“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Bonus Laras Rp. 48 Juta
Pagi itu, Laras pulang lebih cepat dari biasanya.
Aku sedang membereskan meja makan ketika suara pintu depan terdengar. Langkahnya ringan. Bahkan sebelum melepas sepatu, ia sudah memanggil ibunya dengan suara bersemangat.
“Bu! Ibu di mana?”
Ibu Retno keluar dari kamar. Tangannya masih memegang keranjang pakaian yang hendak dibawa ke ruang cuci.
“Kenapa? Ada apa? Kok kelihatan senang sekali?”
Laras tersenyum lebar. Ia meletakkan tas di sofa, membuka resletingnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih.
“Aku dapat bonus, Bu.”
Ibu Retno langsung meletakkan keranjang pakaian.
“Bonus? Berapa?”
Laras mengangkat amplop itu sedikit, seolah ingin memastikan ibunya memperhatikan kabar yang akan disampaikan.
“Aku dapat bonus 48 juta.”
“Ya ampun banyak sekali!”
Ibu Retno mendekat. Matanya membesar, kemudian tangannya meraih lengan Laras.
“Empat puluh delapan juta? Kamu serius?”
“Iya, Bu. Dari kantor. Hasil evaluasi kerjaku bagus.”
“Alhamdulillah! Memang pantas kamu mendapatkannya. Kamu sudah kerja keras, pulang malam, mengurus banyak pekerjaan. Akhirnya jerih payahmu dihargai juga.”
Laras tertawa kecil. Wajahnya tampak puas. Selama beberapa bulan terakhir, pekerjaannya memang semakin padat. Ia sering membawa urusan kantor ke rumah, menjawab telepon di luar jam kerja, dan beberapa kali pulang ketika malam sudah larut.
Aku mengetahui itu semua.
Aku juga tahu bahwa penghargaan yang diterimanya tidak datang tanpa usaha. Laras telah bekerja keras untuk mencapai targetnya. Aku tidak punya alasan untuk mengecilkan pencapaian tersebut hanya karena penghasilanku tidak pernah ia lihat secara langsung.
Aku mendekat setelah selesai merapikan meja.
“Selamat, Laras. Aku senang kamu dapat penghargaan.”
Laras menoleh sebentar.
“Terima kasih.”
Jawabannya singkat. Setelah itu, perhatiannya kembali kepada ibunya.
“Bonusnya lumayan besar, Bu. Aku sendiri tidak menyangka jumlahnya sebanyak ini.”
Ibu Retno mengambil amplop tersebut, lalu memeriksa bagian depannya.
“Bagus. Kamu harus pintar mengatur uang. Jangan sampai habis begitu saja.”
“Aku tahu, Bu.”
“Empat puluh delapan juta bukan uang sedikit. Kalau disimpan dengan benar, kamu punya pegangan untuk masa depan.”
Laras mengangguk. Ia mengambil kembali amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Aku berbalik hendak membawa piring ke dapur, tetapi suara Ibu Retno kembali terdengar.
“Bonus itu hasil kerja kerasmu sendiri. Jangan dipakai untuk menutup kebutuhan rumah tangga. Uang sebanyak itu harus kamu simpan baik-baik.”
Tanganku berhenti di atas meja.
Laras tidak langsung menjawab. Ia merapikan tali tasnya, lalu duduk di sofa.
“Iya, Bu. Aku juga sudah punya rencana.”
“Bagus. Kamu harus memikirkan dirimu sendiri. Jangan sampai hasilnya dinikmati orang lain.”
Pada kalimat terakhir, Ibu Retno melirik ke arahku.
Hanya sebentar.
Namun, tatapan itu cukup jelas untuk membuatku memahami siapa yang dimaksudnya.
Orang lain.
Aku berdiri beberapa langkah dari mereka, memegang dua piring yang belum sempat kubawa ke dapur. Tiba-tiba, benda sederhana itu terasa berat di tanganku.
Selama ini, aku tidak pernah meminta Laras menyerahkan penghasilannya kepadaku. Aku tidak pernah memaksanya membagi bonus atau mengorbankan tabungannya demi memenuhi keinginanku. Bagiku, uang yang diperoleh seseorang dari pekerjaannya adalah hak orang tersebut.
Namun, di mata Ibu Retno, keberadaanku seolah menjadi ancaman bagi setiap rupiah yang diterima putrinya.
Aku menurunkan pandangan, lalu melanjutkan langkah ke dapur.
Tidak ada gunanya menanggapi sindiran yang bahkan tidak disampaikan secara langsung. Jika aku membantah, Ibu Retno mungkin akan menganggapku tersinggung karena merasa perkataannya benar.
Padahal, yang membuatku sakit bukan uang itu.
Melainkan cara mereka memandangku.
“Laras, satu hal lagi,” kata Ibu Retno dari ruang tengah.
“Apa, Bu?”
“Kamu jangan terlalu mudah merasa kasihan. Orang yang sudah terbiasa bergantung kepada orang lain biasanya akan terus mencari alasan supaya kebutuhannya dipenuhi.”
Aku meletakkan piring di bak cuci.
