NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Pantai

...بسم الله الر حمن الر حيم...

.... ...

.... ...

...Maaf jika saya harus menyentuh, ini terpaksa. Jika kamu tidak senang dan menganggap ini pelecehan maka saya akan bertanggung jawab. ...

.... ...

.... ...

.... ...

...Pria penolongmu...

______________________

Menatap langit-langit rumahnya, hanya diam membisu. Suara hujan di pagi hari menyambutnya dengan deras, masih pukul 05.10 Mahika terbangun dari tidurnya.

Apakah aku masih mampu bertahan.

Bangkit dari ranjang tidurnya dan melihat ponselnya.

"Ck.. Masih saja mempermasalahkan uang.. "

Mahika hanya diam lalu mencari sebuah nama di kontaknya, mengetik pesan dan mematikan ponselnya.

"Sepertinya hari ini cocok untuk tidak bekerja" Ucap Mahika yang sedang memilah-milah pakaian di lemarinya.

Apakah Mahika akan pergi? Tapi mau kemana? Hari sedang hujan, namun Mahika tidak mengurung kan niatnya. Ia bersiap-siap untuk pergi, hanya membawa tas kecil yang berisikan dompet dengan berbagai macam kartu serta uang dan tak lupa ponselnya.

Hujan telah reda, namun matahari masih bersembunyi di balik awan abu-abu. Mahika mengeluarkan ponselnya dan melihat tidak ada notifikasi apapun. Sepertinya Ia diizinkan untuk tidak bekerja hari ini, bahkan Tuhan juga merestui itu.

Mahika pergi menggunakan taxi pagi ini, sepertinya perjalanan yang cukup jauh. Bahkan Mahika tidak memperdulikan argo meter yang terus berjalan, Ia hanya diam menikmati pemandangan dari sisi jendela taxi.

Tujuannya telah sampai, Mahika turun dari taxi dan mengucapkan terimakasih dan bahkan Ia melebihkan uang pembayaran taxi. Ia diam menatap pemandangan di depannya, menghirup udara lalu berjalan sejenak. Mahika melihat ada beberapa toko kecil yang menjual berbagai macam masakan laut, saat ini Mahika sedang berada di pinggir pantai atau sedang berada di daerah pesisir.

Ia tersenyum sejenak dan tetap berjalan hingga akhirnya ia duduk di sebuah dinding pembatas antara pantai dan pemukiman masyarakat. Dinding tersebut hanya setinggi lutut nya, ada beberapa anak yang juga duduk di atas dinding pembatas tersebut sedang bermain dengan riangnya.

Mahika diam menatap laut di depannya, deburan ombak terus berkumandang di telinganya. Ia tidak bergeming sedikit pun, angin dingin setelah hujan menyapu wajahnya, Mahika menatap langit yang tetap mendung tidak ada cahaya mentari yang menyinari hari ini.

Tepi pantai seperti memanggil namanya untuk mendekat ke arah laut, Mahika sangat menyukai suara ombak.

Sepertinya sudah cukup.

Dalam benak Mahika, lalu ia turun ke pantai. Berjalan mendekat ke arah laut, ombak hari ini cukup kuat. Mahika kembali diam dipinggir bibir pantai, ombak laut menyapu kakinya. Hujan kembali turun, anak-anak yang tadi duduk di dinding pembatas berlari untuk mencari tempat berteduh namun Mahika tetap diam di tempatnya.

Mahika perlahan mulai basah karna air hujan yang mulai deras, tetap diam menatap laut. Ombak semakin kuat menyapu kakinya, namun Mahika hanya diam melihat kakinya tersapu air laut.

Toko kecil yang menjual berbagai macam masakan laut cukup sepi,hanya ada 2 orang pria yang sedang makan di pinggir jendela toko.

"Lain kali kita ajak yg lain kesini. Lumayan juga tempat ngumpul saat libur"

"Ya... " Menatap jendela, Pria ini sedang melihat keluar jendela, dari tadi fokusnya teralihkan oleh seseorang yang berada di luar.

Mahika berjalan perlahan ke arah laut, setengah tubuhnya sudah tenggelam dan perlahan menggoyahkan tubuhnya tersapu ombak yang kuat, Mahika tersenyum lalu pasrah terbawa ombak laut.



Mahika tenggelam terbawa air laut yang kuat, tubuhnya tergulung ombak secara perlahan membawanya ke tengah laut.

"Liat apaan si? Dari tadi pas sampe liat keluar mulu bang" ucap temannya penasaran dengan apa yang dilihat oleh pria tersebut.

Pria tersebut bangkit seketika dari kursinya, berlari ke arah pantai. Tidak memperdulikan temannya yang sedang kebingungan dengan apa yang barusan terjadi.

"Bu kami nanti kembali lagi, barang-barang kami tinggal dulu"

"Iyaaa" Teriak sang pemilik toko.

Pria tersebut lari secepat mungkin, masuk ke dalam ombak yang sangat kuat ditengah hujan deras. Mencari seseorang yang ditatapnya sejak tadi, Mahika.

