Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pedang dari pasar bulan baru itu berdengung rendah di bawah telapak kakinya, dan angin pagi menampar wajah Yu Tian setiap kali ia memiringkan bilah untuk berbelok.
Di bawahnya hutan membentang sebagai lautan hijau tua, dengan sungai-sungai tipis berkelok dan berkilau perak di antara lembah. Ia sudah terbang tanpa henti sejak fajar, dan Qi yang mengalir dari dantiannya ke bilah itu terus terkuras sedikit demi sedikit. Tenggorokannya kering sampai perih, dan bibirnya pecah oleh angin.
'Terbang dengan pedang ternyata memakan Qi lebih banyak daripada yang kuingat. Dulu aku tidak pernah merasakan haus.' Ia melihat sebuah sungai berkelok di kaki bukit dan menurunkan pedangnya perlahan, lalu mendarat di tepi yang berbatu dengan lutut sedikit menekuk. Luka di rusuknya masih berdenyut di balik balutan kain, dan ia mengabaikannya sambil berlutut di tepi air.
Air sungai itu dingin dan jernih. Ia menangkupkan kedua tangan, meminumnya dalam tegukan panjang, dan rasa sejuk menjalar dari kerongkongan sampai ke dada. Ia meminum lagi, lalu membasuh wajah dan lehernya, dan darah kering di pelipisnya larut menjadi garis merah tipis yang hanyut di permukaan. 'Segar. Hal sesederhana ini pun terasa mewah setelah semalam.'
Ia menunggu riak air mereda, dan wajahnya muncul di permukaan yang tenang. Pipinya lebih tirus dari beberapa hari lalu, matanya cekung oleh kurang tidur, dan di pelipis kirinya ada bekas luka batu yang membengkak keungu-unguan.
Tatapannya jatuh pada mata di pantulan itu, dan tiba-tiba yang ia lihat bukan wajahnya sendiri, tetapi wajah Bai Zhuo yang menatap langit tanpa melihat apa pun. Dadanya terasa sesak, dan ia menghela napas panjang. 'Sudahlah. Ini hanya sebagian kecil dosaku. Aku harus belajar berdamai dengannya.'
Sesuatu bergerak di permukaan air. Yu Tian menyipitkan mata. Di pantulan langit yang bergoyang pelan, tiga bayangan sempit meluncur turun dengan cepat, masing-masing berdiri di atas bilah pedang yang berkilau. Ia berhenti bernapas dan mengangkat tangan kanannya perlahan di atas air, telapaknya terbuka, dan merasakan tekanan Qi yang tebal menggelitik kulitnya dari atas. Tiga arus yang berat, dan semuanya mengincar kepalanya.
Ia melompat ke samping tepat ketika kilatan perak menyambar tanah tempat ia berlutut. Batu-batu tepi sungai terbelah dalam garis lurus sedalam lengan, dan air meledak ke udara dalam tirai putih. Yu Tian berguling di atas kerikil, bangkit dengan satu lutut, dan tangan kanannya sudah menarik pedang dari sarung di sabuknya. Bilah itu berpendar putih pucat di bawah cahaya pagi.
Tiga lelaki berjubah turun dari langit dan mendarat membentuk segitiga di sekelilingnya. Yu Tian mengenali yang berjubah merah bersulam api, yang berdiri di kiri dengan wajah menyala dan kedua tangan berkobar. Ia tidak mengenali dua lainnya: seorang lelaki kurus berjanggut perak yang tangannya menggenggam kantong kecil beraroma getir, dan seorang lagi yang berdiri di kanan dengan pedang panjang terhunus dan wajah sekeras batu.
"Iblis!" Tetua Huo mengayunkan tangannya, dan lidah api memanjang di udara. "Kau membunuh Ketua Xuan Ming dan menjarah gudang pusaka! Serahkan nyawamu, dan kami akan membiarkan kepalamu utuh sampai ke gerbang sekte!"
Yu Tian menegakkan badan perlahan, memutar pedang di tangan, dan tidak ada ketegangan di wajahnya. "Tiga tetua puncak turun gunung untuk satu orang. Itu sudah pengakuan bahwa kalian tidak percaya pada diri sendiri."
"Tetua Jiang, dari kiri! Tetua Wen, kabutnya sekarang!" Teriakan Tetua Huo memecah udara. Pria berpedang itu melesat lebih dulu dengan tebasan lebar yang meninggalkan garis perak di udara. Yu Tian menangkis dengan sisi pedang dan percikan menyambar ke wajahnya.