Air keran mengalir. Suaranya menutupi beberapa detik kesunyian di ruang tengah, tetapi tidak cukup keras untuk menghilangkan kalimat yang baru saja kudengar.
Aku tahu Ibu Retno sedang membicarakanku.
Ia tidak perlu menyebut namaku.
“Makanya, uang bonusmu jangan dicampur dengan uang kebutuhan sehari-hari,” lanjutnya. “Pisahkan. Simpan sendiri. Kalau ada yang membutuhkan, belum tentu kamu harus selalu membantu.”
Laras menjawab pelan, “Iya, Bu.”
Aku menutup keran setelah membilas piring.
Di luar jendela dapur, matahari pagi mulai meninggi. Seharusnya hari itu berjalan seperti biasa. Aku menyelesaikan pekerjaan rumah, Laras bersiap kembali menjalani urusannya, dan Ibu Retno menghabiskan waktu dengan kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya.
Namun, satu kalimat sederhana telah mengubah suasana di rumah.
Jangan sampai hasilnya dinikmati orang lain.
Aku mengulang kalimat itu di dalam kepala.
Aneh rasanya menjadi orang yang tinggal bersama keluarga, tetapi selalu diperlakukan seperti pihak luar. Aku tidak menuntut mereka mengakui semua yang kukerjakan. Aku hanya berharap keberadaanku tidak selalu dicurigai setiap kali sesuatu yang baik terjadi.
Ternyata, harapan sekecil itu pun terasa terlalu besar.
Ketika aku kembali ke ruang tengah, Ibu Retno sedang memperhatikan penampilanku. Aku mengenakan kaus abu-abu sederhana dan celana rumah. Pakaian yang nyaman untuk bergerak, mencuci piring, dan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
Ia mengerutkan dahi.
“Arkan, kamu tidak punya baju lain?”
Aku menatapnya.
“Ada, Bu. Kenapa?”
“Setiap hari pakai kaus seperti itu. Memangnya kamu tidak bosan?”
Aku melirik kaus yang kukenakan, kemudian kembali menatapnya.
“Masih layak dipakai.”
“Layak menurutmu belum tentu pantas dilihat orang.”
Aku tidak menjawab.
Ibu Retno menggeleng, lalu berkata dengan nada meremehkan, “Jangan kaus rumah terus, orang kira sopir.”
Laras yang sedang memeriksa ponselnya mengangkat wajah. Matanya sempat bertemu dengan mataku, tetapi ia segera kembali melihat layar.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada teguran kepada ibunya.
Aku sudah terbiasa menghadapi sikap seperti itu, tetapi terbiasa bukan berarti kebal. Ada perbedaan antara menerima bahwa seseorang memiliki pendapat buruk tentang kita dan harus mendengarnya berulang kali dari orang yang tinggal serumah.
“Kalau suami orang lain mendapat penghasilan bagus, istrinya bisa bangga,” lanjut Ibu Retno. “Setidaknya, kalau diajak pergi, penampilannya pantas. Tidak membuat istrinya malu.”
Aku menarik kursi dan mulai merapikan beberapa benda di atas meja.
“Sudah, Bu,” ujar Laras akhirnya. “Tidak usah dibahas terus.”
Ibu Retno mendengus.
“Ibu hanya ingin kamu sadar. Kamu sudah bekerja keras. Jangan sampai kamu terus menanggung semuanya sendirian.”
Laras diam.
Aku juga diam.
Nasihat itu terdengar seolah-olah ditujukan untuk melindungi Laras. Namun, setiap kalimatnya selalu berakhir dengan menjadikanku seseorang yang tidak pantas berada di sampingnya.
Aku tidak tahu apakah Laras menyadari hal tersebut atau memang memilih untuk tidak memikirkannya.
Yang kutahu, ia tidak pernah benar-benar menghentikan penghinaan itu.
Beberapa menit kemudian, Laras berdiri dan menghampiriku.
“Arkan, aku mau bicara.”
Aku meletakkan benda yang sedang kurapikan.
“Ya?”
“Soal bonus tadi.”
Aku menunggunya melanjutkan.
“Kalau bonus cair, aku mau simpan sendiri. Jangan minta buat kebutuhan rumah.”
Ia mengucapkannya dengan tenang, tetapi ketegasan suaranya membuat kalimat itu terdengar seperti peringatan.
Aku menatap wajahnya. Tidak ada tanda bahwa ia sedang bercanda.
“Silakan, itu hakmu.”
Laras tampak sedikit terkejut.
“Kamu tidak keberatan?”
“Tidak.”
“Jadi, kamu benar-benar tidak akan meminta bagian?”
Aku menggeleng pelan.
“Itu hasil kerja kerasmu. Kamu berhak menentukan bagaimana uangmu digunakan.”
Laras mengembuskan napas, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang selama ini mengganggunya.
“Bagus kalau kamu mengerti.”
Aku tidak menjawab.
Ia kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya. Percakapan kami selesai tanpa pertanyaan lebih lanjut. Baginya, masalah itu sudah jelas. Bonusnya akan menjadi miliknya sendiri, dan ia tidak perlu khawatir aku akan meminta sebagian.
