Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EVELYN BERULAH
Sidang yang ditangani Elma akhirnya selesai menjelang sore. Setelah merapikan beberapa dokumen dan memastikan seluruh berkas perkara tersimpan dengan baik, perempuan itu keluar dari ruang sidang bersama beberapa rekan kerjanya. Namun tidak seperti biasanya, Elma sama sekali tidak bergegas pulang. Ia berdiri sejenak di depan gedung pengadilan, memandangi langit sore yang mulai berubah warna. Pikirannya melayang pada rumah yang seharusnya ia tuju. Lebih tepatnya, pada seseorang yang saat ini justru ingin ia hindari. Entah bagaimana ia harus menghadapi suaminya setelah semua yang terjadi belakangan ini. Sikap Maxime yang semakin sulit ditebak, rahasia tentang foto yang belum juga dijelaskan, serta keputusan Elma untuk menjaga jarak membuat suasana rumah mereka terasa semakin asing. Hari ini, ia tidak ingin bertemu dengannya. Setidaknya, ia membutuhkan sedikit waktu untuk dirinya sendiri.
"Elma!" Sebuah suara memanggilnya dari belakang.
Elma menoleh dan mendapati Karin sedang berjalan menghampirinya dengan tas kerja tersampir di bahu.
"Belum pulang?" tanya Karin.
Elma menggeleng pelan. "Belum. Kenapa?"
Karin mengamati wajah sahabatnya beberapa saat. "Aku justru mau bertanya begitu. Biasanya kamu yang paling cepat meninggalkan gedung pengadilan kalau sidang sudah selesai."
"Memangnya tidak boleh menikmati suasana sore?"
"Boleh saja. Tapi wajahmu itu tidak mendukung jawabanmu."
Elma mengembuskan napas kecil. "Memangnya wajahku kenapa?"
"Seperti orang yang baru saja kehilangan seluruh hartanya."
Elma terkekeh singkat, ucapan Karin kembali mengingatkannya pada Maxime, pria itu juga pernah mengatakan hal yang sama. "Berlebihan sekali."
"Sudahlah, jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu sedang punya masalah, kan?"
"Siapa bilang?"
"Aku sudah mengenalmu cukup lama, El. Kamu boleh berbohong kepada orang lain, tetapi jangan berharap bisa mengelabui aku."
Elma hanya tersenyum tipis.
Karin kemudian melirik jam tangannya sebelum kembali menatap sahabatnya.
"Begini saja. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku tahu restoran yang baru buka tidak jauh dari sini. Kita makan, lalu kamu bisa menceritakan apa pun yang sedang mengganggu pikiranmu."
"Kamu sedang mencoba menginterogasiku?"
"Bukan. Aku sedang menjalankan tugas sebagai sahabat yang baik."
Elma menggeleng geli.
"Baiklah. Aku ikut. Kebetulan aku memang belum ingin pulang."
"Nah, begitu dong. Sesekali lupakan pekerjaan dan urusan rumah tanggamu."
Karin baru saja hendak berjalan ketika seseorang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Elma."
Senyum di wajah Elma perlahan menghilang. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum sempat menoleh.
"Kak Evelyn?" Karin menyapa dengan sedikit terkejut.
Evelyn hanya memberikan anggukan singkat. Tatapannya langsung tertuju kepada adiknya. "Kamu ada waktu? Kakak perlu bicara."
Elma melirik Karin sekilas. "Ada apa?"
"Ini penting. Bisa bicara sebentar?"
Elma mengembuskan napas. Ia sebenarnya tidak ingin berurusan dengan Evelyn hari ini. Namun, melihat ekspresi kakaknya yang tampak gelisah, ia tahu pembicaraan itu mungkin bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam beberapa menit.
"Karin, sepertinya kita harus menunda makan malamnya."
Karin mengangkat alis. "Kamu yakin?"
Elma mengangguk.
"Baiklah. Aku tunggu kabarmu. Jangan lupa makan, El."
"Ya. Hati-hati di jalan."
Setelah Karin pergi, Elma kembali menatap kakaknya. "Ada masalah apa lagi, Kak?"
