NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Sup air mata

"Hiks... Hiks... Hiks..."

Wanru mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara isakan tertahan dari arah sudut dapur.

Nyonya Lin sedang berdiri di depan tungku batu yang mulai mendingin. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian usang yang penuh tambalan, dengan tangan gemetar sedang memunguti serpihan-serpihan jamur tiram yang masih bisa diselamatkan dari kantong kain.

Air mata wanita itu menetes tiada henti, jatuh berlinang membasahi mangkuk tanah liat di hadapannya.

Melihat ibunya yang terus terisak dalam diam, hati Wanru terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum. Di dunia aslinya sebagai CEO modern, ia tidak pernah merasakan apa artinya menjadi beban bagi orang tua.

Tapi di sini, di tubuh gadis miskin ini, ia melihat bagaimana seorang ibu menanggung penderitaan batin yang teramat berat, dan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melindungi anak-anaknya dari kekejaman dunia.

"Ibu..." panggil Wanru dengan suara serak, dan mencoba bangkit dari duduknya. "Biar aku saja yang membereskannya. Jangan disitu terus..."

Nyonya Lin menggelengkan kepalanya perlahan. Ia mengusap air matanya dengan ujung lengan baju yang kasar, lalu menatap Wanru dengan tatapan penuh kepedihan yang menyayat hati.

"Wan-er... Anakku yang malang..." suara Nyonya Lin pecah, nyaris tak terdengar di antara desau angin malam. "Kenapa takdir begitu tidak adil pada kita? Mengapa orang-orang itu begitu jahat pada keluarga kita yang tidak punya apa-apa ini? Besok... besok pagi Pamanmu akan datang... Ibu tidak tahu harus berbuat apa lagi... Ibu benar-benar ibu yang tidak berguna..."

Isakan Nyonya Lin akhirnya pecah menjadi tangisan pilu yang tertahan. Wanita itu terduduk lemas di lantai tanah dapur, sembari memeluk lututnya sendiri sambil meratapi nasib malang anak-anaknya.

Lin Bao yang terbangun karena mendengar suara tangisan ibunya, merangkak turun dari tumpukan kain usang tempat tidurnya. Bocah delapan tahun itu berlari kecil dengan mata masih mengantuk, lalu langsung memeluk pinggang ibunya erat-erat.

"Ibu... jangan menangis lagi... Bao-er takut..." cicit Lin Bao dengan suara bergetar, dan ikut meneteskan air mata melihat ibunya hancur berkeping-keping.

Wanru mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Rasa amarah yang membara di dalam dadanya kini bukan lagi sekadar amarah pada Nyonya Liu atau para preman bayaran, melainkan sebuah sumpah bisu yang mengakar kuat di dalam jiwa sang mantan CEO bahwa, "Aku bersumpah, tidak akan kubiarkan siapa pun di rumah ini menangis lagi setelah besok."

Tidak ingin membiarkan kesedihan terus merajai malam yang semakin kelam, Wanru menarik napas dalam-dalam. Ia memaksakan kakinya melangkah mendekati sang ibu, lalu dengan lembut merangkul pundak wanita paruh baya itu.

"Ibu, bangunlah," bisik Wanru. "Malam ini, kita tidak boleh tidur dengan perut kosong. Besok adalah hari pertempuran besar, dan kita membutuhkan tenaga untuk menghadapinya."

Nyonya Lin mendongak dan menatap mata putrinya yang memancarkan ketenangan aneh di tengah kehancuran. "Tapi... makanan itu... semuanya sudah kotor, berlumur lumpur dan debu..."

"Tidak apa-apa, Ibu," potong Wanru dengan senyuman tipis yang getir. "Di dalam hidup, terkadang kita harus memakan debu sebelum kita bisa mengecap manisnya kemenangan."

Melihat tekad di mata putrinya, Nyonya Lin akhirnya mengangguk dalam kepasrahan yang pilu. Dengan sisa tenaga yang ada, wanita itu bangkit berdiri. Ia mengambil alih mangkuk berisi serpihan jamur tiram dan sisa sayuran yang masih bisa diselamatkan, lalu membawanya ke dekat tungku.

Dengan menggunakan sedikit air bersih yang tersisa di kendi, Nyonya Lin mencuci serpihan jamur dan sisa akar tanaman itu berulang-ulang kali di dalam baskom kayu, meskipun noda tanah yang membandel dan bau lumpur tidak bisa sepenuhnya hilang.