Aku kembali membereskan meja makan.
Piring kotor yang tersisa kubawa ke dapur. Aku mencucinya satu per satu, membilasnya, lalu menyusunnya di rak. Setelah itu, aku mengelap meja dan merapikan kursi yang sedikit bergeser.
Semua kulakukan seperti biasa.
Tidak ada alasan untuk berhenti hanya karena perkataan seseorang melukaiku.
Namun, saat mengangkat piring terakhir, aku kembali teringat tatapan Ibu Retno ketika mengatakan jangan sampai hasilnya dinikmati orang lain.
Aku pernah berpikir bahwa selama aku tidak membalas penghinaan, keadaan akan menjadi lebih baik dengan sendirinya. Aku mencoba memahami kesibukan Laras, menerima kebiasaan ibunya, dan menghindari pertengkaran yang tidak perlu.
Tetapi diamku tampaknya tidak pernah dianggap sebagai kesabaran.
Mereka justru semakin yakin bahwa aku tidak punya sesuatu untuk dipertahankan.
Ketika kembali ke ruang tengah, aku melihat Laras sedang berbicara melalui telepon. Suaranya terdengar ceria. Ia menceritakan bonus yang baru diterimanya, sesekali tertawa kecil ketika orang di seberang memberikan tanggapan.
Aku tidak mendekat.
Aku membiarkannya menikmati kabar baik itu. Ia pantas merasa bangga atas pekerjaannya. Tidak ada yang salah dengan menyimpan uang untuk masa depan atau menentukan prioritas keuangan sendiri.
Yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa sebelum aku melakukan apa pun, mereka sudah menganggapku sebagai seseorang yang akan mengambil keuntungan darinya.
Aku membereskan sisa barang di meja, kemudian duduk sebentar di dekat jendela.
Ponselku berada di samping tangan. Ada beberapa pemberitahuan rutin, tetapi tidak ada yang perlu segera kutanggapi. Aku membiarkannya tetap di sana dan memperhatikan halaman rumah yang mulai terkena cahaya matahari.
Dari ruang tengah, suara Ibu Retno kembali terdengar.
“Empat puluh delapan juta, Laras. Kamu harus benar-benar menjaganya. Jangan sampai uang itu habis untuk sesuatu yang tidak penting.”
“Iya, Bu. Tenang saja.”
“Kalau kamu ingin membeli sesuatu untuk dirimu sendiri, belilah. Kamu sudah bekerja keras. Kamu berhak menikmati hasilnya.”
Aku mengangguk kecil, meski tidak ada seorang pun yang melihat.
Benar. Laras berhak menikmati hasil kerjanya.
Aku tidak pernah mempermasalahkan itu.
Aku hanya berharap suatu hari nanti, mereka memahami bahwa seseorang tidak harus memiliki penghasilan yang dipamerkan untuk layak dihargai. Bahwa pekerjaan yang tidak terlihat oleh orang lain tetap bisa memiliki nilai. Bahwa mengurus rumah, menjaga tanggung jawab, dan memilih tidak membalas penghinaan bukanlah bukti kelemahan.
Namun, aku tidak akan memaksa mereka memahami sesuatu yang bahkan tidak ingin mereka lihat.
Pagi itu, aku memilih melanjutkan kegiatanku tanpa perdebatan. Aku tidak meminta uang, tidak menuntut penjelasan, dan tidak mengungkit semua yang telah kulakukan selama ini.
Biarlah Laras menyimpan bonusnya.
Biarlah Ibu Retno merasa telah memberikan nasihat terbaik kepada putrinya.
Aku tidak perlu mengubah kegembiraan mereka menjadi pertengkaran.
Tetapi ketika aku kembali melihat kaus abu-abu yang kukenakan, ada satu hal yang tidak bisa lagi kuabaikan.
Di rumah ini, aku bukan hanya dianggap tidak mampu.
Aku juga dianggap sebagai orang luar yang mungkin akan mengambil sesuatu dari mereka.
Dan yang paling menyakitkan, Laras membiarkan anggapan itu tumbuh tanpa berusaha membantahnya.
Aku menunduk, merapikan ujung kaus, lalu kembali berdiri.
Tidak ada gunanya berdebat tentang harga diriku di hadapan orang-orang yang sudah menentukan nilainya.
Suatu hari nanti, mereka mungkin akan memahami bahwa yang membuat seseorang layak dihormati bukanlah jumlah uang yang dibawanya pulang, bukan pula pakaian yang dikenakannya.
Namun, pagi itu belum menjadi hari tersebut.
Untuk sekarang, aku tetap diam.
Bukan karena aku tidak memiliki jawaban, melainkan karena aku tidak ingin menjadikan rahasia hidupku sebagai alat untuk meminta penghargaan dari siapa pun.
Laras boleh menyimpan empat puluh delapan juta itu.
Aku tidak akan memintanya.
Tetapi aku juga tidak akan melupakan betapa mudahnya mereka menganggapku sebagai orang lain di dalam rumah sendiri.