Evelyn tampak sedikit tersinggung mendengar nada bicara adiknya. "Kenapa kamu selalu memasang wajah seperti itu setiap kali kakak ingin bicara?"
"Karena biasanya Kakak datang hanya ketika membutuhkan sesuatu."
"Elma!"
"Aku sedang tidak ingin berdebat. Jadi, langsung saja. Ada apa?"
Evelyn menarik napas panjang sebelum akhirnya menjelaskan. "Kakak sedang punya masalah dengan agensi."
"Masalah apa?" Tanya Elma.
"Kontrak kerja."
Elma mengernyit. "Kontrak kerja?"
Evelyn mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa dokumen yang tersimpan di sana.
"Beberapa waktu lalu, kakak menerima tawaran kerja sama dari sebuah agensi. Awalnya semuanya berjalan baik. Namun, belakangan kakak memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak lain tanpa menyelesaikan kontrak sebelumnya."
Elma menatap kakaknya tanpa berkedip. "Kakak melanggar kontrak?"
"Jangan langsung menyimpulkan seperti itu."
"Lalu bagaimana aku harus menyebutnya? Kakak baru saja mengatakan bahwa Kakak menerima tawaran dari pihak lain sebelum menyelesaikan perjanjian dengan agensi sebelumnya."
Evelyn menghela napas kesal. "Masalahnya, agensi itu sekarang menuntut ganti rugi. Mereka mengirimkan surat peringatan dan mengancam akan membawa persoalan ini ke jalur hukum jika kakak tidak segera menyelesaikan kewajiban pembayaran."
Elma mengusap pelipisnya. "Berapa jumlahnya?"
Evelyn menyebutkan nominal yang tertera dalam surat tuntutan tersebut. Untuk beberapa saat, Elma terdiam. Jumlah itu bukan sesuatu yang kecil.
"Kenapa Kakak tidak menyelesaikan kewajiban Kakak sesuai kontrak?"
"Karena kakak tidak mau membayar uang sebanyak itu!"
"Kalau begitu, seharusnya Kakak berpikir sebelum memutuskan untuk melanggar perjanjian."
"Elma, kakak datang bukan untuk mendengarkan ceramahmu."
"Lalu Kakak datang untuk apa?"
Evelyn menatap adiknya dengan ekspresi memohon. "Kakak ingin kamu menangani kasus ini."
Elma langsung mengangkat wajahnya. "Apa?"
"Kamu pengacara, Elma. Kamu pasti bisa menemukan cara agar kakak tidak perlu membayar ganti rugi sebesar itu."
Elma tertawa hambar. Bukan karena menganggap permintaan itu lucu, melainkan karena ia tidak habis pikir dengan cara berpikir kakaknya.
"Kak, aku pengacara, bukan pesulap."
"Maksudmu?"
"Aku tidak bisa begitu saja menghilangkan kewajiban hukum seseorang hanya karena orang itu tidak ingin membayar. Aku harus mempelajari isi kontraknya, melihat apakah ada pelanggaran dari pihak agensi, dan memeriksa apakah tuntutan mereka memiliki dasar hukum."
"Jadi, kamu bisa membantu?"
"Itu belum tentu." Jawab Elma.
Evelyn segera mendekat. "Elma, tolonglah. Kakak benar-benar membutuhkan bantuanmu. Kalau masalah ini sampai tersebar ke media, reputasi kakak bisa hancur. Karier kakak juga bisa terancam."
Elma menatap kakaknya dengan lelah. Aneh sekali, Evelyn selalu memiliki cara untuk menyeretnya ke dalam persoalan yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal.
"Kenapa Kakak tidak meminta bantuan pengacara yang biasa menangani urusan agensi Kakak?"
"Karena kakak ingin kamu yang menanganinya."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kamu adikku."
Elma terdiam. Jawaban itu justru membuatnya semakin lelah. "Jangan menggunakan hubungan keluarga sebagai alasan untuk membuatku menerima semua masalah Kakak."