Ia menyalakan kembali api di tungku menggunakan sisa ranting kering, memasukkan potongan-potongan kecil sisa umbi, dan merebus semuanya ke dalam periuk tanah liat tua bersama sejumput garam kasar terakhir yang mereka miliki.

Blubuk blubuk blubuk!

Suara air mendidih perlahan memenuhi ruangan dapur yang sunyi. Aroma kaldu sederhana yang bercampur dengan bau tanah hutan dan sedikit kepulan asap kayu bakar mulai menguap ke udara.

Setelah beberapa saat, masakan darurat itu akhirnya matang. Nyonya Lin menuangkan sup tersebut ke dalam tiga mangkuk tanah liat kecil.

Tidak ada potongan daging kelinci yang gurih malam ini. Yang ada hanyalah kuah bening keruh berwarna kecokelatan, dengan beberapa serpihan jamur tiram yang koyak dan potongan kecil umbi liar yang mengapung di permukaannya.

Nyonya Lin menyerahkan mangkuk pertama kepada Lin Bao, mangkuk kedua kepada Wanru, dan mangkuk terakhir dipegangnya sendiri.

Wanru menatap mangkuk di hadapannya. Sebagai seorang mantan eksekutif modern yang sangat memperhatikan standar higienitas, sterilisasi makanan, dan kesehatan gizi, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bahan makanan itu tadinya kotor, bergeletakan di atas tanah lorong yang penuh kuman, dan diinjak-injak oleh sepatu bot preman.

Logika dan insting kesehatannya secara otomatis berteriak menolak.

Namun, di era kuno ini, di mana kemiskinan dan kelaparan adalah ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa dalam hitungan jam, rasa jijik adalah sebuah kemewahan yang tidak boleh ia miliki.

Wanru tidak ingin menyia-nyiakan sisa makanan tersebut. Ia tahu persis bahwa untuk menghadapi hari esok yang penuh badai, ia membutuhkan setiap kalori dan setiap tetes energi yang bisa masuk ke dalam tubuh remajanya.

Ia mengangkat mangkuk tersebut, meniup permukaannya pelan untuk mengurangi uap panas, lalu meneguk kuahnya.

Rasa tanah yang tertinggal masih sangat terasa. Ada sensasi pahit dan berpasir di lidahnya, jauh dari kelezatan sup kelinci malam sebelumnya.

Namun, Wanru tidak berhenti. Ia menelan makanan itu dengan lahap, memaksa setiap suapan masuk ke dalam perutnya yang kosong, demi memulihkan tenaga dan memperkuat pertahanan fisiknya.

Di sebelah kanannya, Lin Bao yang tidak tahu menahu betapa kotornya asal-usul bahan makanan tersebut, makan dengan sangat lahap. Bocah itu menyendok kuah sup dan potongan jamur dengan cepat, seolah itu adalah hidangan terlezat di dunia.

"Ibu... sup ini hangat sekali... rasanya enak..." celoteh Lin Bao dengan mulut penuh, hingga membuat Nyonya Lin kembali meneteskan air mata haru bercampur iba.

Bagi keluarga Lin, mangkuk sup keruh yang kotor ini jauh, jauh lebih baik daripada hari-hari kelam sebelumnya di mana mereka hanya bisa bertahan hidup dengan meminum air rebusan sekam padi atau mengunyah rumput kering liar di pinggir ladang.

Makanan ini adalah bukti ketahanan hidup mereka, sebuah perlawanan kecil di tengah badai kemiskinan yang mencoba meremukkan mereka.

Sambil menikmati mangkuk sup terakhir mereka di bawah temaram pelita minyak, suasana di dalam gubuk terasa begitu khidmat dan sunyi. Nyonya Lin menatap kedua anaknya bergantian, lalu meletakkan mangkuknya di atas meja dengan tangan yang masih gemetar.

"Wan-er..." bisik Nyonya Lin lirih, memecah keheningan malam. "Besok pagi... Pamanmu pasti akan datang tepat saat matahari terbit. Utang tiga tael perak itu... bagaimana cara kita melunasinya sekarang? Semua hasil kerjamu di hutan sudah hancur..."

Pertanyaan itu adalah pertanyaan maut yang sejak tadi sengaja dihindari oleh logika mereka, namun kini harus dihadapi secara langsung tanpa ada tempat untuk bersembunyi.

Wanru meletakkan mangkuk tanah liatnya yang sudah kosong. Ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata ibunya. Lebam di pipinya tampak keunguan di bawah cahaya pelita, namun sorot matanya sangat jernih.

Tidak ada lagi kepanikan, tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah ketenangan seorang ahli strategi yang telah menyelesaikan kalkulasi terakhirnya.