Pria tersebut melihat ke dalam air laut yang keruh karna air hujan yang semakin derasnya, ditengah hujan dan angin yang kencang ia berusaha untuk segera menemukan wanita yang dilihatnya sejak sampai tadi.

"BAANGGG!!! LO GILAA?? " teriak temannya dari pinggir pantai.

"BANGSATT LO BANTU CARI, ADA ORANG TENGGELAM " teriaknya di tengah laut.

Temannya langsung berlari mencari pelampung dan mencari bantuan, Pria tersebut tetap mencari ditengah hujan deras. Mencoba terus mencari, hingga..

"Hhhaaaa.. " Pria tersebut lega, akhirnya ia menemukan Mahika yang sudah pingsan karna terlalu banyak meminum air laut.

Ia membawa Mahika ke pinggir pantai, mencoba menyadarkannya dengan pertolongan pertama, CPR. Pria ini masih khawatir setengah mati pada Mahika yang terkulai lemas di pangkuannya.

"Maafkan hambamu ini ya Allah, walaupun bukan mahram tapi ini demi keselamatan manusia.. Maafkan hambamu ini Ya Allah.. Astagfirullahalazim"

Mahika akhirnya sadar, terkulai lemas. Mencoba menatap seseorang yang berada di hadapannya, matanya kabur karna hujan deras yang terus jatuh ke wajahnya.

"KAMU GILAA YA? KAMU KALAU MAU MATI JANGAN DI DEPAN SAYAA!!! " pria tersebut menyadarkan Mahika yang masih terkulai lemas.

Mahika tersadar lalu bangkit dari pangkuan pria tersebut, berjalan menjauh meninggalkannya yang masih terduduk di pasir pantai yang basah karna hujan.

Berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata terimakasih pada pria tersebut.

"SIALAN, malah diselamatkan"

Mahika berjalan mengambil tasnya, berjalan semakin jauh dari pria yang berada di belakangnya.

Pria tersebut hanya diam menatap punggung Mahika yang berjalan menjauh darinya, hanya ada satu kata yang ada di pikiran pria tersebut tentang seorang Mahika Avisa Zalana yaitu penasaran.

"Eh.loh.kok. Mana yang tenggelam bang?? " Tanya temennya yang sudah membawa pelampung dan handuk di sebuah kantong plastik.

"Mana?? Udah kebawa ke tengah laut ya?? Yaah udah dimakan paus itu nanti" Ujar temannya yang masih memandang wajah pria tersebut.

"Tu.. " Menunjuk dengan wajahnya ke arah Mahika yang berjalan sendirian dengan bertelanjang kaki, baju yang basah dan rambut yang berantakan.

Mahika berjalan sambil memikirkan pria yang menolong nya, Ia terus berjalan tanpa arah tujuan. Dengan bertelanjang kaki ia berjalan di atas trotoar tepi pembatas pantai, Kakinya terhenti ketika seseorang dengan payung berada di hadapannya, menghentikan langkahnya.

Mahika melihat ke wajahnya, pria yang menolong nya berada di hadapannya diikuti seorang pria lain. Mahika hanya diam, dengan wajah yang sudah jelas tanpa bersuara Mahika bertanya.

Apa??

"Kamu basah kuyup, kamu ganti baju kering di restaurant kecil disana. Setelah hujan kamu boleh pergi, apapun masalah kamu tolong jangan bunuh diri. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah kamu, kamu harus ingat Tuhanmu. "

"I-iya kak.. " Sahut temannya.

"APA URUSAN KALIAN DENGAN SAYA!! " Sungut Mahika kepada dua orang pria yang tak dikenal sedang berdiri menghadang jalannya.

"Maaf jika saya harus menyentuh, ini terpaksa. Jika kamu tidak senang dan menganggap ini pelecehan maka saya akan bertanggung jawab" Menarik pergelangan tangan Mahika untuk mengikuti pria tersebut.

"Lepaskan!!! " Bentak Mahika.

"B-BANG! " Temannya terkejut atas perilaku pria tersebut yang menarik tangan Mahika dengan kerasnya.

"Diam Fi. Kita harus ngelakuin ini secara paksa kalau tidak dia akan sakit nanti" Jelas pria tersebut pada temannya.

"I-i-Iya bang" Melirik ke arah Mahika yang tergontai-gontai mengikuti langkah kaki pria yang menariknya dengan cepat.

Suasana tampak tegang, Mahika yang duduk di sebelah meja kedua pria tersebut tampak sangat kesal. Mahika bangkit dari bangkunya, namun seketika ia kembali dihadang oleh pria yang menarik tangannya tadi.

Matanya mengisyaratkan jangan bergerak kemana pun kecuali aktivitas di dalam restaurant kecil ini, Mahika yang terintimidasi oleh tatapan pria tersebut kembali duduk diam.

"Em.. K-kak" Panggil teman pria tersebut.

Mahika hanya diam menatap temannya, kembali senyap tanpa suara diantara mereka. Mahika melihat ke arah jam dinding yang ada di restaurant kecil, pukul 17.20 sudah hampir gelap namun hujan tak kunjung turun.

Kedua pria tersebut hanya melihat ke luar jendela, memantau situasi di sekitar.

"K-kak.. Perkenalkan saya... "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!