Kabut hijau pekat menyembur dari kantong Tetua Wen dan menyebar rendah di atas kerikil, beraroma pahit yang membakar hidung, dan Yu Tian menahan napas sambil mundur ke tepi sungai. Api Tetua Huo menyusul dari atas, dan kobarannya menjilat lengan jubahnya sampai hangus.
Ia membelah api itu dengan sapuan pedang, dan bilah putih itu menyayat nyala sampai tercerai-berai menjadi percikan. Ia menangkis tebasan Tetua Jiang berulang kali dengan lengan yang mulai mati rasa, memutar tubuh menghindari tiga lidah api dan satu semburan kabut, dan tiap kali ia membelah satu serangan, dua yang lain datang lebih rapat. Luka baru terbuka di pipi dan bahunya, dan telapak kanannya melepuh di bawah gagang pedang.
'Inti Emas, ketiganya. Satu ranah di atasku, dan mereka tidak lagi menahan diri.'
"Gabungkan!" Tetua Huo berteriak dengan suara serak. "Semua kekuatan sekarang!"
Ketiga tetua itu melompat mundur serentak dan mengangkat tangan. Api merah, cahaya perak, dan kabut hijau melesat naik ke udara, berputar, lalu menyatu menjadi seekor naga raksasa sepanjang tiga puluh langkah dengan sisik berpendar tiga warna. Naga itu menggeram, dan seluruh permukaan sungai bergetar. Udara di sekitar Yu Tian memanas dan menegang sampai rambutnya berdiri.
Yu Tian menatap naga itu, dan senyum tipis muncul di bibirnya yang pecah. 'Teknik Penghancur Qi selama ini hanya kupakai dengan tangan kosong, tapi apa yang terjadi bila kulakukan dengan pedang? Kalau tangan bisa memecahkan Qi di dalam tubuh, bilah ini bisa membelah Qi yang menyatu menjadi teknik, dan penggunanya akan ikut pecah bersamanya.'
Ia menurunkan tubuh dalam kuda-kuda rendah, mengangkat pedang di sisi tubuhnya, dan memadatkan seluruh Qi yang tersisa ke dalam bilah itu. Pedang itu berdengung makin tinggi, dan pendarnya berubah dari putih pucat menjadi putih membara. Ia melesat langsung ke arah naga yang sedang menerjang.
"Bodoh!" Tetua Huo tertawa kasar. "Dia lari ke mulut naga!"
Tetua Jiang dan Tetua Wen pun menegakkan punggung dengan senyum dingin, yakin anak itu akan lenyap dalam satu kunyahan.
Pedang itu menembus rahang naga. Ada jeda sepersekian napas di mana tidak ada suara sama sekali, lalu tubuh naga yang menyatu dari tiga Qi itu terbelah dari kepala sampai ekor menjadi dua bagian yang berderak dan tercerai-berai menjadi serpihan cahaya.
Ketiga tetua terhuyung mundur dengan mata melotot, darah memancar dari hidung dan telinga mereka karena Qi yang tertambat pada teknik itu ikut pecah di dalam tubuh mereka. Tetua Wen menjerit tanpa suara, dan Tetua Jiang menjatuhkan pedangnya.
Yu Tian sudah berada tepat di depan mereka, dan wajah ketiganya hanya sejengkal dari ujung bilahnya. Pedang putih itu menebas dalam satu lengkung lebar, dan tiga kepala melayang bersamaan, berputar di udara, lalu jatuh ke kerikil dengan bunyi tumpul berurutan.
Tubuh-tubuh tanpa kepala itu berdiri sejenak dengan darah memancar dari leher, lalu rebah ke sungai satu per satu dan mewarnai air menjadi merah.
Yu Tian menghantam tanah dengan lutut menekuk, napasnya meledak keluar, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Qi di dantiannya nyaris kosong, kepalanya pusing, dan tangannya yang melepuh hampir tidak sanggup menggenggam gagang pedang. Ia menunggu sampai dunia berhenti berputar, lalu berdiri dan melepas satu per satu kantong penyimpanan dari sabuk ketiga mayat itu. Isinya batu roh, pil, dan senjata yang ia kenali dari aroma Qi-nya. Ia mengikatnya ke pinggang, menyarungkan pedang, dan berjalan menyusuri tepi sungai tanpa menoleh.
Satu kata keluar dari bibirnya yang kering, rendah dan datar. "Lemah."