nada penuh obsesi yang mematikan:
"Lagipula, suaramu di jam tiga pagi ini terdengar sangat segar, membuktikan kau belum tidur sama sekali. Jadi bersiaplah. Jangan biarkan calon suamimu ini menunggu terlalu lama, Mi Amor.
TUT!
Austin mematikan sambungan telepon secara sepihak, menyunggingkan senyum kemenangan yang amat berbahaya seraya melangkah keluar dari lift menuju ruangan rapat.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!