"Ibu, jangan khawatirkan soal utang itu," ucap Wanru dengan suara yang tenang, tegas, dan bergemerincing di dalam ruangan kecil tersebut.

Nyonya Lin terperanjat. "Jangan khawatir? Wan-er, apa maksudmu? Kalau kita tidak bisa membayar tiga tael perak besok, Pamanmu akan menyeretmu ke rumah bordil! Ibu lebih baik mati daripada melihat anak Ibu dijual ke tempat hina itu!"

"Ibu tidak akan mati, dan aku tidak akan pernah pergi ke rumah bordil," balas Wanru mantap, sambil menggenggam tangan ibunya yang kasar dan terasa dingin. "Aku punya rencana lain."

"Rencana apa lagi, Nak? Semua barang jarahan di hutan sudah hancur. Kita tidak punya apa-apa lagi di rumah ini!" ratap Nyonya Lin, air matanya pun kembali meleleh.

Wanru tersenyum tipis. Senyuman itu bukan senyuman putus asa, melainkan senyuman seorang pemain catur ulung yang baru saja mengorbankan bidak bentengnya untuk menjebak raja lawan dalam posisi skakmat.

"Ibu, preman-preman suruhan Nyonya Liu memang telah menghancurkan ginseng liar dan jamur segar kita," kata Wanru pelan, jarinya mengetuk meja kayu dua kali. "Tapi mereka terlalu bodoh untuk menyadari satu hal."

"Menyadari apa?" tanya Nyonya Lin seraya mengerutkan keningnya karena kebingungan.

"Mereka mengira kehancuran fisik dari hasil hutan itu berarti kehancuran total dari rencana kita," lanjut Wanru. "Mereka tidak tahu... bahwa apa yang kubawa pulang dari hutan tadi sore bukan hanya sekadar tanaman liar yang bisa dipetik di sembarang tempat. Di kepalaku, Ibu... di dalam ingatanku, aku masih memiliki pengetahuan lengkap tentang lokasi, teknik budidaya, dan cara meracik tanaman-tanaman herbal langka yang bahkan para tabib di kota kecamatan pun tidak tahu cara menemukannya."

Wanru berdiri perlahan dari kursinya. Ia melangkah ke dekat jendela kecil yang terbuka, dan menatap keluar ke arah gulita malam di mana Desa Hutan Batu terlelap dalam tidur yang tenang.

"Paman Dehai mengira ia memegang kendali penuh besok pagi," lanjut Wanru dengan nada suara yang berubah dingin bagaikan es. "Ia mengira ia bisa datang dengan angkuh, membentak-bentak, dan mempermalukan kita di hadapan para tetangga. Biarkan saja ia datang. Besok, aku akan memberinya sebuah kejutan besar yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya."

Mendengar kata-kata penuh keyakinan dari putrinya, Nyonya Lin terdiam seribu bahasa. Ada sesuatu yang sangat berwibawa dan menakutkan dari cara bicara Lin Wan malam itu, bukan lagi suara seorang gadis remaja desa yang ketakutan, melainkan suara seorang penguasa yang sedang menyiapkan medan perang.

Meski hatinya masih diliputi rasa cemas yang luar biasa, Nyonya Lin merasakan kehangatan keyakinan perlahan meresap ke dalam dadanya, seakan menepis sebagian besar ketakutan yang sejak sore mencekik lehernya.

"Tidurlah, Ibu," ucap Wanru sambil berbalik badan menatap ibu dan adiknya. "Malam ini masih panjang. Besok pagi, matahari akan terbit seperti biasa, dan lembaran baru kehidupan keluarga Lin akan resmi dimulai."

Nyonya Lin mengangguk pelan dalam kepasrahan yang bercampur harapan. Ia merangkul Lin Bao yang sudah tertidur pulas di atas tumpukan kain usang, dan merebahkan tubuh mereka untuk mencoba memejamkan mata di sisa-sisa malam yang dingin.

Sementara itu, Lin Wanru tidak langsung tidur.

Ia kembali duduk di dekat meja kayu reyot, mengambil sepotong ranting kecil, dan mulai menggambar pola-pola rumit di atas debu meja, merancang skenario bisnis darurat, kalkulasi waktu, analisis psikologis karakter pamannya, serta langkah-langkah taktis yang harus ia eksekusi detik demi detik ketika matahari pagi menyingsing esok hari.

Hari ketiga telah tiba di ambang pintu. Dan permainan yang sesungguhnya baru akan dimulai saat fajar menyingsing.

Bersambung...

1
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!