Evelyn mengatupkan bibirnya. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali berbicara dengan nada lebih lunak. "Elma, kakak tahu kamu sedang sibuk. Tapi tolong, jangan biarkan masalah ini semakin besar. Kakak tidak ingin kedua keluarga kita kembali menjadi bahan pembicaraan."
Mendengar nama keluarganya, ekspresi Elma berubah.
"Jangan membawa kelurga Maxime ke dalam masalah ini."
"Kakak hanya mengatakan bahwa—"
"Aku tahu apa yang Kakak maksud."
Elma memalingkan wajahnya sejenak. Sebenarnya, ia sudah cukup muak dengan segala sesuatu yang selalu dikaitkan dengan nama keluarga Laurent dan Sinclair. Seolah-olah setiap tindakan yang dilakukannya harus mempertimbangkan reputasi kedua keluarga tersebut. Namun, ia juga memahami bahwa perkara Evelyn berpotensi menjadi persoalan yang lebih besar. Apabila tuntutan itu berkembang menjadi sengketa hukum terbuka, bukan tidak mungkin nama keluarga Laurent ikut terseret. Terlebih lagi, setelah pernikahannya dengan Maxime, segala persoalan keluarga mereka seolah tidak lagi berdiri sendiri.
Elma kembali menatap Evelyn. "Baik. Aku akan mempelajari kasus Kakak."
Wajah Evelyn langsung berubah cerah. "Benarkah?"
"Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku tidak menjanjikan Kakak akan terbebas dari ganti rugi. Aku hanya akan memeriksa apakah tuntutan agensi tersebut sah secara hukum dan apakah ada dasar untuk membantah atau menegosiasikannya."
"Tidak masalah. Yang penting kamu bisa membantu kakak."
"Dan satu hal lagi. Jangan menyembunyikan informasi apa pun dariku. Aku membutuhkan seluruh dokumen kontrak, bukti komunikasi, surat peringatan, serta perjanjian dengan pihak baru. Kalau ternyata Kakak memang melakukan pelanggaran, aku tidak bisa menjanjikan hasil yang Kakak inginkan."
Evelyn mengangguk cepat. "Baiklah. Kakak akan mengirimkan semuanya malam ini."
Elma mengulurkan tangan untuk menerima beberapa dokumen yang dibawa Evelyn. "Jangan lupa kirimkan salinan kontrak aslinya."
"Iya."
"Dan untuk sementara, jangan membuat kesepakatan baru atau memberikan pernyataan kepada media sebelum aku memeriksa persoalannya."
Evelyn kembali mengangguk. "Terima kasih, Elma. Kakak tahu hanya kamu yang bisa diandalkan."
Elma tidak menjawab. Ia hanya memasukkan dokumen tersebut ke dalam tas kerjanya. Setelah Evelyn berpamitan dan meninggalkannya, Elma berdiri sendirian di tempat itu. Ia memandang dokumen di tangannya dengan tatapan kosong.
Awalnya, ia hanya ingin menghabiskan waktu di luar rumah agar tidak perlu bertemu Maxime. Ia bahkan sudah menerima ajakan Karin untuk makan malam demi sedikit menghibur pikirannya. Namun, sekarang ia justru mendapatkan pekerjaan tambahan yang sama sekali tidak direncanakannya.
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Karin.
Karin: Jadi, makan malamnya batal?
Elma mengetik balasan singkat.
Elma: Sepertinya begitu. Aku harus mengurus sesuatu.
Karin: Kamu benar-benar tidak akan pulang sekarang?
Elma menatap layar beberapa saat sebelum membalas.
Elma: Belum. Aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu.
Ia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tatapannya kembali tertuju pada langit yang semakin gelap. Ada satu hal yang semakin disadarinya hari ini. Menjadi bagian dari keluarga Laurent dan Sinclair ternyata bukan hanya tentang menikmati kemewahan dan kedudukan. Ada begitu banyak tuntutan yang harus dipikulnya, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berusaha menyelesaikan persoalan rumah tangganya. Elma bertanya-tanya sampai kapan ia harus terus menjadi orang yang menyelesaikan masalah semua orang, sementara tidak ada seorang pun yang benar-benar bertanya apakah dirinya baik-baik saja.
☆